Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 45


__ADS_3

Bobby memerintahkan semua orang orang nya untuk mencari pelaku kejahatan pada Maryam. Dari mulai mencari bukti di kampus dan juga di hotel. Mereka memeriksa cctv hotel dan terlihat Maryam yg datang dengan seorang pria namun pria itu memakai topi dan terlihat memang sengaja menghindari cctv disana hingga mereka masuk ke kamar itu.


Dan beberapa menit setelah mereka masuk, Bobby melihat Dilara keluar dari kamar yg sama dan Bobby langsung mengirimkan bukti itu pada Amar.


Dan sekarang tugas mereka mencari tahu siapa pria itu.


Di rumah sakit, Asma dan Bilal berlari mencari cari anak nya. Kedua orang tua Maryam itu masih tak tahu apa yg terjadi, Faraz hanya mengatakan Maryam masuk rumah sakit membuat sang ibu begitu terkejut dan khawatir karena sebelumnya Maryam baik baik saja.


"Apa yg terjadi, Faraz?" tanya ayahnya dengan suara bergetar tapi Faraz hanya menangis dan tak bisa bersuara.


"Faraz, dimanan adik mu? Kenapa dia masuk rumah sakit?" kali ini ibunya yg bertanya sambil menangis dan ia semakin menangis karena Faraz tak kunjung menjawab.


"Faraz, jawab Ummi!" bentak ibunya karena Faraz terus menangis dan bungkam, dan seketika Faraz langsung terjatuh di kaki ibunya.


"Maafin Faraz, Ummi. Faraz engga bisa menjaga Maryam" lirih nya. Ibunya mencengkram kuat pundak Faraz kemudian mengguncang guncangkan tububnya.


"Apa yg terjadi pada adik mu, Faraz. Jawab pertanyaan ibu mu!" teriak Asma yg sudah kehabisan kesabaran dan ia sudah ketakutan. Bilal mencoba menenangkan istri nya itu namun Asma tak bergeming.


"Ummi, Maryam... Maryam" lidah Faraz terasa kelu, ia tak sanggung mengatakan berita mengerikan itu.


Sementara Amar, pria itu masih pada posisinya semula, terduduk lemas di lantai bersender pada dinding. Ia semakin merasa berdosa melihat kondisi ibu Maryam saat ini.


"Keluarga Maryam?" seorang Dokter keluar dan Asma segera menjawab nya.


"Apa putri ku baik baik saja?" tanya Asma dengan penuh ke khawatiran


"Untuk saat ini kami belum bisa memastikan karena dia belum sadar kan diri, Nyonya. Kami akan segera melakukan visum pada nya untuk mengetahui keadaan nya lebih lanjut"


"Visum?" tanya Asma tak percaya "Kenapa harus melakukan visum?"


"Untuk memastikan keadaan nya lebih detail, mendapatkan bukti pelecehan nya dan juga mencari tahu identitas pelaku"


Seperti di sambar petir, kepala ibu dua anak itu terasa di hantam, tubuhnya pun limbung dan hampir terjerembab ke lantai namun dengan sigap sang suami menahan nya.


Bahkan Bilal pun tak bisa menerima kenyataan itu.


"Apa maksud mu, Dokter? Apa yg terjadi pada putri ku?" tanya nya dengan mata yg memerah, Dokter itu sudah akan menjawab namun Faraz memberi isyarat untuk tidak di jawab.


"Sayang... Zahar?" Bilal menepuk pipi istri nya yg wajahnya sekarang sudah terlihat sangat pucat dan perlahan ia mulai kehilangan kesadarannya.


"Zahra..." Bilal memeluk istri sambil menangis dan Faraz kembali menangis.


Bagaiamana bisa hal seburuk ini terjadi pada mereka?


Amar yg melihat keluarga Maryam sangat terpukul membuat ia semakin tak berdaya. Ia bahkan tak memperdulikan ponsel nya yg bergetar dan berdering.


Hingga ia teringat, bahwa dia harus mencari pelaku nya dan menghukum mereka.


Amar segera bangkit, ia menghampiri Bilal dan Faraz yg masih menangis sedangkan Asma pingsan di pelukan suami nya.


