
Di pesta ulang tahun perusahaan nya, Amar mengadakan pesta yg cukup besar, Afsana dan Faraz juga datang.
Afsana tampil cantik dengan gaun muslimah nya yg berwarna biru muda, meskipun ia masih harus menggunakan kruk nya, namun Maryam memaksa nya datang.
Granny Amy memperkenalkan Maryam dan Afsana pada teman teman nya yg tak sempat datang di hari pernikahan Maryam. Ada sebagian dari mereka yg terkejut melihat Maryam karena sangat berbeda dengan teman kencan Amar dulu, mereka tak menyangka Amar akan menikahi wanita bercadar seperti Maryam. Bukan nya wanita wanita seksi yg selalu berkeliaran di sekitar hidup Amar.
Afsana yg tak mengenakan cadar pun mendapatkan pujian dari mereka, Afsana yg terlihat cantik nan anggun membuat salah satu dari mereka tampak sangat tertarik.
"Aku punya seorang putra, dia sedang menyelesaikan pendidikan nya di London" ucap wanita pada Afsana.
"Masya Allah, semoga dia menjadi orang yg sukses" jawab Afsana sambil tersenyum.
"Maksudku, aku ingin memperkenalkan kalian saat dia pulang nanti" seru nya dan bersamaan dengan itu, Faraz dan Amar datang menghampiri mereka.
Keisengan Amar muncul mendengar hal itu.
"Afsana juga masih sekolah, suruh saja putra mu pulang, mereka bisa berkenalan" sambung Amar yg langsung mendapatkan pelototan dari Faraz.
Afsana tersenyum kikuk menanggapi ucapan Amar, apa lagi Faraz yg terlihat marah.
"Em sebenarnya saya sudah bertunangan" jawab Afsana dan wanita itu tampak terkejut.
"Benarkah? Dengan siapa?"
"Dengan ku" jawab Faraz dengan cepat.
"Bukannya kalian kakak adik?" tanya wanita itu karena dia sempat mendengar Afsana memanggil Faraz kakak.
"Bukan, hanya ibu kami yg saudara sepupu, dan kami memang tumbuh bersama, jadi Ana sudah terbiasa memanggil ku kakak" tutur Faraz panjang lebar dan meyakinkan. Wanita itu masih tampak tak percaya, namun Afsana mengangguk dan mengiyakan kata kata Faraz.
"Sayang sekali" gumam wanita itu.
"Hey, Dude..." seorang pria menyapa Amar "No wine here?" tanya pria itu sembari menunjukan gelas yg berisi minuman segar. Amar mengulum senyum dan menggeleng, ia tak hanya menjauhi zina, ia juga menjauhi apapun yg di larang dalam agamanya termasuk apapun yg berbau alkohol.
"Kenapa?" tanya pria itu tampak kecewa.
"Itu di larang di agama kami, sorry. But I hope you enjoy this fresh juice"
Pria itu terkekeh dan melirik Maryam, seolah sudah mengerti dengan perubahan.
"I see" gumam pria itu sembari menatap Maryam dari atas hingga bawah.
Tubuhnya di balut gaun syar'i rose gold dan ia mengenakan cadar, hanya memperlihatkan kedua matanya yg indah.
"She's amazing" lanjut pria itu, dan seketika Amar langsung merengkuh pinggang Maryam dengan posesif.
"Jaga mata mu, Bro. Atau Tuhan akan memanggang bola mata mu di neraka" bukan nya takut, pria itu malah tertawa geli dengan ancaman Amar, apa lagi kilat cemburu di mata Amar membuat pria itu tertawa.
Faraz pun ikut mengulum senyum, rasain, batin nya. Tadi ia telah memancing rasa cemburu Faraz, dan ternyata karma masih sangat berlaku, di bayar tunai lagi.
Sementara Marham, wanita itu hanya bisa menunduk malu, dan semua orang yg ada disana juga tertawa geli melihat Amar yg begitu posesif pada Maryam.
"Enjoy this party" seru Amar kemudian ia menggiring Maryam pergi dari sana.
"Hai, aku dengar kamu sepupu nya istri Amar" pria itu kini malah menyapa Afsana dan mengulurkan tangan nya pada Afsana, namun dengan cepat Faraz yg menyambut uluran tangan nya dan membuat pria itu hanya bisa menaikan sebelah alis nya.
