Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 61


__ADS_3

Kini Maryam sudah tinggal bersama dengan suami dan nenek mertua nya. Para pelayan disana menyambut Maryam dengan riang gembira, apa lagi Maryam sangat ramah dan selalu menyunggingkan senyum saat berbicara dengan para pelayan, Maryam juga tak pernah berbicara dengan nada perintah seperti yg di lakukan Amar.


Tak hanya sampai disana, Maryam juga sering membantu para pelayan memasak atau mencuci piring, padahal dirumah Amar setiap pekerjaan ada pelayan nya masing masing. Amar tak mengizinkan Maryam mendekati dapur, dan bahkan tak membiarkan Maryam merapikan lemari pakaian nya. Amar mengatakan itu pekerjaan pelayan, dan Maryam adalah Nyonya disana, jadi tidak perlu melakukan apapun. Hal itu membuat Maryam gelang gelang kepala. Dan ia tak menghiraukan perintah suaminya itu.


Dan hari ini, Maryam ada janji dengan Dokter Gea tanpa sepengetahuan Amar.


Sampai detik ini, Maryam masih belum di sentuh oleh suami nya, karena setiap kali Amar menyentuh nya, Maryam selalu terbayang Erick yg pernah menyentuh dan melihat tubuh nya sekalipun tak sampai melakukan hubungan intim. Maryam merasa bersalah dan berdos. Dan ia sangat bersyukur karena Amar percaya ketika Maryam mengatakan dia belum siap.


Maryam tak memberi tahu hal itu pada siapapun bahwa ia masih memendam trauma itu, dan ia juga sudah meminta Dokter Gea agar merahasiakan hal ini dari Amar. Dia juga sudah meminta Gina dan Rika agar tak mengatakan pada Amar kemana mereka pergi.


Sesampainya di tempat Dokter Gea, Maryam di sambut dengan hangat.


Setelah sedikit basa basi, akhirnya Dokter Gea menanyakan apa yg terjadi. Pelan pelan Maryam mengungkapkan perasaan nya dan trauma nya dengan apa yg sudah di lakukan Erick. Itu bahkan mempengaruhinya hingga saat ini, Maryam masih tak bisa melupakan dan tak bisa menerima bahwa seseorang yg tak ada hak sama sekali telah menyentuh dan melihat tubuhnya, dan itu membuat Maryam takut jika berlangsung lama karena sampai detik ini, ia tak membiarkan Amar menyentuh nya. Maryam merasa berdosa pada suaminya karena Maryam tak bisa memenuhi kewajiban nya sebagai seorang istri.


"Maryam..." Dokter Gea menyentuh tangan Maryam dengan lembut "Jika kamu tak ingin melihat sebuah warna yg tak bisa di hapus, maka kamu harus menutupi nya dengan warna yg lain" tutur Dokter Gea "Seperti itu juga warna gelap yg telah orang lain lukiskan di hidup mu, kamu harus bisa menutupi nya dengan warna lain. Yaitu dengan cara membiarkan suami mu menyentuh mu, dengan begitu yg akan kamu ingat hanya sentuhan suami mu. Dan lagi pula, yg terjadi di luar kendali mu, kamu tidak salah sama sekali dalam hal ini, kamu masih sangat murni "


"Aku merasa tidak percaya diri, Dokter Gea. Aku malu pada diri ku sendiri"


"Biarkan semua nya mengalir begitu saja, Amar mencintai mu, dan di matanya, kamu akan selalu murni"


"Apa menurut mu aku bisa melakukan nya?"


"Pasti, kau wanita yg kuat dan pintar. Kau pasti bisa mengatasi semua rasa takut mu, rasa takut mu itu harus kau terjang dan kau hancurkan"


Dokter Gea terus memberikan masukan pada Maryam, dan Maryam menerima nya dengan senang hati. Dokter Gea juga mengatakan banyak orang di luar sana yg juga trauma degan tragedi yg sama seperti yg Maryam alami, bahkan banyak dari mereka yg sampai bunuh diri karena tak bisa menerima kenyataan pahit itu. Tapi kenyataan nya, hidup tak sesingkat itu, mereka harus berjuang, bangkit dan menyalahkan semua penderitaan itu, dan mereka pasti bisa.


.


.


.


Faraz tak bisa melupakan apa yg sudah Afsana tuliskan untuk nya. Tapi bagaimana bisa Afsana mengungkapkan perasaan nya? Bukankah sudah jelas hubungan mereka adalah saudara?


Tapi kenapa terkadang Faraz justru senyum senyum seperti orang gila saat ia lagi dan lagi membaca curahan hati Afsana di buku diary itu. Rasanya sangat konyol, tak bisa di percaya Afsana mencintainya.


Lalu bagaiamana dengan perasaan Faraz?


Dua wanita telah mengungkapkan perasaan pada nya. Dan ia sendiri tak memahami perasan nya.


Oh untuk Afsana sudah jelas, dia mencintai Afsana seperti adik, benarkah?


Lalu untuk Maria?


Di jam makan siang, Faraz mampir ke restaurant ibu nya dan ia melihat ada Maryam disana yg sedang menikmati makan siang nya bersama Gina dan Rika.


"Nyil..." Faraz menyentuh kepala Maryam dan seketika Maryam mendongak. Faraz duduk di samping Maryam, dan dengan enteng nya dia mengambil paha ayam goreng di piring Maryam.


"Kak..." protes Maryam kesal "Pasti belum cuci tangan tuh"


"Udahlah, kakak baru selesai sholat tahu" jawab Faraz. Dan karena kedatangan Faraz, Rika dan Gina pun segera berpindah tempat walaupun Maryam mengatakan tak apa mereka bergabung.

