Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 65


__ADS_3

Maria merasa sangat lelah dengan hidup nya, kini ia hanya bisa meringkuk di kamar nya dan untuk menangis pun rasanya sudah tak sanggup lagi. Dan ia teringat kata kata Faraz, Maria sadar dia salah, tak seharusnya dia marah pada Faraz, Maria tahu Faraz hanya berniat membantu. Tapi masalah nya, Maria mencintai nya. Maria sangat mencintai Faraz dan ingin memiliki nya, walaupun Faraz tak mencintainya, mungkin Maria bisa berusaha membuat Faraz jatuh cinta pada nya, tapi sekarang sudah tak mungkin lagi, Faraz tak akan pernah mencintainya.


Dan Maria lupa, Faraz tak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya, Faraz memang sering membantu nya, selalu ada untuk nya, tapi itu karena Faraz memang orang yg baik, pada orang lain pun pasti Faraz akan melakukan hal yg sama.


.


.


.


Faraz terus memikirkan Maria, dia merasa kasihan dengan gadis itu dan apa yg di alami nya.


Faraz memang sempat mengagumi nya, sempat tertarik dan memikirkan nya. Tapi seperti yg ia katakan pada Maryam, Maria adalah sesuatu yg baru dalam hidup nya, seorang gadis asing, ateis dan seolah hilang arah. Faraz selalu bertemu dengan nya saat gadis itu dalam kesulitan, rasa simpati Faraz salah artikan sebagai sebuah ketertarikan dan seolah Faraz memiliki tanggung jawab terhadapnya.


Dan Afsana, buku diary Afsana membuat Faraz semakin pusing saja, itu sangat tidak lucu seperti yg dia katakan pada Maryam. Itu sangat mengganggu nya.


Padahal Faraz hanya ingin fokus pada hidup nya sendiri, dia masih ingin fokus pada karir nya dan mengembangkan bisnisnya. Dan jawaban apa yg harus Faraz berikan pada Afsana nanti?


Baru saja Faraz memejamkan mata, tiba tiba suara isakan kecil mengganggu nya. Faraz membuka mata.


"Ana?" seru Faraz tak percaya, melihat Afsana di ambang pintu sambil menangis. Afsana hanya menatap nya dan air mata terus mengalir bebas di pipi nya.


"Afsana, ada apa?" tanya Faraz sembari berjalan mendekati Afsana, namun Afsana tak mrnjawab dan hanya menangis. Faraz semakin mendekati nya, tapi Afsana malah mundur.


"Dek, kenapa kamu nangis?" tanya Faraz lembut. Dan setiap kali Faraz melangkah maju, Afsana melangkah mundur. Dan seperti itu terus hingga tanpa Afsana sadari, kini ia berada di ujung tangga.


"Afsana, berhenti!" teriak Faraz saat Afsana hendak mundur lagi, namun sudah terlambat, Afsana terjatuh dari tangga membuat Faraz histeris


"AFSANA...."


"Faraz..."


Faraz tersentak saat mendengar suara ibu nya yg menggantung pakaian Faraz di lemari nya. Sementara Faraz, ia mengelap keringat dingin di pelipisnya. Nafasnya tersengal dan jantungnya berdebar. Kenapa dia memimpikan Afsana seperti itu? Apa mungkin karena Faraz merasa bersalah pada nya atau itu pertanda yg buruk?


"Kamu kenapa teriak teriak panggil Afsana?" tanya ibu nya lagi.


"Mimpi, Ummi" jawab Faraz sembari merangkak turun dari ranjang nya.


"Makanya jangan tidur habis Ashar toh. Di ganggu setan kan" tegur sang ibu.


Faraz melirik jam dinding di kamar nya, sudah jam setengah lima, karena hari ini Jum'at, Faraz tak kembali lagi ke kantor nya setelah dari masjid. Ia merasa lelah dan mengantuk, karena itulah dia pulang.


"Ketiduran, Ummi" jawab Faraz dan tiba tiba terdengar suara mobil Abi nya dari luar.


"Tumben Abi pulang jam segini"gumam Faraz kemudian turun bersama ibunya.


Dan ia melihat Abi nya yg tampak sangat panik.


"Bi, ada apa?" tanya Asma heran


"Sayang, aku mau ke Lebanon sama Hubab. Siapkan pakaian ku ya"

__ADS_1


"Apa? Tapi kenapa?"


"Ada apa, Bi?" Faraz juga bertanya heran.


"Afsana mengalami kecelakaan di asrama nya, dia jatuh dari jendela kamarnya"


"Aapa?" seru Faraz tak percaya.


"Innalillah, bagaimana bisa?" tanya Asma sembari mengikuti suaminya ke kamar, Faraz juga mengekori mereka


"Bi, Faraz ikut..." seru Faraz.


"Engga usah, Faraz. Kamu jaga Ummi di sini"


"Tapi Faraz mau ikut, ya Bi. Ummi Faraz mau ikut"


Faraz terus membujuk Abi dan Ummi nya seperti anak kecil yg merengek ingin ikut ke pasar. Membuat ayahnya meng iyakan saja.


"Sayang, kamu jaga diri ya. Entah kenapa kalau soal Afsana Faraz tuh ngebet banget" tutur Bilal sembari mengecup kening istri nya.


"Mungkin dia khawatir, semoga Afsana baik baik saja" jawab Asma sembari membawakan tas yg berisi beberapa pakaian Bilal.


