Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 10


__ADS_3

"Amora..."


Lagi dan lagi, mimpi kematian adik kecilnya itu mengganggu tidur Amar. Ia kembali terbangun dengan nafas yg tersengal dan keringat dingin yg mengucur di pelipisnya.


Amar mengusap wajah nya, melirik jam dinding di kamarnya yg menunjukan pukul 9.45.


"Sial" umpatnya karena ia benar benar kesiangan.


Amar segera bergegas ke kamar mandi, kembali menatap dirinya di cermin. 15 tahun berlalu, dan rasa sakit nya masih sama setiap kali ia mengingat bagaiamana adik kecil nya meninggal karena ibunya, dan bahkan sang ayah pun meninggal di tangan ibunya.


Wanita yg seharusnya memberikan Amar segalanya, tapi malah merenggut segalanya dari Amar.


Emosi kembali memuncak dalam jiwanya, bahkan terkadang merasa jijik pada dirinya karena mengalir darah seorang pelacur dan pembunuh.


Pandangan Amar menangkap sebuah gunting, ia hendak mengambil nya dan kembali meng ekespresikan emosinya dengan cara melukai dirinya. Namun baru saja ia akan melakukan nya, tiba tiba terdengar suara nenek nya yg segera di susul dengan suara ketukan di pintu kamar mandi nya.


"Amar, Kamu di dalam? Cepetan mandi nya, ada Maryam di bawah"


Seketika Amar membuka mata lebar lebar, tak percaya dengan apa yg baru saja di dengar nya. Ia segera meletakkan gunting itu dan membuka pintu kamar mandinya.


"Granny, kenapa Maryam bisa datang kesini? Bagaimana dia tahu rumah ku?" tanya nya penasaran namun tampak sedikit kebahagiaan di matanya.


"Dia mengembalikan dompet Granny yg tertinggal di restaurant nya" jawab neneknya yg seketika mendapatkan tatapan penuh curiga dari Amar.


"Bobby pasti ngasih tahu sesuatu, ya kan?" tuduhnya yg tak di hiraukan nenek nya itu.


"Kalau kamu engga mau nemuin Maryam ya sudah, dia memang sudah mau pulang. Oh ya, hari ini sabtu kan? Hari libur"


Tutur Granny Amy yg sebenarnya memberi kode pada Amar yg segera di tangkap oleh Amar.


"Lima menit, hanya lima menit. Tolong minta Maryam menunggu" pinta Amar antusias membuat nenek nya menertawainya.


"Tiga menit" seru sang nenek kemudian segera keluar dari kamar cucu nya itu.


Di bawah, Granny Amy melihat Maryam yg tampak kebingungan karena pelayan melayaninya seperti tamu yg sangat istimewa.


Menyajikan minuman dan cemilan yg katanya semuanya dari luar negeri. Bahkan kepala pelayan datang dan menawarkan jika Maryam ingin minuman atau makanan khusus, mereka bisa segera membuatkan nya atau memesannya.


"Begini, aku ke sini hanya mengantarkan dompet Granny yg tertinggal, air putih saja sudah sangat cukup" ujar Maryam sembari menatap beberapa jenis cemilan di hadapannya yg tampak asing bagi nya.


"Jika kami bisa menyajikan yg lebih istimewa, kenapa hanya air putih yg bisa di dapatkan dari mana saja" tutur sang kepala pelayan "Oh ya, Nona. Ini permen dari Malaysia, Tuan Amar membeli nya bulan lalu saat melakukan perjalanan bisnis ke sana. Sementara cokelat ini dari Amerika, Granny Amy membeli nya saat berlibur kesana. Rasanya sangat enak dan pasti membuat ketagihan"


"Itu berbahaya, jika aku ketagihan, apa aku harus pergi ke Amerika untuk membeli nya? Jadi akan lebih baik jika aku tidak mencicipinya sama sekali, ongkos ke Amerika itu sangat mahal" Maryam berkata sambil terkekeh dan membuat para pelayan juga tertawa kecil.


Granny Amy ikut tertawa dengan candaan Maryam, ia pun segera duduk di samping Maryam, mengambil satu bungkus cokelat dan menyerahkan nya pada Maryam.


"Itu engga masalah, Maryam. Kalau kamu mau, kita bisa ke sana setiap minggu dan berbelanja cokelat lezat ini" tutur sang nenek dengan entengnya membuat Maryam kembali terkekeh.


