Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 38


__ADS_3

Maria terngiang ngiang kata kata Faraz untuk mengenali siapa dirinya maka dia akan mengenal siapa Tuhan nya. Entah kenapa itu seperti menarik hatinya. Maria sudah tahu siapa dia dan seperti apa dirinya, tapi setelah mendengar kata kata Faraz, ia seperti kehilangan rasa percaya dirinya dan tak lagi mengenali dirinya sendiri.


Dan saat ini, ia sedang berada di perpustakaan untuk mencari sesuatu yg mungkin bisa ia jadikan sebagai petunjuk. Tapi hasil nya nihil.


Maryam pun segera meninggalkan perpustakaan, kemudian ia pergi ke gereja.


Di gereja, Maria tampak ragu untuk masuk karena setelah kematian ibunya ia tak pernah pergi ke gereja.


Disana, ia duduk termenung, selama ini Maria tak pernah peduli akan jati dirinya atau urusan rohani apapun, baginya ia hanya butuh akal untuk bertahan hidup. Tapi bertemu dengan Sarfaraz dan orang orang nya, seolah menggoyahkan hati Maria.


"Ada apa, Nak?" Maria di kejutkan oleh seorang pendeta disana.


"Tidak apa apa" jawab Maria pelan.


"Kelihatannya kau seperti kebingungan" lanjut sang pendeta.


"Aku...aku tidak pernah datang ke gereja selama sebelas tahun. Jadi aku sedikit bingung kenapa berada di sini" tutur Maria.


"Jadi, setelah sebelas tahun, akhir nya kau rindu dengan Tuhan mu?"


"Tuhan? Tidak, untuk apa aku merindukan nya"


"Kenapa? Kau terlihat tidak suka dengan pertanyaan ku"


"Ibu ku selalu bilang, Tuhan itu penuh kasih, tapi dia tidak menunjukan kasih Nya pada ku, kenapa dia begitu?"


"Dia penuh kasih pada setiap hamba Nya. Apa yg membuat mu berfikir dia tidak mengasihani mu"


"Karena banyak hal yg menyedihkan terjadi pada ku sejak aku kecil"


"Bahkan Bunda Maria sendiri juga menderita dan menjalani hidup nya penuh liku"


Maria terdiam sejenak. Dia pernah mendengar cerita itu dulu sewaktu ia di sekolah minggu. Tapi dia hanya ingat sebagian.


"Ada apa? Kenapa kamu melamun?" tanya sang pendeta lagi.


"Tidak apa apa, terima kasih. Aku rasa aku harus pergi" dan setelah mengucapkan hal itu, Maria segera pergi.


Kali ini ia harus kembali ke kampus karena ada jam mata kuliah siang.


"Sarfaraz membuat ku bingung aja, membuat ku buang buang waktu" gerutu nya sembari mencari taksi untuk mengantarkan nya ke kampus.


.


.


.

__ADS_1


"Apa maksud nya mengenali siapa dirimu?" tanya Maria pada Maryam.


Ah kebetulan sekali ia bertemu Maryam di kampus nya dan saat ini mereka sedang menikmati semangkuk bakso di kantin kampus "Karena aku rasa aku mengenali siapa diriku. Aku Maria, aku suka sastra, aku suka membaca, aku pekerja keras dan sebagai nya, aku sudah tahu tentang seperti apa diriku" lanjut nya.


"Bukan nama ataupun hobi mu yg di pertanyakan, Maria. Melainkan kemanusiaan mu. Kenapa kamu lahir ke dunia ini, untuk apa, dan setelah mati kemana kamu akan pergi. Coba tanyakan itu pada diri mu"


Maria kembali terdiam, jika di tanya seperti itu, maka dia takkan punya jawaban.


"Jika aku bertanya itu pada mu, apa jawaban mu?" Maria balik bertanya pada Maryam.


