
"Bagaiamana keadaan kalian hari ini?" tanya Amar yg melihat Maryam berbaring dengan bersandar pada kepala ranjang. Ia mengecup pelipis istri nya itu.
"Kami baik" jawab Maryam sembari mengelus perut nya. Amar kini mengecup perut Maryam berkali kali.
"Tumbuh yg kuat disana ya, Nak. Jangan ngerepotin Mommy" bisiknya "Oh ya, besok kita belanja ya, aku suruh Cindy atur jadwal ku"
"Mau belanja apa lagi?" tanya Maryam, karena sebenarnya mereka sudah berbelanja keperluan Maryam selama hamil dan bahkan mereka sudah membeli beberapa barang untuk anak mereka nanti. Tak hanya itu, Amar bahkan sudah membuatkan kamar untuk anak nya yg sudah di dekor sedemikian rupa dan kamar itu pun sudah lengkap semua kebutuhan seperti lemari ranjang dan yg lainmya.
"Belanja buat Baby kita"
"Lagi?" tanya Maryam.
"Aku suka belanja buat anak kita, ya"
"Tapi nanti engga ke pakek"
"Pokok nya aku mau belanja" tegas Amar dan kali ini Maryam tak bisa membantah nya. Maryam kemudian mengangguk sambil mengulum senyum.
Kemudian Maryam turun dari ranjang nya sembari memgang pinggang nya. Amar yg melihat itu langsung membantu Maryam. Sebenarnya Amar merasa kasihan, sejak hamil Maryam terlihat cepat lelah, sensitif dan kadang ia melihat Maryam kesulitan dalam beraktifitas.
"Apa sesulit itu mengandung seorang anak?" tanya Amar sembari membantu Maryam yg ingin pergi ke kamar mandi.
"Mengandung, melahirkan, menyusui, itu hal yg sangat sulit, Amar. Karena itulah ibu punya derajat tiga tingkat lebih tinggi dari ayah" tutur Maryam lemah lembut, dengan maksud hati agar Amar memikirkan kembali ibu nya.
Dan itu bukan yg pertama kalinya, Maryam tak pernah menceramahi Amar tentang hal itu, apa lagi mengeluarkan dalil tentang betapa mulia nya seorang ibu. Maryam hanya selalu menyiratkan bahwa tak ada yg bisa menggantikan seorang ibu, betapa tinggi derajat nya, dan soal ibu yg bersalah, Maryam berusaha membuat Amar menyadari bahwa semua orang bisa berubah dan dosa di masa lalu mungkin tak bisa di lupakan tapi bisa di maafkan.
Dan Maryam berhasil sebenarnya, apa lagi setiap melihat istri nya yg kadang kesulitan dalam masa hamil nya, Amar teringat pada ibunya, membayangkan mungkin seperti itu juga keadaan ibu nya saat mengandung dirinya dan Amora, namun ego dan kebencian Amar masih menguasi hati nya.
"Hati hati, Sayang" ucap Amar kemudian menunggu Maryam didepan kamar mandi.
Setelah selesai, Maryam langsung keluar dan mendapati suaminya yg sedang melamun dan bersender pada dinding.
"Ada apa?" Maryam mengelus kening Amar yg berkerut.
"Engga apa apa, cuma sedikit lelah" lirih Amar.
__ADS_1
"Ya udah, mandi gih" Amar mengangguk dan bergegas ke kamar mandi.
.
.
.
Keesokan hari nya, Amar membawa Amar berbelanja pusat perbelanjaan yg menyediakan barang barang khusus untuk bayi dan anak anak.
Amar begitu antusias dan ia langsung memilih beberapa barang, mereka tidak tahu jenis kelamin anak mereka, Amar bilang dia ingin itu menjadi sebuah kejutan, Maryam pun suka dengan pemikiran itu. Namun tak suka nya, Amar malah membeli semua pakaian dan sepatu baik yg cowok maupun yg cewek, katanya untuk persediaan.
"Jangan banyak banyak, Sayang. Nanti kalau kurang, tinggal beli lagi kan" ucap Maryam yg melihat Amar mengambil semua model dan semua warna sepatu bayi perempuan yg memang sangat lucu lucu.
