
Amar membawa Maryam dan juga seluruh anggota keluarga nya ke hotal tempat mereka akan menyelenggarakan resepsi. Dan mereka memulai sarapan untuk acara malam ini.
Maryam dan Amar ada di salah satu kamar super megah yg telah di dekor untuk pengantin baru. Dan kekasih hati Amar itu sedang di dandani saat ini. Gaun putih yg sangat cantik seperti gaun seorang ratu membalut tubuh Maryam namun seperti ke inginan Maryam, tak sedikitpun gaunnya itu memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hijab dengan warna senada dan cadarnya pun semakin memperlihatkan ke indahan putri Bilal dan Asma itu. Setelah semua nya siap, kini high heels dengan warna senada pun di pakaikan pada nya.
Maryam sungguh di layani layaknya seorang ratu sekarang.
Begitu juga dengan Amar, ia telah siap dengan tuxedo yg harga nya pasti selangit itu membuat Amar tampak sangat tampan, maskulin, mempesoan bak dewa yunani. Ada yg pernah liat dewa yunani?
Asma, Yasmin, Firda dan yg lainnya pun tak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan nya untuk mengantar gadis tercinta mereka ke gerbang hidup baru nya.
Maryam yg kini sudah siap dengan tampilan nya yg sudah sangat sempurna tampak gugup. Tamu undangan yg datang sangat banyak, apa lagi dari keluarga ayah dan ibu nya memang memiliki banyak kerabat. Tapi walaupun begitu, tamu dari pihak Amar jauh lebih banyak, berkali kali lipat meskipun anggota keluarga nya hanya Granny Amy. Karena relasi bisnis Amar ia undang bukan yg hanya dari luar kota tapi bahkan yg dari luar negeri.
Sebenarnya Maryam juga sedih, memikirkan keluarga dari ibu Amar, bagaimana perasaan mereka jika Amar menikah dan mereka tak di undang? Mereka pasti sangat sedih.
"Hai, Marry...."
Maryam terkejut dan langsung menoleh ke arah suara yg sangat ia kenal itu. Seketika mulutnya terbuka lebar dengan mata melotot sempurna, tak percaya dan ia berfikir ini pasti mimpi.
"You look gorgeous, Marry. Just like a real queen"
"Ana? Kamu disini? Engga mungkin, bagaiamana bisa?" pekik Maryam dengan mata yg sudah berkaca kaca dan air matanya pun sudah hampir tumpah.
Afsana melangkah cepat dan langsung memeluk saudari nya yg sudah sangat cantik itu.
"Ya Allah, ini nyata?" tanya Maryam sambil memberikan pukulan pelan di pipi Afsana membuat Afsana tertawa. Kemudian Afsana balas memberikan pukulan yg sedikit lebih keras di pipi Maryam "Sakit...." rengek Maryam dan kemudian memeluk Afsana lagi "Tapi bagaiamana bisa? Kamu lagi ujian kan?"
"Yupz, aku bahkan di panggil saat sedang menjalani ujian, pengurus pesantren memanggil ku secara langsung, kemudian mengatakan Abi menjemput ku, aku hampir jantungan saat itu, aku takut ada sesuatu yg buruk hingga Abi menjemput ku"
"Tapi bagaiamana bisa Uncle Hubab menjemput mu?"
"Karena Amar yg meminta, dia mengirim Abi dan jet pribadi nya menjemput ku"
"Sangat tidak bisa di percaya" gumam Maryam. Apa Amar akan melakukan hal sebesar itu untuk nya "Apapun alasan nya, yg penting sekarang kamu di sini, I am so happy" kedua saudari itu kembali berpelukan.
"Oh ya, acara nya sebentar lagi di mulai, emm kamu pakek salah satu gaun ku aja ya" seru Maryam kemudian karena Afsana masih menggunakan seragam pesantren nya.
"Tidak perlu, Nona" seru seorang wanita disana "Tuan Amar sudah menyiapkan gaun untuk Nona Afsana, kami akan mengurus nya" wanita itu menunjukan gaun berwarna putih tulang yg terlihat sangat elegan.
Kemudian para penata rias itu pun mulai mendandani Afsana, membantu Afsana memakai gaun nya.
Dan benar saja dugaan Maryam, Afsana terlihat sangat anggun. Entah bagaimana dan dimana Amar mendapatkan gaun itu dan bisa tahu itu sangat cocok dengan Afsana.
.
.
.
Pembawa acara membuka acara resepsi pernikahan Amar Degazi dan Maryam Yusuf dengan memberikan salam sambutan bagi para tamu yg datang, kemudian penyambutan keluarga mempelai dan kemudian kedua mempelai.
