
Jam sudah menunjukan pukul 00.15. Acara sudah selesai dan kini semua orang berisitirahat di kamar hotel masing masing.
Sementara sang pengantin perempuan, lagi lagi tertudur pulas dan kali ini sang suami memaklumi, istri nya itu pastilah ke lelahan.
"Entah sampai kapan aku harus menunggu" gumam Amar, ia sendiri baru selesai mandi, rambut nya pun masih basah. Ia menunduk, mencium gemas pipi istrinya yg membuat nya menggeliat karena merasa terganggu namun di detik selanjutnya ia kembali tertidur pulas.
.
.
.
Afsana tak bisa tidur, ia terus memikirkan Faraz dan buku diary nya. Kenapa sikap Faraz masih sama? Dan Afsana bisa melihat Faraz sangat dekat dengan Maria, bahkan Afsana merasakan Faraz memperlakukan Maria seperti Faraz memperlakukan Maryam dan dirinya.
Karena tak bisa tidur, Afsana pun keluar dari kamar nya, ia kembali ke ballroom. Duduk termenung disana, besok pagi pagi sekali ia harus kembali ke pesantren nya.
"Ana..." Ana tersentak dari lamunan nya saat mendengar suara itu. Dan itu Faraz, Afsana sangat terkejut karena Faraz tak tidur dan bisa ada disana.
"Kak Faraz ngapain disini?" tanya Afsana.
"Entahlah, Kakak engga bisa tidur. Terus entah bagaimana seolah kaki kakak melangkah dengan sendiri nya ke sini"
Faraz berjalan dan duduk di kursi di hadapan Afsana "Kamu sendiri?" tanya Faraz kemudian. Afsana hanya mengedikan bahu.
Kemudian Afsana berusaha mengumpulkan keberanian nya untuk menanyakan perihal buku nya itu. Namun baru saja ia membuka mulut, Faraz sudah bersuara lebih dulu.
"Sebenarnya Kakak memikirkan Maria"
Deg
Afsana terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dan dengan sabar dan juga menahan segara perasaan yg bergejolak dalam hatinya, Afsana masih menunggu Faraz kembali berbicara. Namun Faraz juga terdiam, dia memandang Afsana, seolah ia juga menunggu Afsana berbicara.
"Kenapa?" akhirnya, dengan susah payah Afsana bisa bersuara.
"Dia... Sebenarnya tadi dia mengungkapkan perasaan nya"
Afsana menahan nafas. Bahkan seluruh tubuhnya menegang menunggu apa yg akan Faraz katakan selanjutnya. Tapi lagi lagi Faraz hanya memandang Afsana, seolah menunggu tanggapan dari adik sepupu nya itu. Tapi Afsana tak mampu lagi bersuara.
"Ana..." Faraz memanggil nya, seolah ingin tanggapan dari Afsana.
__ADS_1
"Jadi?" Afsana memaksakan dirinya kembali bersuara.
"Entahlah. Jujur, Kakak fikir punya perasan yg sama pada Maria" Afsana menggigit bibir nya, ia mengerjapkan matanya yg kini sudah berkaca kaca. Tiba tiba hatinya terasa perih.
"Lalu?" Afsana bertanya dengan suara tercekat.
"Tapi tiba tiba Kakak ragu untuk menerima nya"
"Bukannya kakak punya perasaan yg sama?"
"Ya, sudah lama kakak tertarik pada nya, dia seperti sesuatu yg lain, yg membuat kakak terus memikirkan nya. Saat itu dia masih bukan dari agama kita, Abi menyarankan agar kakak mengajarinya islam"
"Supaya kakak bisa menikahi nya?" Afsana bertanya setengah berbisik, bahkan dia sendiri hampir tak mendengar suara nya.
"Iya"
Nafas Afsana semakin tercekat di tenggorokannya, ia bahkan merasakan tangan nya gemetar.
Afsana beranjak, ia sudah tak kuat menahan air matanya, Afsana tidak mau Faraz melihat nya menangis.
"Ana ngantuk, Kak" lirih nya dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Faraz yg menatap bingung pada Afsana.
Afsana langsung naik ke atas ranjang, menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut, mengambil bantal dan menekan wajahnya disana.
Afsana tak bisa lagi menahan tangis nya, ia mencoba meredam tangis nya dengan bantal itu.
Hatinya sakit, sangat sakit.