__ADS_1
"Ya, sepupu kami sekaligus calon istri ku, nama nya Afsana" tegas Faraz, menunjukan kepemilikan nya pada Afsana.
"Ouch" pria berseru bahkan membuat bibir nya membentuk huruf O.
"Wow, aku sangat terlambat" seru pria itu dan segera melepaskan tangannya dari Faraz "Padahal aku fikir mungkin aku akan seberuntung Amar, bisa mendapatkan wanita macam bidadari surga begini"
"Semoga saja ada bidadari surga yg lain untuk mu" jawab Faraz menyunggingkan senyum samar nya.
"Seperti nya ada yg terbakar" seru Granny menyadari Faraz juga tampak sangat cemburu dan itu lagi lagi mengundang tawa geli mereka.
Afsana pun tersenyum malu malu, dan senyum itu membuat nya semakin cantik.
"So beautiful" seru pria itu tanpa sengaja sambil memandang Afsana. Faraz sekuat tenaga menahan api cemburu dan tak menarik Afsana dari sana.
Granny Amy yg mengerti itu, segera membawa Pria itu pergi dengan alasan ingin menikmati hidangan disana.
Setelah Granny Amy, dan yg lain nya pergi, Faraz langsung menatap tajam Afsana membuat cengengesan, ia tahu Faraz marah karena pria tadi.
"Kamu harus pakek cadar setiap kali keluar rumah, jangan pekek riasan juga, buat apa pakek riasan beginian?" omel Faraz yg membuatkan Afsana menggaruk tengkuk nya.
"Nama nya juga ke pesta, Kak. Masak iya engga pakek riasan, kumel dong"
"Pakek ngelawan lagi" seru Faraz.
"Ya bukan gitu, Kak. Ini juga kan riasan tipis, biar segar aja"
"Tuh, melawan terus. Kalau sudah nikah nanti, jangan melawan ya, dosa lho" Faraz memperingatkan dan Afsana mengangguk sambil mengulum senyum "Lagian kenapa kamu engga pekek cadar tadi, sudah tahu disini banyak pria"
Afsana hanya bisa menghela nafas karena Faraz yg masih mengomel. Padahal ia benar benar hanya mengenakan riasan tipis, dan ia memang tak pernah mengenakan cadar.
Sementara itu, seorang wanita dengan pakaian yg sangat seksi, bahkan memperlihatkan belahan dada nya, datang menghampiri Amar dan Maryam yg sedang mengobrol dengan rekan bisnis nya.
"Hey, Amar..." pria itu memegang lengan Amar tanpa permisi, Amar yg kaget sontak menarik lengan nya dan membuat wanita itu terkejut.
"Sorry" seru Amar dan ia mendekatkan diri nya pada Maryam "Sayang, kenalin dia Nicole, teman kuliah ku dulu" seru Amar pada Maryam sembari ia melingkarkan tangan nya di pinggang Maryam.
Maryam tersenyum di balik cadar nya dan mengulurkan tangannya pad Nicole, Nicole tak langsung menyambut uluran Maryam, dia memandangi Maryam dari atas kebawah dengan tatapan menyelidik, membuat Maryam merasa risih namun ia masih menunggu Nicole menyambut tangannya.
"Nicole" jawab Nicole pada akhir nya yg menyambut uluran tangan Maryam.
"Maryam" ucap Maryam berusaha tetap ramah.
"Kalian sudah berapa lama pacaran? Aku sangat terkejut karena Amar tiba tiba menikah" ucap Nicole tanpa senyum sedikitpun.
"Kami engga pernah pacaran, Nic. Tapi aku tahu she's my soul mate" seru Amar yakin. Dan tiba tiba Nicole tertawa kecil.
"She's something, right?" tanya Nicole.
"Yeah, My first and last love" di balik cadar nya, Maryam tersipu mendengar kata kata Amar di depan rekan bisnis dan teman nya. Dan Nicole kembali tertawa kecil, kali ini ia terlihat lebih ramah.
"Can I talk with her?" tanya Nicole pada Amar, karena Amar yg merengkuh pinggang Maryam dengan begitu posesif.
