
Karena asyik mendengarkan musik sembari mengerjakan tugas sekolah nya, Maria tak mendengar bahwa sejak tadi ayahnya memanggil nya.
Hingga terdengar suara pintu yg di buka dengan kasar membuat Maria terperanjat, ayahnya yg sudah mabuk itu berjalan sempoyongan.
"Dimana minuman ku kamu semubunyikan, huh?" tanya ayahnya sembari mencengkram pundak Maria dengan kasar, membuat Maria meringis kesakitan.
"Bukan ku sembunyikan, tapi ku buang" desis Maria sembari mendorong ayahnya menjauh.
"Kurang ajar"
Plakkk
Air mata Maria langsung menyeruak sekali lagi mendapatkan tamparan dari ayahnya, ia memegang pipi nya yg terasa panas.
"Sampai kapan Daddy mau seperti ini? Daddy udah kayak monster, tau engga?" teriak Maria dan sekali lagi ia mendapatkan pukulan yg membuat Maria berteriak kesakitan, bahkan saking kerasnya tamparan itu hingga membuat ia terjatuh. Ayahnya, Robert Genelia. Segera menarik rambut Maria membuat Maria meringis.
" Daddy, lepasin" pinta Maria dengan air mata yg berderai, ia mencoba melepaskan tangan ayahnya dari rambutnya yg terasa akan segera di cabut dari kepalanya, benar benar sakit.
"Berani nya kamu memanggil ayah mu sendiri monster. Kamu yg monster karena sudah membunuh istri ku" desis Robert dan mendorong Maria keras hingga Maria terjatuh dan kening nya terbentur pada ujung meja belajarnya. Maria mengerang kesakitan, hingga ia merasakan cairan anyir yg mengalir di kening nya.
"Agh..." erang nya sembari ia berusaha berdiri sambil memegang luka di kening nya yg sudah berdarah "Itu kecelakaan, Dad. Itu bukan salah ku" teriak Maria di depan wajah ayahnya itu.
"Tentu saja itu salah mu, kenapa engga kamu aja yg mati, huh? Anak engga berguna" ayahnya balas berteriak dan air mata Maria semakin deras, selalu itu yg ayahnya katakan sejak kematian ibunya. Maria berlari keluar karena sudah tak sanggup lagi berada bersama laki laki yg sudah ia anggap monster.
Maria menghentikan sebuah taksi dan meminta sopir itu mengantarkan nya ke sebuah club dimana biasanya ia nongkrong disana bersama Alex dan Hira. Namun saat ini ia ingin sendiri saja.
Sesampainya di club, tentu Maria menjadi sorotan, bagaiamana tidak? Ia hanya mengenakan kaos tipis dan hot pants yg memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya dan mulus nya kulit putihnya itu. Sementara ia mengikat kepalanya dengan kain untuk menutupi luka di kening nya.
Beberapa pria menggoda nya, namun Maria enggan menanggapi, ia segera ke meja bar, memesan alkohol dan menegaknya, berharap alkohol itu bisa melepaskan kesedihannya dan bebannya.
Ia merasa hidup nya benar benar berat, ia sudah cukup lelah dengan pekerjaan, kuliah dan mengurus rumah nya yg memang cukup besar sendirian. Rumah itu adalah satu satu nya yg mereka punya saat ini, rumah warisan sang ibu dari kedua orang tua nya.
"Tambah lagi" pinta Maria pada bertender itu. Ia menegak satu gelas lagi alkohol, dan setelah itu ia meminta tambah lagi, lagi, dan lagi.
Hingga ia merasa tak sanggup lagi dan sudah merasa melayang.
"Lagi..." pinta Maria yg sudah teler, dan bertender itu kini memberikan satu botol wine dan Maria segera meneguk nya.
"Nona, ini sudah malam. Kami akan segera tutup" tutur bertender itu pada Maria yg masih menegak alkohol.
Maria pun mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar minumannya, ah syukurlah Faraz menggaji nya hingga kini ia punya uang.
Setelah itu, dengan sempoyongan Maria berjalan keluar. Hingga tiba tiba ia merasa perutnya bergejolak, Maria pun memuntahkan isi perut nya di pingggir jalan hingga membuat kepalanya terasa pening.
Setelah memuntahkan isi perut nya, ia mengambil ponsel dari saku nya celananya dan malah menghubungi Faraz.
"Hai, Tuan..." sapa Maria dengan suara serak nya, bahkan matanya kini sudah merem melek, antara sadar dan tidak.
"Maria?" terdengar suara terkejut Faraz dari sana.
"Ya, aku Maria. Maria si gadis menyedihkan. Apa kau tahu? Maria adalah wanita suci dalam agama ibu ku, dia beruntung dan di puja. Lalu kenapa aku tidak? Kenapa aku hidup di neraka ini?" oceh nya panjang lebar sambil tertawa kecil tanpa sadar.
"Kamu mabuk?" terdengar lagi suara Faraz dari seberang sana.
"Engga, aku benci orang mabuk. Hehe hehe" jawab nya dan sekali lagi ia memuntahkan isi perut nya.
"Maria, kamu dimana?" teriak Faraz dari seberang telepon. Setelah muntah, Maria kembali menempelkan ponsel nya ke telinga nya.
"Di neraka" jawab nya sambil kembali tertawa "Halo... Halo... Sarfaraz? Hey Tuan sok suci? Boss?"
Maria mengernyit karena tiba tiba Sarfaraz sudah tak bersuara, dan setelah melihat layar ponsel nya, ternyata sambungan telepon nya sudah terputus, membuat Maria mengerucutkan bibirnya kesal.
Ia pun merebahkan diri nya di kursi pingggir jalan.
.
.
.
Faraz segera melajukan mobilnya dan melacak GPS ponsel Maria, ia mengikuti nya hingga ia sampai di sebuah club yg sudah tutup.
__ADS_1
Tak heran, ini sudah jam 12 lewat. Saat Maria menelepon nya, Faraz baru saja ingin tidur, namun suara Maria yg tampak seperti orang mabuk membuat nya khawatir.
Faraz menyusuri jalan di sekitar club itu, dan ia menemukan Maria yg tergelatak di sebuah kursi.
Faraz pun menghampiri nya dan memanggil namanya supaya bangun.
"Maria..."
"Maria, ayo bangun" ujar Faraz namun Maria tak bergeming sedikitpun. Faraz meringis melihat bagaimana Maria berpenampilan dan ia tak habis fikir bagaimana bisa Maria tidak kapok dengan apa yg sudah hampir terjadi dulu pada nya. Faraz memperhatikan sekitar nya yg tampak sangat sepi.
Dengan sangat terpaksa, Faraz membopong Maria dan membawa nya masuk kedalam mobil nya. Faraz menidurkan Maria di jok belakang, ia mengambil jaket nya dan menutupi tubuh Maria. Namun ia sedikit heran kenapa kepala Maria di ikat dan kening nya itu tampak berdarah.
Kemudian Faraz melajukan mobil nya dan hendak mengantar Maria kerumah nya.
"Boss..." panggil Maria tiba tiba dengan suara serak nya.
"Apa? Kenapa mabuk? Pakek pakaian kurang bahan lagi" ujar Faraz kesal.
"Boss, bisa kau minta Tuhan mu supaya mengirim Daddy ke neraka. Hehe hehe" ucap Maria masih dengan mata tertutup. Faraz mengerutkan kening nya mendengar itu, ia melirik Maria sekilas dari kaca mobil nya.
"Apa maksud mu?" tanyq Faraz kemudian fokus pada kemudi.
"Dia itu monster, aku sudah lelah di pukuli oleh nya selama 10 tahun ini, hiks hiks hiks..." Faraz langsung menginjak rem dan ia menoleh pada Maria yg kini menangis namun masih dengan mata tertutup.
"Maria, apa kau di pukuli ayah mu?" tanya Faraz pelan.
"Hiks..hiks.. Iya, dia monster. Sejak kecil...hikss..aku di pukul..." kini Maria benar benar terisak bahkan tubuhnya bergetar. Membuat Faraz bingung bagaiamana menenangkan Maria.
