Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 87


__ADS_3

Maryam dan Amar pulang kerumah Maryam saat hari menjelang sore karena mereka berniat menginap disana, mereka di sambut hangat oleh Asma yg memang sudah sangat merindukan putrinya. Walaupun masih terbilang setiap hari bertemu, tapi karena tak lagi tinggal bersama, membuat Asma tetap merasa di tinggal putri nya itu.


"Ummi apa kabar?" tanya Amar mencium tangan ibu mertua nya itu.


"Ummi baik, Granny Amy baik?"


"Baik" jawab Amar.


"Unyil, pulang juga akhir nya" seru Faraz yg juga senang melihat adik nya itu.


"Ana dimana, Kak?" tanya Maryam karena tak melihat Afsana.


"Di kamar" jawab Faraz.


"Hem, pengantin baru, di kurung terus di kamar ya" Amar menimapali dengan nada menggoda yg mengundang tawa geli Asma.


"Engga lah, baru juga Ana naik, kasian kaki nya sakit" balas Faraz.


Karena memang benar, Afsana baru saja kembali ke kamarnya, apa lagi siang tadi Faraz membawa nya ke Dokter. Jadi Faraz meminta Afsana bersitirahat.


Di tengah obrolan itu, terdengar suara mobil Bilal di luar, Maryam segera berlari membuka pintu.


"Abi..." teriak Maryam berlari memeluk Bilal saat Bilal keluar mobil. Membuat Bilal terkekeh geli.


"Ada apa, Nak?" tanya Bilal sembari mengecup pucuk kepala putri nya itu.


"Engga ada apa apa, Maryam kangen sama Abi"


"Abi juga kangen, kamu sehat?" Maryam mengangguk "Granny Amy?"


"Alhamdulillah, Granny baik. Malam ini Maryam nginep disini"


"Ide bagus, Nak. Kami juga merindukan mu"


Bilal dan Maryam berjalan masuk. Asma langsung menyambut suami nya, mencium tangan nya dan membawakan tas kerja nya, Bilal mengecup pipi istri nya itu dengan mesra.


Pemandangan itu tak luput dari perhatian Faraz dan Amar, keduanya berharap hingga tua nanti, rumah tangga mereka juga seharmonis rumah tangga Bilal dan Zahra.


Bisa memberikan kebahagiaan dan cinta yg tiada akhir untuk istri istri mereka seperti cinta yg diberikan Bilal untuk Zahra nya.


"Abi mandi dulu" seru Bilal kemudian pada anak anak nya.


Bilal dan Asma pun naik ke kamar mereka.


"Marry..." seru Afsana yg sudah berada di ujung tangga.


Afsana yg mendengar suara Maryam membuatnya nya ingin keluar dan menemui saudari nya itu.


"An, tunggu disana..." titah Faraz dan ia segera naik, menghampiri Afsana dan langsung menggendong nya.


"Ciye... Yg pengantin baru" goda Maryam pada Afsana, membuat Afsana merona saja.


Kemudian Faraz membawa Afsana turun dan mendudukan Afsana di sofa, di ikuti Maryam yg duduk di samping nya.


"Gimana kaki mu, An?" tanya Maryam.


"Kata Dokter jauh lebih baik"


"Alhamdulillah, jadi bisa cepat cepat kembali ke pesantren ya" ujar Maryam dan Afsana mengangguk dengan ekspresi senang.


Namun beda halnya dengan Faraz, ia tampak masih enggan jika harus berpisah dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Tapi kakak engga mau pisah" ucap Faraz manja sambil bergelanyut di pundak Afsana, membuat Afsana tertawa geli.


"Lebay amat" seru Amar.


"Tau kakak nih, pisah cuma beberapa bulan aja" Maryam menimpali.


"Maka nya Ana mau cepat cepat sembuh, Kak. Semakin cepat Ana sembuh, semakin cepat Ana balik, jadi bisa nyusul ujian. Kalau engga, Ana harus ngulang lagi tahun depan"


"Kakak janji akan usahain supaya kamu cepat sembuh" ucap Faraz meyakinkan dan Afsana mengangguk saja.


.


.


.


Bi Mina membuatkan makan malam dengan di bantu Maryam, sedang Amar duduk di kursi dan terus memperhatikan gerak gerik istrinya itu yg sedang sibuk memasak.


Amar sudah menawarkan diri untuk membantu memasak namun Maryam menolak nya mengingat bagaiamana Amar di dapur terakhir kali.


Faraz dan Afsana juga datang. Afsana duduk di kursi dan menawarkan diri membantu, ia mengatakan jika hanya mengupas bawang atau memotong sayur, ia bisa.


Kemudian Faraz memberikan beberapa bahan sayuran pada Afsana untuk di kerjakan.


Faraz sendiri membantu Bi Mina menggoreng ikan.


"Faraz di izinin, kok aku engga?" tanya Amar yg langsung berdiri dari kursi nya dan hendak membantu juga.


"CEO bisa nya main saham, engga mungkin bisa masak" jawab Faraz sembari membalik ikan di wajan "Ya kecuali kalau CEO nya secerdas diri ku, serba bisa" lanjut nya sambil terkikik geli.


"Aku juga bisa" seru Amar, kemudian ia mencuci alat alat masak yg sudah kotor.


