Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 27


__ADS_3

Maria sudah mencari cari Maryam ke setiap penjuru di kampusnya, namun adik dari boss nya itu tak kunjung menunjukan batang hidung nya.


Maria mencari Maryam untuk memberi mengajarinya tentang agama nya. Yah, Maryam adalah pilihan terbaik untuk bertanya dari pada harus bertanya pada kakaknya. Selain itu, Maria tidak punya dekat selain Hira dan Alex, dan Keduanya adalah non muslim.


"Dia cuti kuliah, karena pulang kampung katanya" teman sekelas Maryam memberi tahu Maria saat Maria menanyakan keberadaan Maryam.


"Pantas aja engga ada" gumam Maria, kemudian ia pun mengucapkan terima kasih dan hendak kembali ke kantor Faraz, karena memang hari ini dia tak ada kelas dan seharusnya bekerja.


Saat masuk taksi yg akan membawa nya ke kantor Faraz, ponsel nya berdering dan Maria segera menjawab nya dimana telepon itu dari boss nua.


"Ya, Pak?" sapa nya setelah menjawab telepon itu.


"Dimana kamu, Maria? Kamu niat kerja engga sih? Jam segini belum datang ke kantor"


Maria meringis mendengar nada bicara Faraz. Ya, akhir akhir ini Faraz memang sering memarahinya sangat berbeda dengan Faraz yg awal awal dia kenal.


"Iya ini lagi di jalan, Pak. Maaf ya, Pak. Tadi ke siangan"


"Memang nya engga punya alarm kamu?"


"Punya, Pak"


"Masih jawab lagi, pokoknya kamu harus sudah ada di kantor dalam waktu 10 menit"


"Iya Pak Sarfaraz"


Maria menghela nafas berat sambil memijat kepalanya, ia benar benar lelah sebenernya, tapi apalah daya, dia harus berjuang sampai dia menyelesaikan kuliah nya.


.


.


.


"Ada apa dengan mu?" tanya Rian heran yg memperhatikan akhir akhir ini dia sedikit galak pada Maria, dan itu sama sekali bukanlah Faraz yg ia kenal.


"Aku benci orang yg engga di siplin" jawab Faraz bohong. Ia hanya berusaha menutupi perasaan nya pada Maria yg semakin hari semakin dalam. Apa lagi mereka juga semakin dekat, dan Faraz semakin merasa nyaman setiap kali berada di dekat Maria.


Faraz hanya tidak tahu tindakan apa yg harus dia lakukan untuk menekan perasaan nya itu. Terkadang dia ingin mengungkapkan nya pada Maria, tapi itu sangat tidak mungkin. Dia hanya ingin hubungan nya dan Maria sebatas rekan kerja, dan Maria yg bukan dari agamanya membuat Faraz semakin yakin bahwa ia harus memsunahkan perasaan itu.


Kecuali satu cara yg bisa Faraz lakukan...


Membuat Maria memeluk agamanya?


"Tapi bagaiamana cara nya?" Faraz menggumam pada dirinya sendiri bahkan ia sampai lupa kalau Rian masih ada disana


"Cara apa?" tanya tanya Rian yg sedikit mengejutkan Faraz.


"Bukan apa apa" jawab Faraz singkat.


.


.


.


Di desa nya, Maryam dan Afsana di sambut dengan hangat oleh keluarga ibu mereka.


Dan yg menjemput mereka tentu saja kakak sepupu kesayangan mereka, Rafa.


"Gimana pelajaran mu disana, An?" tanya Rafa sambil membantu membawa kan tas Afsana ke kamarnya.


"Baik, Kak. Tahun depan Ana lulus, Inysa Allah. Nanti pas wisuda Kak Rafa datang ya?" pinta Afsana memelas.


"Kakak engga janji, tapi kakak usahain"


"Yah, kok Kak Rafa gitu sih" gerutu Afsana sambil cemberut dan itu membuat Rafa tampak sangat gemas pada nya.


"Ya udah, kakak akan datang, Insya Allah. Sebaiknya kamu sekarang kamu istirahat, kamu pasti capek, Kakak mau pulang dulu"

__ADS_1


"Iya, makasih ya kak. Nanti malam Ana kerumah kakak, mau ke temui Nenek Kulsum sama kakek Rahman"


"Iya, kami tunggu"


Setelah itu, Rafa pun keluar dari kamar Afsana dan ia berpapasan dengan nenek nya Afsana, nenek Susanti, yg tak lain ibunya Lita.


"Udah mau pulang, Raf?" tanya nenek nya itu.


"Iya, Nek. Rafa pamit ya" jawab Rafa kemudian mencium tangan nenek nya itu.


"Iya, Nak. Bagaiamana keadaan Maryam?"


"Dia baik, paling besok dia main kesini"


"Iya, dulu Asma tiap hari kesini dan main sama Lita" Rafa tertawa kecil melihat nenek Susanti yg tampak mengenang putri nya.


Kemudian Rafa pun segera pulang.


Dirumah nya, ia melihat Maryam yg sedang mengobrol bersama Yasmin.


Yasmin, ya keponakan tercinta Asma itu sudah menikah, ia tumbuh menjadi wanita yg anggung dan berwibawa. Dan juga putri Aisyah yg juga dua tahun lebih muda dari Maryam.


Namanya Firda, sangat cantik dan punya suara merdu seperti ibunya.


"Udah nganterin Ana, Kak?" tanya Maryam yg melihat Rafa sudah datang.


"Udah, kamu juga sebaiknya istirahat ya" pinta Rafa.


"Nanti aja, Maryam engga capek kok" jawab Maryam yg masih ingin mengobrol bersama Yasmin. Dan yg mereka bicarakan tentu saja calon suami Maryam.


"Oh ya, jadi seperti apa Amar itu?" tanya Rafa dan duduk di samping adik sepupu nya itu.


"Biasa aja, Kak" jawab Maryam. Ia tak ingin membicarakan terlalu banyak hal tentang Amar apa lagi kelemahannya, itu adalah rahasia baginya.


"Tapi kayaknya dia tipe pria yg luar biasa, kakak engga nyangka seorang billionaires bisa naksir adik kakak yg cantik ini" ujar Rafa sambil mengusap kepala Maryam membuat jilbab Maryam sedikit berantakan dan gadis itu memberengut kesal.


"Kak Rafa sendiri gimana? Udah menemukan calon makmum nya belum?" tanya Maryam sembari membenarkan jilbab nya.


"Oh ya? Astaghfirullah" pekik Maryam sambil menutup mulut dan menatap curiga pada Rafa membuat Rafa sekali lagi mengacak jilbab Maryam.


"Kakak normal, cuma belum ketemu yg cocok aja" tutur nya.


"Belum ketemu yg cocok atau memang engga ada yg naksir sama Kakak" ucap Maryam meledek kakak sepupu nya itu.


"Wah, menghina nih. Emang engga liat kakak setampan ini? Pasti banyaklah yg naksir" ujar Rafa sok sombong yg membuat Yasmin dan Maryam mencebikkan bibir nya.


Rafa memang tampan, tubuhnya tinggi besar seperti orang arab saja, tapi dia punya kulit yg putih tak seperti Faraz yg kulit nya agak kecokelatan.


Mungkin dari faktor cuaca, apa lagi Rafa tinggal di desa dimana cuaca nya sangat dingin dan adem.


"Nikah dong, biar rumah makin rame" ujar Maryam.


"Maryam, kamu masih di sini?" tanya nenek nya Maryam yg baru keluar dari dapur.


"Iya, Nek. Lagi ngobrol sama Mbak Yasmin dan Kak Rafa"


"Ngobrol nya lanjutin nanti aja. Sebaiknya sekarang istirahat"


"Iya" jawab Maryam patuh dan langsung bergegas ke kamarnya dimana dulu itu adalah kamar ummi nya.


Bahkan dikamar itu masih ada barang barang Ummi nya sewaktu muda dulu, dan memang ada beberapa koleksi novel yg masih di simpan disana. Maryam berfikir ummi nya itu pasti lebih suka membaca novel dari pada belajar di masa muda nya.


Tapi walaupun begitu, bagi Maryam dan Faraz, ibu nya adalah ibu terbaik di dunia.


Setelah Maryam membersihkan diri dan berganti pakaian, ponsel bergetar dan Maryam memeriksa nya. Ternyata itu pesan dari Amar.


^^^Amar D^^^


^^^"Apa kau sudah sampai? Bagaiamana kabar keluarga mu? Berapa lama kau disana?"^^^

__ADS_1


Sambil tersemyum Maryam pun menulis pesan balasan.


Me


"Kami semua baik, aku hanya dua hari. Karena liburan Afsana hanya sisa tiga hari. Dan bagaiamana keadaan mu dan Granny?"


^^^^^^Amar D^^^^^^


^^^"Kami juga baik"^^^


Me


"Alhamdulillah, apa kau sudah sholat Ashar?"


^^^Amar D ^^^


^^^"Belum, aku sedang ada meeting" ^^^


Me


"Sholatlah dulu, takut sampai ketinggalan, aku juga mau sholat sekarang. Jadi kita bicara lagi nanti"


^^^Amar D^^^


^^^"Okey, terima kasih sudah mengingatkan, Maryam" ^^^


Me


"Kita harus saling mengingatkan"


^^^Amar D ^^^


^^^"Maryam, bagaimana jika aku saja yg menjemput mu dan Afsana nanti? Menggunakan jet ku. Jadi kalian tidak perlu naik pesawat, selain itu kalian tidak akan terlalu lelah"^^^


Me


"Engga usah, kami menikmati perjalanan kami"


^^^Amar D^^^


^^^"Tapi aku ingin sekali menjemput mu" ^^^


Maryam tampak memikirkan hal itu, kemudian ia pun menuliskan pesan lagi.


Me


"Akan ku tanyakan pada Abi, apa boleh kamu yg menjemput ku dengan jet pribadi mu"


^^^Amar D^^^


^^^"Kenapa kamu selalu meminta persetujuan orang tua mu bahkan untuk hal kecil seperti ini?" ^^^


Maryam tertawa kecil membaca pesan Amar itu.


Me


"Karena aku masih putri Abi sama Ummi, Abi harus tahu kemana aku pergi dan dengan siapa, dengan begitu Abi sama Ummi engga terlalu meng khawatirkanku. Aku adalah anak gadis mereka, ketika aku melangkah keluar rumah, maka mereka akan terus memikirkan dan mengkhawatirkan ku, dengan meminta izin itu akan sedikit mengurangi beban mereka".


^^^Amar D^^^


^^^"Baiklah, aku mengerti. Aku harap mereka mengizinkan nya. Aku juga ingin bertemu keluarga mu yg disana"^^^


Me


"Nanti aku akan bicarakan hal itu dengan mereka sekarang aku harus sholat dulu, kamu juga jangan lupa sholat ya"


^^^Amar D^^^


^^^"Iya" ^^^

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2