Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 41


__ADS_3

Setelah fitting baju dengan di temani Granny nya, Amar mengajak Maryam ke hotel tempat mereka akan mengadakan resepsi. Hotel itu sangat besar dan mewah.


Maryam masih merasa ini mimpi, semuanya terlalu cepat dan terlalu indah. Entah bagaiamana seorang Amar yg mental nya tidak baik, dingin dan arrogant bisa memperlakukan Maryam dengan begitu lembut dan istimewa.


Ngomong ngomong tentang sikap dingin nya, sejak awal Amar memang tidak memperlihatkan itu pada Maryam. Dan soal mental, Maryam tahu Amar masih pada trauma nya, tapi setidaknya ia tidak membenci kata ibu lagi. Amar juga masih terbayany adik dan ayahnya, tapi sekarang dia hanya mengenang mereka dan mengikhlaskan kepergian mereka.


Itu semua saran dari Maryam, Maryam mengatakan yg Amora dan ayahnya inginkan adalah Amar ikhlas, mendoakan mereka agar tenang di alam sana dan juga Amar harus bisa menjalani kehidupan yg lebih baik.


"Kehidupan ku adalah kamu, Maryam"


Itulah yg Amar katakan saat Maryam meminta Amar menjalani kehidupan yg lebih baik, dan tentu lagi lagi itu membuat hati Maryam begitu tersentuh.


Amar membawa Maryam ke sebuah ballroom hotel yg sangat megah, dimana disana nanti mereka akan mengadakan resepi. Amar bahkan sudah menyiapkan kamar untuk keluarga ibu Maryam maupun abi nya yg dari luar kota.


"Terima kasih banyak, terlalu banyak yg kamu lakukan, Amar" ucap Maryam.


"Itu bukan apa apa, Tante Zahra ingin pernikahan putri tercinta nya sangat berkesan, aku ingin pesta ini se mewah mungkin"


"Kenapa kamu memberikan banyak hal untuk ku?"


"Karena kamu telah memberikan sesuatu yg tak ternilai, yaitu hidup. Aku baru merasa hidup setelah aku bertemu dengan mu"


Dan seketika Maryam teringat bagaiamana kisah ini di mulai, yaitu karena ketidak sengajaan Amar yg mengatakan bahwa Maryam berkunjung ke kantor calon suami nya pada Dilara. Tapi siapa sangka, ternyata itu bukan sekedar kata kata belaka.


"Apa kalian sudah selesai?" mereka bahkan lupa, lagi dan lagi Granny Amy itu meninggalkan mereka.


"Ya" jawab Maryam singkat.


Kemudian setelah berjalan jalan sebentar di hotel, Amar membawa Maryam pulang karena hari sudah petang.


.


.


.


"Tunggu sebentar...!" seru Dokter Gea kemudian ia mengambil ponsel nya dan...


Cekrek...


"Apa yg kau lakukan, Dokter Gea?"


"Mengabadikan momen langka, seorang Amar Degazi tersenyum manis dengan tatapan berbinar"


Amar terkekeh pelan mendengar ucapan Psikiater nya itu.


"Jujur saja, Amar. Aku merasa gagal menjadi seorang psikiater, bebeberapa tahun terakhir aku menangani mu dan kamu tidak menunjukan kemajuan apapun, sementara seorang mahasiswi psychology berhasil mengubah mu dengan sangat cepat"


"Aku sendiri tidak mengerti, dia seperti punya sihir yg tidak bisa aku tolak"


Dokter Gea tak bisa menyembunyikan rasa senang nya melihat kebahagiaan di mata pasien nya itu. Akhirnya, setelah sekian lama Amar hidup hanya dengan bayangan masa lalu, kebencian dan kemarahan, kemudian hanya menjalani hidup dalam bisnis, sekarang telah ada warna baru dalam hidup nya.


"Cinta perasaan yg luar biasa, bukan? Hanya bisa di rasa kan oleh hati tanpa bisa di cerna logika tapi mampu mengendalikan segala nya" ucap Dokter Gea masih dengan senyum yg mengembang di bibir nya.


"Exactly" jawab Amar yg sudah mengaku kalah pada ego nya.


"Desain undangan nya bagus, aku yakin ini bukan pilihan mu" Dokter Gea memeperhatikan undangan pernikahan di tangan nya. Di sela kesibukan nya, Amar datang demi menyerahkan undangan itu secara langsung pada Psikiater nya. Tentu itu membuat Dokter Gea sangat senang.


"Semua nya pilihan calon istri ku, karena aku tidak bakat dalam hal seperti itu"


"Bisa di mengerti, kau hanya bakat dalam melihat peluang uang dalam bisnis mu"


Amar kembali tertawa kecil, sesuatu yg tak pernah Dokter Gea lihat selama ini.