"Hidup ku hanya untuk beribadah pada Allah, karena sudah Allah katakan bahwa Dia tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepada Nya. Jadi dalam hidup ini kita hanya perlu melakukan dua hal, yg pertama jalankan perintah Nya dan yg kedua, jauhi larangan Nya. Dan setelah mati, tentu kita semua akan kembali pada yg menciptakan kita, dan kita akan mempertanggung jawabkan apa yg sudah kita lakukan di dunia. Karena kehidupan yg sesungguhnya adalah ke hidupan setelah kematian"


Okey, Maria bahkan masih meragukan Tuhan, dan Maryam sudah menjelaskan sejauh itu yg sebenarnya itu bisa saja membuat Maria bingung. Namun rupanya Maria gadis yg cerdas, gadis itu menangkap apa yg coba Maryam jelas kan. Seperti neraka dan surga, seorang ateis tentu saja tak mempercayai kedua nya. Tapi Maria semakin penasaran kenapa harus ada kedua nya.


"Kenapa harus ada pertanggung jawaban setelah kematian? Bukankah seseorang kalau sudah mati, ya mati saja, kisah nya sudah berakhir"


"Belum, kita hidup dengan dua hukum, yg pertama hukum dunia ini, contoh nya hukum negara, kalau mencuri, pasti di hukum, ya kan?" dan Maria mengangguk setuju "Dan juga kita hidup dengan hukum Tuhan, jika seseorang berbohong, berzina, atau melakukan dosa lain nya kepada Tuhan, maka dia harus tetap di hukum, dan Tuhan akan menghukum nya nanti, karena itulah kita hidup butuh agama yg benar, untuk membimbing kita agar tak melakukan dosa"


"Tapi setiap manusia pasti pernah melakukan dosa, tidak ada manusia yg suci"


"Karena itulah Tuhan punya sifat maha pengampun, dan memberikan kita kesempatan bertaubat, Dia juga punya sifat maha pemberi Hidayah. Maria, pertanyaan pertanyaan mu itu sendiri adalah Hidayah dari Tuhan"


Maria menatap Maryam lekat lekat, dan ia malah mengigit jari karena masih berusaha mencerna apa yg sebenarnya di jelaskan Maryam. Ia faham, namun sulit menerima nya karena ia sudah terlanjur kecewa dengan takdir hidup nya.


"Maryam, jika sesuatu yg buruk terjadi pada mu, apakah kamu masih tetap pada keyakinan mu bahwa Tuhan itu penuh kasih"


"Tentu saja, Maria. Segala hal yg terjadi pada kita, entah itu buruk atau baik, pasti ada hikmah di balik nya. Dan jika hal buruk yg terjadi, Tuhan hanya sedang menguji kita, kesabaran dan keikhlasan kita akan di uji. Dan Tuhan sudah janji, Dia tidak akan menguji hamba Nya melibihi batas kemampuan nya, Tuhan juga sudah janji, setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan ujian akan membuat hidup kita jauh lebih baik karena akan ada banyak pelajaran yg bisa kita ambil dan jadikan bekal untuk hidup yg lebih baik"


"Semua pasti ada akhirnya, Maria. Tapi tentu dengan usaha dan doa. Apa kamu pernah berdoa supaya ujian mu berakhir atau kamu hanya marah dan meninggalkan Nya?"


Maria hanya bisa menggeleng lemas, dia tidak pernah benar benar berdoa. Saat itu ia masih kecil, ia hanya berharap Tuhan menolong nya tapi ia tetap sendirian dan itu sudah membuat nya menyerah.


"Cobalah berdoa, Maria. Mungkin Tuhan tidak akan langsung memberimu jalan keluar tapi pasti kamu akan merasakan sesuatu yg berbeda di hati mu, sebuah ketenangan dan kedamaian. Dan jika kamu sudah dapatkan keduanya, maka kamu akan bisa melihat, sebenernya Tuhan sudah menyediakan jalan keluar untuk mu"


Maryam mengerutkan dahi nya karena tiba tiba saja Maria tertawa kecil.


