Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 29


__ADS_3

Faraz pulang dengan perasaan yg tak karuan, ia bingung bagaiamana lagi cara nya menekan perasaan nya pada Maria, sementara gadis itu masih tetap pada ke bebasannya.


"Nena, Ummi mana?" tanya Faraz pada Bi Mina yg sedang membersihkan halaman rumah nya.


"Di taman, Den. Ada apa?" tanya Bi Mina yg melihat Faraz uring uringan.


"Engga apa apa, ya udah Faraz masuk dulu" ucap Faraz.


Ia langsung bergegas menuju taman dan ia menemukan Ummi nya yg sedang memberi makan ikan ikan di kolam ikan itu.


"Assalamualaikum, Ummi" Faraz berjalan mendekati ibunya, mencium tangan nya dan ikut memperhatikan ikan cantik yg berenang bebas itu.


"Waalaikum salam, ada apa? Kenapa wajah mu di tekuk begitu?" tanya ibu nya.


"Ummi, Faraz bingung apa yg harus Faraz lakukan"


"Maksud nya?"


"Tentang Maria" Faraz menjawab dengan suara rendah.


"Astaghfirullah, Faraz. Jangan memikirkan perempuan terus menerus, Nak"


"Faraz juga engga mau mikirin dia, tapi dia datang terus dalam benak Faraz"


"Sebaiknya kamu bicara sama Abi mu, dia bisa memberi mu solusi mungkin"


Faraz tak langsung menjawab, karena ia lebih terbuka pada ummi nya dan terkadang sedikit canggung pada ayahnya apa lagi jika mengenai hati.. Tentu saja, dia sudah dewasa.


"Ya kalau kamu nanya pendapat Ummi, Ummi maunya kamu lupain Maria, dia bukan dari agama kita, Faraz. Sebagai teman dia sih baik, dia juga cantik dan pintar. Tapi agama itu di atas segala nya, Nak"


"Kenapa engga ambil jalan tengah nya aja?" Asma dan putra nya itu menoleh pada asal suara berat itu.


"Bi..." sapa Asma pada suami nya itu, ia segera menghampiri suami nya, mencium tangan nya dan suami nya itu mengecup singkat pelipisnya. Ya, seperti itulah sapa menyapa mereka saat sang suami berangkat kerja atau pulang kerja. Faraz pun juga menghampiri ayahnya dan mencium tangan nya.


Kemudian ketiga nya duduk ditaman itu sembari menikmati angin sore yg begitu sejuk.


"Jadi, Faraz. Kamu benar benar mencintai Maria?" ayahnya memulai topik setelah diam beberapa saat.


"Entahlah, Bi. Hanya saja dia terus bersemayam dalam benak Faraz, Faraz sudah coba mengalihkannya tapi engga bisa" Bilal menghela nafas berat, ia pernah berada di posisi Faraz, dan tentu ia mengerti perasaan Faraz.


"Nak, Abi tahu, katanya jodoh itu cerminan diri. Orang baik untuk orang baik, pria sholeh untuk wanita sholehah, begitu juga sebaliknya. Tapi terkadang, Allah menitipkan seseorang yg tidak baik pada yg baik supaya yg tidak baik itu berubah menjadi baik. Seperti kata kamu, Maria tersesat dalam jalannya karena memang engga ada yg nunjukin jalan ke dia, dia masih polos, pemikirannya pun sebenarnya tak terlalu menyimpang. Abi yakin, di tangan orang yg tepat, dia bisa kembali ke fitrah nya"


"Maksud Abi?"

__ADS_1


"Mungkin, Allah sengaja memepertemukan kalian supaya kamu bisa menjadi petunjuk jalan untuk nya, di dunia ini engga ada yg kebetulan. Dan setiap Maria butuh pertolongan, kenapa kamu yg selalu ada untuk nya dari sekian banyak nya manusia di kota ini? Dan mungkin juga Allah sengaja membuat mu memiliki perasaan padanya supaya kamu mau membimbing nya"


"Jadi apa yg harus Faraz lakukan, Bi?"


"Coba ajari dia islam, pelan pelan saja. Jika Allah berkehendak, hati nya akan terbuka untuk islam. Apa lagi sekarang kalian semakin dekat, itu bisa jadi kesempatan mu untuk bisa membimbing nya dengan mudah. Dan ingat, ajari islam dengan cara yg menyenangkan dan alami, sehingga dia bisa menangkapnya"


"Faraz akan coba, Bi"


"Semoga Allah membantu mu, Faraz. Dan semoga Allah merodhoi mu dan perjuangan mu" ibunya memberi doa untuk putra nya itu "Tapi ingat, Nak. Tetaplah berada dalam batasan mu sebagai orang mukmin. Tidak ada apapun yg boleh lebih penting dalam hidup mu melebihi agama mu"


"Inysa Allah, Ummi"


.


.


.


"Dia benar benar malaikat mu, kan?"


