
Bilal menatap putri nya itu yg saat ini hanya bisa menundukan kepala nya, Bilal juga terkejut dengan berita yg di dengarnya, jangankan berpacaran, Bilal bahkan tidak pernah melihat Maryam punya teman lelaki, tapi entah kenapa Maryam bisa menerima Amar sebagai teman nya dan berakhir pada gosip yg sekarang bukan hanya ada di koran, tapi di semua social media, terlebih selama ini Amar hanya berkencan, tidak memiliki pacar tapi tiba tiba sudah ada calon istri?
Yg lebih mengejutkan nya lagi, entah bagaiman seseorang bisa mendapatkan informasi sangat detail tentang Maryam, dari usia, status nya yg masih mahasiswi, bahkan kini berita hangat nya adalah 'Cucu Kh Khalil pemilik pondok pesantren Al Hikmah akan menikah dengan owner Degazi Corp'. Ada juga media yg memberitakan Amar Degazi akan menikahi adik dari arsitek yg sedang menangani proyek hotel nya.
Namun dari semua berita itu, Bilal maupun Asma tak serta merta langsung menyudutkan putri nya apa lagi memarahi nya. Mereka hanya bertanya sedetail mungkin, dan Maryam hanya akan menjawab apa ada nya, sejujur mungkin.
"Jadi dia mendatangi mu ke kampus?" tanya Bilal.
"Iya, Bi" jawab Maryam pelan.
"Mungkin dia memang serius, Uncle" sambung Afsana yg memang juga menemani Maryam sebagai saksi "Ana lihat dia memang menyukai Maryam"
"Hanya karena menyukai bukan berarti bisa menikahi, Afsana. Apa lagi Amar bukan orang sembarangan, setiap hal dalam hidup nya akan jadi sorotan dan dia engga pernah serius dalam hubungan dengan perempuan" sambung Sarfaraz yg masih sangat tidak menyukai klien nya itu.
Klien?
Ah ingin rasanya ia memutuskan hubungan kerja mereka, tapi itu tidak professional, apa lagi pekerjaan mereka bukan hubungan pribadi, tapi antar perusahaan.
"Tapi Ana lihat dia sangat serius saat mengatakan ingin menikahi Maryam, Kak" balas Afsana yg membuat Maryam kesal.
"Kamu engga kenal dia, An. Bagaiamana bisa kamu berpendapat gitu?"
"Hanya perasaan ku" cicit Afsana dan kembali terdiam.
"Apa yg harus kita lakukan sekarang, Bi?" Asma bertanya pada suami nya itu "Ummi Kulsum tadi nelpon dan menanyakan hal ini, Abi juga sudah tahu. Sekarang keluarga kita mempertanyakan Maryam" lanjut nya.
"Abaikan saja" jawab Faraz "Jangan ada satupun dari kita yg menanggapi berita ini serius, jika ada yg bertanya, katakan saja itu hanya salah faham. Cepat atau lambat, berita ini akan surut dan orang akan melupakan nya selama kita tidak menanggapi nya"
"Kak Faz benar" jawab Maryam "Abi sama Ummi percaya kan sama Maryam? Benar benar engga ada hubungan apapun di antara kami"
"Mungkin kalian benar, apa lagi satu satu nya orang yg kenal Amar di keluarga kita hanya Faraz, itupun hubungan mereka hanya sekedar bisnis. Jadi sangat tidak mungkin berita itu benar, setidaknya mungkin orang akan berfikir begitu" tutur Bilal, karena setelah mendengar seperti apa Amar dari Faraz, Bilal juga tak ingin putri nya dekat dengan pria seperti itu.
Namun hanya Maryam yg tahu, bahwa sebenarnya masih ada satu sisi buruk Amar, yaitu suka melukai diri sendiri. Dan Maryam tidak akan memberi tahu itu pada siapapun.
"Apa bisa semudah itu menghindar?" tanya Asma. Baru saja Bilal membuka mulut hendak menjawab, terdengar suara bel pintu. Dan tak lama kemudian Bi Mina datang menghampiri mereka.
