
London, Januari 2020.
Di sebuah pusat hiburan terbesar di London, Rian sudah berjanji bertemu alex teman satu asramanya. Setelah saling berjabat tangan mereka memasuki klub tersebut. Acara itu merayakan lulusnya Rian dalam ujian tesisnya. Keduanya duduk di salah satu kursi panjang yang disediakan klub tersebut.
"Kau tahu disini banyak surga yang akan kau dapatkan." Bisik Alex.
"Heheehee... tidak surga yang bisa menyaingi surga akhirat, Bro. Yuk kita pulang." Ajak Rian.
"Hey, kau mau kemana? Bersenang-senang dululah." Alex menyodorkan minuman.
"Ini apa?" Rian mencium bau tidak enak dengan aroma minumannya.
"Ini anggur." Jelas Alex
"Anggur? Tapi kenapa baunya aneh?" Rian meletakkan gelas tersebut diatas meja.
"Ya, sudah kalau kau tidak mau. Alex menegak minuman milik Rian."
Alex mendekati seorang wanita berwajah arab. Wanita itu tampak akrab dengan Alex. Entah apa yang dibisikan Alex, mata mereka menjurus kearah Rian.
"Kamu tenang saja, Lex. Aku yakin kalau dia tidak akan menolakku, selama aku tinggal disini sudah beberapa lelaki yang takluk padaku."
Wanita itu berjalan kearah Rian. Tatapan manisnya membuat Rian sedikit terpesona. Tangannya mulai liar menjalar ke tubuh Rian. Rian hanya lelaki normal yang bisa saja tergoda dengan wanita berwajah arab itu.
"Nama saya Adelia. Kamu namanya siapa?"
"Orang indonesia?" Tebak Rian saat di sapa dengan bahasa indonesia.
Adelia atau Delia mengangguk. Mereka duduk berbincang ramah layaknya teman lama yang kembali bertemu. Tampak Alex mengacungkan jempol kearah Delia.
"Aku rasa kita bertukar nomor untuk lebih sering bertemu." Tawar Rian.
"Hmmm..kamu bisa minta sama Alex."
"Kenapa kamu tidak langsung kasih ke saya saja. Bukankah kita sudah bertemu sekarang."
Delia hanya menyunggingkan senyuman. Rupanya sangat gampang membuat lelaki di depannya bertekuk lutut.
"Ini minum anda." Seorang waitres meletakkan minuman diatas meja.
"Maaf, saya tidak memesan minuman." Tolak Rian.
__ADS_1
"Saya tahu, anda memesan air mineral kan.Tadi teman anda yang meminta mengantarkan ini." Waitres menunjuk kearah Alex.
Alex kembali melambaikan tangannya kearah mereka. Delia hanya menyunggingkan senyum sambil meneguk minuman yang ada didepannya. Wanita itu berdiri hendak meninggalkan Rian, entah kenapa tubuhnya terasa panas dan membara. Rian baru saja meneguk minuman tersebut mencoba menolong Delia yang hampir pingsan.
Matanya mengedar ke Alex, temannya itu tak nampak batang hidungnya. Rian seketika bingung mau bawa Delia kemana, secara mereka baru kenal. Pada akhirnya Rian membawa Delia ke apartemennya. Tak ada maksud yang aneh-aneh, hanya niat untuk menolong.
Setelah merebahkan Delia di ranjang kamarnya. Rian meninggalkan wanita itu keluar kamar. Namun, tangan Delia menahannya. Terdengar keluhan kesakitan seakan panas di tubuhnya seperti terbakar.
"Tolong, lepaskan rasa sakitku, aku gerah sekali. Tolong siapapun kamu, tolong saya" Delia masih merintih.
Apa ini? Apakah ini jebakan dia? bisa jadi. aku paham pergaulan Alex dengan wanita seperti dia. Kalian kira bisa menjebakku dengan cara seperti ini.
Rian berjalan meninggalkan Delia. Langkahnya pun sudah berada di depan pintu. Namun ternyata dia pun merasakan reaksi yang sama. Tubuhnya terasa panas seperti terbakar. Entah kenapa dia malah berbalik ke kamar.
"Tuan, aku ingin..."
BRUUUUK!
Tubuh Rian sudah terjatuh diatas Delia.
"Kita bisa, tuan. Kita bisa melepaskannya, kita bisa tuan..." Delia menggeliat meraba dada bidang Rian.
"Ayo, tuan... kamu pasti bisa ..... lepaskan tuan." Bisik Delia menambah rasa sensasi panas yang menyeruak ditubuhnya.
Paginya Rian terbangun, kepalanya terasa berat. Seketika pandangannya mengerjap karena silaunya sinarnya. Namun yang membuatnya kaget, dirinya polos tanpa sehelai benangpun, tatapan menoleh kesamping, tak ada siapapun.
Dimasa sekarang
Sinar matahari menyusup malu-malu pada celah tirai yang bergoyang. Tampak sosok berbadan kekar duduk di sudut ranjangnya, matanya sembab. Mimpi itu kembali mengejarnya. Seakan ada tuntutan yang terus menerornya. Bagaimana bisa dia melanjutkan hidup kalau kenangan itu terus memburunya.
Langkahnya berjalan keluar dari kamar. Rian melihat rumahnya ramai dengan para ibu-ibu sosialita. Dimana ibunya seperti ikut dalam rombongan tersebut.
"Jeng, itu anaknya ya?" Sapa bu Kinan saat melihat Rian keluar dari kamar.
"Iya, Jeng itu anak saya. Rian sini nak!" Panggil mamanya Rian.
"Jeng, perkenalkan ini anak saya namanya Rian. Anak saya belum punya pasangan, lo." Pamer mamanya Rian.
Dih, mama ngapain pake promosi-promosi segala. batin Rian
Rian ditarik beberapa ibu-ibu ke sofa. Karena ini adalah pertama kalinya arisan diadakan di rumahnya. Para ibu-ibu arisan seakan takjub dengan ketampanan Rian. Mamanya Rian hanya menggeleng sambil tersenyum kecil melihat kelakuan teman arisannya. Dia berjalan ke dapur meminta bibi untuk menyajikan minuman untuk tamu. Sekitar 12 orang wanita yang datang menghadiri acara arisan.
__ADS_1
"Kamu Rian, kan?" Sapa seorang wanita yang baru saja sampai.
"Tante Dewi? Tante ikut arisan mama juga?"
"Oooo...jadi ini rumah kamu? wah, kebetulan yang luar biasa."
"Eh, jeng Dewi... sudah kenal dengan anak saya?" sapa mamanya Rian.
"Sudah, jeng. Rian dulu suka main ke rumah." Adu mama Dewi. "Kamu kenapa tidak pernah main ke rumah lagi, cah bagus?"
"Rian sekarang gantiin ayahnya jadi pemimpin. Makanya dia sudah jarang keluyuran lagi." Pamer mamanya Rian.
"Oh, ya nak Rian. Di depan ada Dira tuh. Tadi tante ajak masuk nggak mau. Gengsi kumpul sama ibu-ibu."
Rian meninggalkan hiruk pikuk grup arisan mamanya. Langkahnya berjalan menuju teras di depan rumahnya. Lelaki itu tersenyum ketika melihat seorang gadis duduk di gazebo. Rian berjalan mendekati Dira yang masih asyik dengan gawainya. Dia pun tak menyadari ada orang yang mendekatinya. Terdengar riukan suara alas duduk gazebo membuat Dira tersadar.
"Rian?" Dira kaget mendapati Rian duduk dengan sopan di sebelahnya.
"Iya." Dengan ekstra senyum terbaiknya.
"Kamu apa kabar?" Tanya Dira.
"Alhamdulillah saya sehat, Dira. Saya minta maaf atas apa yang terjadi di rumah sakit waktu itu. Saya sadar, nafsu bukanlah langkah terbaik untuk mendapatkan cinta seorang wanita."
"Saya juga minta maaf. Karena sering bersikap menyinggung perasaanmu."
"Dira maaf kalau aku lancang. Tapi aku pengen jawaban dari kamu."
"Soal yang itu, ya?" Rian menggangguk.
"Rian, aku.....aku menerima kamu." Jawab Dira sambil menundukkan kepalanya.
Tak pelak Rian langsung memeluk Dira.
"Dira, aku tidak mau pacaran."
Dira mengernyit dahinya. Apakah artinya dia ditolak? Ngenes banges!
"Aku mau menikahimu." Rian mengajak Dira masuk kedalam rumahnya. Dira sempat menghentikan langkahnya "Sebelum masuk ke dalam aku bertanya padamu, Dira. Will you marry me....Maukah menikah denganku, ya walaupun faceku jauh dari kata tampan, walaupun aku ...." Dira menutup bibir lelaki itu dengan jari telunjuknya.
"Aku akan kasih jawaban nanti di dalam." Dira akhirnya mengikuti kemauan Rian untuk mengumumkan hubungan mereka.
__ADS_1
Mungkin ini langkah terbaik untuk menjauhi kak Juna