Amar menyentuh kaki Asma dan berkata

__ADS_1


"Aku janji, Ibu. Akan ku buat mereka membayar sangat mahal untuk penderitaan putri mu"


"Kau harus menemukan nya, atau aku akan membunuh mu, Degazi!" desis Faraz tajam pada Amar.


"Jika aku tidak bisa menemukan mereka, kamu memang harus membunuh ku, Sarfaraz" balas Amar tak kalah tajam nya.


Ia sudah mendapatkan bukti untuk menangkap Dilara, Amar segera memanggil inspektur kenalannya dan meminta nya membuatkan surat penangkapan untuk Dilara. Sementara Amar sendiri langsung bergegas kerumah Dilara.


Ia menyetir seperti orang gila, penuh amarah namun juga kesedihan bahkan air mata tak mau berhenti mengalir. Terbayang kembali dalam benak nya bagaiama kebersamaan nya dengan Maryam. Bagaiamana gadis itu selalu bisa menenangkan nya, bagaiamana gadis itu berbicara dengan sangat lembut.


Sesampainya dirumah Dilara, Amar langsung menendang pintu masuk dan berteriak memanggil Dilara dengan penuh amarah.


Kedua orang tua Dilara sangat terkejut dengan kedatangan Amar yg terlihat sangat marah.


"Amar, ada apa?" tanya Sanjaya mencoba bersikap tenang.


"Dimana wanita iblis itu?" tanya Amar tajam, Bahkan Sanjaya sendiri merasa takut melihat kilat kemarahan di mata Amar. Sanjaya tak berani bersuara begitu juga dengan istri nya.


Amar berjalan masuk dan Dilara keluar dari kamar nya.


"Amar? Ada apa?" tanya Dilara yg juga heran kenapa Amar datang pada nya.


"Sialan, kamu benar benar iblis" desis Amar melangkah lebar menghampiri Dilara yg ada di ujung tangga.


"Amar, jangan dekati putri ku!" teriak Sanjaya hendak mencegah Amar namun Bobby yg sudah datang segera menahan Sanjaya dan istri nya.


PLAKKK


"Amar. Kau..."


PLAAKK...


Satu tamparan mendarat di pipi yg lain nya.


"AMAR..." bentak Dilara yg sudah merasa perih di kedua pipi nya.


PLAKK


Dan satu tamparan mendarat lagi dengan mulus membuat Sanjaya dan istri nya berteriak agar Amar berhenti memukul putri nya.


"Jangan menyakiti nya, Amar. Aku bisa melaporkan mu ke polisi" teriak Sanjaya yg terus berusaha memberontak namun Bobby terlalu kuat hingga perlawanan nya tak berarti apa apa.


"Kamu sudah gila ya?" teriak Dilara dengan mata dan pipi yg memerah.


"Iya, aku sudah gila" jawab Amar kemudian ia menarik rambut Dilara dan menyeretnya turun membuat Dilara histeris begitu juga dengan ibunya.


"Lepaskan aku, Amar! Ada apa dengan mu?" teriak Dilara yg merasakan sakit di kepala nya.


"Amar, tolong lepaskan putri ku. Kenapa kamu menyakiti putri ku?" teriak ibu Dilara. Apa lagi saat Amar mendorong Dilara hingga Dilara jatuh terlempar ke lantai.


"Seorang ibu disana juga bertanya hal yg sama, Nyonya. Putri nya di lecehkan, di siksa dan sekarang mungkin dalam keadaan sekarat dan itu semua karena anak setan mu ini" teriak Amar yg membuat Dilara langsung melotot kaget. Tak mengerti apa maksud Amar.

__ADS_1


"Apa maksud mu?" tanya Dilara yg masih terjerembab di lantai dengan berlinang air mata karena merasakan sakit saat Amar menjambak rambut nya dan melempar nya. Amar berjongkok dan kemudian menarik kasar rambut Dilara hingga membuat Dilara mendongak dan tatapan nya bertemu dengan tatapan Amar yg seperti haus darah.


"Kamu ingin menyakiti Maryam ku, bukan? Kamu membuat nya di perkosa, huh?" desis Amar yg seketika membuat Dilara semakin terkejut.


Ia bertanya tanya kenapa semua nya jadi begini? Kemana Erick? Apa yg sebenernya Erick lakukan? Kenapa Amar malah menyerang Dilara seperti ini?


