
Nabil sudah mempersiapkan semua nya dan sekarang ia dan Maria kerumah mereka. Maria bepamitan dengan Bi Siti dajuga sahabat nya Hira, Maria mengucapkan terima kasih banyak atas apa yg sudah mereka lakukan.
Sementara yg mengantar Nabil dan Maria adalah Faraz dan Afsana mal merengek mau ikut karena Afsana sekalian ingin jalan jalan kata nya setelah sekian lama ia di kurung dengan alasan karena masih hamil muda.
Di sepanjang perjalanan, Afsana membicarakan novel Maria yg berjudul Love Is Heal. Awalnya Maria cukup terkejut karena tak menyangka Afsana membaca novel nya, dan yg lebih mengejutkan nya lagi, ternyata Asma juga membaca novel tentang menantu dan putri nya itu. Dan Asma mengakui ia baru benar benar baru memahami menantu nya setelah membaca tulisan Maria.
Tanpa terasa kini Mereka sudah sampai di bandara. Afsana dan Maria berpelukan, saling mengucapkan sampai jumpa dan saling mendoakan untuk anak anak mereka.
"Kami pulang dulu, Dek. Jaga diri baik baik, terutama bayi mu" ujar Nabil pada Afsana.
"Kakak juga, jagain Maria dan Khair"
"Pasti"
"Pak Faraz..." Maria memberanikan diri berbicara pada Faraz "Terima kasih banyak, Pak. Kalau seandai nya engga ada pak Faraz, Afsana dan Maryam, mungkin sekarang aku masih berada di kehidupan jahiliyah dan terus tersesat tanpa harapan akan ada nya cahaya" tutur Maria dengan mata berkaca kaca.
"Ini semua memang takdir mu, Maria. Kamu special, utuk mendapatkan ema yg murni, dibutuhkan api yg sangat panas. Jadi, semua yg terjadi dalam hidup mu karena kamu sangat istimewa. Kamu bisa menginspirasi semua orang dan menjadi bukti betapa besarnya kasih Allah terhadap hamba Nya"
"Kamu benar, pak. Aku hanya sedikit terlambat menyadari hal itu. Tapi walaupun begitu, Allah masih memberiku anugerah yg luar biasa" tutur Maria sambil melirik Nabil yg saat ini berbincang dengan Afsana sambil menggendong Khair.
"Dia mencintai mu dan Khair dengan tulus"
"Aku tahu"
"Sayang, sudah waktu nya check in" seru Nabil kemudian menyerahkan Khair pada Maria setara Nabil membawa barang barang mereka.
"Hati hati di jalan, kabari kami saat sampai" pita Faraz.
__ADS_1
"Insya Allah. Jagain nenek dan kakek" pita Nabil dan Faraz mengangguk "Kabari aku saat bayi kalian lahir" lanjut nya dengan senyum lebar.
"Insy Allah, Kak. Doakan kami" ujar Afsana. Nabil mengelus kepala adik nya itu sambil mengangguk.
Kemudian mereka berpisah di sana dan saling mengucapkan sampai jumpa.
.
.
.
Dalam pesawat Khair tertidur sangat nyenyak di pangkuan Nabil. Maria dan Nabil bergantian menjaga Khair. Maria memandangi wajah putri nya yg begitu polos.
"Kenapa memandang nya begitu?" tanya Nabil apa lagi Maria yg kembali menangis.
"Khair sangat polos, kan? Dia sangat suci tapi saat besar nanti dan dia tahu bagaimana dia lahir, apakah dia akan merasa bahwa dia anak haram...."
"Anak anak itu sangat polos dan dia akan merekam apun yg dia lihat dan dengar, Maria. Jadi jangan pernah mengucapkan hal buruk walaupun hanya satu kata" ucap Nabil pelan "Suatu hari nanti kita memang harus memberi tahu siapa dia dan siapa ayah nya. Nanti, saat dia dewasa dan bisa memahami semua ini. Kita juga harus memperkenalkan dia pada keluarga ayah nya. Dan sebelum itu, aku ingin kita mendidik dia sebaik mungkin"
Maria bersandar di bahu Nabil dan ia meneteskan air mata nya.
Kenikmatan mana lagi yg bisa Maria dustakan?
.
.
__ADS_1
.
Nama ku Maria Genelia, jangan tanya siapa aku karena aku malu bahkan jika hanya untuk mengangkat wajah ku.
Namun ingin ku bagi kisah ku karena aku tahu, ada orang di luar sana yg mungkin pernah atau sedang ada dalam posisi ku.
Laa tahzan wa laa takhaf! Innalillaha ma'anaa.
Kalimat itu sederhana, namun itu adalah sebuah kekuatan yg begitu besar tak terhingga. Sesuatu yg sangat mudah di mengerti tapi sangat sulit di terapkan. Apa lagi ketika manusia tak bisa berfikir jernih dengan adanya nafsu yg menuntut di puaskan dan amarah yg menuntut di tuntaskan.
Ada begitu banyak yg aku alami, dari cobaan, kesalahan, kejahatan hingga hukuman. Begitu gelap hidup yg aku jalani dan penuh liku hingga aku menolak adanya sebuah cahaya kebenaran.
Namun perlahan kegelapan itu di susup oleh sepercik cahaya yg bernama Sarfaraz yg mungkin di kirim tuhan untukku. Berkat nya, aku bertemu dengan gadis yg selalu berusaha menjaga kesucian nya namun tetap saja cobaan datang dan hampir merenggut hal itu yg selama ini di jaga oleh diri nya dan keluarga nya. Dan saat mendapatkan cobaan seberat itu, gadis itu bukan marah apa lagi menyalahkan Tuhan. Gadis itu malah introspeksi diri dan memohon ampun jika mungkin yg terjadi adalah teguran atas dosa yg mungkin ia lakukan tanpa ia sadari. Dan jika yg terjadi pada nya adalah cobaan, maka dia memohon agar di kuatkan.
Dan itu tamparan keras dalam hidup ku karena satu hal yg aku lupa, yaitu introspeksi diri. Bahwa apapun yg terjadi dalam hidup, adalah skenario Tuhan dan apun itu, itu hanya karena Dia mencintai hamba Nya.
Tuhan tak memberi kita cobaan kecuali hanya untuk mengajari kita cara sabar dan ikhlas.
Tuhan tak membuat kita terjatuh kecuali hanya untuk mengajari Kita cara bangkit dan bertahan.
Dan tuhan tak mengambil sesuatu dari kita kecuali hanya untuk menggantinya dengan yg jauh lebih baik.
Dan setelah semua yg aku jalani, dimana aku berjalan seperti di atas bara api kini Tuhan menghadiahi ku dengan anugerah yg tak pernah aku bayangkan. Begitu indah dan luar biasa, Nabil dan Khair.
Dan aku percaya, Tuhan selalu memiliki skenario yg indah dan tak bisa di tebak, Dia telah berjanji bahwa dimana ada kesulitan di sana ada kemudahan.
Dan akan aku tunggu janji itu yg pasti akan Dia penuhi.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...