"Dia monster... Hikss.. Hikss.. Mom" lirihnya.
"Sshstt... Maria, tenang ya. Jangan nangis" seru Faraz masih menoleh pada nya. Dan seketika Maria menghentikan tangis nya dan ia seolah kembali tertidur.
Faraz pun berputar arah dan berniat membawa Maria ke rumah nya, karena ia tak tahu lagi harus membawa Maria kemana.
Setelah sampai dirumah nya yg sudah sepi, ia segera menelpon adik nya.
Sementara Maryam yg memang tidak bisa tidur karena memikirkan Amar dan bagaiamana reaksi keluarga nya nanti, Maryam segera menjawab telepon kakaknya itu dengan bingung.
"Kak?" panggil nya setelah menjawab telepon nya.
"Huh? Maksud, Kak Faz? Kakak dimana?" tanya Maryam semakin bingung.
"Nanti kakak jelasin, sekarang buka pintu belakang, pelan pelan ya, jangan sampai Ummi sama Abi bangun"
"Tapi... Halo.. Halo? Kak?"
Maryam semakin bingung namun ia segera mengendap ngendap keluar kamar, berjalan menuju pintu belakang dan betapa terkejut nya ia melihat kakaknya yg merangkul seorang gadis dengan pakaian minim dan dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Astaghfirullah, Kakak" pekik nya.
"Sshttt!" Faraz segera memberi isyarat untuk diam "Bantuin sini" pinta Faraz, dengan ragu ragu Maryam pun ikut merangkul gadis itu dan ia mengibaskan tangan nya di depan wajahnya saat mencium aroma alkohol yg sangat menyengat dari gadis itu.
"Dia mabuk" gumam nya.
"Bawa dia ke kamar mu, ya" pinta Faraz.
"Apa? Engga mau. Taroh aja di kamar tamu" jawab Maryam.
"Nanti ketahuan Abi sama Ummi, Dek" ucap Faraz sembari kedua nya membawa Maria masuk. Dan saat sampai di pintu, Kakak beradik itu sangat terkejut saat melihat Ummi nya sudah berkacak pinggang dengan tatapan tajam nya, dan juga Abi nya yg sudah bersandekap dan terlihat marah.
"Siapa gadis itu?" tanya ibu mereka tajam.
Maryam hanya menggeleng karena dia memang tidak tahu siapa Maria.
"Faraz? Kamu yg membawa nya, kan?" Ummi nya terlihat menahan amarah dan ia memperhatikan Maria dari atas sampai bawah "Siapa dia? Kenapa kamu membawa nya ke sini?"
"Ummi, dia...dia Maria, dia bekerja sama Faraz di kantor"
"Apa?" tanya ibunya terkejut "Bukannya semua karyawan mu wanita berhijab? Dan dia..." Asma meringis dan menatap risih pada Maria. Kemudian ia meminta Faraz melepaskan Maria dan ia yg menggantikan posisi Faraz untuk memagang Maria.
"Bau apa ini?" tanya ibu nya, karena ia memang tak pernah tau aroma alkohol sebelum nya, dia juga tidak pernah melihat orang mabuk secara langsung.
__ADS_1
"Dia mabuk, Ummi. Itu bau alkohol" cicit Maryam takut takut.
"Faraz?" kali ini ayah nya yg bertanya dengan marah.
"Bi, ceritanya panjang. Tapi Faraz engga macam macam, sumpah" ucap Faraz berharap kedua orang tau nya itu percaya.
"Ummi, bawa gadis itu ke kamar tamu. Dan Faraz, kamu engga boleh menemui nya! Biar Ummi dan adik mu yg mengurus nya" tegas sang ayah dan Faraz pun segera mengangguk patuh.
.
.
.
Asma meminta Maryam untuk meminjamkan daster nya untuk Maria, karena ia tak mau ada yg berpakaian terbuka di rumah nya, apa lagi ada dua laki laki disana.
"Kamu benar benar engga kenal siapa gadis ini?" tanya Asma sembari menarik selimut dan menutupi setengah tubuh Maria.
