Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 37


__ADS_3

"Nena... Ada orang di depan" teriak Faraz sambil nengucek matanya. Semalaman ia begadang untuk melakukan pekerjaan nya yg sempat tertunda sehingga ia tidur lagi setelah sholat subuh.


Namun Bibi kesayangan nya itu tak juga menunjukan batang hidung nya membuat Faraz mau tak mau harus membuka pintu.


"Kamu? Ngapain kamu kesini pagi pagi?"


"Pagi pagi? Ini jam setengah 10, Sarfaraz"


"Ya terus?"


"Apa aku engga di persilahkan masuk?"


"Ada keperluan apa memang nya?" Faraz bertanya sambil dengan sengaja berdiri tepat di tengah pintu, memberi isyarat sang tamu tak di sambut di sana.


"Pertama, tamu itu adalah raja, jadi perlakukan aku dengan baik. Kedua, aku lebih tua dari mu, jadi tunjukan sikap hormat mu pada yg lebih tua. Ketiga, aku calon suami adik mu, yg artinya akan jadi adik ipar mu, jadi tunjukan rasa sayang mu pada adik ipar mu"


"Ada lagi kewajiban ku pada mu, Tuan Degazi?"


"Ada, panggilkan calon istri ku. Kami ada janji dengan designer nya" Amar berkata dengan gaya seorang boss nya. Membuat Faraz harus menahan diri agar tak menonjok wajah tampan calon adik ipar nya itu


"Cuma berdua?" tanya Faraz penuh selidik.


"Engga, di perjalanan kami bertiga karena ada Bobby, dan nanti kami juga bertiga karena ada Valerie"


"Siapa Valerie?"


"Designer yg akan membuat baju pengantin adik mu itu. Sekarang biarkan aku masuk atau panggilkan Maryam!" perintah Amar membuat Faraz mendengus.


"Pertama, aku calon kakak ipar mu, jadi jangan memerintah ku dan tunjukan sopan santun mu pada calon kakak ipar mu. Kedua, kalian harus di temani oleh anggota keluarga mu atau keluarga Maryam, sopir dan designer tidak termasuk. Jadi aku yg akan menemani kalian"


Masih berdiri di ambang pintu, Amar memperhatikan Faraz dari atas sampai bawah. Arsitek nya itu hanya mengenakan celana selutut dengan kaos tanpa lengan dan bertelanjang kaki. Sedangkan Amar, seperti biasa dia sangat rapi dengan setelan jas mahal nya.


"Kamu engga kerja? Ini sudah jam setengah 10 dan kamu bahkan kamu belum mandi, gimana perusahaan mu mau berkembang kalau kamu malas malasan"


"Hello, Tuan Degazi. Siapa kau mengomentari ku seperti itu?"


"Sebagai businessman senior aku hanya memberi saran pada junior seperti mu"


"Kamu..."


"Amar, kamu sudah datang?" ucapan Faraz harus terpotong karena kedatangan tiba tiba ibunya "Faraz, kenapa Amar engga di suruh masuk? Maryam lagi siap siap di atas" ujar sang ibu dan dengan santai Amar masuk melewati Faraz yg hanya menatap tajam padanya.


"Terima kasih, Tante" ucap Amar kemudian mendaratkan bokong nya di sofa tanpa di persilahkan.


"Faraz, kamu engga ke kantor?" tanya sang ibu karena melihat penampilan putra nya itu masih acak acakan.


"Engga, Ummi. Faraz mau nemenin Maryam"


"Engga usah, sudah ada nenek nya Amar yg nemenin mereka"


"Kayaknya nenek nya engga ikut" ujar Faraz karena tadi Amar memberi tahu hal itu.


"Iya, Tante. Granny tiba tiba sakit kepala, jadi engga bisa ikut"

__ADS_1


"Hem begitu, apa dia sudah minum obat?"


"Sudah" jawab Amar singkat.


"Ya udah kalau gitu, Faraz kamu cepat siap siap gih" perintah sang ibu yg langsung di patuhi Faraz.


Amar mengehela nafas berat, dia sungguh tak ingin di ganggu Faraz tapi apalah daya, Maryam juga tidak akan mau jalan berdua saja.


Sementara di kamar nya, Maryam sudah siap. Ia mengenakan dress muslimah seperti biasa dan di padukan dengan wedgez sneaker. Entah kenapa ia lebih suka sneaker dari pada flat shoes atau sepatu yg terlalu girly seperti Afsana.


Maryam sangat terkejut sebenarnya ketika di beri tahu oleh Abi nya bahwa pernikahan nya dengan Amar dua minggu lagi. Maryam rasanya tak percaya dan itu terlalu cepat baginya, tapi Abi nya menjelaskan bahwa lebih cepat lebih baik. Maryam sangat tidak menyangka dua minggu lagi dia akan jadi seorang istri padahal usianya masih cukup muda.


"Maryam, Amar di bawah" panggil Ummi nya sembari masuk ke dalam kamar Maryam.


Asma melihat putri nya itu dengan tatapan sayu, ia juga terkejut karena secepat itu putri nya akan menikah.


"Ada apa, Ummi?" tanya Maryam lembut yg melihat ibunya tampak sedih.


"Ummi engga nyangka secepat ini kamu akan menikah, Nak" ucap sang ibu sembari mengusap pipi anak nya itu "Ummi berdoa semoga rumah tangga mu di penuh dengan kebahagiaan dan Allah meridhoi nya"


"Ridho Allah terletak pada ridho orang tua, Ummi. Apakah Ummi dan Abi meridhoi Maryam menikah dengan Amar?" tanya Maryam kemudian menggenggam tangan ibu nya dan mengecup punggung tangan nya.


"Tentu saja" jawab sang ibu dengan senyum manis nya "Oh ya, nenek nya Amar sedang sakit, jadi kalian pergi di temani Faraz"


"Iya, engga apa apa" jawab Maryam.


Amar takkan membawa Maryam ke sebuah butik untuk mencari gaun pengantin nya, tapi dia akan memanggil seorang designer terkenal untuk membuatkan nya gaun pengantin yg indah, yaitu Valerie.


Valerie adalah seorang designer asal Indonesia namun berkiprah di Australia. Dan secara khusus Amar memanggil nya ke Indonesia demi sang calon istri.


Dan untuk cincin pernikahan, tentu Amar takkan membawa Maryam keliling toko emas untuk mencari cincin yg mereka inginkan, tapi Amar sudah memanggil Alexander, seseorang yg akan membuatkan cincin pernikahan mereka secara khusus.


"Aku engga mau yg terlalu mewah, yg sederhana saja" ucap Maryam pada wanita cantik nan elegan di depannya, Valerie.


"Aku terbang dari Australia ke Indonesia hanya untuk mu, Maryam. Bagaimana mungkin aku akan membuatkan gaun yg sederhana untuk mu" jawab Valerie. Saat ini, kedua berada di butik milik Valerie yg di kolala oleh adiknya. Dan adiknya sendiri yg bernama Becca yg mengukur Maryam.


"Dan jangan khawatirkan soal harga, karena uang Degazi itu tidak akan habis meskipun kamu meminta sepuluh gaun yg mahal" sambung Becca membuat Maryam teryawa kecil.


"Buat yg longgar ya, soalnya aku engga mau pakai yg telalu pas" ujar Maryam yg masih memegang prinsip bahwa muslimah tidak boleh mengenakan pakaian yg membentuk lekuk tubuhnya.


"Kau ini aneh, setiap wanita ingin gaun yg pas di tubuh nya supaya terlihat ramping dan seksi" balas Becca.


"Ya tapi aku engga mau yg seperti itu"


"Bisa di mengerti, kamu tenang saja, Maryam. Aku akan buat gaun yg sesuai keinginan mu" seru Valerie.


"Apa gaun nya bisa siap dalam waktu dua minggu?" tanya Maryam lagi.


"Sebenernya itu terlalu mendesak, tapi kami janji ini akan cepat selesai. Amar membayar kami sangat mahal, jadi kami hanya akan fokus pada gaun mu"


"Ini sangat berlebihan" gumam Maryam membuat Becca dan Valerie tertawa, karena seperti nya Maryam tak ingin menikmati habis habisan uang Degazi.


"Jika aku jadi kamu, aku pasti akan memanfaatkan sebaik mungkin uang Degazi itu. Berbelanja barang barang branded, aku bahkan akan meminta hadiah pernikahan sebuah rumah yg mewah, mobil mewah atau meminta sebagian hartanya" ujar Becca terang terangan.

__ADS_1


"Astaghfirullah" gumam Maryam yg mendengar ocehan Becca itu dan itu kembali mengundang tawa Valeri dan Becca.


