
Malam ini Faraz menginap dirumah mertua nya karena ia benar benar sangat merindukan istri nya. Faraz berada di kamar Afsana, kamar yg di dominasi warna pink dan biru, di kamar itu Faraz bahkan masih bisa mencium aroma Afsana.
Setiap kali Faraz merasa merindukan istri nya, maka Faraz akan menginap disana.
Beberapa hari lagi Afsana wisuda dan Faraz akan menghadiri nya bersama mertua nya.
Karena tak bisa tidur, Faraz turun dan ranjang nya dan iseng membuka lemari Afsana, dari lemari pakaian, buku dan ia bahkan memeriksa laci. Faraz sedikit terkejut karena semua barang yg pernah Faraz berikan untuk Afsana sejak kecil masih Afsana simpan dengan rapi.
"Segitu besar cinta mu, hm?" gumam Faraz sembari melihat lihat barang barang Afsana. Ia tak bisa berhenti tersenyum membayangkan Afsana nya menyimpan cinta untuk nya sejak lama. Dan Faraz ber janji akan menjaga cinta nya hanya untuk Afsana.
.
.
.
Faraz bersiap untuk berangkat ke Lebanon bersama mertua nya untuk menghadiri wisuda Afsana. Maryam ingin ikut, namun Amar tak mengizinkannya karena Maryam sedang hamil.
Faraz sangat antusias untuk menghadiri acara wisuda istri nya itu dan sekalian menjemputnya pulang.
Wisuda... Faraz tersenyum mengingat kata itu, karena itu mengingatkan ia pada ungkapan cinta Afsana lewat diary nya.
"Hati hati ya, Nak. Salam buat Ana. Telpon nanti kalau sudah sampai" ucap Asma sebelum Faraz pergi ke bandara yg akan di antar Abi nya.
"Iya, Ummi" jawab Faraz mencium punggung Ummi nya.
"Udah siap?" tanya Bilal yg sudah siap mengantarkan putra nya itu.
"Iya, Bi. Faraz pergi dulu Ummi" ujar nya.
Kemudian Bilal dan Faraz menjemput Hubab dan Lita dirumah nya.
Di sepanjang perjalanan, Faraz terlihat senyum senyum sendiri. Tak heran, dia akan bertemu istri tercinta nya setelah beberapa bulan terpisah, apa lagi komonikasi mereka hanya sesekali. Bilal yg melihat itu sudah bisa membayangkan betapa tersiksa nya sepasang kekasih itu menahan rindu. Dulu ia juga juga berpisah dengan Zahra nya, dan walaupun komonikasi mereka lancar, namun itu tetap membuat Bilal merasa sesak menahan rindu.
Hingga sampailah mereka ke bandara. Faraz sekali lagi berpamitan pada Abi nya.
"Telpon nanti kalau sampai, Ummi mu engga akan tenang sampai kamu menelpon nya" seru Bilal.
"Iya, Bi. Faraz pasti langsung telepon. Faraz pergi dulu"
"Kami pergi dulu, Bilal" ucap Hubab.
"Iya, hati hati" ucap Bilal, kemudian ia segera kembali ke mobil nya setelah mereka masuk untuk check in.
Dan saat Bilal hendak memundurkan mobil nya, tiba tiba mobil lain malah menyerempet nya dan itu sama sekali bukan salah Bilal. Namun Bilal segera turun untuk melihat keadaan mobil nya dan seorang pria bertubuh kekar juga keluar dari mobil itu.
"Apa kau tidak bisa hati hati, Tuan?" tanya pria itu. Bilal hanya menanggapi nya dengan senyuman padahal jelas jelas bukan dia yg salah.
__ADS_1
"Kau yg tidak hati hati, kau mengebut di area parkir" ujar Bilal.
"Berani nya kau..."
"Hey..." ucapan pria itu di sela oleh seseorang yg ada dalam mobil. Orang itu keluar dari mobil nya, tampak seperti seorang bos besar.
"Tidak apa apa, sopir ku yg salah" ucap pria itu. Dan ia melihat mobil Bilal yg lecet, kemudian pria itu mengeluarkan kartu nama nya dan menyerahkan nya pada Bilal "Jika kau butuh ganti rugi, hubungi saja aku" ucap nya.
"Gabriel Emerson" Bilal membaca nama di kartu nama itu "Tidak apa apa, Tuan Gabriel. Hanya lecet sedikit" Bilal mengembalikan kartu nama itu dan Gabriel pun menerima nya. Kemudian Bilal masuk kedalam mobil dan memajukan mobil nya, memberi akses untuk maju pada mobil Gabriel Emerson itu.
.
.
.
Sementara itu, Maria membaca sebuah majalah yg memuat biography seorang Amar Degazi. Dekat dengan Maryam membuat Maria juga mengenal Amar, walaupun Maryam tak pernah membicarakan hal yg bersifat pribadi tentang Amar, tapi Maria merasa apa yg terlihat di media sangat berbeda dengan kehidupan pribadi Amar. Dan Maria pernah tanpa sengaja melihat bekas luka di lengan Amar.
Idd gila muncul dalam benak Maria, ia tahu novel apa yg pasti akan di minati oleh pecinta novel, kisah cinta. Tentu saja, dan ia menuliskan kisah cinta Amar dan Maryam. Bagaimana Maryam bisa mengubah seorang seperti Amar menjadi begitu berbeda. Tanpa buang waktu, Maria pun menelpon Maryam dan mengajak nya ketemuan. Namun Maryam mengatakan ia tak ingin keluar, namun Maryam akan mengirim Rika untuk menjemput Maria dan mereka bisa mengobrol dirumah Maryam.