"Siapa, Nena?" tanya Faraz.
"Tuan Amar sama perempuan paruh baya, mungkin nenek nya" jawab Bi Mina yg langsung membuat mereka semua terkejut.
"Untuk apa dia kesini?" tanya Faraz terlihat marah.
"Maryam, Afsana, masuk ke kamar! Biar Ummi sama Abi yg menemui mereka" perintah Asma yg langsung di taati Maryam dan Afsana "Bi, bawa mereka ke ruang tamu" lanjut nya.
Setelah itu, mereka bertiga pun menemui Amar dan Granny Amy yg sudah berada di ruang tamu. Amar berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas nya seperti biasa, begitu juga dengan nenek nya namun sekarang ia mengenakan pakaian tertutup dan berhijab.
"Assalamualaikum" sapa Bilal pada kedua tamu nya itu dengan ramah dan berjabat tangan dengan Amar, menyunggingkan senyum pada Granny Amy. Begitu pun dengan Asma, berjabat tangan dengan Granny Amy dan menyunggingkan senyum ramah pada Amar.
"Waalaikum salam" jawab Amar dan Granny Amy.
"Bagaiamana kabar mu, Tuan Amar dan Nyoya Amy?" tanya Bilal tak melupakan adab bahwa mereka masih lah saudara seagama nya. Walaupun jauh dalam hatinya, Bilal sungguh tak suka dengan apa yg terjadi pada putri nya.
__ADS_1
"Kami sangat baik, Tuan Bilal" jawab Amar.
"Tuan Bilal, sebenarnya kedatangan kami ke sini untuk niat yg baik, Inysa Allah" Granny Amy memulai pembicaraan "Saya yakin pasti kalian sudah tahu berita yg menyebar tentang Amar dan Maryam"
"Ya, itu sangat mengejutkan kami" Asma segera menjawab "Sebenarnya apa yg terjadi, Amar?" Asma bertanya dan menatap Amar seolah ia sudah kenal, tak ada sungkan, ataupun etika dengan memanggilnya Tuan. Asma fikir di luar sana mungkin dia memang di segani dan di hormati melihat siapa dia, tapi di rumah jya, bagi Asma dia hanyalah Amar. Pria yg seperti nya akan membawa masalah dalam hidup putri nya.
"Nonya, sebenarnya saya sudah sangat menyukai Maryam sejak pertama kali kami bertemu, hanya saja saya tahu saya tidak pantas untuk nya, jadi saya hanya diam, dan waktu itu entah bagaimana saya bisa mengucapkan hal itu dengan mudah. Tapi percayalah, Nyonya. Saya hanya mengatakan isi hatiku"
"Bukan nya kamu tidak pantas untuk putri kami, Tuan Amar"
"Amar saja, Om Bilal" jawab Amar karena ia merasa sangat sungkan ketika Bilal memanggil nya Tuan dan sebagai imbal balik nya dia akan memanggil Bilal Om, Amar fikir itu akan lebih baik. Sementara Bilal melirik istri dan putra nya dan Asma mengangguk seolah memberi isyarat pada Bilal untuk mengikuti saja maunya Amar.
"Baiklah, Amar" lanjut Bilal sambil tersenyum tipis "Seperti yg ku katakan, bukan nya kamu tidak pantas untuk Maryam, tapi putri ku yg tidak cocok untuk mu, kalian sangat berbeda, dan aku yakin putri ku bukan lah tipe mu. Aku yakin kamu bisa mendapatkan perempuan yg jauh lebih baik dari Maryam di luar sana"
Amar melirik nenek nya, kata kata Bilal membuat nya malu, karena seolah Maryam lah yg tidak pantas untuk nya, seolah Maryam lah yg penuh kekurangan jika di bandingkan dengan nya. Padahal bagi Amar justru sebalik nya.
"Om, setiap pasangan pasti memiliki perbedaan karakter ataupun kehidupan, tapi jika memiliki perasaan, perhatian dan pengertian yg sama, maka bukannya tidak mungkin jika mereka bisa bersama"
"Tapi adikku tidak memiliki perasaan apapun pada mu, Tuan Degazi" sambung Faraz.
