
"Kamu beneran sholat tadi?" bisik Granny Amy pada cucu nya itu. Saat ini, Amar membawa Maryam dan neneknya ke pusat berbelanjaan milik keluarga Degazi, sementara Maryam masih menelpon ibunya dan mengatakan ia sedang pergi jalan bersama nenek yg ketinggalan dompet nya. Ibunya pun mengizinkan asal jangan terlalu lama.
"Ya iyalah, Granny" jawab Amar kesal karena seolah nenek nya itu tak percaya jika dia beneran sholat.
"Masak?" tanya nenek nya lagi yg membuat Amar merasa kesal jengah juga pada wanita lansia kesayangan nya itu.
"Allah adalah saksi ku, Granny" jawab Amar yg langsung membuat neneknya tersenyum lebar.
"Emang nya kamu hafal bacaan sholat?"
"Zaman sekarang semuanya bisa di tanyakan pada Google"
"Tapi gimana kalau kamu dapat informasi yg salah? Itu soal agama dan sholat itu koneksi secara langsung dengan Tuhan, lho. Dan ada banyak macam agama Islam, gimana kalau yg kamu baca versi yg engga bener" Amar melirik neneknya dan kata kata nenek nya itu berhasil membuat dia ragu, sejak kecil apalagi setelah kematian ayahnya, yg dia pelajari hanya bisnis dan bisnis.
"Terus gimana dong?" tanya Amar.
"Tanya Maryam gih, minta ajarin ke dia cara yg sholat yg benar dan apa saja bacaan nya"
"Engga mau, malu kali"
"Lah, malu bertanya sesat di jalan lho. Emang nya kalau engga nanya ke Maryam mau nanya ke siapa lagi? Teman teman mu cuma ngerti nya saham, atau mau cari guru khusus?" Amar menggaruk kepalanya yg tak gatal, ia berfikir kenapa baru sekarang neneknya itu menanyakan hal itu padanya, kenapa engga sejak kecil ia di ajar kan agama.
"Oh ya, satu hal lagi" kali ini neneknya berkata dengan sangat serius sambil mengacungkan jari telunjuknya ke Amar "Mulai sekarang, jauhi semua semua wanita wanita mu itu, jangan dekat dekat dengan wanita mana pun, Granny engga mau calon menantu Granny yg cantik dan sholehah itu sakit hati dan cemburu"
Amar mengehela nafas sembari memutar bola matanya, jengah dengan tingkat halu neneknya ini.
"Maryam itu cuma teman, Granny"
"Teman hidup" jawab Granny nya dengan enteng kemudian keduanya segera tutup mulut saat Maryam mendekati mereka. Namun dari sini Amar menyadari bahwa dompet nenek nya itu tidak ketinggalan tapi di tinggal.
Tapi seperti nya Amar harus mengucapkan terima kasih untuk itu.
"Apa ibumu mengizinkan?" tanya neneknya Amar dan Maryam mengangguk, membuat cucu dan nenek itu girang.
"Ayo, Granny mau menunujukan store ini. Ini adalah usaha suami ku dulu, dan saat di kelola Atif, putra ku, ini berkemang sangat pesat. Dan sekarang semua nya ada di kendali Amar"
Maryam menanggapi setiap cerita Granny Amy dengan senyuman, katanya karena bisnis itulah Granny Amy bertemu dengan pria Pakistan yg bernama Syahaz Degazi, yg akhirnya mereka menikah, melahirkan Atif Degazi dan menetap di Indonesia.
Dan ternyata mereka juga punya perusahaan di Pakistan, sebuah butik dan juga resto.
Granny Amy menceritakan segalanya tentang keluarga nya, mmebuat Maryam sedikit bingung karena mereka belum kenal dekat, tapi Granny Amy mengobrol panjang lebar seolah mereka sudah kenal lama.
Para pegawai disana menyapa Amar dan Granny Amy penuh hormat.
"Oh ya, ayo kita belanja baju" ajak Granny Amy yg langsung di tolak Maryam.
"Maryam baru belanja bulan lalu, Granny" ucap nya.
"Terus apa masalah nya belanja lagi? Granny aja minggu lalu sudah belanja"
"Engga masalah sih, tapi baju Maryam sudah banyak"
"Engga apa apa, belanja lagi biar tambah banyak" Maryam terkekeh mendengar hal itu.
Sementara Amar, sejak tadi ia tak bisa melepaskan pandangan nya dari Maryam, saat ia berbicara, tersenyum, tertawa, benar benar cantik, dan kecantikan itu begitu alami, apa lagi Maryam yg hanya mengenakan bedak tipis dan lip gloss, membuatnya semakin tampak indah.
Granny Amy membawa Maryam untuk memilih busana muslim, namun yg di lakukan Maryam justru sebalik nya, ia malah memilihkan busana muslim untuk nenek Amar itu, membuat Granny Amy sedikit salah tingkah, karena ia hanya mengenakan pakaian tertutup saat bulan puasa dan lebaran.