Hira bertanya sambil mengecek buku buku yg ada di kamar Maria. Ternyata cukup banyak buku yg Maria punya.


Saat ini keduanya sedang menikmati waktu bersama di rumah Maria karena orang tua Hira pergi keluar kota, sehingga Maria mengajak Hira menginap dirumah nya saja.


"Entahlah, tapi semenjak bertemu dengan nya aku merasa aku mendapatkan suatu keberuntungan dan hidup ku terasa lebih mudah"


"Dan semua itu adalah takdir Tuhan, Dia sengaja mengirim Faraz sebagai pelindung mu"


"Benar kah?" bisik Maria, yg justru pertanyaan itu sebenernya untuk dirinya sendiri.


"Ya, di dunia ini engga yg kebetulan, kan? Kenapa orang engga percaya Tuhan seperti kamu malah bertemu dengan orang yg sangat percaya Tuhan seperti Faraz?"


Maria terdiam dan mencerna kata kata Hira, memang benar, tidak mungkin Tuhan itu tidak ada, Faraz pun sudah menjelaskan itu. Dan ya, Tuhan itu pasti ada, hanya saja Maria yg enggan mengakui nya. Dan apakah agama penting? Seperti yg Sarfaraz katakan, agama penting sebagai penunjuk jalan kehidupan bagi manusia.


"Malah melamun" Hira melemparkan bantal pada Maria yg tampak serius memikirkan sesuatu "Kamu engga jatuh cinta sama boss mu itu, kan?"


"Hah? Engga lah, kami tuh engga cocok. Kayak langit sama bumi" sanggah Maria cepat.


"Langit engga lengkap tanpa bumi begitu juga sebaliknya" balas Hira yg membuat Maria mencebikan bibir nya.


Dan tiba tiba terdengar suara ayahnya memanggil nya dari bawah. Wajah Maria langsung berubah masam, ia benci pada ayahnya itu dan entah apa lagi yg dia butuhkan sekarang.


"Tunggu sebentar..." ujar Maria sambil turun dari ranjang, kemudian ia keluar dari kamar nya dan mencari asal suara ayah nya itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Maria ketus saat sudah di hadapan sang ayah.


"I need money, right now" ujar sang ayah yg membuat Maria langsung menatap tajam ayahnya.


"Engga, uang ku aku simpan buat kuliah ku, Daddy. Lagian Daddy engga malu terus terusan minta uang sama aku dan bukannya bekerja sendiri?"


"Engga usah banyak bicara, setan kecil. Lagian sudah kewajiban anak taat pada perintah ayahnya. Berikan uang mu, aku butuh sekarang juga" bentak sang ayah.


"Engga mau" jawab Maria kekeh. Namun ayah nya tak memperdulikannya dan segera naik ke kamar nya dan tak peduli Maria yg berteriak untuk berhenti dan mencoba mencegahnya.


Ayahnya langsung mendorong pintu dengan kasar membuat Hira yg didalam tersentak kaget. Kemudian ia mencari tas Maria dan ia segera mengambil semua uang yg ada di dompet nya.


"Dad, please. I really need my money" ucap Maria memelas dengan mata berkaca kaca sambil berusaha mengambil uang nya kembali. Namun lagi dan lagi ayahnya malah mendaratkan pukulan dengan sangat keras hingga membuat pipi Maria langsung lebam.


"Just shut up!" tegas sang ayah "Little killer" desisnya yg membuat Maria langsung menangis.


Hira yg ada disana pun langsung memeluk Maria, sementara ayah yg tak bertanggung jawab itu sudah pergi entah kemana.


"Maria, udah ya jangan nangis" ucap Hira mencoba menenangkan Maria.


"Dia selalu bilang aku pembunuh, hiks hiks..." ucap Maria di sela tangisan nya. Saat ayahnya menampar atau bahkan memukulinya sekalipun, itu memang terasa sakit. Tapi ketika ayahnya mengatakan ia pembunuh, itu benar benar sakit.


Karena bukan hanya ayahnya yg terluka dan kehilangan, tapi Maria jauh lebih merasa kehilangan sosok sang ibu. Tapi kenapa ia yg selalu di salahkan?


Maria terus menangis sesegukan di pelukan Hira, sementara Hira hanya bisa menenangkannya dengan pelukan dan meminta Maria bersabar.


.


.


.


Sementara itu, Maryam menghubungi Amar dan mengatakan Abi nya mengizinkan Amar menjemput nya dan juga boleh menemui keluarga nya yg di desa.


Tentu Amar senang bukan main.


Sudah dua hari tidak melihat wajah Maryam, ah dia merindukan wajah cantik Maryam itu.


Dan tak bisa Amar pungkiri, ia ingin sekali memeluk Maryam dan mengatakan betapa ia merindukan nya. Tapi Amar tahu itu takkan terjadi. Jangan kan berpelukan, bahkan sampai sekarang mereka belum pernah shake hand sekalipun.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2