Sementara Faraz segera berlari ke kamar nya, berganti pakaian dan memasukan beberapa lembar pakaian ke dalam ransel nya.


Faraz begitu khawatir dan takut dengan apa yg menimpa Afsana, dan mimpi itu... Apakah itu sebuah petunjuk?


.


.


.


"Faraz..." seru sang ayah karena melihat Faraz yg terlihat sangat cemas "Afsana pasti baik baik saja"


"Tapi bagaiamana bisa dia jatuh dari kamar nya? Memang apa yg Afsana lakukan hingga ia terjatuh dari jendela kamar nya? Apa dia melompat" Faraz berkata tanpa bernafas, ia khawatir, takut, cemas, bagaiamana jika terjadi sesuatu dengan adik sepupu nya itu.


Hubab tak tahu harus bereaksi apa mendengar Faraz yg berbicara dalam satu tarikan nafas. Hubab ayahnya, dia juga sangat khawatir, tapi Faraz seperti akan gila saja.


"Ana engga gila yg akan melompat dari jendela kamar nya, Faraz" jawab Hubab "Kata teman nya dia berdiri di dekat jendela, dia terlihat melamun, dan saat di panggil dia mungkin terkejut dan terpeleset"


Ingatan Faraz langsung tertuju pada malam terakhir ia bertemu Afsana dan apa yg mereka bicarakan. Dan mungkinkah semua itu karena diri nya?


"Oh Tuhan, jika ya, maka aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri"


.


.


.


Di bandara, mereka segera mencari taksi untuk mengantar mereka kerumah sakit tempat Afsana di rawat.

__ADS_1


Perjalanan yg panjang sempat membuat Bilal dan Hubab tertidur. Namun tidak dengan Faraz, ia terus memikirkan Afsana, bertanya tanya bagaiamana keadaan nya sekarang.


Sesampainya di sebuah rumah sakit, seorang wanita bercadar menyambut mereka, dan ternyata dia adalah pengurus asrama Afsana. Wanita itu mengatakan kondisi Afsana semakin membaik namun ia mengalami patah kaki dan cidera di kepala nya.


Tentu hal itu membuat mereka semakin khawatir. Wanita itu mengantarkan mereka ke kamar Afsana, Afsana sudah sadar. Namun dalam keadaan yg lemah dan pucat. Ada beberapa wanita bercadar disana yg mendampingi Afsana, dan setelah mereka masuk, wanita wanita itu segera keluar.


Afsana sangat terkejut melihat Faraz yg juga datang. Afsana fikir hanya ayahnya dan Bilal yg datang.


"Afsana, bagaiamana keadaan mu, Nak?" tanya Hubab sembari membelai kepala Afsana.


"Sekarat, Uncle" jawab Faraz dengan nada kesal "Lagian udah dewasa, ngapain main di dekat jendela?" lanjut nya dengan nada marah membuat Afsana langsung memberengut.


"Faraz dari sejak di peswasat ngedumel terus" sambung Bilal yg tak habis fikir dengan tingkah putra nya itu.


"Ana engga main di dekat jendela, Kak" jawab Ana pelan karena ia masih sangat lemah.


"Terus kenapa bisa lompat dari jendela?"


"Astaghfirullah, Kak. Ana engga lompat. Jatuh sendiri"


"Ya karena kamu engga hati hati, Afsana..."


"Ih... Kenapa Abi bawa Kak Faraz kesini sih?" gerutu Afsana yg mulai kesal karena mengomelinya "Ana lagi sakit, bukannya di perhatikan malah di omelin. Mending Kak Faraz pulang aja sana"


Faraz menarik nafas, kemudian ia menarik kursi dan duduk di dekat Afsana. Sementara Bilal dan Hubab hanya bisa gelang gelang kepala, begitulah Faraz sejak kecil pada Afsana maupun Maryam.


"Kakak khawatir, Afsana" lirih Faraz "Kakak takut terjadi sesuatu sama kamu, coba dulu kamu dengerin kakak, selesaikan pendidikannya di Indonesia aja. Ngapain juah jauh ke sini?"


"Itu lagi yg di bahas" gumam Ana kesal.


"Faraz, sudahlah. Ana butuh istirahat, jangan di omeli terus" sambung Bilal.


"Ya habis nya dia keras kepala, Bi"


"Namanya juga pengen cari ilmu dan pengalaman, kan mau nya orang beda beda, Faraz"


"Sebaiknya kamu istirahat, Sayang" sela Hubab "Abi akan mengurus administrasi mu dan berbicara dengan pengurus asrama mu"


"Kita harus membawa Afsana pulang dan rawat dirumah, kaki nya patah, butuh waktu untuk sembuh" seru Faraz.


"Iya, nanti kalau Dokter sudah memperbolehkan dia keluar dari rumah sakit" jawab Hubab.


Kemudian Hubab dan Bilal pergi keluar untuk mengurus administrasi.


"Ana mau tidur" ucap Ana pelan. Faraz mengangguk dan menarik selimut nya, menyelimuti tubuh Afsana.


Afsana bukan main main di dekat jendela, tapi ia terus memikirkan Faraz, membuat nya sering melamun. Afsana sangat mencintai Faraz, entah bagaiamana cinta itu begitu besar. Tapi Faraz tak mungkin untuk nya.


Sekarang satu Satunya yg Afsana inginkan adalah Faraz tak akan pernah tahu perasaan nya, biarkan Afsana memendam cinta itu dalam hati nya, dan biarkan dia akan selalu menjadi adik bagi Sarfaraz.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2