
Setelah acara pembukaan singkat dan sambutan yg di pimpin Rafa, kini acara di lanjutkan dengan Faraz yg melantunkan ayat suci Al Quran dengan begitu merdu, setelah itu Khutbah yg di lakukan Abi Khalil, di lanjut kan dengan mengucapkan sholawat, beristigfar dan melantunkan doa dan harapan untuk pasangan baru ini. Dan sampailah pada apa yg Amar tunggu. Akad.
Bilal menjabat tangan Amar di atas meja, dengan gugup Amar menjabat tangan calon mertua nya itu yg akan menikahkan ia dengan putri nya.
"Bismillahirrahamanirrahiim, Wahai saudara Amar Degazi bin Atif Degazi, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Maryam Yusuf binti Muhammad Yusuf Bilal. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah, di bayar tunai"
"Aku.. Eh saya terima..."
"Aku, saya, gimana sih"
"Faraz..."
Acara yg sakral itu harus mengundang tawa geli namun juga geraman tertahan dari Amar yg lagi lagi dapat ejekan dari Faraz karena Amar yg gergogi, bahkan Abi nya pun harus menegur putra nya itu yg entah sejak kapan menjadi nakal. Bahkan Rafa juga mencubit paha Faraz dan memperingatkan ny untuk diam. Amar melirik penuh dendam pada Faraz.
"Awas saja nanti, Kakak ipar"
"Ya udah. Biar Om ulang ya, jangan gugup. Tenang, okey" seru Bilal dan Amar pun mengangguk.
Bilal kembali menjabat tangan Amar dan kali ini Amar terlihat lebih tenang, harus tenang. Atau Faraz akan kembali mengejeknya.
"Bismillahirrahamanirrahiim, Wahai saudara Amar Degazi bin Atif Degazi, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Maryam Yusuf binti Muhammad Yusuf Bilal. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah, tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Maryam Yusuf binti Muhammad Yusuf Bilal dengan mas kawin tersebut, tunai"
"Bagaiamana saksi? Sah?"
"SAH"
Amar bernafas lega dan seolah ia mendapatkan siraman bunga di seluruh hidupnya.
"Alhamdulillah. Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir. Aamiin"
Kemudian Bilal memanjatkan doa setelah akad dan semua orang memanjatkan doa untuk sepasang kekasih yg kini telah bersatu itu.
Di kamar nya, Maryam yg di temani Maria menghapus air mata di sudut matanya setelah ia mendengar ijab Qobul itu. Ia terharu dan masih tak percaya kini ia adalah seorang istri. Walaupun sebelum nya Maryam sempat terkikik karena kakaknya yg menggoda Amar yg gerogi.
"Kamu sangat cantik, Nak. Nangis nya nanti aja ya, nanti make up mu rusak" seru sang ibu namun ia sendiri tak bisa menghentikan air matanya, tak percaya putri kecil nya kini menjadi seorang istri.
"Maryam engga percaya udah jadi istri di usia 20 tahun, Ummi" ucap Maryam penuh haru.
"Bahkan Ummi sudah menjadi istri saat usia Ummi 17 tahun" Maryam tersenyum dan langsung memeluk ibu. Ah, ibunya yg penuh perjuangan dan melewati banyak hal dalam kisah cinta nya.
"Ayo, saat nya menemui suami mu" ajak sang ibu, ia dan Maria membawa sang mempelai wanita turun.
Mereka turun dengan langkah yg sangat pelan, Maryam tak bisa menyembunyikan kegugupan nya, namun kebahagiaan juga nampak jelas di mata nya. Bibir nya menyunggingkan senyum tiada henti.
__ADS_1
Amar tak bisa mengalihkan pandangan nya dari wanita yg kini halal sebagai kekasih hatinya. Maryam terlihat sangat cantik dengan kebaya putih yg menggunakan hiasana bordiran yg sangat cantik dan juga mutiara mutiara kecil, membuat Maryam bak bidadari walaupun sebenarnya Maryam hanya mengenakan riasan tipis.
