
Maria dan Maryam sedang sibuk membaca buku nya masing masing di perpustakaan, sekarang mereka berdua sudah seperti saudara yg terus menempel di kampus, bahkan teman teman nya sering mengatakan mungkin mereka saudara yg terpisah mengingat nama kedua nya sangat mirip.
Saat asyik membaca, ponsel Maryam bergetar. Maryam pun mengambil ponsel itu dari ranselnya dan ternyata itu pesan dari kakak nya yg mengatakan ia sudah sampai di kampus.
"Kak Faz udah datang, kamu mau ikut sekalian engga?" tanya Maryam pada Maria sambil membereskan buku di depan nya.
"Engga, aku ada kelas lagi habis ini"
"Oke deh, aku duluan" seru Maryam.
Di luar, Faraz menjemput Maryam untuk mengambil cincin nya tentu saja juga Amar, tapi karena Granny Amy maupun Ummi nya tak bisa menemani mereka, jadi Farazlah yg harus menemani mereka lagi.
"Kita ketemuan disana aja, Amar sudah berangkat kesana" seru Faraz pada Maryam sembari membukakan pintu mobil untuk adiknya itu.
"Iya, tapi cuma sebentar kan Kak? Soalnya Maryam mau cepat cepat pulang, besok ada quiz di kampus, jadi Maryam harus belajar"
"Iya" jawab Faraz. Sebenarnya Faraz sudah meminta Amar mengambil nya sendiri tanpa mengajak Maryam. Tapi Amar bersikeras mau Maryam ikut dan membuat Faraz tak punya pilihan lain.
Sesampainya di tempat tujuan, Amar langsung menyambut calon istri nya dengan senyum merekah. Kemudian ia mengajak Maryam masuk dan menemui Alexander.
Alexander menunjukan cincin pernikahan yg sangat indah dan meminta Amar dan Maryam mencoba nya.
Dan Maryam pun mencoba nya dan cincin itu terlihat sangat indah di jari manis nya, begitu juga dengan Amar.
"Apakah itu pas?" tanya Alexander.
"Ya, ini sangat indah" jawab Maryam kemudian melepaskan kembali cincin itu dan menyerahkan nya pada Alexander. Alexander meletakkan kedua cincin itu kedalam sebuah kotak cincin dan menyerahkan nya pada Amar.
"Terima kasih banyak, Tuan Alex" ucap Amar.
"Sama sama" jawab Alexander.
Setelah urusan mereka selesai, Amar masih mengajak Maryam untuk membelai beberapa perhiasan lagi namun Maryam nenolak karena Granny Amy sudah membeli cukup banyak perhiasan untuk dirinya.
"Ya sudah kalau begitu, oh ya aku punya sesuatu untuk mu" seru Amar kemudian mengeluarkan sebuah liontin berbentuk bulan separuh yg sangat indah.
"Boleh aku memakaikan nya?" tanya Amar ragu ragu tapi Maryam melirik Faraz dan Faraz menggeleng.
"Biar aku pasang sendiri nanti" ucap Maryam kemudian mengulurkan tangan nya dan Amar pun meletakkan liontin itu di telapak tangan Maryam.
"Harus di pakai ya, dan jangan pernah di lepas" tegas Amar dan Maryam pun hanya bisa mengangguk.
"Ya udah, aku pulang dulu, udah sore" ujar Maryam kemudian dan Amar pun mempersilahkan.
Di dalam mobil, Maryam memperhatikan liontin itu dan ia tampak sangat menyukai nya. Kemudian ia memasang nya.
"Cantik kan, Kak?" tanya Maryam setelah kalung itu terpasang di leher nya.
"Iya, Kakak engga nyangka Tuan es batu seperti dia bisa romantis juga. Dan cuma adik Kakak yg bisa buat dia seperti itu"
Maryam tertawa mendengar kata kata kakak nya yg masih terlihat tidak menyukai Amar.
Namun Maryam tahu, Faraz bukannya benci Amar, mungkin Faraz hanya terlalu meng khawatirkannya.
.
__ADS_1
.
.
Di rumah nya, Amar memperhatikan layar ponsel nya yg menunjukan tiga lokasi berdekatan.
Lokasi calon istri nya berada dan juga lokasi Gina dan Rika. Dan saat ini, Maryam ada dirumah nya. Liontin yg Amar berikan sebenarnya adalah alat pelacak, Amar terpaksa melakukan semua itu karena ia takut terjadi sesuatu pada Maryam.
Bobby mengatakan bahwa beberapa hari terakhir Dilara mengikuti Maryam, Amar tahu wanita itu gila dan bisa saja berbahaya.
Sebentar lagi pernikahan nya, dan Amar harus memastikan bahwa Maryam baik baik saja.
.
.
.
Di rumahnya, Erick masih memikirkan apa yg Dilara rencanakan, rasanya itu tidak adil jika harus menyakiti orang lain karena kesalahan orang lainnya.
Tapi yg terjadi pada keluarga nya juga tidak adil kan?