"No" tegas Amar, ia takut Nicole mengatakan hal yg tidak tidak dan menyakiti istri nya.
"It's okey" Maryam menimpali dan ia melepaskan tangan Amar dari pinggang nya "We can talk, Nicole"
__ADS_1
Nicole tersenyum senang dan langsung menarik tangan Maryam mengikuti nya.
Amar tak bisa mencegah, ia hanya bisa menyunggingkan senyum pada Maryam yg sempat menoleh dan Amar tahu Maryam juga tersenyum karena itu terlihat di mata nya.
Nicole membawa Maryam bertemu dengan teman teman nya, wanita wanita seksi yg katanya selain teman kuliah Amar, juga rekan bisnis Amar. Sebagian dari mereka menghadiri resepsi pernikahan Amar, dan sebagian nya lagi tidak.
Maryam sedikit merasa tak nyaman apa lagi Maryam tak kenal siapapun dari wanita wanita itu.
"Silahkan duduk, Maryam" seru Nicole menarikan kursi untuk Maryam.
Kemudian, mereka memperkenalkan diri pada Maryam.
"Aku benar benar engga percaya Amar bisa mencintai seseorang" seru salah satu wanita itu.
"Yg lebih membuat ku tak percaya, look at her! Benar benar berbeda" seru yg lain.
"Dan itu yg membuat Amar mencintai nya, bukan begitu?" tanya Nicole pada Maryam.
"Entahlah" jawab Maryam.
"Jangan kaku, Marry" seru Nicole yg seketika membuat Maryam heran, karena hanya Afsana yg memanggil nya Marry "Kami hanya ingin mengobrol dengan wanita yg telah memenangkan hati seorang Degazi yg seperti es batu itu" ucap nya sembari tertawa geli.
"Benar, saat di kampus dulu, banyak yg naksir Amar, tapi Amar seperti alien dari planet lain. Sangat sulit bahkan hanya untuk membuat nya melirik"
"Dia pria paling menyebalkan yg aku kenal, karena tidak ada humor sama sekali dalam diri nya"
"Tapi dia sangat tampan dan kaya"
"Ceritakan tentang mu, Marry. Apa yg kau lakukan pada Amar hingga dia begitu mencintai mu?"
"Aku tidak melakukan apapun" jawab Maryam "Semuanya terjadi begitu saja"
"Terima kasih" Maryam sedikit terkejut dengan ucapan Nicole apa lagi Nicole yg memegang pundak Maryam. Apa lagi Nicole menyunggingkan senyum nya dan itu tampak tulus.
"Buat apa?" tanya Maryam heran.
"Karena sudah merubah teman kami, dia sangat berubah. Bahkan sorot matanya pun tampak berbeda, seperti berbinar, dia juga tersenyum. Sebagai teman, kami sangat senang dengan perubahan nya itu"
Maryam cukup terkejut mendengar penuturan Nicole karena gadis itu awalnya tampak tak menyukai Maryam.
"Nic benar, Marry. Kami satu kampus, kami semua teman walaupun kami tidak terlalu dekat, apa lagi setelah lulus, kami sering mendengar Amar berganti ganti teman kencan, kami sedih mendengar nya" ucap wanita yg lain sambil memandang Maryam "Tapi sekarang kami senang karena Amar telah menemukan wanita yg tepat, dan yg pasti membuat hidup nya lebih baik"
Maryam tertawa kecil mendengar penuturan teman Amar itu "Aku mencintai nya, tentu cinta seharusnya membawa kebaikan pada siapapun"
"You're the best, Marry" seru Nicole "Kami teman Amar, apa bisa kami juga jadi teman mu?"
Maryam langsung mengangguk dan tersenyum.
Sekali lagi, mereka meminta Maryam menceritakan tentang dirinya, karena mereka dengar Maryam masih kuliah.
Maryam pun bercerita seadanya saja, dan rupanya teman teman Amar itu wanita wanita yg menyenangkan. Mereka juga menanyakan apakah Maryam tidak merasa panas dengan pakaian yg Serba tertutup itu, Maryam tertawa dan menggeleng.
"Justru aku fikir pakaian terbuka membuat ku kedinginan" ucap Maryam yg seketika membuat mereka tertawa.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...