
Malam ini Faraz pulang terlambat karena ia harus meeting dengan salah satu klien baru nya yg kali ini akan menggunakan jasa Faraz untuk membangun sebuah rumah yg cukup megah. Dan klien nya itu seorang wanita berusia 35 tahun yg masih lajang namun sudah memiliki banyak sekali property, dan wanita itu juga salah satu rekan bisnis Amar, ia ingin menggunakan jasa Faraz setelah mendengar desas desus karya Faraz yg katanya unik dan akan membuat siapa saja menyukai nya.
Sesampainya dirumah, Faraz melihat Afsana yg tampak cemberut. Faraz langsung mengecup pipi istri nya itu sambil mengucapkan maaf karena sangat terlambat.
"Kamu sudah makan malam?" tanya Faraz sambil berjalan masuk kerumah nya.
"Belum, nungguin Kak Faraz" jawab Afsana yg seketika membuat Faraz salah tingkah karena ia sudah makan malam bersama klien nya tadi.
"Kakak sudah makan, Sayang. Emm kamu makan gih, kakak mau mandi" ujar Faraz kemudian dan lagi lagi Afsana cemberut.
"Makan malam sama Nyonya Nyonya itu ya?" tanya Afsana namun lebih terkesan menuduh dan hal itu membuat Faraz semakin salah tingkah tapi ia tak bisa berbohong.
"Iya, tapi engga berdua kok. Ada Rian dan Asisten Bu Farah juga"
"Nama nya Bu Farah?" tanya Afsana seolah menyelidiki dan Faraz mengangguk.
"Masih muda, kok. Kenapa engga panggil nama nya aja? Toh udah sampek makan malam juga" ujar nya kemudian yg membuat Faraz semakin merasa ada yg tak beres dengan istrinya.
Kini suami istri itu sudah sampai ke kamar mereka, Faraz langsung menangkup pipi Afsana dengan kedua tangan nya dan membuat Afsana mengangguk mata nya.
"Kamu kenapa sih? Hm? Kok tumben cerewet?" tanya Faraz sambil tersenyum geli tapi Afsana tampak nya malah tersungging.
"Oh, maaf deh kalau Ana jadi cerewet" ucap nya dan langsung pergi dari kamar nya. Membuat Faraz hanya bisa menghela nafas lesu karena semakin hari sikap Afsana semakin menjadi.
Faraz pun segera bergegas mandi secepat kilat karena sepertinya dia harus berbicara dengan Afsana dari hati ke hati.
Setelah mandi, Faraz segera memakai kaos oblong nya dan celana pendek nya kemudian ia turun untuk mencari Afsana.
Di bawah, Afsana terlihat menikmati semangkuk mie kuah sambil menonton TV. Faraz pu bergabung dengan nya namun Afsana tampak masih kesal dengan Faraz.
"Kamu kenapa sih, Sayang?" tanya Faraz lembut.
"Engga apa apa" jawab Afsana dingin dan pandangan matanya masih lurus ke TV yg menampilkan tayangan di sebuah hutan liar.
"Kamu marah sama kakak?" tanya Faraz lagi.
"Engga" jawab Afsana singkat. Faraz hanya menghela nafas berat, kemudian ia mengambil sendok dari tangan Afsana dan mecicipi mie kuah Afsana.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Ann..." pekik Faraz karena merasakan mie kuah itu sangat pedas bahkan membuat lidah nya seperti terbakar "Ini pedas banget, kenapa kamu makan mie sepedas ini?"
"Masak sih? Kayaknya sambal nya tadi cuma tiga sendok deh" jawab Afsana dengan santai nya yg langsung membuat Faraz melongo.
"Tiga sendok kamu bilang cuma? nanti kamu sakit perut, Afsana..." tutur Faz antara kesal dan khawatir.
Dan tiba tiba saja Afsana cengengesan, ia tersenyum dengan polos nya dan malah meminum kuah itu Langsung dari mangkuk nya sampai habis, mie nya pun sudah ia habiskan juga.
"Hmm enak" ucap nya kemudian dan Faraz hanya bisa menganga. Setelah itu Afsana pergi ke dapur dan mencuci mangkuk nya.
Faraz pun mengikuti istri nya itu.
"Kak Faraz ngapain ikut ke dapur?" tanya Afsana dan kali ini dengan sangat manis seperti biasa, ia bahkan menyunggingkan senyum pada Faraz dan Faraz hanya bisa diam sambil menggeleng. Membuat Afsana mengernyit bingung, setelah itu Afsana menggandeng Faraz kembali ke kamar nya setelah mematikan TV karena hari memang sudah larut. Semua orang bahkan sudah berada di kamar nya masing masing.
"An, kakak mau bicara..." ujar Faraz serius.
"Sebentar, Ana gosok gigi dulu" jawab Afsana kemudian bergegas ke kamar mandi.
Faraz pun naik ke atas ranjang dan ia menunggu Afsana.
Tak lama kemudian Afsana datang. Dan ia sudah melepaskan hijab nya, mengurai rambut nya dan menyusul Faraz naik ke atas ranjang.