Asma membantu putri nya duduk di samping Amar yg masih terpana pada kekasih hati nya itu.
"Sekarang kalian sah sebagai sepasang kekasih yg halal. Maryam, bersalaman dan cium tangan suami mu, Nak" ucap Bilal yg ternyata juga berkaca kaca. Tak menyangka kini ia telah menyerahkan tanggung jawab putri nya pada seorang pria matang seperti Amar Degazi.
Bilal dan Asma sama sama menangis haru, mereka merasa waktu berjalan terlalu cepat, baru kemaren rasanya mereka memakaikan popok Maryam, baru kemarin rasanya mereka memegang tangan kecil Maryam saat mengajarinya berjalan. Bahkan Bilal dan Asma seolah masih meraskan bagaiman jari jari kecil Maryam memegang jari jari mereka.
Suasana disana juga menjadi hening dan penuh haru. Begitu juga dengan Faraz, bahkan arsitek Amar yg kini sah menjadi kakak iparnya itu menangis haru namun ia segera menghapus air mata nya. Rafa pun tak bisa menyembunyikan raut wajah kebahagiaan nya melihat sang adik telah menempuh hidup baru.
Unyil nya, adik tercinta nya, kini sudah menikah dan menjadi seorang istri. Padahal, baru kemarin rasanya Faraz melihat Unyil yg masih merah di gendongan sang ibu.
Amar mengulurkan tangan nya, namun Maryam tak langsung menyambut nya. Ia terlihat masih sangat gugup. Kemudian ia hendak menyambut tangan Amar, namun tangan nya malah terlihat gemetar, sangat gemetar.
"Maryam..." pinta Abi nya lagi karena Maryam malah menarik tangan nya kembali.
"Eh... Itu, Bi... Maryam... Maryam gugup. Gemetaran" jawab Maryam dengan suara bergetar dan itu merubah suasa hening haru menjadi tawa geli.
Maria yg melihat itu, justru termenung. Maryam gemetaran hanya karena harus bersalaman dengan seorang pria yg kini telah sah menjadi suami nya. Maria begitu kagum pada Maryam yg padahal hidup di dunia yg bebas, terbuka dan beritenteraksi dengan banyak orang. Namun Maryam sangat mampu menjaga dirinya tetap pada batasannya.
Dan Amar juga tertawa melihat tingkah istri nya itu. Ah, istri...
"Engga apa apa, Nak. Sekarang Amar suami mu, kalian sepasang kekasih yg halal" tutur Abi nya lembut.
"Sayang, aku suami mu" seru Amar mesra dan ia kembali mengulurkan tangan nya pada Maryam. Menatap Maryam penuh cinta dan kerinduan, tak sabar ingin di sambut oleh kekasih hatinya, namun Maryam masih belum berani menatap pria yg kini berstatus sebagai suami nya itu. Lagi lagi Maryam mengangkat tangan nya yg gemetar, namun entah bagaimana tiba tiba Firda sudah ada di samping nya, mengambil tangan Maryam dan menyatukan nya dengan tangan Amar membuat Maryam terkesiap, ia bahkan mengerjapkan mata nya berkali kali. Masih shock dengan apa yg baru saja terjadi.
"Bikin Firda gregetan aja deh" seru Firda dengan suara nyaring dan itu langsung mengundang galak tawa semua orang "Mau salaman sama suami aja pakek acara slow motion" celetuknya yg lagi lagi mengundang tawa geli.
Namun Maryam malah semakin tersipu, wajahnya merah merona dan itu membuat Amar sangat gemas dan tak sabar ingin mencium istri nya.
"Kamu boleh mencium kening istri mu, Amar" seru Bilal lagi. Dan Amar pun dengan senang hati melaksanakan hal itu.
Perasaan keduanya berbunga bunga dengan jantung yg berdebar debar. Keduanya tak bisa lagi mengungkapkan perasaan indah itu selain hanya saling menatap dengan tatapan yg menyiratkan begitu banyak hal dan harapan.