"Kalau Granny pakek jilbab, pasti makin cantik" ujar Maryam, mengambil sebuah syall bermerk dan memakaikan nya sebagai jilbab untuk menutupi kepala Granny Amy "Lihat! Sangat cantik kan?" Maryam membawa Granny Amy ke depan kaca.
Granny Amy memegang pipi nya yg sudah keriput di makam usia, dan memperhatikan pantulan dirinya di cermin, begitu juga dengan Amar.
__ADS_1
"Ya, Granny sangat cantik" sambung Amar. Sementara Granny Amy tiba tiba saja terdiam dengan mata yg berkaca kaca, menyadari hal itu Maryam segera melepas jilbab nya dan merasa sudah lancang.
"Maaf, Granny. Maryam engga bermaksud..."
"Ini benar" jawab Granny Amy dengan cepat, ia kembali mengambil shal panjang dan lebar itu kemudian menutup kepala nya "Bisa ajari Granny bagaimana menggunakan jilbab yg benar?" Maryam tampak terharu, dan dengan antusias ia memakaikan jilbab itu dengan benar dan berkata
"Jilbab itu harus nya menutupi suluruh kepala, leher hingga dada. Itu aturan jilbab yg sebenar nya, dan setiap wanita muslimah di wajibkan mengenakan jilbab" ucap nya. Kemudian setelah memaikaikan jilbab itu dengan benar, Maryam tersenyum dan menatap kagum pada nenek Amar itu.
"Masya Allah, Maryam. Selama ini Granny hanya berpakaian mengikuti trend. Lupa untuk mengikuti aturan agama. Jika Granny mengubah cara berpakaian Granny menjadi seperti mu, apa itu boleh?"
"Tentu saja, justru itu sangat bagus" jawab Maryam, kemudian ia menatap Amar yg juga sedang menatap nya "Bagaiamana menurut mu, Amar?"
"Kamu yg terbaik" jawab Amar membuat Maryam terkekh. Alhasil bukan Maryam yg berbelanja, tapi Granny Amy, tentu ia selalu meminta pendapat Maryam dalam memilih busana yg pantas untuk di kenakan seorang wanita mulimah.
.
.
.
Sementara itu, Maria membaca buku yg di belikan oleh Faraz, buku itu menceritakan Muhammad putra Abdullah. Begitulah kata Faraz, Maryam tak tahu jika Muhammad putra Abdullah adalah seorang Nabi.
Ia fikir itu hanya sejarah seseorang, dimana ayahnya meninggal saat ia dalam kandungan, kemudian ibunya meninggal saat usianya 6 tahun, anak kecil itu pun di rawat kakek nya dan kakek nya juga meninggal saat usia nya 8 tahun dan berakhir di rawat oleh paman nya, ia bahkan bekerja sejak kecil, sebagai pengembala.
Mata Maria berkaca kaca membaca kisah masa kecil Muhammad putra Abdullah itu, sungguh kasihan, fikirnya.
Dan saat ia ingin membaca kelanjutannya, ternyata sudah habis.
"Cuma segini doang?" gumam nya yg merasa tak puas, ia membolak balik buku yg memang tipis itu. Ia pun berfikir mungkin ada jilid jedua nya, dan Maria harus mendapatkan buku itu untuk memenuhi rasa penasaran nya tentang kisah itu.
.
.
.
"Waalaikum salam" jawab Asma dengan senyum nanis nya.
"Nyai lama sekali tidak terlihat di sekolah, bahkan jam pelajaran Nyai di isi Ustadzah lain, apa Nyai Zahra sakit?" Asma tertawa kecil mendengar itu.
"Cuma demam, tapi sekarang sudah jauh lebih baik dan bisa mengajar lagi" jawab Asma, memang beberapa hari ini ia demam dan suaminya melarang nya keluar rumah sampai ia benar benar sembuh.
"Alhamdulillah, soalnya Neng Maryam juga sudah lama tidak kelihatan di sekitar sekolah"
"Maryam sibuk dengan tugas kuliah nya" jawab Asma, kemudian Bilal datang dan seperti biasa langsung merangkul nya, kebiasaan yg seperti nya takkan pernah hilang di makan waktu dan usia.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Bilal mesra, santri di depan nya pun hanya mengulum senyum dan kemudian pamit meninggalkan mereka.
"Bilal..." desis Asma saat santri itu pergi "Malu di liatin santri tadi kan?"
"Kamu ini, malu terus kayak kita lagi pacaran aja" balas suami nya itu kemudian ia dan Asma pun bergegas ke rumah Ummi Mufar. Karena Ummi Mufar juga sudah kalang kabut gara gara mendengar Asma demam, padahal hanya demam. Fikir Asma.
Saat melihat menantu kesayangan nya itu, Ummi Mufar langsung mencecarnya dengan pertanyaan, kenapa ia tak di beri tahu jika Asma sakit, apakah sudah ke Dokter, apakah sudah minum obat dan sebagai nya.
"Asma baik baik saja, Ummi. Cuma demam, Bilal aja yg berlebihan sampai Asma di larang keluar rumah" jawab Asma.