Bilal menggandeng istri nya dan juga Granny Amy memasuki ballroom yg kini di dekor dengan sangat indah, megah, bak pesta putri dari sebuah kastil. Di iringi Faraz dan Rafa yg juga berjalan berdampingan dan kedua pria itu berjalan bak pangeran mahkota, dikuti anggota keluarga yg lain. Maria yg juga hadir disana tak bisa mengalihkan pandangan nya dari Faraz, yg sangat tampan dengan tuxedo dan dasi kupu kupu nya.
__ADS_1
Hingga kini saat nya menyambut kedua mempelai. Amar menggandeng sang istri, berjalan perlahan layaknya sang raja membawa ratu nya menuju tahta. Di iringi Firda dan juga Afsana di belakang mereka.
Kehadiran Afsana sungguh sangat mengejutkan Rafa dan Faraz yg sama sekali tak tahu Afsana sudah pulang.
Kedua saudara itu tampak terpana pada kecantikan dan keanggunan Afsana. Namun Faraz segera mengalihkan tatapan nya dan kini ia menatap adiknya yg sangat cantik.
Unyil, adiknya tak terlihat seperti Unyil lagi, tapi terlihat bak Princess.
Setelah acara penyambutan mempelai selesai dan kedua mempelai berada di tahta raja dan ratu. Kini para tamu bergantian memberikan ucapan selamat pada raja ratu semalam itu.
"Afsana..." Faraz menghampiri Afsana yg duduk di meja yg sudah di sediakan khusus keluarga dan ada Maria juga disana. Afsana dan Maria tampak berbincang, mungkin Afsana menanyakan bagaiamana bisa Maria sekarang tampak sangat berbeda.
"Kak Faraz..." Afsana menyapa Faraz dengan senyum lebar nya. Dan seketika Afsana mengingat diary yg ia tinggalkan di kamar Faraz. Apakah Faraz sudah membaca nya?
"Gimana bisa kamu ada di sini, Dek?" tanya Faraz yg juga tak kalah terkejut nya seperti Maryam.
"Abi jemput Ana, Kak. Di suruh Amar, katanya mau ngasih kejutan ke Marry"
"Syukurlah. Kebahagiaan ini engga akan lengkap kalau engga ada kamu" seru Faraz dan ia tampak sangat bahagia melihat Afsana.
Di lihat dari sikap nya, Afsana menduga Faraz belum membaca pesan nya. Tapi bagaiamana bisa? Afsana sudah hendak akan menanyakan apakah Faraz membaca buku nya tapi tiba tiba Rafa datang dan menyapa Afsana. Rafa berdecak kagum dengan penampilan Afsana, ia memuji nya, membuat Afsana tersenyum malu.
Kemudian mereka duduk di meja itu, berempat. Mengobrol dan sesekali membicarakan kedua mempelai yg tampak sangat serasi.
Ada begitu banyak tamu yg datang, memberikan ucapan selamat dan doa untuk Amar dan Maryam. Walau tak satupun dari relasi Amar itu yg Maryam kenal. Bahkan ada yg dari negeri Upin Ipin, ada juga yg dari negeri Naruto, bahkan hingga ke negeri nya Joker. Entah bagaiamana Amar bisa mengenal mereka semua, tapi sekarang Maryam mengerti kenapa Amar bisa sangat kaya.
Kedua nya menikmati acara itu dengan penuh kebahagiaan. Dan Maryam tak menyangka acara nya bisa semewah dan semegah ini. Ia merasa sangat istimewa.
"Belum kenyang, Fir?" tanya Asma yg melihat koponakannya itu sangat lahap padahal tubuhnya kecil dan perut nya pun tipis. Entah di taruh di usus bagian mana itu makanan.
"Sudah, tapi Firda suka" jawab Firda dengan polos nya "Firda mau ke toilet dulu, kebelet pipis" ujar nya kemdian.
"Mau di anterin engga? Nanti nyasar lho" seru Asma namun Firda menggeleng.
"Engga akan" jawab nya.
Kemudian Firda pun bergegas ke toilet untuk membuang hajat nya.
Namun saat memasuki area toilet wanita.
"Aggh..." ia berteriak kaget melihat seorang pria disana yg sedang bersender dan memegang perut nya yg berdarah. Pria itu mengenakan setelan jas dan tampak pucat namun tatapan nya sangat tajam.
"Om..." bukannya takut, Firda malah menghampiri pria itu. Ia berjongkok dan menatap perut si pria dimana kemejanya sudah di penuhi darah "Aduh, Om kenapa? Om jatuh? Kok engga berteriak minta tolong? Darahnya banyak lagi" Firda tampak kalang kabut apa lagi melihat pria itu yg tampak meringis.
"Biar Firda panggil bantuan ya, takutnya Om keburu mati kehabisan darah" celetuknya dan hal itu membuat pria itu tersenyum samar.