"Jika di tabung, ongkosnya bisa buat modal usaha lagi"


"Tidak perlu ongkos, Nona Maryam. Keluarga Degazi memiliki jet pribadi"


"Hah?" Maryam membuka mulutnya lebar dengan mata melotot yg sangat lucu, membuat para pelayan tertawa gemas dengan reaksi Maryam.


Dan bersamaan dengan itu, Amar turun dengan pakaian casual nya. Untuk pertama kalinya, Amar melihat ada tawa di rumah nya, biasanya para pelayan hanya akan menunduk dengan wajah datarnya, namun kini Maryam membuat mereka tertawa.

__ADS_1


"Hai... Eh Assalamualaikum" ucap Amar saat mendekati Maryam, membuat Maryam tertawa karena seperti nya mengucapkan salam bukanlah kebiasaan Amar. Namun bersamaan dengan tawa Maryam, tawa para pelayan langsung musnah, mereka langsung menunduk dan segera meninggalkan Amar.


"Waalaikum salam" jawab Maryam.


"Em apa kamu sudah sarapan? Maksud ku, mungkin kita bisa pergi sarapan atau meminta pelayan membuatkan sarapan?" tutur Amar basa basi yg malah mendapatkan pelototan dari nenek nya.


"Bocah bodoh, jam berapa sekarang sehingga Maryam belum sarapan? Makanya pagi pagi tuh bangun, jangan tidur terus" desis nenek nya yg kembali membuat Maryam tersenyum geli.


"Loh, kamu baru bangun?" tanya Maryam dan Amar mengangguk "Belum sholat subuh dong"


"Em..." Amar tak bisa menjawab, ia bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya sholat, Amar menggaruk tengkuk nya kemudian menggeleng sambil menyunggingkan senyum yg malah tampak seperti ringisan.


"Sholat subuh dulu gih. Oh ya, aku pamit dulu ya"


"Loh kenapa buru buru? Ini kan Sabtu, kamu pasti engga ada jam kuliah kan?" tanya Granny Amy.


"Engga ada, Granny. Biasanya Maryam bantuin kerja di restaurant atau mengajar di pesantren" jawab Maryam


"Kalau gitu, mau nemenin Granny jalan jalan engga? Udah lama sekali Granny engga jalan keluar dan pergi berbelanja, karena selama ini Amar hanya sibuk mencetak uang dan uang sampai lupa dengan nenek nya yg malang ini" Amar meringis mendengar fitnah kejam dari neneknya itu, padahal sudah lanjut usia tapi masih bisa berbohong dengan Lancar, fikir nya.


Selama ini Amar mengurus neneknya dengan sangat baik, lebih mementingkan neneknya dari apapun.


Maryam hendak menolak, apa lagi ia hanya izin pergi untuk mengantarkan dompet, Maryam yakin ibunya pasti menunggu nya pulang.


"Maaf, Granny. Maryam hanya izin pergi sebentar sama Ummi, kalau Maryam engga pulang, takutnya Ummi khawatir" tutur Maryam.


"Gampang, kita sekalian ajak ibu mu jalan jalan" seru sang nenek mencoba meyakinkan Maryam.


"Emm...itu..."


"Iya, tapi biar Amar pergi sholat subuh dulu" ucap Maryam membuat Amar bingung karena ia sudah lupa bacaan apa saja yg harus ia baca dalam sholat nya.


Namun Amar segera bergegas ke kamarnya, mengambil wudhu, kemudian mencari cari sejadah nya di lemari.


Kemudian, dengan berbekal Internet, ia berusaha melaksanakan sholat wajib itu yg selama ini ia abaikan.


Dan saat takbir pertama, Amar merasakan hatinya seperti bergetar, fikirannya pun seperti tergerak pada sesuatu yg tak ia mengerti. Dan saat menyebutkan nama Tuhannya dan kebesarannya 'Allahu Akbar' air mata Amar menetes tanpa ia sadari, hatinya pun seperti bergejolak.


Amar menyelesaikan sholat nya sedikit kesulitan karena ia harus terus melirik ponselnya dan melihat bacaan apa yg harus ia baca dan dalam gerakan seperti apa saja.


Dan saat menyelesaikan sholat nya, untuk pertama kalinya Amar merasa seperti ada sebuah benda yg terangkat dari hati maupun fikirannya, ia merasa...tenang.


.


.


.


"'Hi' hanya sebuah sapaan, sementara salam lebih dari itu, ada doa di dalam nya, yg artinya semoga keselematan menyertaimu. Karena itulah mengucapkan salam jauh lebih baik dari pada 'Hi' atau 'Hello'"


Maria yg mendengar penuturan Faraz mangut mangut saja, ia bertanya kenapa Faraz selalu mengucapkan salam saat bertemu seseorang atau saat berpisah. Bagi Maria kata itu terlalu panjang dan ribet jika hanya untuk menyapa, dan penjelasan Faraz membuat nya kagum.


