
Amar di sambut dengan hangat oleh Bilal dan kemudian ia membawa Amar untuk di perkenalkan dengan anggota keluarga Bilal berhubung Amar sudah berkenalan dengan keluarga Asma.
Keluarga Bilal tak terkecuali Kiai Khalil langsung menyambut hangat kedatangan Amar, seolah Amar adalah bagian dari mereka.
Mereka menikmati acara resepsi itu dengan penuh suka cita.
Meskipun katanya hanya mengundang kerabat dekat saja, tapi tamu yg datang sangat banyak, karena mereka adalah keluarga besar, keluarga Asma dari desa nya pun juga datang, begitu juga Shofia dan suami nya. Namun sayang keluarga suaminya dan juga putra mereka tak bisa datang dari mekkah, karena putra Shofia sedang fokus pada ujian kelulusan nya.
Dan Amar, ia tak bisa mengalihkan pandangan nya dari Maryam yg sedang berbincang dengan Laila dan juga teman teman nya.
"Oh Tuhan, dia seperti bidadari, sangat cantik"
"Jangan menatap adikku begitu" Amar mendelik kesal pada suara Faraz yg membuyarkan lamunam nya itu.
"Kenapa? Dia calon istri ku" seru Amar yg sudah jengah dengan sifat ketus Faraz padanya.
"Tapi belum jadi istri" balas Faraz.
"Segera, Sarfaraz. Dan saat dia jadi istri ku, aku lebih berhak atas dirinya di bandingkan dirimu. Mengerti kan maksud ku?" tanya Amar sambil berseringai licik. Membuat Faraz kesal saja.
"Kenapa kalian bersitegang disini?" tanya Rafa yg bergabung dengan mereka.
"Sarfaraz sangat tidak menyambut cinta ku pada Maryam" ujar Amar terang terangan membuat Faraz melotot ke arahnya. Tawa Rafa pecah seketika mendengar hal itu.
"Abaikan dia, Amar. Dia engga akan menyambut baik siapapun yg mendekati Maryam maupun Afsana, sejak kecil selalu begitu. Bahkan dia menangis sampai terdengar ke seluruh penjuru desa hanya karena aku mencium Afsana atau mengajak Maryam bermain. Dia ingin memiliki kedua nya sendirian"
"Kak Rafa..." desis Faraz tajam karena Rafa sering sekali menggoda Faraz tentang masa kecil nya. Amar tertawa mengejek mendengar hal itu.
"Sebentar lagi, Maryam akan jadi milik ku, Sarfaraz" ujar Amar penuh kemenangan, membuat Faraz mendelik kesal.
"Dan Afsana akan jadi milikku" sambung Rafa dengan begitu santai nya dan seketika Faraz melotot marah.
"Lihat, dia marah. Itu sangat tidak wajar, karena kedua adik mu itu tidak akan selama nya jadi adik mu, mereka akan menikah dan hidup dengan pasangan mereka, dan kau juga harus segera cari pasangan, biar tidak jadi penjaga adik adik mu terus" tutur Amar panjang lebar yg membuat Faraz menatap nya seolah ingin menerkamnya.
"Tapi hubungan saudara tidak akan bisa putus begitu saja" balas Faraz yg tak mau kalah.
"Dan hubungan saudara antara kau dan Afsana bisa putus begitu saja, karena pada dasarnya kalian hanya sepupu" Amar berkata sekena nya dan Faraz tampak menegang mendengar kata kata itu namun kemudian ia hanya tersenyum samar dan enggan menanggapi kedua pria tampan didepan nya ini.
"Aku mau cari Kakek Rahman, selamat menikmati acara nya" ujar Faraz dingin membuat Rafa dan Amar tersenyum mengejek nya.
Dan ia melihat Maria yg sedang berbincang dengan ummi nya dan juga Yasmin juga nenek nya Amar, seperti nya mereka berkenalan. Harus Faraz akui, Maria sangat cantik dalam balutan gamis syari berwarna hijau muda itu.
Faraz segera mengalihkan pandangan nya dan ia bertemu dengan kedua kakek nya. Faraz pun mengobrol dengan mereka, apa lagi ia sangat jarang bertemu dengan Kakek Rahman sehingga ia begitu senang bisa mengobrol banyak secara langsung dengan ayah dari ibu nya itu.
.
.
.
Setelah acara resepsi selesai, semua tamu mulai meninggalkan kediaman kiai Khalil. Tinggal keluarga Asma saja disana dan mereka akan menginap dirumah Asma karena besok pagi pagi sekali mereka harus segera kembali ke desa.
Sementara itu, Bilal membawa Amar ke kediaman ayahnya untuk di perkenalkan lebih dekat lagi dengan anggota ayahnya nya dan juga membicarakan rencana pernikahan Maryam dan Amar.