Setelah selesai urusan gaun, kini Amar membawa Maryam dan Faraz untuk menemui Alexander di sebuah toko perhiasan milik Alexander. Karena gaun dan cincin adalah dua hal yg paling penting.


Sesampai nya disana, mereka langsung di sambut oleh seorang gadis seksi dan langsung mengantar mereka menemui Alexander di ruangan nya.


"Selamat siang, Tuan Amar, Tuan Sarfaraz, dan Nona Maryam" sapa Alexander. Setelah sedikit berbincang, Alexander menunjukan desain cincin pernikahan pada Amar dan Maryam. Dan mereka bisa memilih menggunakan apa saja, berlian kah, emas, batu rubu, batu safir atau apapun yg kedua mempelai ingin kan.


"Kamu mau yg mana, Maryam?" tanya Amar.


"Terserah saja" jawab Maryam karena ia bingung harus memilih yg mana.


"Saya sarankan yg ini..." Alexander menunjuk salah satu cincin yg model nya sederhana dengan batu berlian segi empat yg membuatnya tampak indah "Ini terlihat sangat cocok untuk gadis se anggun Nona Maryam"


"Bagaiamana menurut mu?" tanya Amar pada Maryam.


"Bagus" jawab Maryam karena sungguh semua gambar yg dia lihat sangat bagus.


"Model nya memang sederhana, tapi kilau dari batu berlian dengan model segi empat itu akan sangat indah di jari manis calon Nyonya Degazi" lanjut Alexander "Jadi, izinkan saya mengukur jari manis anda, Nona" Alexander mengulurkan tangan nya namun Maryam enggan menyambut uluran tangan itu.


Tentu saja, Maryam tidak pernah bersentuhan dengan yg bukan mahram nya.


"Biar saya" ujar Faraz membuat Alexander bingung.


"Tapi kenapa?" tanya Alexander.


"Dia tidak bersentuhan dengan yg bukan muhrim nya, jadi biar kakak nya saja yg mengukur jadi nya" jawab Amar dan Alexander pun mengangguk mengerti. Kemudian ia memberikan alat untuk mengukur jari dan memberi tahu Faraz cara mengukur yg benar.


"Baik, ini sudah selesai" ujar Alexander setelah Faraz mengukur jari Maryam "Saya akan usahakan ini siap sebelum hari pernikahan kalian"


"Terima kasih banyak, Tuan" seru Maryam. Dan setelah membicarakan beberapa hal termasuk pembayaran, ketiga nya pun pamit.


Faraz bisa melihat adik nya tampak bahagia, dan tentu Faraz juga bahagia melihat itu.


Dia mengusap kepala Maryam dan berkata


"Semoga senyum kebahagiaan mu ini engga akan pernah sirna, Dek" Faraz berkata dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Dan seketika itu mengingatkan Amar pada Amora. Seandainya Amora masih hidup....


"Aku janji akan selalu membahagiakannya, Sarfaraz" ujar Amar yakin.


"Harus!" tegas Faraz "Jika sampai adikku menangis karena mu, kamu akan berakhir di tangan ku" ucap nya tajam tapi itu malah membuat Amar terkekeh. Sementara Maryam hanya bisa menghela nafas karena seperti nya Faraz tidak akan menjadi kakak ipar yg baik untuk Amar.


"Maryam ada kelas jam 2, jadi sekarang bisa anterin Maryam ke kampus?" tanya Maryam sambil menatap dua pria tampan di depan nya itu.


"Iya" jawab Amar dan segera ketiga nya masuk ke dalam mobil Amar karena menang Faraz tak membawa mobil sendiri. Bukan karena apa, tapi dia tak mau kalau sampai adik nya itu hanya berduaan dengan Amar. Faraz bahkan menyuruh Maryam duduk di depan dan ia duduk berdampingan dengan Amar di belakang.


Setelah mengantar Maryam ke kampus nya, sekarang Amar hendak mengantar Faraz pulang. Tapi Faraz meminta Amar mengantar dia ke kantor nya saja karena banyak sekali pekerjaan harus dia tangani.


Dan jujur saja, dulu mereka berduaan di mobil itu sangat bagus karena mereka membicarakan proyek hotel Amar. Tapi sekarang berduaan di mobil sebagai calon ipar, ah entah kenapa Faraz dan Amar sama sama merasa tak suka karena ego masing masing. Alhasil keduanya sama sama bungkam, membuat Bobby heran dan melirik mereka dari kaca spion.


"Calon ipar ini seperti sepasang kekasih yg sedang merajuk"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2