"Assa...assalam... Apa kelanjutan nya tadi?" tanya Maria yg membuat Faraz tersenyum geli karena ia seperti mengajari anak anak.


"Assalamualaikum" Faraz mengucapkannya dengan pelan dan jelas.

__ADS_1


"Assalama... Assalamu.. Alaikum?" Faraz mengangguk kemudian berkata.


"Iya, dan jawabannya waalaikum salam"


"Apa hanya agama mu yg salam nya panjang dan ribet?"


"Itu sangat pendek dan simple. Maria, apa kamu masih engga tertarik sama sekali dengan sebuah agama?" Faraz bertanya ragu ragu. Ia melirik Maria dan Maria tetap menggeleng "Kenapa?" tanya Faraz heran.


"Ibu ku sangat taat dalam ibadah, tapi dia tetap mati. Ibu ku bilang Tuhan itu penuh kasih dan akan selalu ada untuk kita, tapi setelah kematian ibuku aku sendirian, dan bahkan Tuhan tidak menolong ku saat Daddy memukul..." Maria langsung menutup mulutnya, ia tak ingin memberi tahu siapapun bahwa hidup nya sangat menyedihkan karena selalu menjadi pelampiasan emosi ayahnya.


" Daddy memukul? Apa ayahmu memukul mu?" tanya Faraz sambil sesekali melirik Maria kemudian kembali fokus pada setir nya.


"Bukan" Maria menggeleng "Maksud ku, ya dia pernah memukul ku saat kecil, seharusnya Tuhan mencegah itu kan jika Dia memang ada"


"Tuhan itu ada, Maria. Dan jika kita di sakiti seseorang, maka itu hanya ujian apakah kita bersabar atau ikhlas. Dan soal mati, semua yg bernyawa pasti mati, engga ada yg abadi"


"Tapi apa gadis 10 tahun pantas di uji seberat itu?"


"Tuhan tidak menguji yg pantas atau tidak, tapi Tuhan menguji seluruh hambanya yg pasti mampu melewati ujian itu, karena Tuhan tidak akan menguji hamba Nya melewati batas kemampuannya. Seperti yg kamu bilang, kamu masih bisa bertahan dan melangkah sejauh ini meskipun kamu tidak percaya adanya Tuhan, karena Tuhan percaya kamu pasti mampu melewati ujian nya"


"Tapi, Pak. Rasanya Tuhan sangat kejam jika harus menguji gadis kecil"


"Apa kamu sekolah TK?" Maria mengernyit dengan pertanyaan menyimpang itu namun ia menjawab dengan anggukan "Apa guru mu menguji mu?"


"Tentu saja, dia bahkan kadang menghukum murid yg tak mengerjakan tugas"


"Kalau begitu guru mu kejam juga. Mereka kan cuma anak anak"


"Ya engga, Pak. Kalau engga di kasih ujian, gimana murid bisa naik kelas dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya"


"Tapi engga perlu di hukum juga kan meskipun engga ngerjain tugas, nama nya juga anak anak"


"Ya kalau engga di didik bertanggung jawab dari kecil, mau jadi apa besar nya nanti" jawab Maria, namun seketika ia memandang Faraz dengan memicingkan matanya, seperti nya ia sudah mulai mengerti kemana arah pembicaraan selanjutnya "Tunggu, jangan bilang peraturan agama juga gitu?"


Faraz tertawa geli dengan respon Maria yg sudah mulai memahami Faraz.


"Exactly" jawab Faraz "Ujian ada untuk menguji kemampuan mu dan melihat ke layakan mu untuk tingkat kehidupan yg lebih baik"


Maria mencebikan bibir nya dan masih tak setuju dengan argumen Faraz.


Kemudian Faraz memarkirkan mobil nya di depan sebuah perpustakaan besar


"Kita mau ngapain di sini, Pak?" tanya Maria penasaran.


"Kita akan mencari sejarah seberapa banyak anak kecil yg menderita di dunia ini"


"Maksdu nya?"


"Nanti kamu juga tahu"


Dan Maria pun hanya bisa mengikuti apa yg boss nya perintahkan, padahal katanya tadi Faraz mengajak Maria keluar karena ingin menemui salah satu klien nya.


Tapi kenapa malah mau cari buku sejarah, fikir Maria.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2