"Maryam akan senang jika kau datang"


"Aku janji aku pasti akan datang, lagi pula ini pesta pernikahan pasien yg gagal ku tangani" kekeh Dokter Gea "Love is heal, right?" lanjut nya kemudian.


"Begitulah. Oh ya, aku harus kembali ke kantor" Amar beranjak dari kursi nya dan kemudian ia berjabat tangan dengan Dokter Gea yg juga beranjak dari kursi nya "Semoga hari mu menyenangkan, Dokter Gea" terakhir kali Amar mengucapkan gal itu, ia sangat dingin dengan tatapan yg juga sedingin es batu. Namun sekarang, Amar mengatakan nya dengan sangat tulus dan di iringi senyum yg membuat nya semakin terlihat mempesona.

__ADS_1


"Kau juga, salam untuk Maryam"


"Inysa Allah, akan aku sampaikan"


Setelah itu, Amar segera keluar dan ia di sambut dengan Bobby yg tampak tegang.


"Ada apa?" tanya Amar penasaran kemudian Bobby membisikan sesuatu pada boss nya itu.


"Sial" geram Amar marah "Panggil Gina dan Rika lagi, suruh mereka menjaga Maryam diam diam selama 24 jam"


"Sudah saya lakuakn, Tuan" jawab Bobby.


"Sudah ku duga wanita gila itu pasti mengincar Maryam"


.


.


.


Meskipun beberapa hari lagi menikah, Maryam tak ingin meninggalkan kuliah nya dulu. Toh semua persiapan pernikahan sudah hampir selesai, tinggal mengambil cincin dan menyebarkan undangan. Tapi menyebarkan undangan sama sekali bukan tugas nya ataupun keluarga nya, karena Amar sudah menyuruh orang orang nya melakukan itu kecuali untuk kerabat Maryam saja yg Maryam antarkan sendiri.


Bersyukurlah punya calon imam big boss yg bisa melakukan segala nya dengan sangat mudah.


Mereka juga sudah menelepon keluarga nya di desa dan mereka semua akan datang sehari sebelum ijab qobul.


Maryam sangat bahagia hingga ia tak mampu mengungkapkannya dengan kata kata.


Dan keinginan sang ummi terkabul, yg ingin anak anak nya memilih pasangan nya sendiri karena ia tak ingin anaknya bernasib sama seperti dirinya yg sangat marah karena di jodohkan meskipun pada akhirnya dia bahagia.


Tapi Abi mereka adalah contoh bahwa perjodohan bisa berdampak pada dua hal. Seperti Bilal dengan Zahra, atau Khadijah dengan Bilal. Dan Asma takut jika pernikahan mereka seperti Bilal dan istri pertama nya.


Rika dan Gina mengawasi Maryam dari kejauhan, tak sedikitpun pun mereka melepaskan pandangannya dari calon makmum big boss nya itu. Namun mereka melihat di sekililing Maryam tak ada yg mencurigakan. Atau belum?


.


.


.


Sudah beberapa hari ini ia mengikuti Maryam dan memperhatikan seluruh aktifitas gadis kecil itu. Dan sekarang, waktu nya bereaksi.


"Maaf terlmabat" Dilara mendongak dan menyunggingkan senyum miring nya.


"Engga apa apa, Rick" Erick, pria itu duduk di belakang Dilara dan kedua nya saling memunggungi.


"Kenapa harus bertemu di taman penuh anak anak begini? Sejak kapan kamu menyukai anak anak?"


"Hanya mencari aman" ucap Dilara pelan dan mereka mengobrol dengan setengah berbisik karena banyak anak anak.


Dilara melettakkan sesuatu di samping Erick dan Erick pun mengambil nya.


"Apa ini?" tanya nya karena melihat sebuah suntikan yg sudah terisi dengan sesuatu.


"Obat" jawab Dilara santai dan itu membuat Erick tertawa pelan.


"Karena di tolak Degazi, kamu jadi butuh obat, eh?" ejek nya


"Sialan, bukan untuk ku. Tapi untuk calon istri nya"


"Aku engga ngerti maksud mu. Kamu mengajak ku kesini untuk membantu ku mendapatkan perusahaan kembali, bukan?"


"Aku bisa memberi mu dua hal, perusahaan mu dan dendam mu"


"Oh, apa kau berpihak pada ku sekarang? Kau juga punya dendam pada Degazi itu?"


"Aku mencintai nya, aku engga punya dendam apapun pada nya, tapi aku sangat marah pada gadis kecil itu"


"Aku mengerti, dia menyingkirkan mu dengan sangat mudah. Sungguh menyedihkan" Erick kembali mengejek namun Dilara enggan menanggapi "Oh ya, siapa nama nya?"

__ADS_1


"Maryam"


"Jadi, apa rencana mu?"


