
"Kok engga bilang sih sama Maryam? Terus Ana gimana sekarang?" Maryam mondar mandir di kamar nya. Ia masih di Islamabad, dan Maryam sangat suka tinggal disana.
Apa lagi tetangga Amar yg katanya ingin menjodohkan putri nya dengan Amar itu sangat tidak benar, karena dia hanya punya dua orang anak lelaki dan sudah menikah.
Dan lebih parahnya lagi, Amar memberi tahu wanita itu bahwa istri nya terus menggerutu gara gara candaan Amar dan dia mengancam wanita itu jika datang kerumah Amar lagi.
Mereka semua tertawa mendengar cerita itu, dan Maryam yg tak mengerti apa yg mereka bicarakan ikut tertawa saja tanpa tahu bahwa sebenarnya mereka menertawakan dirinya.
Seperti di film film, katanya perayaan kecil kecilan, tapi tetap saja ada tarian, nyanyian dan pesta yg sempurna, dan bahkan mereka semua menghadiahi Maryam dengan berbagai hal, dari pakaian, uang, bahkan perhiasan emas. Maryam juga di dandani ala pengantin Pakistan. Amar memuji nya tiada henti malam itu, Maryam sangat cantik dan indah.
Dan sudah seminggu mereka disana, Maryam di kejutkan dengan kabar Afsana yg katanya kecelakaan dan masih di rawat di rumah sakit, bahkan ayah dan kakaknya juga ada disana. Maryam tahu berita itu dari nenek nya.
"Katanya sih semakin membaik, mungkin beberapa hari lagi sudah bisa di bawa pulang dan rawat jalan dirumah, kamu sendiri gimana bulan madu mu? Apa menyenangkan? "
"Sangat menyenangkan, Maryam dapat hadiah dari teman teman Granny dan tetangga di sini. Padahal Maryam engga kenal sama mereka"
"Itu artinya mereka mengenal baik nenek nya Amar, dan hubungan mereka mungkin juga dekat"
"Katanya sih memang sangat dekat. Oh ya, Nek. Maryam mau mandi dulu ya, di sini sudah sore"
"Iya, jaga diri ya"
"Iya, Nenek juga. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Maryam memutuskan sambungan telepon nya, kemudian ia bergegas mandi sementara Amar katanya ada urusan sebentar di luar.
Setelah selesai mandi, Maryam di kejutkan dengan Amar yg sudah ada di tengah ranjang dan melempar senyum nakal pada nya.
Maryam tak mempedulikan hal itu, ia bergegas ke lemari nya yg sudah tergantung beberapa pakaian milik nya.
"Amar..." seru Maryam kemudian ia mendekati Amar setelah berpakaian dengan lengkap.
__ADS_1
Dulu Maryam selalu ke kamar mandi saat ingin berganti pakaian, tapi sekarang ia lakukan itu di kamar sekalipun ada suami nya.
Biarkan saja suaminya tergoda ketika ia mengenakan pakaian nya dengan gerakan sensual, dengan begitu tak ada kesempatan untuk di goda orang lain. Puas puasin dirumah aja lah.
"Ada apa?" tanya Amar hendak menarik tangan Maryam namun Maryam mundur.
"Afsana kecelakaan, katanya jatuh dari jendela kamar nya"
"Oh ya? Bagaiamana keadaan nya sekarang?"
"Sudah lebih baik, tapi masih dirumah sakit"
"Apa kamu mau kesana?"
"Apa bisa?" Amar terkekeh dan mengangguk. Maryam terlihat girang dan langsung memeluk Amar.
Untung suaminya kaya.
.
.
.
Faraz masih memantau keadaan Maria lewat Hira, Faraz bahkan mentransfer uang ke rekening Hira untuk Maria jika dia butuh sesuatu, tentu Faraz melarang Hira memberi tahu itu pada Maria, karena Maria pasti akan tersinggung lagi. Dan Faraz lakukan semua itu, hanya untuk membantu Maria karena Faraz merasa kasihan.
Hira mengatakan Maria memabaik, dia tak lagi mengurung diri di kamar, tapi Maria masih sering melamun dan menangis, menyesali masa lalu nya yg telah merusak masa depan nya.
Faraz berpesan pada Hira agar tak meninggalkan Maria, karena gadis itu sedang kalut dan bisa saja mencoba bunuh diri lagi.