"Sayang, tangan mu dingin. Kamu sakit?" tanya Amar dengan polosonya karena memang ia merasakan tangan Maryam yg sangat dingin di genggamannya.
"Dimana mana orang kalau gugup ya pasti panas dingin, Kak Amar" celetuk Firda lagi yg kembali mencairkan suasana dan berhasil membuat Maryam semakin tersipu malu begitu juga dengan Amar yg mengulum senyum geli.
Adik sepupu nya itu harus belajar nge rem saat bicara...
Aisyah datang dan segera menarik Firda menjauhi dari dua sepasang pengantin itu. Membuat Rafa dan Faraz hanya bisa gelang gelang kepala.
Acara kembali di ambil alih oleh Rafa, dan kini saat nya menyerahkan mas kawin. Setelah itu selesai dan fotografer mengambil foto mereka, kini saat nya menyematkan cincin pernikahan.
Amar mengambil cincin indah itu, menyematkan nya di jari manis sang istri. Maryam menitikan air mata haru nya. Namun dengan cepat Amar menghapus air mata itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
Kemudian giliran Maryam yg menyematkan cincin pernikahan itu di jari manis sang suami.
Setelah itu, keduanya berdiri dengan sangat dekat, Amar merangkul pinggang Maryam yg masih terlihat gerogi saat fotografer mengambil gambar keduanya.
Dan tiba tiba, Amar berbalik, menghadap Maryam, menggenggam erat tangan istri nya itu, menatap tepat di mata sang istri.
"Aku mencintai mu, Maryam. Aku mencintai mu sepenuh hati ku, aku mencintai mu melebihi hidup ku sendiri. Aku janji, aku akan selalu berusaha menjadi pendamping yg akan selalu ada untuk mu, membuat mu bahagia dan selalu tersenyum, aku akan menjadi penghapus air mata mu, penyembuh luka mu, dan aku akan selalu bersama mu dalam keadaan apapun"
Maryam tak kuasa menahan air matanya, begitu tersentuh dengan ungkapan cinta Amar. Membuat Maryam tak bisa berkata kata. Amar mencium mesra kening Maryam, cukup lama. Membuat Maryam hanya bisa memejamkan mata, menikmati hangat nya cinta yg Amar berikan.
"Aku mencintaimu, Amar. Sangat mencintai mu"
.
.
.
Acara berlangsung penuh suka cita, kebahagiaan yg sangat besar tengah mereka rasakan. Senyum, canda dan tawa mewarnai acara itu.
Namun Maryam merasa ada yg kurang. Saudari nya, Afsana.
"Senadainya ada Ana, maka kebahagiaan kita akan semakin sempurna" tutur Maryam yg merasa merindukan Afsana.
"Dia pasti juga sangat bahagia" seru Ummi Afsana. Ia membelai pipi Maryam "Saat ini, dia pasti juga sedang mendoakan kalian dan merayakan kebahagiaan kalian disana"
Maryam bilang, hanya ingin acara akad yg sederhana dengan hanya di hadiri kerabat saja.
Tapi acara berlangsung sangat luar biasa, begitu indah tanpa bisa di lukiskan dengan kata.
Pernikahan itu, bukan hanya tentang saling mencintai, tapi bagaimana cinta itu bisa saling membawa ketaatan pada Allah.
Pernikahan itu bukan hanya tentang penyatuan dua insan. Tapi juga tentang keluarga yg telah membesarkan dan mendidik.
Pernikahan itu bukan sekedar ijab qobul dan status. Tapi, bagaimana memenuhi kewajiban-kewajiban sebaik mungkin.
Karena, seorang pria akan mengambil alih tanggung jawab atas seorang wanita, yg sebelumnya telah dijaga sangat baik oleh keluarganya.
Dan seorang wanita, akan mengabdi pada seorang pria, menghabiskan sisa hidup nya bersama dengan nya. Dengan begitu banyak cinta dan harapan.
Dan dengan mengharap ridho Ilahi. Karena sesungguhnya, pernikahan adalah ibadah.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1