.
.
.
"Aku lagi engga dapat ide membuat cerita apa, dan kalau aku bisa ngasih cerita yg bagus dan sesuai dengan ekspektasi, aku bisa menjadi penulis di kantor Gunawan Media. Dan menurut ku, kisah kalian itu bagus. Novel yg lagi booming sekarang ya kisah CEO dan cinta nya. Pas banget kan"
"Aku sih mau engga mau. Terus klimaks nya?"
"Ya klimaks nya pernikahan kalian dan hadir nya sang pewaris CEO"
"Itu bukan klimaks yg bagus" seru Maryam. Ia tampak memikirkan sesuatu yg lain.
"Itu sangat bagus, background kalian sangat berbeda, karakter pun apa lagi. Ini bagus, Maryam. Dan ketika sang CEO mendapatkan cinta nya, maka itu adalah klimaks yg pasti di harapkan semua pembaca" tutur Maria mencoba meyakinkan.
"Aku berharap ada klimaks yg lebih istimewa dari itu"
Ucap Maryam dengan suara rendah, dan tiba tiba Granny bergabung dengan mereka.
"Assalamualaikum, Granny. Apa kabar?" sapa Maria, kemudian ia bersalaman dengan Granny dan mencium punggung tangan nya.
"Baik, dan bagaimana kabar mu dan bayi mu?"
"Kami sangat baik, Alhamdulillah" jawab Maria
"Tadi Granny sempat mendengar apa yg kalian bicarakan" seru Granny.
__ADS_1
"Maaf, Granny... Aku hanya berfikir kisah cinta mereka indah, jadi aku ingin menulis nya"
"Tapi yg punya kisah cinta sendiri tak puas dengan kisah cinta nya. Bukan begitu, Maryam?" tanya Granny yg membuat Maryam bingung, karena memang benar, Maryam menginginkan hal yg lain dalam kisah cinta nya.
Yaitu menyatukan cinta seorang ibu yg penuh dosa dengan anak nya yg penuh kebencian.
"Granny tahu, kamu sangat ingin Amar memaafkan Rossa dan menyatukan mereka kembali" ucap Granny.
"Granny, maaf, bukan maksud Maryam..."
"Granny mengerti, Sayang. Niat mu sangat mulia, dan Granny akan membantu mu"
"Bukankah Granny juga membenci nya?"
"Iya, tapi Granny sadar, memaafkan jauh lebih baik, apa lagi Rossa tak seberuk apa yg Granny dan Amar kira. Dia memang mengkhianati kami, tapi dia bukan pembunuh"
"Tunggu, maaf aku menyela, Granny. Tapi siapa Rossa?" tanya Maria penasaran.
"Menantu ku, ibunya Amar" jawab Granny yg membuat Maria sangat terkejut.
"Bukan nya Amar yatim piatu?" Granny menggeleng.
"Kalau kamu mau tahu kenapa Amar bisa begitu dingin dan bahkan sering melukai dirinya sendiri, maka kamu harus tahu penyebab nya. Sebenarnya, dan satu hal lagi, Maryam. Sebenarnya Granny tahu satu hal yg sampai sekarang Amar tidak tahu"
"Apa?" tanya Maryam.
"Rossa engga pernah membunuh Atif. Yg terjadi adalah kecelakaan, sama seperti kecelakaan Amora" Maryam songat terkejut mendengar hal itu "Sebenarnya saat itu akupun berfikir hal yg sama, namun tak ada bukti yg membuktikan bahwa Rossa mendorong Atif. Saat itu Rossa sangat lemah karena habis kecelakaan, jadi tidak mungkin dia mampu mendorong seorang pria yg jauh lebih kuat dan sehat dari nya. Tapi Rossa mengaku dia dengan sengaja mendorong nya karena aku dan Amar membenci nya dan bebas pun tidak ada gunanya untuk nya, dia juga ingin menebus dosa nya. Aku tahu itu saat aku tanyakan kenapa dia mengaku bersalah sementara dia tidak bersalah" Granny Amy bercerita dengan suara lirih, ia bahkan meneteskan air matanya. Ia merasa bersalah dan berdosa, namun ia juga membenci Rossa yg sudah menyebabkan kematian cucu dan putra nya, karena itulah dia tidak memberi tahu Amar.
"Tapi kenapa Granny engga ngasih tau Amar? Selama ini Amar menganggap nya pembunuh ayah nya" ujar Maryam setengah tak percaya.
"Granny juga sangat membenci wanita itu, namun sekarang Granny sadar, Granny sudah melakukan hal yg salah" Granny menangis, dan Maryam langsung memeluk nya.
"Kalau begitu kita harus memberi tahu Amar, Granny. Dan membebaskan Mama Rossa" lirih Maryam.
Sementara Maria hanya menjadi penonton, mencoba mengerti apa hal yg tersembunyi dalam keluarga Degazi itu.
"Granny takut bagaiamana reaksi Amar nanti, dia masih pada trauma nya"
"Kita akan memberi tahu nya pelan pelan. Semoga Allah memberi kita jalan"
"Aku masih engga ngerti sebenarnya apa yg terjadi" Maria bersuara. Kemudian Granny melepaskan pelukan nya dari Maryam.
"Kalau gitu, Granny akan ceritakan semua tentang Amar. Sejak ia kecil dan apa saja yg terjadi dalam hidup nya, sampai pertemuan nya dengan bidadari nya ini, yg mengubah hidup nya" ucap Granny sembari menatap Maryam penuh cinta. Terlihat sekali di matanya betapa ia merasa beruntung karena memiliki Maryam di keluarga nya.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1