Erick berfikir memang benar, sesekali orang seperti Amar Degazi harus di beri pelajaran.
.
.
.
"Iya, Kakak mandi sebentar" balas Faraz dari dalam.
"Cepetan, Maryam telat"
Tak terdengar lagi jawaban Kakak nya, Maryam pun segera mengambil ransel nya dan turun, ia menunggu Faraz di ruang keluarga sambil memainkan ponsel nya.
Setelah beberapa menit menunggu, kakak nya pun akhir nya turun.
"Dimana Abi sama Ummi?" tanya Faraz yg melihat rumah tampak sepi.
"Ummi ke pesantren, Abi sudah pergi ke kerja. Nena di belakang" tutur Maryam sembari mengenakan ransel nya, kemudian kedua nya keluar rumah dan memasuki mobil Faraz.
"Nanti mau kakak jemput jam berapa?" tanya Faraz sembari mulai mengemudikan mobil nya.
"Engga tahu, nanti Maryam telpon deh atau engga Maryam naik taksi aja"
"Jangan, biar Kakak jemput" ujar Faraz.
"Okey" jawab Maryam sambil mencari cari sesuatu dalam tas nya. Kemduian ia mengeluarkan smart watch milik nya dan saat ingin memakainya, jam itu malah jatuh, membuat Maryam terpaksa menunduk untuk mengambil nya.
"Apa, Dek?" tanya Faraz yg melihat Maryam tampak mencoba meraih sesuatu di bawah.
"Jam" jawab Maryam.
Sementara itu, Gina dan Rika masih ada di dalam jip mereka dan mengawasi rumah Maryam. Namun mereka kira Maryam tidak keluar rumah hari ini karena sejak tadi yg keluar hanya mobil ayahnya Kemdudian mobil kakak nya.
__ADS_1
"Masak iya dia seharian dirumah?" tanya Gina sambil memakan pop mie begitu juga dengan Rika.
"Mobilnya engga ada keluar sama sekali" jawab Rika.
Kemudian keduanya menikmati sarapan mereka. Sambil sesekali memperhatikan rumah Maryam.
Lama mereka menunggu tak ada tanda tanda Maryam akan keluar, mereka yg merasa bosan puj berniat menyetel lagu namun tiba tiba ponsel Gina berdering dan tertera nama big boss di ponsel nya.
"Iya, Tuan?" sapa Gina sopan
"Kalian masih dirumah, Maryam?" terdengar suara dingin boss nya itu dari seberang telepon.
"Iya, Non Maryam belum keluar"
"Belum keluar bagaiamana? Pelacak nya menunujukan dia ada di kampus sekarang" Gina langsung meringis mendengar desisan tajam Amar dan ia juga tampak panik.
"Tapi mobil nya..."
"Susul dia ke kampus sekarang juga!" titah nya.
"Baik, Tuan" jawab Gina dan ia segera meminta Rika melajukan mobil nya ke kampus.
.
.
.
Amar yg merasa gelisah memikirkan Maryam selalu mengecek dimana lokasi gadis itu, dan seharusnya lokasi nya selalu berdekatan dengan kedua bodyguard yg Amar perintahkan untuk menjaga Maryam. Namun entah kenapa pagi ini lokasi mereka sangat jauh, Amar berfikir pasti Maryam keluar dari rumah dan luput dari pandangan Rika dan Gina.
Besok malam adalah akad nikah nya, antara cemas dan bahagia Amar rasakan. Amar selalu takut terjadi sesuatu dengan Maryam mengingat betapa ambisiusnya Dilara. Dan jika sampai Maryam terluka, maka tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
.
.
.
Erick memantau Maryam sejak tadi. Sesaat, Erick ingin membatalkan rencana nya melihat Maryam bukan tipe gadis seperti yg Amar kencani selama ini, gadis itu tampak berbeda, sangat berbeda. Tapi Dilara terus memanas manasi Erick hingga jiwa labil nya tak terkontrol.
Kelas Maryam di batalkan karena dosen nya tiba tiba saja ada halangan, ia pun berniat langsung pulang mengingat besok malam adalah akad nikah nya dan ia hanya akan dirumah samapai tiba akad nikah nya.
Maryam menghentikan sebuah taksi namun baru saja ia masuk, seorang pria asing juga masuk membuat Maryam kebingungan.
"Biar aku cari taksi lain" ujar Maryam hendak keluar namun tiba tiba ia merasakan lengan nya seperti di gigit semut.
"Auch... Apa yg kau lakukan?" pekik nya karena melihat jarum suntik menancap di lengan nya. Dan pria itu hanya berseringai licik, namun beberapa saat kemudian Maryam merasakan kesadarannya seperti akan menghilang dan samar samar Maryam mendengar pria itu menyebutkan sebuah nama hotel.
Maryam tahu ia dalam bahaya, Maryam mencoba keluar dari mobil yg sudah mulai berjalan tapi pintu mobil di kunci dan pria itu menahan tubuh nya seraya berbisik.
"Kita akan bersenang senang"
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1