"Itu demi kebaikan mu, aku khawatir sama kamu, Sayang"
"Ya, Bilal benar" sambung Ummi Mufar yg membuat Asma terkekeh. Karena entah sejak kapan, ibu mertua nya itu sangat memanjakannya seperti Ummi Kulsum.
Bahkan, pernah Asma jatuh dan kaki nya keseleo, Ummi Mufar sudah sangat panik dan memarahi Bilal habis habisan, mengatakan Bilal tidak bisa menjaga istri nya.
__ADS_1
"Oh ya, Ummi ada buat salad buah, nanti kamu bawa pulang ya, Nak. Buat Faraz sama Maryam"
"Iya, mereka pasti suka" jawab Asma.
"Dimana kedua cucu ku itu? Sudah lama mereka engga jenguk nenek nya"
"Maryam banyak tugas kuliah, sedangkan Faraz seperti biasa, dia sibuk bekerja. Nanti Asma kasih tahu sama anak anak, kalau nenek nya merindukan mereka"
"Iya, suruh mereka secepat nya menemui Ummi" pinta nenek nya itu "Oh ya, Ummi belum sholat. Nanti kita bicara lagi" lanjutnya yg di jawab anggukan Asma dan Bilal.
Kemudian pasangan suami istri pun pergi menuju kamar Bilal, dimana juga kamar Asma saat ia harus tinggal di pesantren ketika Bilal ke Singapore untuk mengobati mendiang istri pertama nya.
"Ternyata Faraz mirip kamu ya saat kecil" ujar Asma yg kembali melihat foto foto masa kecil Bilal "Bukan mirip lagi, Sayang. Persis, malah orang orang pernah bilang kalau Bilal terlahir kembali saat melihat Faraz" Asma tertawa karena ia juga pernah mendengar hal itu.
Saat sibuk memperhatikan foto foto yg terpajang, tiba tiba saja Bilal melingkarkan tangan nya di perut Asma dan memeluk nya dengan erat.
"Ada apa?" tanya Asma sembari mengusap tangan Bilal yg ada di perut nya.
"Dulu kamu tinggal disini sendirian" Bilal berkata lirih "Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku engga akan pernah biarin kamu sendirian walaupun hanya sesaat"
"Itu sudah menjadi masa lalu, sekarang kita punya hidup yg sempurna" jawab Asma, kemudian berbalik dan menatap mata suaminya yg selalu membuat nya terpana itu "Sebenarnya, sejak dulu aku bertanya tanya satu hal"
"Apa?" Bilal bertanya penasaran.
"Di kamar ini hanya ada barang barang mu, dan kemudian aku isi dengan barang barang ku saat aku tinggal di sini. Tapi..."Asma ragu untuk menanyakannya namun pertanyaan itu sudah ada dalam benaknya sejak pertama kali ia menempati kamar itu "Tapi engga ada barang Mbak Khadijah sedikit pun di sini sejak dulu" Bilal tiba tiba tertawa kecil mendengar pertanyaan Asma itu.
"Sejak kapan kamu ingin menanyakan hal itu?"
"Em sudah lama sih, sejak pertama kali menempati kamar ini"
"Sayang..." mengenggam tangan Asma dan mengecup nya "Dia tidak pernah menempati kamar ini, tidak sekalipun. Ini adalah kamar ku sejak kecil hingga aku melanjutkan pendidikan ke pesantren di Mekah. Dan saat menikah dengan Khadijah kami langung menempati rumah pemberian Abi, dan jika jika Khadijah menginap di sini, dia tidur bersama Mila di tempat khusus para guru"
"Hah? Bagaiamana bisa?" tanya Asma tak percaya
"Mereka itu teman, dan tentu jika ada kesempatan mereka akan tinggal bersama dan bergosip semalaman, ya sama seperti kamu yg selalu ingin tidur di asrama dan menghabiskan waktu bersama teman teman mu"
"Tidak pernah sekalipun dia tidur di kamar ini?" Asma masih bertanya tak percaya.
"Tidak pernah sekalipun, dan kami sangat jarang menginap di pesantren"
"Hem oke" jawab Asma sembari mengulum senyum membuat Bilal gemas pada nya.
"Jangan bilang kamu masih menyimpan rasa cemburu padanya? Hm?"
"Engga kok" jawab Asma "Lagi pula dia sudah tenang di alam sana, Inysa Allah"
"Inysa Allah" seru Bilal "Em aku punya ide"
"Ide apa?"
"Bagaiamana jika malam ini kita menginap di sini, dan mengenang masa masa pacaran halal kita seperti dulu"
"Engga deh, aku harus pulang, mengurus Maryam dan Faraz" jawab Asma
"Yah, mereka sudah dewasa, Sayang. Bisa mengurus diri sendiri"
"Tapi..."
"Ayolah, ya..." Bilal menatap penuh harap pada Asma, membuat Asma kembali luluh dan akhirnya mengangguk, Bilal langsung tersenyum lebar dan mencium Asma dengan mesra
"Dari dulu mesum mu engga hilang hilang ya" gerutu Asma yg hanya di jawab kekehan Bilal dan Bilal terus mencium nya penuh kerinduan.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...