
Amar memijat kepalanya yg tiba tiba terasa berat, dan ia menggeram marah mengetahui Maryam menemui ibu nya di penjara. Amar baru tahu itu dari Rika dan Gina yg memang di perinatahkan Amar untuk memberi tahu kemana saja Maryam pergi. Dan akhir akhir ini dia memang jarang memantau Maryam dari alat pelacak nya karena Rika dan Gina sudah selalu ada bersama Maryam dan selalu memberikan laporan kemana istri nya itu pergi.
Sementara Maryam yg baru keluar dari kamar mandi tampak sangat senang. Tentu saja, akhirnya Faraz dan Afsana akan segera bersatu.
"Maryam" panggil Amar dengan nada dingin.
"Ada apa?" tanya Maryam karena melihat Amar yg seperti menahan amarah.
"Kamu menemui nya di penjara?" Amar bertanya tanpa menatap Maryam. Ia benar benar merasa marah saat ini.
Maryam tahu apa yg Amar maksudkan, ia sadar Amar sedang marah, dan Maryam juga tahu ia tak bisa bohong.
"I.. Iya" jawab Maryam takut takut, apa lagi melihat rahang Amar yg mengeras dan ia menggertakkan gigi nya.
"Berapa kali?" Amar bertanya lagi dan kali ini ia berdiri, ia menatap tajam Maryam dan jujur saja membuat Maryam merasa takut.
"Bbb...Beberapa kali" jawab Maryam gugup dan ia melangkah mundur karena Amar yg mendekati nya dengan tatapan seolah akan menyerang nya. Tiba tiba Amar mencengkram pundah Maryam dan membuat Maryam terkesiap, Amar mencengkram nya dengan sangat kuat, Maryam kesakitan tapi ia tak berani bereaksi, ia hanya bisa diam dan mengerjapkan matanya yg tiba tiba terasa sangat panas.
"Jangan pernah menemui nya lagi" tegasnya dengan nada yg menusuk.
"Tapi..."
"Itu perintah ku! Perintah suami mu" tiba tiba Amar membentaknya sambil mengguncang pundak Maryam dan membuat Maryam meringis kesakitan, Maryam yakin itu pasti akan meninggalkan bekas apa lagi Maryam bisa merasakan kuku kuku Amar menancap di kulit nya karena dia hanya mengenakan piyama tipis, mendapatkan bentakan dan perlakukan kasar membuat Maryam menitikan air matanya tanpa sengaja dan seketika itu seolah membuat Amar terasadar dari apa yg sudah ia lakukan.
Amar langsung melepaskan tangan nya dari pundak Maryam, dan ia melangkah mundur. Amar seolah baru kembali dari alam bawah sadar nya.
Amar menatap Maryam yg kini menatap takut pada nya. Bibir Maryam bergetar dan air mata mengalir dengan bebas di pipi nya.
"Sial..." Amar menggeram marah, apa yg sudah ia lakukan? Dia sudah menyakiti istri nya.
Maryam menggigit bibirnya untuk menahan isak tangis nya, tapi satu isakan kecil tetap lolos begitu saja dan itu membuat Amar semakin merasa bersalah.
"Ssa..Sayang, maaf" lirih Amar kembali mendekati Maryam namun Maryam langsung mundur. Dan hal itu membuat hati Amar terasa sangat perih. Sekarang dirinya pasti sudah terlihat seperti monster.
Karena merasa keberadaan dirinya akan kembali menyakiti Maryam, Amar segera keluar dari kamar nya dan seketika Maryam menangis sesegukan.
Amar mengingatkan nya pada Erick yg telah berlaku kasar pada nya. Amar adalah orang kedua setelah Erick yg menyakiti nya secara fisik.
Maryam merasa sangat takut sekarang, ia tak tahu Amar bisa berlaku kasar padanya, padahal Amar bisa bicara baik baik jika ia memang tak suka Maryam menemui ibu nya. Tak perlu membentaknya apa lagi menyakiti fisiknya.
Maryam merangkak ke tengah ranjang, ia menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut, menangis meringkuk dalam selimut itu.
Kedua pundaknya terasa sakit dan perih, tapi hatinya jauh lebih perih.
.
__ADS_1
.
.
Sementara Amar, ia ada di ruang kerja nya yg ada di samping kamar nya.
Amar terus terusan mencaci maki dirinya sendiri, ia lepas kendali saat mendengar Maryam menemui wanita yg bagi nya adalah pelacur dan pembunuh.
Amar sangat mencintai Maryam, dan Amar hanya takut wanita itu melukai Maryam, karena wanita itu selalu mengambil yg Amar cintai.
Amar tak mengerti, untuk apa Maryam menemui nya. Apa yg Maryam inginkan, tak tahu kah dia betapa berbahaya nya wanita itu, wanita yg telah membunuh putri dan suami nya sendiri.
Mengingat bagaiamana Maryam menitikan air matanya dan menatap takut pada nya membuat Amar semakin merasa bersalah, dan hati nya terasa perih. Maryam selalu memperlakukan nya dengan lembut dan penuh cinta, inikah balasan Amar pada nya?
.
.
.
Afsana tak bisa menghentikan bibirnya yg terus mengembangkan senyum, bahkan pipi nya kini terasa sangat panas, Afsana memegang kedua pipi nya.
Apakah ini mimpi?
Faraz juga mencintainya, apakah itu masuk akal?
Dan sekarang dua keluarga itu sudah tahu tentang perasaan kedua nya. Afsana mengecup cincin yg melingkar indah di jari manisnya, sebagai tanda bahwa ia akan segera menjadi milik Kak Faraz nya.
"Ish... Jadi engga bisa tidur" gumam Afsana karena ia memang tak bisa tidur saking bahagia nya. Hatinya berbunga bunga, jantung nya berdebar, piping terasa panas, apakah cinta se indah itu?
.
.
.
"Ternyata cinta memang seindah ini" gumam Faraz yg juga tak bisa tidur, ia duduk di dekat jendela, menatap gelap nya langit malam yg memancarkan cahaya bintang dan rembulan, sangat indah. Faraz merasa seperti remaja yg sedang kasmaran.
Menikahi Afsana.
Memiliki nya sebagai istri bukan lagi adik.
Suatu hari mereka akan punya anak, dan anak anak mereka akan memanggil mereka Abi dan Ummi. Jika memiliki seorang putri, pasti secantik Afsana. Jika memiliki seorang putra... Tidak tidak...
Mereka harus memiliki putra dan putri.
__ADS_1
Putra nya sudah pasti setampan Faraz.
"Issh, aku mikirin apa sih" Faraz memukul belakang kepala nya sendiri. Entah bagaiamana dia meng khayalkan begitu banyak hal "Astaghfirullah, khayalan itu dari setan" Faraz cepat cepat menutup jendela nya.
Kemudian mengambil wudhu, dan bersiap tidur. Walaupun seperti nya malam ini ia akan sulit tidur saking bahagia nya.
.
.
.
Semalaman Amar tidur di sofa ruang kerja nya, itu membuat tubuhnya terasa pegal.
Amar terbangun saat Adzan berkomandang. Sebelum menikah, Amar tak pernah bangun untuk sholat, tapi setelah menikah, saat adzan ia akan selalu terbangun dengan sendiri nya. Tentu saja itu karena Maryam selalu membangunkannya sehingga kini menjadi sebuah kebiasaan.
Amar kembali ke kamar nya, dan ia mendapati Maryam yg masih tertidur, tumben, fikir nya. Bahkan lampu masih terang benderang, mungkin Maryam ketiduran.
Amar menghampiri Maryam yg tidur menyamping, Amar merasa sangat bersalah atas tindakan nya semalam. Dan rasa bersalah itu semakin menjadi saat ia melihat wajah Maryam yg tampak habis menangis. Masih sembab, mungkinkah Maryam menangis semalaman? Karena bantalnya pun tampak basah.
Amar menatap wajah ayu Maryam dengan tatapan sendu, di belainya wajah sang istri, bahkan masih ada bekas air mata di sudut matanya.
Amar mengecup nya dengan lembut, dan ternyata itu mengganggu tidur istri nya.
Maryam yg terbangun dari tidurnya langsung duduk dan bergerak mundur melihat Amar sudah ada didepan nya.
Maryam baru tertidur sekitar dua jam yg lalu, ia terus menangis, rasa takut menghampiri hatinya, Amar membentaknya dan menyakiti fisiknya, bagaiamana jika itu berlanjut dan terulang lagi nanti?
Amar yg melihat reaksi Maryam, hanya bisa menghela nafas lesu. Hatinya sakit melihat Maryam seperti itu.
"Sayang, maaf" lirihnya dengan begitu tulus, bahkan tatapan matanya menyiratkan penyesalan yg mendalam.
Maryam hanya bisa diam dan menunduk, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Amar mengangkat tangan nya, dan membelai pipi Maryam dengan lembut, Maryam masih terlihat takut, namun ia membiarkan Amar membelai pipi nya.
"Aku lepas kendali, Sayang. Aku cuma takut kehilangan mu seperti aku kehilangan Amora dan Papa. Dan semua itu karena dia, wanita itu berbahaya" Amar berbisik di akhir kalimat nya, sungguh sakit mengingat masa lalu itu. Maryam masih diam dan kali ini ia memberanikan diri menatap Amar.
Tatapan keduanya bertemu, dan tampak Amar yg memang terlihat menyesal.
"Aku janji, aku engga akan nyakiti kamu lagi" lirih nya kemudian. Maryam masih diam, Amar pun duduk di tepi ranjang, dan membawa Maryam ke pelukannya tanpa penolakan. Amar mengecup pucuk kepala Maryam, dan membelai rambut nya dengan sayang.
"Maafin aku ya" Maryam hanya mengangguk tanpa bisa bersuara.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...