Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 31


__ADS_3

Faraz melirik Maria sekilas, ia tampak khawatir melihat memar di pipi gadis itu, namun saat di tanya apakah ayahnya memukul nya lagi, Maria mengatakan ia terjatuh. Tidak mungkin jatuh itu memarnya di pipi kan?


Saat ini, keduanya sedang dalam perjalanan pulang. Jika biasanya Maria akan pulang naik taksi, tapi entah apa yg terjadi dengan Faraz hingga dia ingin mengantar Maria pulang. Tapi tentu saja Maria senang, ongkos taksi nya lumayan kan untuk di simpan.


Sementara Faraz, dia hanya mencoba melakukan saran Abi nya. Mungkin memang benar Faraz bisa membantu Maria keluar dari jalannya yg salah. Bonus nya, Faraz bisa mendapatkan cinta nya.


Faraz tersenyum geli dan senang memikirkan bonus itu.


Faraz menghentikan mobil nya di depan sebuah masjid.


"Tunggu di sini, aku mau sholat ashar dulu" seru Faraz pada Maria. Maria pun hanya menggangguk dan menatap punggung Faraz yg masuk ke dalam sebuah bangunan besar dan indah itu.


Maria memainkan ponsel nya selagi menunggu Faraz keluar. Dan kemudian terdengar dering ponsel yg bukan milik nya.


Ternyata itu ponsel Faraz yg ter tinggal. Maria melihat nama Rian tertera di layar ponsel itu, dan Maria tak berani menjawab panggilan Rian namun ponsel Faraz yg terus menerus berdering membuat Maria mau tak mau harus menjawab panggilan Rian karena takut nya itu penting.


"Halo..." sapa Maria setelah menempelkan ponsel boss nya itu ke telinga nya.


"Maria? Kenapa ponsel Faraz ada di kamu?"


"Iya, dia lagi ke masjid. Ponsel nya di tinggal"


"Panggilin Faraz gih, bilangin penting"


"Iya"


Maria pun segera turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam masjid.


Maria agak canggung, karena ia tak pernah masuk masjid sekalipun, dan ia melihat orang orang melepaskan alas kaki nya. Maria pun mengikuti nya.


Ia berjalan ke dalam dan ia tampak mengagumi bangunan indah dan luas itu. Di dalam tak ada apapun selain karpet yg di hamparkan di seluruh lantai. Di dinding nya tertera kaligrafi yg sangat indah yg baru Maria lihat, dan ada sebuah lemari di sisi ruangan itu yg berisi kain kain dan juga buku buku tebal, begitulah fikir Maria.


Maria berjalan perlahan melewati orang orang yg sedang melaksanakan ibadah nya, pandangan nya menatap kesana kemari mencari Faraz.


Ia terus berjalan hingga mengenali pakaian boss nya itu yg sedang duduk di depan, di antara orang orang yg juga duduk dan tampak nya sedang membaca sesuatu dengan sangat serius.


Bahkan, Maria melewati para pria yg sedang berdizkir tanpa fikir panjang.


"Permisi... Permisi... Permisi..." ia terus mengucapkan itu setiap kali melewati seseorang dan itu membuat semua orang menatap nya heran.


"Pak, ada telepon dari Rian"


Sontak Faraz langsung menoleh mendengar suara nyaring Maria, dan ia sangat terkejut melihat Maria berdiri disana, di antara shof lelaki.


Faraz menoleh ke sekeliling nya dan tampak semua orang menatap bingung pada dirinya dan Maria.


"Astaghfirullah, Maria. Kamu ngapain disini?" bisik Faraz "Ayo keluar" titah nya sambil berjalan pelan


"Maaf..." ucap Faraz pada siapa saja disana. Maria pun hanya bisa mengekori nya.


"Kamu kenapa masuk kesana?" tanya Faraz setelah mereka berada di halaman masjid.


"Rian telpon, katanya penting"


"Emang kamu engga bilang aku lagi sholat?"


"Sudah, tapi katanya suruh masuk aja"


"Kamu ini, terus kenapa engga nunggu aja sih? Kenapa harus sampai nyusul ke shof laki laki?"


"Maksud nya?" tanya Maria dengan polos nya.


"Coba liat di dalam..." Faraz menunjuk ke dalam, dan Maria pun mengintip dari jendela "Apa ada yg berinteraksi antara laki laki dan perempuan disana?"


Maria menggeleng "Mereka duduk terpisah dan tampak sibuk dengan bacaan masing masing" jawab nya.


"Iya, karena merke lagi berdizkir. Dan kalau ada perempuan di shof laki laki itu engga sopan, dan coba liat lagi perempuan perempuan disana, apa ada yg terlihat setidaknya ujung rambut mereka?"


Maria kembali mengintip, dan ia memperhatikan kaum hawa disana. Mereka semua mengenakan sesuatu yg tertutup, longgar dan panjang, dan hanya wajahnya saja yg terlihat.


"Engga ada, semua wanita cuma keliatan muka nya aja" jawab nya.

__ADS_1


"Iya, karena ini tempat ibadah. Mereka semua datang untuk beribadah" jelas Faraz.


"Jadi aku engga boleh masuk ya, Pak?" cicit Maria yg sadar ia bukan dari agama Faraz.


"Ya boleh aja tapi engga kayak tadi caranya. Dan orang orang yg datang ke sini tujuannya hanya ibadah, karena ini tempat ibadah"


"Hem gitu..." gumam Maria "Tapi di dalam bagus ya, Pak. Luas, orang orang yg di dalam kayaknya tenang banget"


"Namanya juga didalam tempat ibadah, tempat untuk lebih dekat lagi dengan Tuhannya, ya pasti tenang lah"


"Pak, telepon nya... Sampai lupa" ujar Maria karena kini telepon Faraz kembali berdeiring.


"Awas aja nih bocah kalau engga benar benar penting" gumam Faraz sembari menjawab telpon dari Rian.


.


.


.


Afsana dan Maryam berpamitan pada keluarga nya untuk kembali ke kota.


Amar terus memandangi Maryam yg terlihat sangat menggemaskan dengan dress lebar berwarna peach yg di padukan dengan sneaker dan ransel di punggung nya. Sementara Afsana lebih terlihat anggun dengan gamis syar'i nya yg berwarna biru dengan flat shoes warna senada.


Kakek nenek mereka dan juga Om Tante nya sudah menyirami kedua gadis muda itu dengan nasehat nasehat bijak. Dan untuk Amar, yg mereka pesan kan hanya satu, yaitu untuk menjaga Maryam jika memang mereka berjodoh.


"Terima kasih banyak, Amar" ucap Adil.


"Aku yg berterima kasih, Om. Sudah di terima dengan sangat baik disini"


"Kamu datang dengan niat baik, tentu harus di sambut baik"


"Kami pamit, Om" seru Maryam kemudian mencium tangan Om nya itu begitu juga dengan Afsana.


"Iya, kalian berdua harus jaga diri. Dan ingat kalian seorang wanita, dan seorang wanita adalah lambang kehormatan keluarga nya, kalian mengerti maksud Om kan?"


"Mengerti, Om" jawab Afsana dan Maryam.


"Iya, Kak" jawab Maryam. Karena memang benar, semuanya lebih meng khawatirkan Maryam di banding Afsana. Bukan karena lebih sayang Maryam, tapi karena Maryam memang hidup di dunia luar yg bebas dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Sementar Afsana, gadis itu hidup di lingkungan pesantren, dimana hanya akan berinteraksi dengan kalangan santri saja dan itu pun sesama wanita, yg tentu lebih aman.


Kemudian ketiga nya pun masuk kedalam mobil limosin yg sudah Amar sediakan, Afsana dan Maryam tampak masih enggan berpisah dengan keluarga nya itu. Mereka terus melihat ke belakang dan melambaikan tangan.


"Amar, boleh aku nanya sesuatu?" tanya Maryam setelah beberapa menit mobil berjalan dan kini rumah nya pun sudah tak terlihat lagi.


"Mau nanya apa?" tanya Amar sambil menatap Maryam yg mencoba menghindari tatapan Amar.


"Kenapa kamu berpakaian sangat formal? Apa tadi kamu ada meeting?"


Amar menatap dirinya sendiri dari atas ke bawah kemudian menggeleng.


"Hari ini aku engga ada meeting sama sekali, tapi biasanya aku memang berpakaian seperti ini kalau mau ke temu orang yg penting" jawab Amar apa ada nya dan itu membuat Maryam menggaruk tengkuk nya dan Afsana tersenyum geli.


"Orang penting dalam artian bisnis?" tanya Afsana dan Amar pun mengangguk.


"Apa ada yg salah?" tanya Amar kemudian.


"Ya engga" jawab Afsana lembut "Cuma orang yg kamu temui itu calon mertua mu dan itu pun di desa. Di desa, kalau kamu berpenampilan seperti ini, itu sangat mencolok"


"Iya, seolah kamu ingin menemui menteri aja. Berpenampilan casual asal sopan itu udah lebih dari cukup" sambung Maryam "Tapi sebenarnya engga apa apa, kok" lanjut nya yg melihat ekspresi Amar tampak malu "Terus, gimana cara nya kamu bawa oleh oleh se koper gitu? Itu oleh oleh apa mau jualan?" tanya nya lagi sambil terkekeh pelan. Dan itu membuat Maryam semakin cantik dimata Amar.


"Oh itu, sebenernya itu Cindy yg belanja. Aku bingung mau bawa apa, karena ada kakek, nenek, om, Tante, sepupu sepupu mu, jadi aku minta aja Cindy belanja yg banyak"


"Apa kalian engga suka?" tanya Amar yg melihat Afsana dan Maryam tersenyum geli.


"Suka kok, apa lagi Firda. Nanti juga bisa di bagi ke santri di madrasah" jawab Maryam.