"Maaf, aku engga maksud berceramah" ujar Maryam namun Maria menggeleng dan berkata.


"Kamu persis seperti kakak mu" ujar Maria "Apakah kalian memang di ajari untuk menuntun orang lain begitu?" Maryam ikut tertawa mendengar pertanyaan Maria.


"Itu hanya sebagian dari pengetahuan kami, dan kami hanya ingin ilmu kami bermanfaat. Itu saja"


.


.


.

__ADS_1


Di kantor nya, Cindy memberi tahu Amar bahwa Dilara ingin menemui nya, namun dengan tegas Amar menolak. Sudah berkali kali Dilara membuat nya sangat marah tapi gadis itu seperti nya tak punya urat malu.


"Tapi katanya urusan pekerjaan, Pak" ujar Cindy yg membuat Amar menghela nafas berat.


"Aturkan pertemuan ku dengan nya besok saja, jangan hari ini. Granny lagi sakit jadi aku akan pulang cepat" titah Amar yg langsung di patuhi Cindy.


Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan nya, Amar segera pulang.


.


.


.


Sementara itu, setelah dari kampusnya Maryam mampir ke restaurant nya dan ia melihat Lily yg sudah bekerja. Sebenarnya Maryam merasa kasihan pada Lily yg masih 16 tahun tapi sudah harus bekerja.


"Ly, gimana kerjaan nya? Sulit engga?" tanya Maryam sambil menghampiri Lily yg tampak lelah.


"Engga kok, Kak. Gampang aja, cuma melayani tamu, menanyakan mau pesan apa, mengantarkan pesanan, membereskan meja, gampang kan"


"Sebelum nya kamu belum pernah kerja?" tanya Maryam lagi.


"Belum, Lily bahkan engga pernah beresin kamar Lily sendiri. Tapi ya mau bagaiamana lagi, roda kehidupan itu berputar. Malah sekarang Lily bersyukur bisa bekerja, jadi Lily tahu susah nya cari uang"


"Kamu sangat pintar, Lily" ucap Maryam sembari mengusap kepala Lily yg tak menggunakan hijab. Dan Lily mengenakan rok pendek di atas lututnya dengan kemeja putih lengan panjang "Ly, jangan tersinggung ya, tapi kalau bisa besok jangan pakek rok pendek lagi ya" cicit Maryam berharap Lily tak tersinggung "Karena dengan menutup aurat, kita juga bisa membantu pandangan pria agar tak berbuat dosa. Ya kan?"


Lily mengangguk malu malu.


"Sebenarnya, karena Kak Angel bilang jadi pelayan restaurant jadi Lily berpakaian seperti ini, soalnya setahu Lily pelayan restaurant biasa nya begini" ucap Lily yg di tanggapi senyum oleh Maryam.


"Iya, sebagian memang begitu. Tapi di sini tidak di perbolehkan. Ya biar sama sama saling menjaga aja"


"Iya, Lily faham"


"Makasih, Ly"


"Loh, kenapa Kak Angel yg makasih? Kan Lily yg di tolongin, jadi Lily yg makasih" ucap Lily sambil tersenyum lebar memperlihatkan susunan giginya yg tak begitu rapi.


"Kenapa kamu manggil aku Kak Angel? Nama ku Maryam"


"Karan Kakak udah kayak malaikat aja. Aku dengar dari kakak kakak yg kerja di sini, kakak sama ibu kakak banyak bantuin mereka. Jadi apa lagi namanya kalau bukan malaikat"


Maryam tertawa geli mendengar penuturan Lily.


"Manusia memang harus tolong menolong, Ly" jawab nya "Ya udah, kamu lanjut aja kerja nya, aku harus pulang. Oh ya, jangan lupa makan ya, pegawai bisa makan disini, gratis kok"


"Makasih, Kak" ucap Lily dengan senyum senang dan mata lebar.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2