__ADS_1


"Gimana? Udah baca pesan Afsana?"


"Udah" jawab Faraz sembari mengulum senyum dan itu membuat Maryam tertawa geli.


"Terus? Senang?"


"Entahlah, rasanya lucu aja Afsana bisa mencintai kakak"


"Ya engga lucu, justru sedih tahu, kasian Ana patah hati gara gara Kakak. Mana sekarang dia ujian lagi, pasti engga fokus tuh"


"Nyil..." panggil Faraz yg seolah tak mendengarkan kata kata Maryam sebelum nya.


"Apa?" tanya Maryam dengan ketus karena kata kata nya di abaiakan.


"Kakak engga ada niatan nikah sekarang"


"Yg nyuruh nikah siapa?"


"Ya engga ada, cuma dua wanita cantik malah mengungkapkan perasaan nya sama kakak"


"Terus?"


"Kakak tolak aja dua dua nya"


"Hah?" pekik Maryam tak percaya, ia memandang kakak nya lekat lekat, dan Faraz memang tampak serius dengan jawaban nya.


"Ish, kakak gimana sih. Katanya dulu tertarik sama Maria. Apa karena takut Ana makin patah hati kalau nerima Maria?"


"Apa?"


"Selama ini kakak memang memikirkan Maria, tapi bukan memikirkan seperti Abi memikirkan Ummi. Kakak memikirkan kenapa Maria bisa tak percaya tuhan, kenapa Maria hidup dengan cara itu, dan Maria sesuatu yg sangat baru dalam hidup kakak. Kakak merasa prihatin sama dia karena dia benar benar engga punya siapa siapa untuk menunujukan jalan pada nya. Karena setelah dia memeluk islam, kakak tak lagi memikirkan nya, kakak seperti sudah tenang dan lega gitu"


Maryam mendengarkan dengan seksama cerita kakak nya itu dan mencerna apa maksud nya. Tapi sejak kapan Maryam menjadi teman curhat kakak nya?


"Terus? Jadi engga cinta?"


Faraz menggeleng dan seketika membuat Maryam terpekik girang.


"Jadi cinta nya sama Ana?" tanya nya antusias. Dan Faraz malah menggeleng lagi membuat Maryam kembali lesu "Emang dasar ya, hidup kakak tuh kayak kertas kosong, engga ada warna"


Faraz tertawa geli dan kembali menggigit paha ayam di tangan nya.


"Ana bisa dapat pria yg jauh lebih baik dari, Kakak"


"Ya sih, Ana kan pintar, cantik, sholehah" jawab Maryam yg secara tak langsung mengatakan bahwa Faraz tak cukup pantas untuk Afsana. Dan itu membuat Faraz kembali menjewer adiknya itu.


.


.


.

__ADS_1


Amar bertanya tanya apa yg di lakukan istri nya di tempat Dokter Gea. Jangan tanya bagaimana Amar tahu, tentu karena Maryam masih mengenakan liontin itu dan Amar masih terus mengawasi nya. Mungkinkah ini ada hubungan nya dengan Amar atau Maryam sendiri?


Tapi kemudian Amar mengingat dulu ia juga pernah bertemu Maryam di tempat Dokter Gea dan itu untuk kepentingan kuliah nya. Amar mencoba berfikir positif saja dan semoga Maryam kesana untuk kepentingan kuliah nya.


.


.


.


Di sore hari nya, Faraz dan Rian sudah bersiap pulang, dan lagi lagi Maria tak masuk ke kantor. Rian kembali menghubungi nya namun ponsel nya tak aktif. Faraz merasa khawatir kemana gadis itu menghilang, pertemuan terakhir mereka di resepsi pernikahan Maryam dan saat itu Maria mengungkapkan perasaan nya.


"Mungkin dia sibuk dengan tugas kuliah nya" seru Rian yg juga merasa heran karena Maria menghilang begitu saja.


"Semoga saja" jawab Faraz.


Saat hendak melajukan mobil nya, Faraz mendapatkan telepon dari nomor yg tak di kenal. Faraz pun menjawab nya dan terdengar suara seorang wanita asing disana.


"Siapa?" tanya Faraz apa lagi suara wanita itu terdengar seperti orang panik.


"Pak, Aku Hira. Teman nya Maria"


"Maria? Ada apa dengan nya?" tanya Faraz khawatir.


"Maria dirumah sakit, Pak"


"Apa?" rasa khawatir Faraz semakin menjadi, ia dengan cepat menjalankan mobil nya dan menuju kerumah sakit tempat Maria di rawat. Hira tak mengatakan apapun, dia hanya mengatakan Maria dirumah sakit dan Maria tak tahu harus menghubungi siapa, sementara ayah Maria sendiri pergi entah kemana.


Sesampainya dirumah sakit, Faraz segera bergegas mencari kamar Maria dan ia melihat seorang gadis disana.


"Pak Faraz..."


"Kamu Hira?" Hira menggangguk dan ia tampak sangat khawatir "Dimana Maria?"


"Di tangani Dokter"


"Apa yg terjadi?"


" Maria mencoba bunuh diri, Pak"


Faraz menganga tak percaya dengan apa yg di dengar nya. Apa Maria segila itu? Tapi kenapa? Ada masalah apa yg membuat Maria ingin bunuh diri?


Belum hilang keterkejutan Faraz, seorang Dokter keluar dari ruangan Maria dan Faraz segera mencecarnya dengan pertanyaan.


"Pasien dalam keadaan kritis untuk saat ini karena sudah banyak kehilangan darah. Tapi syukurlah janin nya baik baik saja"


"JANIN?"


Pekik Hira dan Faraz bersamaan.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2