"Em soal klien kakak itu" jawab Faraz ragu ragu "Kamu jangan mikir yg aneh aneh ya, Sayang. Meskipun kakak pergi dengan klien kakak, itu cuma karena ada bisnis yg kami bicara kan, dan kakak selalu ngajak Rian, jadi Ana jangan...."
"Jangan cemburu?" Afsana memotong ucapan Faraz dengan cepat dan Faraz pun mengangguk berkali kali, dan tiba tiba saja Afsana malah tertawa geli "Ya engga lah, Kak. Kenapa Ana harus cemburu sama klien Kak Faraz, lagian Ana percaya kok sama Kak Faraz" ujar Afsana dan ia bergelenyut manja di lengan Faraz.
Faraz sama sekali tidak senang dengan hal itu, ia malah bergidik ngeri karena emosi Ana seperti roller coaster. Secepat itu naik secepat itu turun, apa lagi Afsana tidak sedang datang bulan sehingga bukan itu alasan nya sensi.
"An, sebenernya maksud Kakak...." ucapan Faraz terpotong saat ia mendengar istri nya yg mendengkur, tanda ia sudah tertidur.
"Astaghfirullah, Ana..." Faraz mencoba menepuk pelan pipi Afsana yg saat ini bersandar di lengan nya, namun seperti nya Afsana sudah tenggelam jauh ke dalam alama mimpi nya. Faraz pun menarik bantal dan menidurkan Afsana. Faraz tersenyum geli melihat Afsana yg tidur dengan mulut sedikit terbuka.
"Mimpi indah, Sayang" ucap Faraz kemudian mengecup bibir Afsana.
.
.
__ADS_1
.
Keesokan pagi nya, mood Afsana seperti nya lagi baik. Dia terlihat senang dan bahkan memasak sambil bersenandung. Bi Mina yg melihat itu jadi tertawa.
"Neng Ana mimpi apa semalam? Kok tumben ceria banget, biasanya akhir akhir ini Neng Ana sering terlihat kesal" tanya Bi Mina.
"Iya juga, Nena. Ana juga engga tahu, mood Ana naik turun. Hehe" jawab Afsana yg juga menyadari hal itu.
Setelah sarapan selesai di buat, Afsana memanggil Faraz untuk turun dan sarapan karena Abi dan Ummi nya sudah di bawah.
Faraz pun turun dan ia sudah tampak rapi dengan pakaian kerja nya.
Di meja makan, sarapan berjalan sambil di selingi beberapa obrolan dari mereka. Hingga entah bagaiamana obrolan mereka malah sampai pada topik poligami, Faraz bertanya pada ayahnya bagaiamana rasanya nya poligami, seberat apa dan apa yg bisa ayahnya lakukan untuk mengusahakan sebuah ke adilan untuk istri nya.
Dan tiba tiba Afsana malah menusuk ayam goreng menggunakan karpu dengan cukup keras sehingga menimbulkan bunyi yg menyita perhatian suami dan mertua nya.
"Kenapa, An?" tanya Faraz.
"Ayam nya keras, susah di makan nya" jawab Afsana sedikit jutek yg membuat mertua nya terkejut karena tak biasa nya Afsana tidak sopan seperti itu.
Sementara Faraz hanya tersenyum, ia mengambil ayam goreng di piring Afsana, kemudian di suir suir sehingga Afsana mudah memakan nya.
"Sekarang engga susah lagi, kan?" tanya Faraz dan Afsana mengangguk.
"Oh ya, Bi. Menurut Abi gimana dengan tanggapan poligami yang....."
"Uhuk... Uhuk...Uhuk.... " pertanyaan Faraz terpotong dengan Afsana yg seperti nya tidak benar benar ber batuk. Dan dari sini Bilal dan Asma pun mulai menangkap kode kode Afsana yg seperti nya enggan dengan topik poligami ini. Apa lagi Asma baru menyadari ekspresi menantu nya yg tampak tersiksa itu
Faraz memberikan segelas air pada Afsana dan membantu Afsana meminum nya.
"Aku rasa topik poligami engga cocok di bicarakan di meja makan, sebaik nya bicarakan itu di depan kelas aja nanti" ujar Asma sambil mengulum senyum.
"Dan bukan hanya engga cocok di bicarakan, tapi engga akan di lakukan lagi, ya kan Faraz?" lanjut Bilal menatap Faraz sambil tersenyum samar. Faraz membalas tatapan Abi nya sesaat hingga ia sadar dengan apa yg di maksud pertanyaan Abi nya.
"Iya iya... Insya Allah, Bi. Faraz engga akan poligami. Berat, Faraz engga akan sanggup" jawab Faraz sambil melirik Afsana. Sementara Afsana hanya menunduk dan pura pura kembali menikmati makanan nya namun terlihat sekali ia menahan senyum.
Dan hal itu membuat suami dan mertua nya tersenyum geli dengan tingkah menantu nya yg akhir akhir ini sedikit berubah.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc....