
Akhirnya, acara yg di tunggu tiba jika.
Resepsi sepasang kekasih yg ternyata sudah mereka duga pasti akan terjadi.
Resepsi pernikahan Faraz dan Afsana di adakan di sebuah hotel yg mewah namun tentu acara nya tak semewah resepsi Maryam. Keluarga Faraz yg juga keluarga Afsana pun sudah hadir sejak dua hari yg lalu.
Afsana sangat cantik dengan gaun berwarna rose gold yg membalut tubuhnya, sangat serasi dengan Faraz yg mengenakan tuxedo hitam. Keduanya duduk di pelamin seperti raja dan ratu. Pancaraan cinta dan kebahagiaan di mata sang pengantin itu membuat mereka semakin tampak bersinar dan terlihat cantik dan tampan. Keluarga mereka yg masih satu garis itu pun tampak sangat bahagia, karena penyatuan putra putri akan memperkuat ikatan keluarga mereka, apa lagi mereka adalah pasangan sholeh sholehah.
"Aku sudah menduga ini, apa lagi setiap menanyakan apakah Ana atau Faraz sudah memiliki pasangan atau engga. Mereka pasti jawab engga,membuat ku makin yakin kalau mereka memendam rasa satu sama lain" tutur Rafa sambil menikmati pesta sepupunya itu. Maryam dan Amar yh duduk satu meja dengan Rafa pun hanya tertawa.
Ternyata, bukan hanya Maryam yg menduga hal seperti itu, namun juga keluarga yg lain. Hanya saja beda nya mereka diam dan menunggu, sementara Maryam terus menggoda Faraz dan Ana dan seolah menjodoh jodohkan keduanya.
"Kak Rafa kapan nyusul?" tanya Maryam sambil menikmati hidangan nya dengan sangat lahap, Rafa bahkan berfikir Maryam seperti kuli yg sedang kelaparan, tak pernah sebelum nya ia melihat Maryam makan sebanyak itu "Kok malah liatin Maryam?"
"Kamu makan nya banyak amat, Dek. Emang engga kenyang?" tanya Rafa.
"Ya kan porsi nya buat dua orang. Sama buat Baby kita" sambung Amar sembari mengusap perut Maryam.
"Ya iya sih... Tapi aku aja engga makan sebanyak itu" ujar Rafa.
"Namanya juga lagi hamil, nanti kalau Kak Rafa punya istri. Pasti faham, jadi kapan nyusul nya?"
"Emm itu sebenernya udah ada sih" jawab Rafa malu malu, membuat Maryam tertawa hingga tersedak.
"Sayang, pelan pelan..." ucap Amar sembari mengusap punggung Maryam, kemudian memberikan segelas air pada istrinya itu.
"Yah, Mbak Maryam makan sebanyak ini engga ngajak ngajak" seru Firda yg baru saja bergabung.
"Kayak nya tadi kamu udah makan" jawab Rafa.
"Tapi masih belum kenyang" ujar Firda, kemudian duduk bergabung dengan mereka.
"Padanya tubuh kamu tuh kecil, usus mu juga pasti kecil dan sempit. Masuk kemana makanan mu itu, Fir?"
__ADS_1
"Masuk ke sini dan kesini..." Firda menunujuk lengan atas nya dan kepala nya "Jadi otot dan otak" lanjut nya yg sekali lagi membuat mereka tertawa, ah tentu saja, dimana ada Firda di situ ada tawa.
Sementara itu, Faraz dan Afsana tak henti henti nya menyambut tamu yg datang dan memberikan selamat untuk mereka. Begitu juga dengan teman teman kuliah.
"Ugh... Serasi ya" Rian mengulurkan tangan nya pada Afsana namun Faraz dengan cepat menyambut tangan nya "Posesif juga" goda Rian "Oh ya, aku punya hadiah" ia menyerahkan sebuah kotak kecil yg di bungkus dengan kertas kado merah.
"Makasih" ucap Afsana.
"Bukan untuk mu, Baby. Untuk suami mu"
"Baby? Kamu memanggil Baby pada sang pengantin wanita di depan suami nya?" tanya Faraz setengah tak percaya
"Ck, ayo lah. Aku sudah menganggap Ana adikku, ya kan, An?" Afsan mengangguk sambil tersenyum geli "Oh ya, buka dong kado nya"
"Nanti aja lah" jawab Faraz hendak menyimpan kado itu namun Rian malah memaksa nya membuka kado nya. Mau tak mau Faraz pun membuka nya dan ia mengernyit ibu karena itu adalah tablet.
"Obat? Kamu mendatangi pernikahan, bukan rumah sakit. Ke tuker kali hadiah mu tuh" ujar Faraz. Namun Rian malah tertawa.
"Benar, itu udah bener. Itu obat... Kuat" Rian berbisik pada Faraz di akhir kalimat dan hal itu langsung membuat Faraz memelototi nya.
Rian menghampiri Nabil yg saat ini sedang duduk bersama Bilal dan Hubab.
"Faraz kayak kesal sama kamu, kenapa?" tanya Nabil.
"Iya, emang nya hadiah apa yg kamu kasih di kotak kecil itu?" sambung Hubab penasaran.
"Pil kuat" jawab Rian sambil cengengesan yg tentu langsung membuat ketiga pria itu menggumamkan kan istighfar.
Acara berjalan dengan lancar, penuh kebahagiaan dan canda tawa. Semua orang mendoakan sang pengantin dengan kebahagiaan yg berlimpah dan ke turunan yg sholeh dan sholehah
Acara selesai jam 12 malam, seluruh tamu pun mulai meninggalkan hotel. Sementara keluarga Faraz menginap di hotel itu kecuali Maryam dan Amar.
Karena Maryam ingin tidur di rumah nya sendiri bersama Amar katanya.
__ADS_1
Nabil juga sangat bahagia untuk saudara nya, tapi ia juga merasa sedih karena Maria tak datang. Padahal Afsana dan Maryam sudah mengundang nya secara langsung, namun Maria beralasan ia harus menjaga putri nya.
Padahal Nabil ingin memperkenalkan Maria pada kedua orang tuanya.
Namun seperti nya itu bukan waktu yg tepat.
.
.
.
Setelah acara selesai. Faraz dan Afsana segera membersihkan diri dan berendam sebentar di buthub yg berisi air hangat karena kedua nya merasa sangat lelah.
Setelah mandi, kedua nya pun kembali ke ranjang dan tampak lebih segar.
"Tidur lah" seru Faraz menarik Afsana ke pelukan nya setelah ia mematikan lampu di kamar nya.
Afsana tersenyum tipis, ia memang mengantuk tapi rasanya ia punya satu kewajiban yg lebih penting dari tidur.
"Kita mau tidur?" bisik Afsana yg saat ini menelungsupkan wajah nya di dada suaminya. Faraz tersenyum geli dan ia mengecup pucuk kepala Afsana berkali kali dengan gemas.
"Sebenarnya kakak butuh sesuatu sebelum tidur" jawab Faraz "Tapi kamu pasti capek karena acara tadi" Afsana mengangguk jujur.
"Tapi kalau Kak Faraz..."
"Engga apa apa, Sayang" jawab Faraz cepat, ua tak ingin memaksakan kehendak nya "Masih ada besok, besok malam, dan seterusnya. Inysa Allah"
Afsana sekali lagi mengangguk setuju, ia mulai mendesakkan tubuhnya nya pada tubuh suami nya dan mencari kenyamanan dalam pelukan sang suami. Hingga perlahan ia terlelap dan dunia mimpi menyambut nya.
Faraz yg masih terjaga terus memeluk Afsana dan memberikan kehangatan pada istri tercinta nya itu.
Hingga ia pun menyusul sang istri ke alam mimpi.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...