"Aku engga ngerti kamu ngomong apa, sekarang lepaskan aku" geram Dilara mencoba melepaskan tangan Amar yg mencengkram rambut nya.


"Akan ku buat kamu merasakan apa yg dia rasakan" geram Amar kemudian melepaskan tangannya dari rambut Dilara sambil mendorong kepala Dilara dengan kasar.


Amar melihat sebuah pisau buah dan ia pun mengambil nya. Melihat itu, Dilara beringsut mundur dan ia merasa takut, sementara kedua orang tua nya terus memohon agar Amar tak menyakiti Dilara namun Amar seolah tuli.


Ia kembali menjambak rambut Dilara membuat Dilara mengerang sakit dan Amar menyentuhkan pisau yg dingin itu ke wajah Dilara membuat Dilara gemetar ketakutan. Amar menjalankan pisau itu hingga di leher Dilara.


"Aku bisa membunuh mu saat ini juga, tapi kematian hukuman yg sangat mudah untuk iblis seperti mu" desis Amar kembali menyentuhkan pisau itu ke pipi Dilara dan seketika...


"Aagghhh" Dilara mengerang sakit saat dingin nya pisau itu menyayat pipi mulus nya dan Amar memastikan luka itu harus meninggalkan bekas.


"Itu untuk mengingatkan mu bahwa kamu telah menyakiti orang yg salah" geram Amar setelah melukai pipi Dilara.


Kedua orang tua Dilara hanya bisa menahan nafas melihat kegilaan Amar.


"Amar... Kau sudah gila? Akan ku laporkan tindakan mu pada polisi" teriak sang ayah yg tak tega melihat putri nya kini meringis kesakitan dengan pipi yg sudah robek.


"Aku tidak gila, Sanjaya. Dulu hati ku terluka dan membuat ku menyakiti diri ku sendiri, tapi sekarang, dia melukai Maryam ku dan itu membuat ku tidak akan ragu menyakiti siapapun yg menyakiti Maryam" dengan santai nya, Amar melatakkan pisau itu ke tangan Dilara sementara Dilara sudah tak berani lagi bersuara.


"Dan soal polisi, mereka dalam perjalanan ke sini. Mungkin lima sampai sepuluh menit lagi mereka sampai" lanjut Amar kemudian ia duduk di sisi sofa, menatap Dilara yg menatap takut pada nya.


Tak pernah Dilara sangka, Amar bukanlah hanya seorang yg mengidap self harm tapi ia juga seorang psikopat.


"Bobby, apa kamu bisa melakukan nya dalam waktu sesingkat itu?" tanya Amar dan Bobby mengangguk.


"Melakukan apa?" cicit Dilara takut takut karena Bobby malah mendekatinya.


"Memperkosa mu" jawab Bobby dengan santai nya membuat Dilara dan kedua orang tua nya berteriak takut.


"Tidak, ku mohon... Jangan lakukan ini pada kami, Amar" ayah Dilara segera berlari dan memohon di kaki Amar begitu juga dengan ibunya. Dilara yg melihat itu hanya bisa menangis.


"Tapi Dilara sudah membuat seorang gadis suci ternodai. Tanya pada nya!" teriak Amar dan seketika Sanjaya menatap putrinya dan Dilara hanya bisa menggeleng sambil menangis.


"Lihat, Sanjaya! Bobby hanya mengatakan dia akan memperkosa anak mu, tapi kalian semua sudah ketakutan, sementara disana seorang ayah dan seorang ibu sudah sangat hancur karena kejahatan putri kalian yg menghancurkan putri mereka"


Kemudian Amar beranjak, ia merapikan jas nya dan bersamaan dengan itu terdengar suara sirine polisi.


"Akan ku buat kamu mendekam di penjara" desis Amar pada Dilara setelah itu dengan santai ia dan Bobby keluar dari sana.


Meninggalkan Dilara dan kedua orang tua nya yg masih sangat ketakutan. Tak pernah menyangka seorang Amar Degazi punya jiwa psikopat.


Beberapa polisi datang dan langsung memborgol Dilara, sementara kedua orang tua nya hanya diam mematung dan tak tahu harus berbuat apa.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2