Dan seharusnya dia sudah tahu itu, tidak mungkin Faraz mencintai nya, menaruh rasa lebih dari sekedar saudara pada nya. Dan hati Faraz pastilah untuk wanita lain. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, sebagai saudara. Hanya sebagai saudara. Dan Afsana harus bisa menerima kenyataan itu.
.
.
.
Keesokan hari nya, pagi pagi Hubab dan jet pribadi Amar sudah siap mengantarkan Afsana kembali ke Lebanon. Maryam ingin ikut, tapi Amar tak mengizinkan nya, karena Maryam pasti masih lelah setelah acara resepsi mereka.
Sebelum pergi, Afsana berbicara dengan Bi Mina, meminta Bi Mina mencari kan buku diary pink di kamar Faraz, dan setelah menemukannya, Afsana meminta Bi Mina langsung mengantarkan buku itu kerumah nya. Karena Afsana sudah tak punya waktu lagi jika harus mencari nya sendiri di rumah mereka.
__ADS_1
Maryam yg mendengar pembicaraan mereka pun ikut nimbrung.
"Buku apa?" tanya Maryam.
"Bukan apa apa, cuma ke tinggalan dulu" jawab Afsana mencoba menghindari tatapan Maryam. Namun Maryam langsung memegang pundak Afsana dan memaksa Afsana menatap nya.
"Ya Allah, Afsana. Kamu nangis? Kenapa?" Maryam bertanya khawatir, apa lagi melihat mata Afsana yg bengkak dan wajah nya sembab. Dia pasti nangis semalaman, fikir Maryam.
"Iya, soalnya udah harus pisah lagi" jawab Afsana berbohong dan ia langsung memeluk Maryam. Ia menangis dalam pelukan Maryam dan itu membuat Maryam ikut menangis. Ingin rasanya Afsana mengatakan bahwa ia telah patah hati.
"Tinggal beberapa bulan lagi kan kamu lulus, nanti kita bisa sama sama terus" seru Maryam mencoba menenangkan Afsana.
Afsana melepaskan pelukannya dan mengangguk, memaksakan bibir nya tersenyum walau terasa sangat sulit.
Sekarang Afsana hanya harus fokus pada pelajaran nya, dan walaupun ia tak yakin bisa melupakan Faraz, tapi Afsana harus bisa mengikhlaskan Faraz untuk wanita lain.
.
.
.
Faraz yg lagi lagi tak di beri tahu kepergian Afsana, tampak kesal. Ia heran kenapa gadis itu datang tanpa sepengetahuan nya dan pergi tanpa sepengetahuan nya. Apa lagi semalam mereka membicarakan sesuatu yg entah kenapa itu menimbulkan ke tidak tenangan di hati Faraz.
Memang ya, Maria mengungkapkan perasaan nya bahwa ia mengagumi Faraz, dan mungkin mulai mencintai nya. Maria mengatakan ia tak pernah merasa membutuhkan seseorang seperti ia merasa membutuhkan Faraz. Dan yg Maria lakukan hanya mengungkapkan perasaan nya.
Faraz yg sejak awal merasa jatuh cinta pada Maria, tiba tiba tak bisa menanggapi dengan pasti perasaan Maria itu.
Padahal sudah lama ia terus memikirkan Maria, dan mungkin menaruh rasa pada wanita itu yg dia fikir adalah cinta.
Faraz masih belum yakin dan tak tahu harus bagaiamana menanggapi perasaan Maria. Karena setelah Maria memeluk agamanya, entah kenapa rasa tertarik itu seperti berkurang. Faraz merasa Maria sama seperti Maryam dan Afsana baginya.
Dan semalam, entah bagaimana ia bisa menceritakan hal itu pada Afsana. Faraz bahkan tidak pernah menceritakan apapun pada Maryam, tapi pada Afsana ia begitu terbuka sejak kecil, biasanya Afsana akan memberikan masukan untuk masalah Faraz, atau mencari solusinya bersama sama. Dan Faraz sangat berharap Afsana bisa membantu nya menemukan jawaban nya.
Tapi sayangnya, adik sepupu nya itu sudah pergi bahkan tanpa berpamitan sedikitpun pada Faraz.
Faraz tak mau menikah tanpa cinta, karena Faraz tak mau kisah ayahnya terulang kembali. Dimana kebaikan sebanyak apapun dan kebersamaan selama apapun tak menjamin akan menumbuhkan cinta.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...