Maryam menatap lekat lekat Maria dan ia merasa tidak asing dengan Maria.
"Ummi, kayaknya dia mahasiswi di kampus Maryam, Maryam pernah melihat nya"
"Sejak kapan Faraz mempekerjakan seorang mahasiswi?" gumam Asma, karena se tahu dia semua karyawan Faraz itu adalah orang orang dewasa dan yg sudah berpengalaman.
Setelah mengganti pakaian Maria, Asma memerintahkan Maryam untuk kembali ke kamarnya dan tidur.
Sementara Asma menghampiri suaminya yg saat ini pasti sedang meng introgasi putra nya.
Faraz menceritakan segalanya pada ayahnya, dari pertama kali ia bertemu Maria, dan di lanjutkan dengan pertemuan pertemuan selanjutnya dimana ia selalu mendapati Maria dalam kesulitan.
Dan Faraz menjelaskan pada kedua orang tua nya, ia mempekerjakan Maria hanya sekedar untuk menolong gadis itu.
"Tapi kenapa harus asisten pribadi, Faraz? Apa engga pekerjaan yg lain?" tanya ibunya tak suka jika Faraz harus dekat wanita yg salah.
"Masalah nya, engga ada lowongan yg lain, Ummi. Dan Faraz sama Rian juga sibuk dan kami kewalahan, jadi Faraz fikir dia bisa membantu"
Asma mendesah lesu mendengar alasan Faraz.
"Lalu, kenapa kamu engga bawa dia kerumah nya aja? Ini tengah malam, lho. Bagaimana jika orang tuanya mencari nya"
"Ibunya meninggal, dan ayahnya memukulinya" Bilal dan Asma sangat terkejut mendengar penuturan Faraz.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Bilal.
"Kalau orang mabuk suka mengoceh, Bi. Tapi ocehannya itu engga mungkin. Tadi di sepanjang perjalanan dia mengoceh kalau ayahnya sudah memukulinya selama 10 tahun ini"
"Astaghfirullah" gumma Asma dan Bilal bersamaan.
"Apa memar di pipi nya dan luka di kening nya itu akibat pukulan ayahnya?" tanya Asma yg tampak bersimpati.
"Mungkin" jawab Faraz ragu.
"Tapi sedekat apa kalian? Kenapa kamu yg dia hubungi dan bukan orang lain?" Bilal bertanya.
"Faraz engga tanu, Bi. Kami cuma sebatas rekan kerja, Bi. Tapi memang dekat karena Faraz sering membicarakan agama padanya, karena dia... Ehem, dia ateis"
"Innalillah" gumam Asma.
"Jadi kamu bermaksud membuat dia masuk islam?" tanya ayahnya lagi.
"Iya, maksud Faraz, Faraz hanya berusaha membuat dia percaya kalau Tuhan itu ada dan agama itu di butuhkan, dia engga percaya sama Tuhan karena memang engga ada yg menunjukan jalan itu padanya, Bi. Apa lagi setelah kehilangan ibunya, di tambah ayahnya yg memukulinya. Dia fikir, jika Tuhan itu ada maka seharusnya Tuhan itu menolong nya, tapi dia merasa Tuhan tidak pernah menolong nya"
Bilal hanya bisa menghela nafas berat, dan ia juga tampak bersimpati.
"Baik lah, sekarang kamu kembali ke kamar mu, dan tidur!"perintah Bilal, dan putra nya itu mengangguk kemudian bergegas ke kamar nya.
"Bi..." panggil Asma pada suaminya yg tampak lelah "Ada apa? Faraz kan sudah menjelaskan semua nya"
"Aku hanya khawatir, Sayang. Jika gadis itu bekerja sebagai asisten pribadi, maka berarti mereka dekat, dan aku takut jika kedekatan itu membuat mereka..."
"Semoga engga, apa lagi gadis itu bukan seorang muslim. Dan semoga Faraz bisa menjaga diri" Asma berkata dengan lembut dan berharap suaminya itu tenang, padahal ia sendiri sangat tidak tenang, karena setiap kelemahan lekaki adalah perempuan.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...