
"Ka, kamu waktu dilamar sama Wandi langsung jawab atau meminta waktu dulu."
Aku mengernyit dahi, kenapa Dira bicara soal lamaran? apa Rian sudah melamarnya.
"Ka." Aku sedikit kaget saat Dira memukul pahaku.
"Ya, langsung aku terimalah. Kan Wandi sama aku udah pacaran dari kulia."
"Ra."
"Hmmm..."
"Are you okay?" Dira hanya tersenyum menatapku.
"Kamu kalau mau cerita atau bungkam nggak papa."
"Kamu tahu kan, ka kalau pacarnya Vira sudah menemui mama. Membicarakan masa depan mereka."
Aku menangkap Dira merasa dilangkah.
"terus?"
"Sejak saat itu, Ka. Mama terus merongrong aku soal jodoh. Aku nggak masalah kok kalau Vira mau duluan. Tapi jangan jadikan aku tumbal atau alasan gitu."
"Ra, mama kamu itu pengen kamu punya pasangan. Karena di sisa umurnya mama kamu pengen anaknya ada yang jagain. Seorang ibu kalau sudah mikir usia pasti banyak hal yang dipertimbangkan. Termasuk siapa yang akan menjadi pasangan kamu.
Hmmmm, Gimana kamu dan Rian?"
"Nggak usah bawa Rian deh malas dengernya. Kamu tahu nggak, si Rian itu mesum. Maksa nyium aku pas di mobil. Mana mama dah terlanjur suka sama Rian."
"Kamu sendiri gimana, Ra? adakah perasaan khusus pada Rian?"
Dira menggeleng. Gelengan Dira membuat aku merasa pusing.
"Apa aku terima saja Rian? Demi mama. Aku capek di rongrong terus. Ya kan nggak ada kandidat lain."
"Sama saja kamu menyakiti perasaan Rian dan mamamu, Ra. Rian itu lelaki yang baik setahu aku. Ya, walaupun beberapa kali ganti pasangan. Tapi setahu aku, perempuan yang dekat sama dia rata-rata matre. Makanya aku percaya sama kamu. Ra."
__ADS_1
"Jadi aku harus gimana, Ka?"
"Kamu menikah itu niatnya apa? nyenengin mama atau nyenengin diri sendiri. Yang kutangkap kamu mau nyenengin keluarga tapi hati dan pikiran kamu menolak semua itu. Jadi kalau saran aku pikirkan dengan matang, semua yang kamu lakukan pasti ada sebab dan akibatnya."
Aku menyeruput segelas teh manis plus es batu. Ku tatap wajah Dira yang kusut kayak belum di seterika.
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh/ Selamat sore Pendengar. Apa kabar pendengar sore ini? Semoga baik-baik ya…
Senang sekali saya –Ghea—dapat menemani Anda dalam acara –Nongkrong bareng Ghea, Selama dua jam ke depan saya akan menyampaikan informasi aktual dari dalam dan luar negeri/ dengan selingan lagu-lagu Pop Indonesia//yang mau reques lagu lagu favorit silahkan tinggalkan atensinya di lewat SMS di Nomor 082374xxxx Anda juga bisa komentar di Fans Page Facebook kami Radio Prambors atau mention ke Ig kami.
"Oh ya, kamu tahu, Ra. Kami dapat job mengurusi acara pertunangan Delia dan Kak Juna minggu depan. Kamu sudah tahu, kan mereka mau tunangan? nggak nyangka, ya mereka akhirnya akan bertunangan lalu bentar lagi menikah."
Jujur pembicaraan ini sekedar ku pancing reaksi Dira. Aku tahu Dira pernah punya perasaan pada kak Juna saat SMA. Walaupun dia hanya memendam saja, tapi tetap saja perasaannya salah. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta sama kekasih sahabatnya sendiri? Tapi untungnya setelah kuliah dia tidak membahas atau mencari kak Juna.
Kalian bayangkan saja. Setiap ada yang mengganggu pasti dia mengadukan pada kak Juna, padahal dia punya kakak lelaki yang bisa diandalkan. Dari situ aku menyimpulkan dia ada rasa sama kak Juna. Walaupun Dira belum pernah bilang tapi saat itu feeling aku kuat.
Perkenalkan namaku Eka Pramudyanti. Saat ini aku bekerja di sebuah EO ternama. Jasa perusahaanku lumayan laris untuk semua kalangan. Kami bukan hanya mengurusi pernikahan, tapi juga acara lain.