"Karena aku tidak di beri kesempatan untuk membuat dia memiliki perasan pada ku" jawaban Amar sungguh memancing emosi arsitek nya itu, bahkan Faraz sudah membuka mulut hendak bersuara namun ibunya segera memberi isyarat untuk diam, dan sebagai anak yg berbakti tentu Faraz akan diam.
"Aku fikir yg terjadi di antara kalian hanya kesalah fahaman, dan soal berita itu, perlahan pasti berita itu akan surut" Asma menimpali.
"Tidak, itu bukan kesalah fahaman, Tante. Dan sebagai bukti keseriusan saya, saya datang ke sini untuk meminang Maryam pada Om dan Tante"
Kedua orang tau dan kakak Maryam tentu sangat terkejut dengan hal itu, mereka bertiga saling pandang, dan yg jelas pasti menolak adalah Faraz. Apa lagi mereka sama sekali tidak pernah mengenal Amar sebelum nya, mereka hanya sebatas tahu lewat media sosial.
"Maaf, Amar. Tapi menurut ku, kamu terlalu cepat mengambil keputusan, Maryam sudah menceritakan bagaiamana pertemanan kalian yg hanya berjalan 2 atau 3 bulan. Jadi rasanya itu sangat tidak mungkin, dan terlebih, Maryam benar benar menganggap mu hanya teman" Amar tampak sedih dengan kata kata ayah Maryam itu. Ia bahkan merasa frustasi dengan penolankan dari Maryam dan keluarga nya. Namun nenek nya segera menggenggam tangan Amar dan menenangkan nya.
"Tuan Bilal, jika kau berkenan, bisakah kau memberi kesempatan cucu ku dan putri mu untuk taaruf?" tanya Granny Amy dengan penuh harap. Bilal tak langsung menjawab, ia kembali menatap istri dan putra nya seolah meminta pendapat. Dan jelas Sarfaraz menggeleng, namun tidak dengan Asma.
"Aku akan bertanya pada putri ku" jawab Bilal "Jika dia mau, maka aku akan mengizinkan, tapi jika dia tidak, aku harap kalian mengerti"
Bersamaan dengan itu, Bi Mina datang membawakan teh dan cemilan untuk mereka, dan saat Bi Mina menyajikan teh untuk Amar, tanpa sengaja ia tersandung dan alhasil teh mengenai lengan Amar.
"Maaf Tuan, maaf" seru Bi Mina panik, Asma dan Bilal juga terlihat terkejut apa lagi itu teh panas. Asma segera menyerahkan tissu pada Amar.
"Kamu engga apa apa?" tanya Amar, Amar langsung melepas jas nya "Ayo, siram tangan mu dengan air dingin" ucap Asma.
"Tidak, Tante. Terima kasih" ucap Amar padahal ia memang merasa kepanasan, ia segera melepas jas nya.
"Ayo lah, Amar. Kamu mendapatkan sedikit musibah dirumah kami, jadi biar aku membantu mu" Amar menatap Asma sekilas, dia seorang ibu bukan? Status yg sangat Amar benci. Namun ia hanya diam saat Asma menarik nya ke dapur.
"Siram dengan air di wastafel" pinta Asma.
Amar pun menggulung lengan kemeja nya dan menyiram tangan nya, dan saat itulah Asma melihat ada beberapa bekas luka sayatan di lengan Amar.
"Ada apa dengan tangan mu?" tanya Asma, dan Amar yg melihat itu juga sangat terkejut dan tak tahu harus menjawab apa.
"Dia melukai nya" Amar dan Asma menoleh pada asal suara nenek Amar itu, Granny Amy sengaja menyusul karena ia fikir Asma mungkin akan melihat luka itu jika Amar menyingkap lengan bajunya.
__ADS_1
"Granny" desis Amar, ia tak mau memberi tahu itu pada siapapun.
"Maksud nya?" tanya Asma tak mengerti.
