
Operasi Maria berjalan dengan lancar, namun masih ada memar di otak nya. Dokter mengatakan jika memar itu semakin melebar, maka harus di lakukan operasi lagi.
Dan satu hal lagi yg membuat Dokter itu khawatir, yaitu tubuh Maria yg seolah enggan merespon obat obatan yg masuk kedalam tubuhnya. Seolah Maria memang tak ingin sembuh, Dokter menyarankan agar Maria di berikan dorongan supaya mau bertahan hidup, atau jika ini terus berlangsung, maka dia benar benar akan kehilangan nyawa nya.
Faraz hanya bisa memijat kepala nya, ia tak tahu apa yg harus dia lakukan untuk membantu Maria.
Sementara hari sudah gelap. Dan Afsana masih setia menemani Faraz di rumah sakit.
"Hira, aku harus pulang. Kasian Afsana sudah seharian di sini, dia juga sakit dan butuh istirahat"
"Iya, makasih banyak, Pak Faraz. Aku akan menjaga Maria di sini"
"Terima kasih, Hira. Inysa Allah besok aku akan ke sini lagi"
Hira mengangguk.
"Ayo, Dek. Kita pulang" seru Faraz pada Afsana. Afsana pun mengangguk, ia memang merasa lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuh nya "Pelan pelan jalan nya" ucap Faraz lembut.
Faraz membantu Afsana masuk kedalam mobil nya di susul dirinya.
Di perjalanan, Faraz tampak bingung, memikirkan apa yg harus dia lakukan untuk membantu Maria.
"Mungkin ayahnya bisa membantu, Kak" Afsana tiba tiba bersuara seolah tahu apa yg Faraz fikirkan.
"Tapi ayahnya di penjara"
"Kalau hanya keluar sebentar untuk menjenguk putri nya yg sedang sakit, pasti di perbolehkan. Coba dulu Kakak bicara sama dia supaya membuat permohonan pada pihak polisi, dia juga bukan penjahat yg berbahaya kan"
"Kamu pintar" seru Faraz dan mengusap kepala Afsana sambil mengulum senyum lebar "Maaf ya, seharian kamu dirumah sakit, padahal kamu juga sakit"
"Engga apa apa, Ana juga bosan dirumah. Kalau besok ikut lagi, boleh?"
"Jangan, Dek. Kamu harus banyak istirahat"
"Dirumah sakit Ana juga cuma duduk, Kak. Ya sekalian gantiin Hira nemenin Maria, Kasian Maria engga ada yg jaga"
Faraz terdiam sejenak, memikirkan hal itu.
"Ya udah, besok ajak Maryam juga"
"Ide bagus. Maryam dan Maria juga berteman kan"
.
.
.
Keesokan hari nya, Faraz mendatangi Robert di penjara, ia mengatakan apa yg terjadi pada Maria dan bagaimana keadaan nya sekarang. Robert sangat terkejut mendengar hal itu, sekarang hidup putri nya sudah sangat hancur.
Faraz juga berbicara pada pihak kepolisian, mungkin yg bisa menyelamatkan Maria saat ini hanyalah ayah nya.
Faraz juga membawa seorang pengacara, untuk membantu Robert agar bisa keluar dari penjara walau hanya sebentar.
__ADS_1
Setelah dengan banyak pertimbangan, akhir nya Robert di izinkan kerumah sakit tentu dengan di kawal para polisi dan masih dengan tangan yg di borgol.
.
.
.
Sementara Maryam dan Afsana sudah ada dirumah sakit, bergantian dengan Hira menjaga Maria. Maryam sendiri sangat terkejut mengetahui Maria sedang hamil saat ini, dan Maryam berfikir pantas saja Maria menghilang dari kampus nya.
Dan saat Maryam menanyakan pada Hira sebelum Hira pergi, berapa usia kandungan Maria. Hira mengatakan 7 minggu. Itu arti nya, Maria melakukan nya sebelum ia memeluk islam, fikir nya. Tapi Maryam juga heran, janin nya pasti masih sangat lemah, tapi bagaiamana bisa janin nya masih hidup setelah dua kali Maria mencoba bunuh diri. Bahkan Maria yg melompat dari lantai dua dirumah nya, secara logika itu pasti sudah membuat nya keguguran. Tapi bagaiamana bisa janin nya baik baik saja?
Afsana dan Maryam membicarakan hal itu, dimana biasanya di awal kehamilan, itu sangat rentan dengan keguguran.
"Mungkin Allah punya rencana besar dengan adanya bayi itu" ucap Afsana.
"Ya, bisa di bilang sebuah keajaiban sih" sambung Maryam.
Di tengah mereka mengobrol, Faraz datang dengan menbawa Robert yg di kawal beberapa polisi bahkan ada seorang pengacara disana.
Faraz meminta Afsana dan Maryam keluar, supaya Robert bisa menghabiskan waktu nya yg terbatas dengan Maria.
Maryam membantu Afsana berjalan keluar dan Robert berjalan masuk.
"Dek, kamu pulang aja ya. Kamu harus banyak istirahat, biar cepat pulih" pinta Faraz.
"Nanti aja, Kak. Kalau Hira sudah datang"
Di dalam, Robert hanya bisa menangis melihat keadaan putri nya yg terbaring tak berdaya. Ini salah nya, di alam sana, istri nya pasti mengutuk dirinya karena tak bisa menjaga putri mereka. Robert menyesali semua nya, tapi sekarang semua nya sudah terlambat.
"Maria..." Robert menggenggam tangan putri nya dan mengecup nya "Bangun, Sayang. Kamu harus kuat dan berjuang untuk hidup, jangan menyerah seperti ini. Mommy pasti sedih melihat kamu jika seperti ini, Dan maaf, karena Daddy engga bisa jaga kamu"
"Maria, kamu harus bertahan hidup, setidaknya berikan kesempatan pada Daddy untuk menjadi ayah yg baik, saat Daddy sudah keluar dari penjara nanti, kita akan hidup bersama. Dan Daddy akan menebus kesalahan Daddy di masa lalu. Ku mohon, bertahanlah dan berikan Daddy kesempatan lagi, Sayang"
Robert terus mengucapkan hal yg sama dengan berderai air mata, ia tak mau kehilangan Maria, apa yg terjadi pada Maria adalah salah nya. Dan sekarang ia tak tahu apa yg harus ia lakukan.
Robert keluar dari ruangan Maria karena ia tahu ia tak punya banyak waktu.
Di depan kamar Maria, Robert langsung mendatangi Faraz dan tiba tiba bersujud didepan nya tentu membuat semua orang begitu terkejut.
"Om, apa yg Om lakukan?" Faraz memaksa Robert berdiri namun ia tak mau, Robert bahkan memegang kaki Faraz dan ia menangis.
"Hanya kamu yg bisa membuatnya bertahan hidup, Faraz" ucapnya di tengah isak tangisnya. Afsana dan Maryam tak mengerti apa yg sedang Robert lakukan.
"Om, kita semua sedang berusaha untuk kesembuhannya" seru Faraz sambil menarik Robert berdiri tapi Robert tetap tak mau.
"Tidak, Faraz. Maria mencintai mu, jika kamu ada bersama nya, dia pasti bisa melewati semua ini, dia butuh dukungan dan tempat bersandar, Faraz. Ku mohon, menikahlah dengan putri ku, Faraz" Robert berkata dengan sesegukan.
Afsana yg melihat hal itu menitikikan air mata nya tanpa sadar. Bahkan Faraz juga tak tahu harus beraksi seperti apa. Maryam hanya bisa menatap bingung pada Robert yg malah meminta kakaknya menikahi Maria.
"Om, aku engga bisa" jawab Faraz pelan. Dan Faraz menatap Afsana yg kini menangis.
Hati Faraz sakit melihat Afsana menangis "Aku bisa lakukan apapun untuk membantu Maria, tapi tidak menikahi nya" lanjut Faraz "Dan di sini ada calon istri ku, kami akan segera menikah" tegas nya kemudian.