Kalian tahu tadi kamimondar m job sebuah PH ternama akan memakai jasa kami. Bayangkan bisa melihat aktor dan aktris berbakat secara langsung. Sebuah keuntungan yang hakiki. Semoga acara itu bisa mendapatkan keuntungan besar terutama gaji ser seran kami.
Saat aku memilih bekerja setelah menikah, mamaku sangat menentang. Baginya aku harus tetap dirumah melayani suami. Bukan mondar mandir di luar berbaur dengan manusia berbeda jenis dan karakter. Beruntung mas Wandi mentdukungku, asalkan aku tetap menjalani sebagai seorang istri. Apalagi kalau kerja di EO tidak terlalu berat. Mas Wandi bahkan rela menjadi sopirku setiap saat. Suamiku bukan seorang pengusaha atau apalah, suamiku bekerja sebagai supliyer perusahaan rokok. Dia bertandang dari warung ke warung, toko ke toko, hingga sampai ke luar pulau. Pernikahan kami sempat ditentang orangtuaku, karena status keluarga Wandi yang bukan orang berada. Yah, kedua orangtuaku punya usaha kuliner minang yang cukup besar di Jakarta. Wandi suamiku bukan orang minang, tapi orang timur, itu juga yang menjadi point menolak restu buat kami.
Kembali ke Dira, aku melihat permasalahan yang dia hadapi cukup pelik. Benar sih kata Dira, yang mau nikah siapa, malah dia yang di desak cepat menikah. Walaupun aku setuju dengan ide tante Dewi. Tidak ada orangtua yang tidak ingin anaknya bahagia. Tapi bukannya bahagia itu harus tercipta sendiri,ya. Kalau dipaksa apanya yang bikin bahagia? Sama seperti aku dan Wandi, kami menciptakan kebahagiaan sendiri meskipun harus melewati badai terjal dari keluarga sendiri.
"Ka, jadi aku harus bagaimana?"
"Rumit masalahmu, Ra. Aku takut ngasih saran."
"Kasih saran menurut pengalaman kamu sama Wandi saja." Dira masih mendesakku.
"Bener kamu mau dengar?" Dira mengangguk.
"Terima Rian,Ra. Ya, mungkin kamu masih kecewa dengan sikap Rian padamu. Tapi aku percaya Rian bukan cowok seperti itu. Bukan aku tidak percaya padamu, Ra. Tapi setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kamu lihat dia Bahkan tidak membencimu ketika tahu kamu bohongi. Atau jangan-jangan kamu masih suka sama kak Juna."
"Kok bawa-bawa kak Juna, sih? Bentar kamu bilang aku suka sama kak Juna. Kenapa kamu menyimpulkan hal itu."
Aku tertawa melihat wajah Dira memerah saat membahas Kak Juna.
__ADS_1
"Aku udah lama tahu, Ayu juga sudah tahu kamu sejak SMA diam-diam suka sama kakaknya. Kami memilih diam karena menghargai perasaan Delia. Jadi aku minta lupakan kak Juna, dari SMP sampai sekarang hatinya untuk Delia."
Dira menunduk lemas " Ka, masalahnya yang melamarku adalah
Kak Juna!"
Whaaaat!!!
Gimana...gimana? Kak Juna melamar kamu, Ra. Come on, Ra! Aku tahu perasaanmu sama kak juna tapi nggak gini juga halunya."
Aku tahu kalau Dira suka sama kak Juna. Tapi nggak segitu juga kali. Mana ada kak Juna ngelamar Dira, kak Juna itu setia sama Delia. Dia nggak pernah merespon Dira karena hatinya cuma buat Delia.
"Aku nggak halu, ka. Faktanya emang begitu. Kak Juna ngajak aku nikah,Ka. Dia bahkan bilang sudah jenuh dengan hubungannya dengan Delia.
"Dan kamu menerimanya?"
"Enggaklah! Gila aku kalau menerima kak juna"
"Itu kamu tahu, makanya aku bilang terima Rian. Biar kamu nggak di cap pelakor."
"Aku bukan pelakor, ka. Kak Juna juga bukan suami orang. Hati nggak bisa dipaksa, ka. Kenapa semua
"Apapun itu kak Juna itu milik Delia, sahabat kita."
Aku cukup miris melihat bualan Dira. Dari dulu semua orang tahu kalau kak Juna mati-matian mengejar cinta. Ngapain dia ngarang bilang kak Juna melamarnya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1