"Saya akan memberi tahu tentang Amar pada mu dan keluarga mu, Nyonya Zahra" tutur Granny. Asma terdiam sejenak, kemudian ia mengangguk dan membawa cucu dan nenek itu kembali ke ruang tamu.
"Ada apa, Sayang?" bisik Bilal yg melihat ekspresi wajah Asma tampak bingung. Asma hanya menggeleng dan kembali duduk di samping suami nya, Amar dan Granny Amy pun juga duduk di hadapan mereka.
"Jadi, Amar. Kami ingin tahu tentang mu" ujar Asma langsung "Karena tentu kami ingin tahu pria seperti apa yg menaruh perhatian pada anak gadis kami"
Amar tak bisa menjawab nya, ia bahkan tak pernah mengakui pada dirinya sendiri tentang dirinya yg sangat buruk. Amar hanya diam dan menundukan kepala nya. Dan dengan sangat terpaksa, Granny Amy harus mewakili cucu nya itu.
"Saya yakin kalian pasti sudah mendengar banyak hal tentang Amar, tapi kenyataan nya, Amar jauh lebih buruk dari apa yg di beritakan" Bilal, Asma dan juga Faraz sangat bingung dan tak mengerti apa maksud Granny Amy.
"Maksudnya?" tanya Bilal.
Granny Amy menarik tangan Amar, dan memperlihatkan beberapa bekas sayatan di lengan nya, Bilal dan Sarfaraz sangat terkejut melihat itu.
"Dia sering melukai dirinya sendiri sejak usia nya 13 tahun, sejak kematian adik dan ayah nya" Asma hanya bisa menutup mulut saking terkejut nya.
"Tapi kenapa dia lakukan itu?" tanya Bilal yg tak kalah terkejut nya.
"Dia rapuh, Tuan. Dia kehilangan semangat hidup nya sejak 15 tahun yg lalu, dia kehilangan senyum dan kebahagiaan nya, namun saat bertemu Maryam, semangat dan senyum nya kembali"
"Tapi melukai diri sendiri itu perbuatan haram dalam islam, apapun alasannya tentu itu tidak di benarkan" sanggah Asma.
"Karena itulah saya memberi tahu hal ini pada kalian, karena selama ini cucu ku melakukan hal yg tidak benar, dan saya harap dengan keberadaan Maryam di sisi nya, bisa membantu Amar kembali pada hal yg benar"
"Rasanya tidak bisa di percaya" sambung Bilal yg juga tak menyangka dengan hal itu, bahkan Sarfaraz pun tak mampu lagi berkata kata. Namun itu membuatnya semakin yakin bahwa Amar sangat tidak pantas untuk adik nya.
"Maafkan kami, Nyonya Amy. Tapi jika Amar bisa melukai dirinya maka bagaimana dia melukai putri ku?" tanya Asma.
"Itu tidak akan terjadi, Tante. Aku janji" akhirnya Amar kembali bersuara.
Namun, kini justru tampak keluarga Maryam itu tidak menyukai Amar.
"Apa ada lagi yg belum kami ketahui tentang mu, Tuan Degazi?" Sarfaraz pun kembali bersuara.
"Semua orang berfikir kedua orang tua Amar meninggal" Granny Amy bersuara "Tapi sebenarnya ibunya masih hidup"
Tak hanya keluarga Maryam, Amar pun sangat terkejut dengan penuturan nenek nya itu. Karena sudah 15 tahun mereka tak pernah mengungkit hal itu.
"Granny, apa yg kau bicarakan?" desis Amar.
"Hanya memberi tahu kebenaran mu pada keluarga wanita yg ku sukai"
"Tapi tidak perlu membahas hal ini" bantah Amar sangat tak setuju.
"Tunggu" Asma bersuara "Jika ibumu masih hidup, lalu dimana dia? Dan kenapa kamu hidup seolah tanpa orang tua? Kenapa membiarkan orang berfikir bahwa ibumu sudah meninggal?"
"Karena dia memang sudah mati" jawab Amar dengan emosi yg kembali memuncak.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc....