
Weekend, Sarfaraz menepati janji nya untuk membawa adik adik nya belanja. Dan untuk menghindari wartawan yg masih sangat penasaran dengan Maryam. Faraz meminta Maryam dan Afsana mengenakan cadar. Mereka pun setuju.
Faraz membawa adik adik tercinta nya itu ke sebuah mall dan membiarkan mereka berbelanja apapun yg mereka mau.
Mereka pergi ke toko baju yg menyediakan pakaian muslim.
"Padahal Lemari kalian sudah penuh dengan pakaian" Faraz berkomentar saat Maryam dan Afsana melihat beberapa busana muslimah yg bagus bagus. Namun komentar itu di abaikan oleh adik adik nya.
"Marry, ini bagus engga?" Afsana mengangkat sebuah dress berwarna kuning panjang dan di pasti kan dress itu akan melekat sempurna di tubuh ramping nya, apa lagi warna kuning sangat cocok dengan kulit Afsana.
"Bagus, bangus banget" ujar Maryam. Kemudian Afsana menempelkan baju itu di tubuhnya dan melihat dirinya sendiri di cermin.
Faraz mengambil baju itu dan melihat ukuran nya.
"Ini kekecilan" ujar nya yg melihat ukuran baju itu S.
"Engga lah, Kak. Pasti pas di tubuh Ana" bantah Afsana apa lagi ia menyukai dress itu.
"Justru karena pas itu Afsana. Lekuk tubuh mu bisa saja terlihat. Kan sudah sering kakak bilangin sama kalian, cari baju tuh yg longgar" ujar Faraz kemudian mengambil paksa dress itu dan mengembalikan nya ke tempat nya.
"Biar Ana pakek dirumah aja, Kak. Boleh ya?" bujuk Ana memelas.
"Bolehin aja, Kak" Maryam menimpali.
"Kalau sekali kakak bilang engga ya engga" tegas Faraz membuat kedua adik cantik nya itu memberengut namun kakak tampan mereka itu tentu tak berani mereka lawan.
"An, kalau yg ini gimana?" Maryam memperlihatkan abaya arab yg berwarna putih yg sangat cantik.
"Bagus" jawab Afsana "Ada dua nih, kita beli aja, jadi kembaran deh. Putih juga warna favorit ku"
"Ide bagus, nambah lagi baju kembaran kita" ujar Maryam bahagia sambil terkikik.
Sementara Faraz duduk di sofa dan memperhatikan gerak gerik adik adiknya itu yg terus sibuk memilih barang, dan kini kedua adiknya itu memilih beberapa pashmina, saling menanyakan pendapat masing masing barulah mereka putuskan apakah itu memang bagus atau tidak.
Dari barang yg mereka pilih, Afsana lebih cenderung pada warna putih favorit nya, sementara warna favorit Maryam adalah kuning.
"Kak Faraz, sini!" Afsana melambaikan tangan nya pada Faraz dan ia pun menghampiri adik sepupu nya itu.
Afsana mengambil baju koko berwarna merah maroon kemudian menempelkan nya di tubuh Faraz yg diam berdiri di depan nya.
"Engga cocok" ucap Afsana kemudian mengembalikan baju itu ke gantungan.
"Coba yg ini" Maryam menyerahkan baju model sama namun warna putih.
"Nah, langsung cocok. Kayak Ustadz" ujar Afsana yg membuat Faraz terkekeh. Gemas dengan tingkah adiknya ini.
__ADS_1
"Tapi ukuran nya S, kekecilan" lanjut Afsana ia pun memanggil karyawan itu dan menanyakan ukuran M.
Tak lama berselang, karyawan itu membawakan baju yg sama dengan ukuran M.
"Kakak udah banyak baju koko dirumah" ujar Faraz.
"Tapi baju kaos kakak sedikit" jawab Maryam.
"Kita belanja kaos di toko Zara aja" Afsana memberi saran.
"Engga usah" jawab Faraz tapi kedua adiknya itu bersikeras dan Faraz pun mengalah.
Kemudian Faraz membayar belanjaan adik adik nya, setelah itu mereka memasuki toko baju Zara.
Padahal Faraz sama sekali tak berminat berbelanja, tapi adik adiknya malah memaksa.