"Tapi aku suka" jawab Amar, meminta karywan di toko itu untuk membungkus nya.
"Kalau anak nya cowok gimana?"
"Betul juga, berarti ambil sepatu cowok juga" ujar nya, padahal maksud Maryam supaya tidak berlebihan mengambil barang. Tapi yg terjadi malah sebalik nya, Amar juga mengambil semua sepatu bayi laki laki. Maryam hanya bisa menggeleng, di nasehati juga percuma, fikir nya.
Kemudian mereka mencari baju, Amar langsung mengambil sebuah dress lucu yg berwarna kuning emas.
"Amar, jangan yg itu. Itu untuk anak dua tahun ke atas" ucap Maryam.
"Tapi aku suka, Lucu kan? Kali aja anak kita perempuan. Dia pasti cantik pakek ini"
"Iya, tapi engga usah dulu. Ya, nanti kita bisa belanja lagi" bujuk Maryam. Amar pun meletakkan kembali dress itu dan tiba tiba saja Maryam merasa pusing.
"Kita pulang ya, aku capek" ucap Maryam karena ia memang merasa lelah.
Amar yg melihat istri nya tampak lemah pun langsung meng iyakan nya. Kemudian ia membayar semua belanjaan nya dan menyuruh Rika dan Gina membawa nya, sementara Amar membawa Maryam pulang duluan.
"Daddy mu suka menghamburkan uang, Nak" ucap Maryam saat mereka sudah ada dalam mobil. Amar tertawa kecil mendengar ucapan istri nya itu.
"Bukan menghamburkan, cuma Daddy engga mau kalau nanti Baby Daddy kekurangan sesuatu. Lagian kalau uang Daddy bukan buat kalian, buat siapa lagi" ucap Amar "Oh ya, nanti sore kita ke panti jompo ya, kalau kamu engga capek. Mumpung aku engga kerja hari ini" lanjut Amar kemudian.
__ADS_1
"Iya, kita pulang dan istirahat siang ini. Jadi pas sore udah ada tenaga" jawab Maryam.
.
.
.
Maria bertemu dengan Vita karena memanggil nya. Sebulan yg lalu buku Maria telah di terbitkan dengan judul Question Of Love. Karena memang isi nya tentang perjalanan Maria dan segala pertanyaan nya. Namun sayang, penjualan buku Maria tak sesuai dengan ekspektasi, Maria sudah hampir menyerah dan tak ingin menulis cerita kedua nya, namun Vita meyakinkan bahwa cerita kedua nya akan sesuai ekspektasi bahkan melebihi itu.
Selain itu, Vita menawarkan kontrak kerja dengan Maria, namun sebelum itu, Vita ingin Maria menuliskan satu cerita lagi yg menarik. Entah itu cerita based on true story atau hanya fiksi belaka.
Vita melakukan itu sebenernya atas permintaan Anggi yg ingin membantu Maria.
"Akan ku coba, ini bidang ku" ucap Maria penuh percaya diri.
"Aku tahu, kamu berbakat. Cara penulisan mu dan bahasa yg kamu gunakan sebenarnya sangat indah. Dan bagaimana kisah kedua mu? Kapan kamu akan menulisnya? "
"Aku sedang menulis nya, hanya saja harus ku hentikan dimana? Apakah saat bayi ku lahir atau bagaiamana? Aku belum tahu klimaks nya"
"Engga apa apa, Maria. Santai aja, sekarang kamu bisa cari ide cerita yg lain dulu, sampai kamu menemukan klimaks di cerita mu sendiri"
"Terima kasih banyak, Vita. Kamu banyak membantu ku"
"Bukan aku, tapi boss" seru Vita sambil tersenyum "Kamu menyelamatkan anak perempuan mereka"
"Aku ikhlas membantu nya"
"Ke ikhlasan akan selalu mendapatkan balasan yg tak pernah kita bayangkan"
"Benar"
***▫️▫️▫️
Tbc***...
__ADS_1