Dokter mengatakan cidera di kepala Afsana adalah cidera ringan dan itu akan segera membaik, tentu itu membuat Hubab bernafas lega. Namun kaki kanan Afsana patah dan butuh waktu untuk pulih dan berjalan lagi. Hal itu membuat Afsana sedih karena ia takkan bisa mengikuti pelajaran nya dan mungkin akan ketinggalan ujian berikutnya. Dan jika itu terjadi, maka Afsana harus mengulang lagi tahun depan.
Namun Faraz meyakinkan Afsana bahwa Afsana bisa sembuh dengan cepat, dan jika Afsana ketinggalan ujian, maka dia bisa mengikuti ujian susulan. Faraz meyakinkan hal itu apa lagi mengingat nilai Afsana selalu di atas rata rata jadi pasti Afsana dapat keringanan. Mendengar bujukan dan dukungan Faraz, Afsana menjadi sedikit tenang.
__ADS_1
Sebenarnya Afsana bertanya tanya dalam hati, bagaiamana hubungan Faraz dan Maria sekarang? Apa lagi Maria yg sudah mengungkapkan perasaan nya pada Faraz.
Memikirkan hal itu, membuat hati Afsana sakit dan sangat perih.
"Ada apa?" Afsana langsung mengucek matanya yg sudah berkaca kaca saat Faraz tiba tiba masuk ke ruang rawat nya.
"Engga ada apa apa" jawab Afsana pelan.
"Suster di sini cantik cantik ya, An"
Afsana langsung melotot tak percaya mendengar apa yg baru saja Faraz katakan. Apa dia tidak salah dengar?
"Ambil satu, bawa pulang" ucap Afsana enteng dan itu membuat Faraz terkekeh "Lagian mata tuh di jaga, Kak. Jangan liat sana sini, di goda setan nanti lho"
Faraz hanya mengulum senyum, padahal ia hanya bercanda dan ingin menggoda Afsana yg melamun. Faraz menduga Afsana pasti memikirkan dirinya.
Siapa sangka Afsana yg selalu bersikap manja padanya sebagai adik, tapi malah mencintai dirinya sebagai seorang pria. Faraz masih tak percaya akan hal itu, dan yg lebih membuat nya tak habis fikir, dia memiliki perasaan yg sama dan mungkin jauh sebelum Afsana memiliki nya.
Mengingat bagaiamana Maryam selalu menggoda nya, apa lagi Faraz yg memang sering memuji Afsana dalam segala hal, posesif dan over protective pada Afsana. Karena seorang kakak bisa saja menyanjung adiknya tapi tak mungkin terus menerus memuji nya.
"An..." seru Faraz kemudian duduk di sofa, ia mengambil ponsel nya dan sibuk memainkan ponsel nya namun mulut nya tetap berbicara pada Afsana "Maria sama Kakak engga ada hubungan apa apa, ya memang Maria mengutarakan perasaan nya, tapi Kakak cuma bersimpati dan menganggap nya saudari kakak, karena dia memang engga punya siapa siapa. Dan entah kenapa kakak selalu bertemu dengan nya setiap kali dia terkena masalah, tentu kakak akan membantu sebisa mungkin, jika orang lain yg ada di posisi dia juga pasti kakak akan melakukan hal yg sama"
Tanpa sadar Afsana menitikan air mata nya mendengar penjelasan panjang lebar Faraz, membuat Afsana bertanya tanya kenapa Faraz berbicara seolah tahu apa yg Afsana fikirkan.
"Hem ya" Afsana mencoba menanggapi nya dengan biasa saja "Kakak memang terlihat dekat dengan nya"
"Situasi dan keadaan yg membuat kami dekat, tapi hanya itu. Engga lebih" jawab Faraz.
Entah Afsana harus merasa senang atau tidak mendengar jawaban Faraz. Tapi ia merasa sedikit lega, setidaknya belum ada seseorang yg memiliki hati Faraz, tapi Afsana juga tak berani berharap. Yg Afsana inginkan sekarang adalah ketika ia pulang nanti, Afsana harus menemukan buku nya dan mengurungkan niat nya untuk mengungkapkan perasaan nya pada Faraz.
▫️▫️▫️
Tbc....
__ADS_1