"Kak Faz duduk aja, biar kami yg pilihkan" ujar Maryam. Faraz pun duduk di sofa yg ada disana, mengambil ponsel nya dan memainkan nya.
"Coba berdiri" pinta Afsana yg tiba tiba sudah ada didepan nya "Coba ini" Afsana menyerahkan kaos bewarna abu abu.
"Bagus" jawab Faraz asal.
"Ish, coba dulu Kak Faraz" Afsana mendorong Faraz ke ruang ganti. Mau tak mau ia pun mencoba nya.
"Beneran nih bagus?" tanya Faraz sambil bercermin, kaos casual itu memang terlihat bagus di tubuh nya.
"Bagus banget, Kak Faraz tampan" puji Ana.
"Engga usah di kasih tahu Kakak memang tampan" jawab Faraz yg membuat Afsana tersenyum di balik cadar nya.
"Carikan kakak kemeja hitam" pinta Faraz kembali masuk ke ruang ganti dan melepaskan kaos nya.
"Iya" jawab Afsana dan Maryam.
Mereka pun memilih beberapa kemaja berbagai warna dan model kemudian meminta Faraz mencoba nya satu persatu. Faraz menolak karena itu buang buang waktu sementara yg ia ingin kan jelas adalah kemeja warna hitam, tapi kedua adik cantik nya itu berhasil membujuknya.
Alhasil, mereka bertiga sama sama berbelanja dan seperti nya itu akan sedikit menguras isi rekening Faraz.
Setelah berbelanja, mereka pergi makan pizza.
"Maryam mau yg ini"
"Ana mau yg ini"
Maryam dan Afsana menunjuk pada buku menu itu dan memberi tahu pelayan yg melayani mereka.
__ADS_1
Setelah Faraz juga memilih menu nya, pelayan pun segera meninggalkan mereka. Namun Maryam memergoki pelayan itu menoleh dan seperti menatap Faraz, kemudian menatap ia dan Afsana bergantian.
"Gimana keadaan Amar, Dek?" tanya Faraz sambil menunggu pesanan mereka.
"Baik" jawab Maryam singkat.
"Kakak engga nyangka dia bisa pingsan juga"
"Haha, dia kan manusia, Kak. Bukan robot" Afsana menyambung.
"Tapi sifatnya kayak robot" balas Faraz.
"Engga boleh menggunjing orang" Afsana memperingatkan.
"Bukannya menggunjing" elak Faraz
"Tapi gosipin" Maryam menimpali sambil terkekeh. Kemudian pelayan yg tadi datang dan menyajikan pesanan mereka.
Sekali lagi Maryam menangkap basah pelayan itu mencuri pandang Faraz.
"Lama juga Ana engga makan pizza, Kak" ujar Afsana.
"Oh, kalian kakak adik ya?" tiba tiba pelayan itu bersuara. Faraz mengangkat sebelah alisnya karena pelayan itu bertanya seperti itu.
"Aku adik nya" Maryam segera menjawab "Dia istri nya"
Afsana dan Faraz melotot kaget mendengar kata kata Maryam. Pelayan itu tampak salah tingkah kemudian menyunggingkan senyum canggung.
Sejak tadi, sebenarnya ia memperhatikan Faraz yg tampan dan berkharisma, namun ia fikir dua wanita beradar itu adalah istri nya, dan ia tak habis fikir bagaimana mereka terlihat bahagia dalam lingkaran cinta seperti itu. Ah ternyata dugaan nya salah.
"Selamat menikmati" ujar pelayan itu.
"Ngomong apa tadi kamu, Nyil?" tanya Faraz langsung saat pelayan itu pergi.
"Habis tadi Maryam liat pelayan itu curi curi pandang sama Kakak" tutur Maryam.
"Masak?" pekik Afsana tak terima dan terlihat kilatan tak suka di mata nya. Dan Maryam mengangguk berkali kali dengan tatapan polos nya.
"Sudah sudah, jangan di bahas" ujar Faraz yg berfikir itu hanya akal akalan Maryam saja yg memang sering menggoda nya dengan Afsana"Setelah ini kalian mau kemana?"
"NONTON" Afsana dan Maryam menjawab bersamaan kemudian keduanya terkikik karena melihat Faraz yg mengehala nafas berat mendengar jawaban mereka.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1