__ADS_1
Robert beralih menatap Afsana. Dan kini Robert malah bersimpuh di depan Afsana yg duduk sambil memegang kruk nya. Afsana tak bisa bergerak dan hanya menangis.
"Maafkan ke egoisan ku, Nak. Tapi putri ku sedang sekarat. Dia satu satu nya yg aku miliki, dan dia sangat mencintai Faraz, dia banyak berubah sejak mengenal Faraz, ku mohon, Nak. Mau kah kamu membiarkan Faraz menikahi nya? Setidaknya sampai dia melahirkan, setelah itu Faraz bisa menceraikannya dan menikah dengan mu"
"Om..." seru Faraz tak suka mendengar apa yg Robert katakan. Bahkan itu membuat Afsana semakin menangis. Dia sangat mencintai Faraz, bagaiamana bisa seseorang dengan mudah nya meminta Faraz dari nya?
Afsana sungguh merasa tak tega dan bersimpati pada Robert dan Maria, tapi membiarkan Faraz menikahi Maria?
"Om, pernikahan itu bukan mainan" tegas Faraz "Aku dan Afsana saling mencintai, dan aku engga bisa menikahi orang yg engga aku cintai"
Benar, itu yg selalu Ummi nya katakan, yaitu agar Faraz dan Maryam menikah atas dasar cinta. Karena Ummi nya tidak mau jika sampai kisah Abi nya dan Ummi Khadijah terulang. Maryam sendiri juga tak setuju dan bahkan merasa marah dengan permintaan Robert.
Kakaknya sudah melakukan banyak hal untuk Maria, dan sekarang dia masih meminta Faraz menikahi nya? Yg benar saja.
"Faraz, setidaknya kasihanilah Maria. Yg dia butuhkan saat ini adalah seorang pendamping, dan dia mencintai mu, Faraz"
Afsana semakin terisak mendengar Robert yg terus memohon bahkan Robert masih bersimpuh di bawah kaki Afsana. Seolah kata kata Robert memeras Afsana secara emosional.
Dan di tengah ketegangan itu, terdengar suara bib dari ruangan Maria, Maryam segera mengecek nya dan Maria terlihat kejang kejang.
Maryam segera memanggil suster dan Dokter.
Melihat hal itu, ketakutan Robert semakin menjadi, dan tiba tiba dia memegang dada nya dan terjerembab ke lantai.
Faraz yg melihat itu juga sangat panik dan segera memanggil Dokter.
Dokter membawa Robert keruangan lain.
Sementara Afsana hanya bisa mematung, melihat itu, Faraz langsung menghampiri nya dan mengusap kepala nya dengan sayang.
"Sayang, jangan fikirkan apa yg tadi Om Robert katakan" lirih nya.
"Maria sangat mencintai kakak, ya?" bisik Afsana.
"Tapi kakak sangat mencintai mu, dan Ummi selalu bilang, bahwa dia ingin anak anak nya menikah atas dasar cinta. Pernikahan tidak bisa di awali dengan rasa kasihan, Afsana. Itu bisa berakhir menyedihkan"
"Tapi bagaiamana kalau Maria dan janin nya tidak bisa di selamatkan?"
"Kita hanya bisa berdoa, Dek"
"An..." Maryam memeluk Afsana dan mengusap punggung nya, mencoba menenangkan Afsana yg masih menangis. Afsana adalah gadis berhati lembut, tentu apa yg di lakukan dan di katakan Robert sangat mempengaruhi nya.
"Kita hanya berkewajiban membantu Maria sebisa mungkin, tapi kita tidak berkewajiban bertanggung jawab pada seluruh hidup nya apa lagi janin nya"
Dokter yg menangani Robert mendatangi mereka, Dokter itu tampak sedih dan seolah membawa kabar buruk.
"Ada apa, Dokter?" tanya Faraz.
"Maaf, Pak. Pasien terkena serangan jantung dan.... Dan kami tidak bisa menyelamatkan nya"
▫️▫️▫️
Tbc....
__ADS_1