"Jangan" ucap nya "Aku sudah memanggil bantuan, sebaiknya kamu pergi" titah pria itu tegas. Namun Firda tak menghiraukannya sementara darah semakin banyak yg mengalir.
Dengan berani, Firda menyingkirkan tangan pria itu yg sejak tadi menekan perut nya. Membuat pria itu bingung dengan gadis kecil yg tak takut ini. Firda mengangkat kemeja pria itu dan pria itu membiarkan nya saja, merasa tertarik dengan keberanian gadis ini.
"Om, luka nya parah. Ya Allah, kasian nya. Sakit ya, Om?" tanya Firda lagi yg kembali membuat pria itu mengulum senyum di tengah ia menahan rasa sakit nya.
__ADS_1
"Om, emang Om jatuh bagaimana sampai perut nya yg luka begini? Aduh, ini mah luka sobekan. Bantuan nya mana? Lama amat?" pria itu terkekeh pelan mendengar celotehan Firda yg tak ada habis nya. Dan ia juga menanyakan bagaiamana bisa gadis kecil ini mengatakan 'bagaiamana bisa seseorang jatuh di kamar mandi dan mendapat luka sobekan di perut nya'. Karena orang terbodoh di dunia pun tak akan berfikir luka itu karena jatuh di toilet.
Tanpa Firda sadari, ternyata ada sebilah pisau yg berlumuran darah di sisi pria itu dan pria itu mengambil pisau itu pelan pelan agar Firda tetap tak menyadari nya, kemudian ia menyembunyikan pisau itu ke belakang tubuh nya.
Firda memikirkan sesuatu, mencari cara bagaiamana ia menekan luka itu agar tak terus berdarah sampai bantuan datang. Firda yakin pria yg sebenarnya mungkin seumuran Amar ini akan mati jika terus mengeluarkan darah seperti ini.
Dan tanpa fikir panjang, ia melepaskan pashmina luar nya, beruntunglah dia mengenakan dua kerudung, dimana pashima panjang yg di luar hanya sebagai hiasan untuk membuat nya lebih cantik.
Pria itu semakin bingung melihat Firda melepaskan pashmina nya, dan tanpa di sangka, Firda mengikat pashima nya di perut pria itu untuk menutupi luka nya. Pria itu tertegun melihat apa yg di lakukan gadis kecil didepan nya ini.
"Om, Firda panggil ambulance aja ya, luka Om makin parah tuh" ucap Firda dan ia melihat kedua tangannya yg juga berlumuran darah pria asing ini, namun Firda tak terlihat takut sama sekali.
Dan tak lama kemdian beberapa orang pria bertubuh besar datang dan menodongkan pistol pada Firda yg masih tak menyadari kedatangan mereka, namun pria yg terluka itu memberi isyrat untuk menurunkan senjata mereka. Mereka pun menurunkan senjatanya.
"Bantuan sudah datang" seru pria itu memberi isyrat pada Firda dan Firda menoleh.
"Om, lama banget sih datang nya" tegur Firda pada beberapa pria itu dan sontak mereka kaget karena di marahi gadis kecil "Dia hampir mati kehabisan darah tahu" lanjut nya.
"Tidak apa apa, terima kasih bantuan nya" ucap pria itu, kemudian beberapa pria bertubuh besar itu pun segera membawa pria yg terluka.
.
.
.
"Firda mana?" tanya Maryam yg kini sudah bergabung dengan keluarga nya dan mereka bersiap memotong kue pernikahan.
"Katanya mau ke toilet" jawab Asma dan tak lama kemudian Firda muncul dan bergabung dengan mereka.
Amar dan Maryam pun melakasanakan acara pemotongan kue yg memiliki ukuran sangat besar dan tinggi.
"Aku juga mau menikah kayak gini" gumam Firda yg langsung mendapatkan tabokan kecil di pipi nya oleh ibu nya.
"Stok yg kayak Amar sudah habis" jawab Aisyah yg membuat putri nya memberengut.
"Dimana kerudung mu, Fir?" tanya nya karena ada yg berbeda dari penampilan Firda.
"Tadi ada orang jatuh di kamar mandi, Firda bantu mengikat luka nya pakek kerudung" jawab nya santai.
"Oh, jadi karena itu kamu lama" gumam sang Ibu dan Firda pun mengangguk.
Acara yg penuh dengan kebahagiaan itu terus berlangsung selama beberapa jam.
Amar dan Maryam selalu saling menatap penuh cinta, tampak kebahagiaan di mata kedua nya yg begitu besar.
Mereka berharap, kebahagiaan seperti malam ini akan selalu terulang di setiap malam mereka.
▫️▫️▫️
Tbc....
__ADS_1