"Menghancurkan gadis itu"


"Aku hanya tertarik menghancurkan Amar, bukan gadis kecil yg masih kuliah"


"Memang nya kamu mau menghancurkan Amar dari segi apa? Kita sama sama tahu sangat tidak mungkin menyentuh Amar secara langsung, tapi gadis itu adalah kelemahannya. Sekali gadis itu hancur, Amar juga hancur. Dan aku yakin kamu akan sangat puas membalaskan dendam mu pada Amar lewat gadis itu"


"Kamu bilang kamu mencintai Amar, kalau gadis itu hancur maka arti nya kamu juga menghancurkan Amar. Cinta macam apa itu?"


"Anak kecil seperti mu engga akan ngerti. Sekarang dengarkan rencana ku dan lakukan sesuai perintah ku"


"Hem okey"


"Pertama, kamu harus culik gadis itu, suntikan obat itu pada nya, itu akan membuat dia antara sadar dan tidak. Bawa gadis itu ke hotel, kamu bisa memperkosa nya atau apapun itu tapi harus terlihat seolah kalian suka sama suka, seharus nya gadis itu tidak memberontak karena di bawah pengaruh obat itu, kan? Dan aku ingin kamu merekamnya, agar Amar mengira gadis itu selingkuh dan tak sesuci kelihatannya"


"Wow, Dilara. Masalah nya aku bukanlah seorang gigolo. Kenapa harus dengan cara seperti itu? Itu terlihat sangat pengecut karena menggunakan gadis tak berdaya"


"Kamu mau terlihat seperti hero atau mau membalas dendam, huh?"


"Pelankan suara mu, banyak anak anak disini" ujar Erick memperingatkan. Dilara pun menarik nafas dan mencoba menenangkan dirinya.


"Yang aku inginkan adalah kehancuran gadis itu, yg kamu inginkan adalah balas dendam, dan jika kamu melakukan nya, aku janji aku akan membantu mu mendapatkan perusahaan mu kembali. Kamu yg jauh lebih di untungkan disini, kamu bisa melampiaskan semua amarah mu pada Amar lewat gadis itu"


"Apa jaminan nya kamu bisa mendapatkan perusahaan ku kembali?"


"Aku punya banyak cara untuk itu"


"Lalu kenapa aku harus menbawa nya ke hotel?"


"Supaya meyakinkan bahwa itu memang perselingkuhan, kalau kamu memperkosa nya di tengah jalan, itu namanya pelecehan murahan"


"Lalu kenapa aku harus merekam nya? Aku bukan gigolo, saat ber cinta aku ingin privasi"


"Lalu dimana akan ada bukti bahwa Maryam selingkuh dan gadis yg kotor?"


"Jika di rekam maka Amar akan tahu itu aku dan dia akan membunuh ku"


"Jangan perlihatkan wajah mu, masak itu aja engga ngerti"


"Lalu kenapa harus aku? Kalau kamu hanya ingin gadis itu di perkosa, maka kamu bisa menyewa pria mana saja"


"Sejauh ini, hanya kamu yg aku tahu memiliki dendam yg besar pada Amar. Setidaknya berterima kasihlah karena aku sudah membantu mu"


"Biar aku fikirkan lagi"


"Engga akan ada waktu untuk berfikir, Erick. Sebentar lagi mereka menikah. Coba fikirkan lagi apa yg sudah Amar lakukan pada mu, padahal ayahmu tidak bersalah, tapi keluarga mu harus menderita karena ke angkuhan Amar yg ingin mengambil perusahaan mu" seru Dilara mencoba memamcing amarah Erick.


Erick yg masih muda dengan jiwa labil nya tentu saja akan sangat mudah di pengaruhi sehingga ia mengangguk setuju.


"Sekarang pergi dari sini, aku akan menghubungi mu nanti"


Tanpa berkata kata lagi, Erick pun langsung pergi.


Sementara Dilara, ia masih duduk disana.


Bagaiamana mungkin ia membantu Erick mendapatkan perusahaan nya sementara perusahaan Dilara sendiri di ambang kehancuran?


Tapi tentu saja Dilara harus memilih Erick karena ia orang yg tepat untuk mempermalukan Maryam dan Erick sangat mudah di pengaruhi. Dilara akan menyebarkan video mesum mereka nanti, sehingga bukan hanya Maryam tapi keluarga Maryam pun juga akan hancur. Katakan lah Dilara gila, tapi dia memang sangat marah pada gadis itu, bahkan ayahnya sendiri sampai menyebutkan pelacur murahan.


Sejak awal, Dilara sudah mencintai Amar, meskipun pria itu sangat dingin tapi justru itulah yg membuat Dilara semakin tertantang untuk mendapatkan dan menaklukan Amar. Tapi tiba tiba muncul gadis kecil dan langsung menyingkirkan Dilara begitu saja?


Dan dengan sangat mudah nya Amar jatuh cinta dan ingin menikahi gadis itu?


Bagaiamana bisa Dilara menerima semua itu?


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2