"Aku juga suka, ini aku ambil dua pack cokelat" Afsana menimpali sembari mengeluarkan dua pack cokelat dari ransel nya.


"Kalau kamu mau bawa ke pesantren, nanti aku bisa suruh Cindy beli lagi" ujar Amar namun Afsana menggeleng.


"Engga usah, ini sudah cukup" jawab nya "Susah juga bawa nya"

__ADS_1


"Aku bisa anterin kamu ke Lebanon. Nanti aku akan suruh pilot ku untuk mendapatkan izin mendarat disana"


Afsana dan Maryam sambil pandang dengan mata melotot lebar.


"BOLEH"


"ENGGA"


Keduanya menjawab bersamaan, Afsana menolak, sementara Maryam setuju. Karena Maryam ingin mengantar Afsana ke pesantren nya sekalian mengajak kedua orang tua mereka berdua.


Karena selama ini, Afsana selalu pulang pergi sendirian di karena kan tiket ke Lebanon itu tidak murah, hanya saat awal awal saja ayah Afsana mengantar jemput putri nya. Tapi lama kelamaan Afsana mengatakan bisa pulang pergi sendiri. Walaupun kedua orang tua mereka kaya dan juga memiliki perusahaan sendiri, tapi tentu tak se kaya Amar yg bisa pulang pergi ke luar negeri se enak jidat.


"Ayolah, An. Jadi kami bisa sama sama mengantar mu, biar kamu engga berangkat sendirian terus" bujuk Maryam.


"Engga deh, nanti aja kalau aku wisuda, kalian boleh datang dan ajak Ummi sama Abi kita" jawab Afsana.


"Tapi, An..."


"Engga ada tapi tapi, Marry" jawab Afsana yg tak ingin merepotkan Amar yg sebenarnya bukan siapa siapa dia.


"Kenapa engga mau, Ana? Padahal itu tidak masalah, sekalian kami bisa jalan jalan atau liburan di sana" sambung Amar.


"Nanti aja deh, kalau kalian udah resmi jadi suami istri terus bulan madu nya ke Lebanon aja. Jadi kalian bisa mampir ke pesantren ku"


"Afsana..." desis Maryam tersipu malu.


Setelah sekitar dua puluh menit menempuh perjalanan, kini mobil berhenti di lapangan pesawat dan seorang pria dengan setelan jas hitam nya langsung membukakan pintu untuk mereka.


Afsana dan Maryam sudah berasa jadi Nyonya besar tentu nya dengan perlakuan itu.


"Selamat datang, Tuan Degazi. Nona Nona muda..." sapa pria paruh baya itu dengan hormat sambil sedikit menundukan kepala pada Amar dan Afsana juga Maryam .


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Amar dengan suara bass nya sambil merapikan jas nya dan pergerakan itu benar benar memperlihatkan bahwa ia seorang big boss.


"Sudah, Tuan. Silahkan" seru pria itu dan mempersilahkan Amar dan kedua gadis itu naik ke jet itu.


"Aku merasa jadi tuan putri" bisik Afsana pada Maryam sambil mereka menaiki tangga pesawat.


"Aku juga, kayak gini ya rasanya jadi konglomerat" Maryam balas berbisik sambil terkikik.


"Ada apa? Kalian membutuhkan sesuatu?" tanya Amar yg melihat dua saudari itu saling berbisik.


"Engga kok" jawab kedua nya.


Kemudian mereka di persilahkan duduk di sebuah kursi yg tentu sangat nyaman, Afsana dan Maryam duduk bersebelahan, dan Amar dengan gagahnya duduk di depan mereka.


"Tuan, Nona..." sapa seorang wanita yg berpenampilan seperti pramugari tapi tentu tidak memakai seragam pramugari seperti di maskapi pesawat pada umumnya "Anda membutuhkan sesuatu?"


"Kalian ingin minum?" tanya Amar dan kedua gadis itu menggeleng. Masih sedikit canggung sekaligus menikmati kemegahan jet pribadi Amar itu "Makan sesuatu? Cemilan?" keduanya kembali menggeleng.


"Bawakan air putih saja" seru Amar pada wanita itu dengan nada perintah khas big boss.


"Baik, Tuan" jawab wanita itu dan segera berlalu. Tak lama kemudian ia kembali dengan seorang wanita lagi yg membawa tiga gelas berisi air minum di atas nampan. Kemudian dengan sangat hati hati meletakkan itu di depan meja mereka.


"Jika butuh sesuatu yg lain, bisa panggil saya" seru wanita itu kemudian ia segera pergi.


Setelah itu, Amar di beri tahu bahwa pesawat akan lepas landas.


"Apa beda nya pesawat umum sama jet pribadi?" tanya Maryam berbisik pada Afsana.


"Ini seribu kali lipat lebih nyaman" jawab Afsana sambil tersenyum lebar.


"Aku juga merasa begitu" balas Maryam juga tersenyum.


Amar yg sebenarnya mendengar ucapan mereka hanya terkekeh pelan.


Sungguh gadis gadis lugu yg menggemaskan.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2