Afsana dan Maryam hanya tertawa mendengar ocehan para suami mereka itu.


"Kalian ngapain?" tanya Asma yg melihat dapur nya sudah ramai dengan anak dan menantu nya.


"Lagi masak, Ummi" jawab Maryam "Ummi tunggu saja di meja makan sama Abi, ini sudah mau selesai kok"


Asma mengangguk namun ia malah berjalan masuk, duduk di samping Afsana yg sudah selesai memotong sayuran. Asma memperhatikan anak anak nya yg sibuk sembari mengobrol.


Bilal pun datang dan bergabung dengan istrinya. Bilal juga menikmati pemandangan di hadapannya yg mengharukan.


"Kak..." Afsana menyodorkan sayuran yg sudah di potong pada Faraz kemudian Faraz menyerahkan nya pada Bi Mina.


Amar mengambil piring untuk tempat ikan goreng dan meletakkan ikan nya disana.


"Ini sudah mau selesai, sebaiknya kalian tunggu di meja makan" seru Bi Mina sembari menumis sayuran nya.


"Biar Maryam siapkan piring nya" seru Maryam.


"Biar aku bantu, Baby" ucap Amar mengikuti Maryam. Sepasang suami istri itupun menyiapkan piring piring nya, sementara Faraz membantu membersihkan peralatan masak dan mencuci nya.


Setelah semua selesai, Maryam dan Bi Mina mulai menata makanan nya di meja makan dan mereka siap menyantap hidangan makan malam mereka.


Bi Mina juga bergabung dengan mereka seperti biasa.


"Ummi senang kalau kita sering berkumpul seperti ini" ucap Asma.


"Inysa Allah, Ummi"


"Ngomong ngomong, Maryam engga KB kan?" tanya Bilal sembari menikmati hidangan nya.

__ADS_1


"Engga kok, Bi" jawab Maryam.


"Sudah bekerja keras, Bi. Tapi belum di kasih" Amar menuturkan.


"Kurang keras kali usaha nya" Faraz menimpali dengan nada meledek yg membuat Asma dan Bilal hanya menggeleng.


"Mau lomba?" tanya Amar yg mengundang tawa semua orang.


"Ayo" balas Faraz yakin.


"Sudah sudah, kalian ini...." seru Asma. Sedikit merasa aneh dengan putra dan menantu nya yg masih tak berubah.


Mereka menikmati kebersamaan mereka dengan canda tawa, kebahagiaan yg tak bisa selalu mereka dapatkan setiap hari.


Apa lagi bagi Asma dan Bilal, karena sebentar lagi Faraz akan tinggal bersama Afsana saja dirumah lama mereka dan meninggalkan mereka.


.


.


.


Setelah makan malam, ketiga pasang suami istri itu masuk kedalam kamar nya masing masing.


Afsana sudah menggosok gigi dan berganti pakaian dengan piyama nya, kemudian ia duduk di tengah ranjang sembari membaca buku buku Faraz tentang arsitek.


"Sayang..." Faraz mencium pipi Afsana yg sedang asyik membaca.


"Kenapa, Kak?" tanya Afsana meletakkan buku nya.


"Kakak rasanya engga bisa pisah lama lama sama kamu, Dek" Afsana menggeser tubuhnya, memberikan ruang pada Faraz di samping nya.


"Hanya beberapa bulan, nanti Ana telepon kakak" jawab Afsana sembari menyandarkan kepala nya di bahu Faraz. Ia juga enggan berpisah dengan Faraz. Namun pendidikannya juga sangat penting bagi nya.


Faraz membelai rambut hitam Afsana yg terurai dan mencium kening nya. Afsana memejamkan mata, menikmati kehangatan yg Faraz berikan.


"Kakak sangat mencintai mu, Afsana. Kamu baik baik di pesantren ya" lirih nya.


"Ana juga sangat mencintai kakak" ucap Afsana kemudian mengecup pipi Faraz. Ia membelai pipi Faraz dengan tangan nya yg mungil.


"Sayang, Kakak kangen" bisik Faraz dengan suara yg serak. Afsana langsung mendongak.


"Belum juga berpisah, masak udah kangen" tutur nya.


"Ya kangen memadu kasih" lirih Faraz yg membuat Afsana langsung tersipu malu.


"Mau lomba sama Amar?" tanya Afsana kemudian dan Faraz tertawa geli.


"Engga, kami cuma bercanda" tegas Faraz. "Kakak kangen aja, sama rasa manis mu" bisik nya di telinga Afsana, membuat Afsana merasa panas dingin dan tubuh nya terasa kaku.


"Kamu engga kangen sama kakak?" tanya Faraz kemudian.


"Ka...Kangen" jawab Afsana gugup.


Faraz membingkai pipi Afsana dan mengecup kening nya, turun pada kedua kelopak mata nya, hidung nya, dan mengecup gemas pipi Afsana yg berisi.


Dan saat ciuman Faraz turun ke bibir nya, Afsana terkesiap dan Faraz bisa merasakan tubuh Afsana yg menengang sesaat, namun rileks kemudian. Faraz mengerti, Afsana belum terbiasa dengan sentuhan nya. Dan dengan senang hati, Faraz akan membuat Afsana terbiasa dengan setiap sentuhan nya, pelan tapi pasti.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2