"Jadi apa kalian sudah membicarakan kapan akan menikah?" tanya Kiai Khalil pada Amar.
"Belum, Kiai" jawab Amar sopan dan seketika Kiai Khalil tertawa geli.
__ADS_1
"Haha haha. Amar, aku ini calon kakek mertua mu, jangan memanggil ku Kiai. Panggil saja kakek"
"Dia dulu juga memanggilku Tuan" sambung Kiai Rahman menggoda Amar, alhasil calom suami Maryam itu tersenyum malu. Ia sungguh tak pernah berinteraksi dengan orang orang macam keluarga Maryam itu.
"Sebaikanya jangan terlalu lama untuk memutuskan itu, Bilal. Itu engga baik" ujar ayahnya pada Bilal.
"Iya, Bi. Aku sudah bicara sama Zahra dan juga Maryam, mereka menyerahkan semua keputusan pada ku, dan sekarang bagaiamana menurut Abi Rahman dan Abi Khalil, kapan baiknya mereka menikah? " Bilal bertanya pada ayah dan ayah mertua nya itu.
"Bagaiamana kalau bulan depan? Karena butuh waktu untuk menyiapkan pernikahan kan?" ujar Abi Rahman.
"Bagaiama menurut mu, Amar? Atau kalau kau mau meminta pendapat nenek mu juga boleh" sambung Abi Khalil.
"Sebenarnya, bulan depan terlalu lama" jawab Amar sungkan dan itu membuat Bilal dan juga kedua ayahnya sedikit terkejut.
"Jadi mau mu kapan, Nak?" tanya Bilal yg melihat seperti nya Amar tak sabar untuk segera menikahi putri nya itu.
"Dua minggu lagi, jika kalian tidak keberatan" jawab Amar.
"Dua minggu? Apa cukup untuk menyiapkan semua nya dalam dua minggu?" tanya Bilal tak percaya dengan keinginan Amar itu.
"Sangat cukup, Om" jawab Amar yakin.
"Tapi apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Abi Khalil. Karena seperti nya Amar lebih tergila gila pada Maryam dari pada Bilal dulu pada Asma.
"Kami sudah mengenal cukup jauh, jadi tentu itu tidak terlalu cepat" jawab Amar.
"Tapi apa yg membuat mu ingin menikahi Maryam secepat itu, Amar?" tanya Bilal.
"Entahlah, Om. Aku hanya..emm takut kehilangan nya" jawab Amar malu malu dan itu mengundang tawa geli ketiga pria dewasa disana.
Dari pembicaraan itu, sudah di putuskan bahwa Amar akan menikah dengan Maryam dua minggu lagi.
Apa kah Amar bahagia?
Ah jangan tanya, dia seperti tanaman di gurun yg tiba tiba mendapatkan air hujan.
Dan seandainya bisai, ingin sekali rasanya Amar berlari pada Maryam saat ini juga, memeluk nya dan mencium nya. Mengungkapkan rasa cinta dan kebahagiaan nya yg tak pernah ia bayangkan selama ini.
"Kami titip Maryam kami pada mu, Amar. Tolong jaga dia ya" pinta kakek Rahman.
"Inysa Allah, aku akan berusaha menjadi pendamping yg baik untuk nya"
.
.
.
Sementara itu, Maryam ikut Faraz mengantar Maria pulang. Dan Maria bertanya kenapa tidak ada interaksi antara laki laki dan perempuan disana seperti berdansa, karena biasanya yg nama nya pesta pernikahan pasti ada yg berdansa, bersulang dan juga biasanya di sajikan wine.
"Wine itu haram dalam islam, Maria" jawab Faraz.
"Tapi pesta tanpa wine rasanya kurang lengkap" jawab Maria.
"Memang nya tadi kamu merasa ada yg kurang lengkap?" tanya Maryam sambil menoleh karena ia duduk didepan sementara Maria duduk di belakang.
"Engga juga sih, tadi sangat menyenangkan" tutur nya "Semua orang begitu ramah, acara nua penuh suka cita" lanjut nya.
__ADS_1
"Tapi kenapa wine itu haram? Padahal kalau hanya sedikit tidak akan berdampak buruk kan?"
"Noda tetap lah noda, mau sedikit ataupun banyak. Segala hal yg memabukan haram dalam islam, karena kalau mabuk, bisa hilang akal, kalau sudah hilang akal, bisa saja melakukan hal hal yg tidak seharus nya dan pasti akan merugikan dirinya sendiri. Kamu pasti sering dengar orang berzina saat mabuk, menyetir kemudian kecelakaan karena mabuk dan sebagai nya, ya kan? "
Maria hanya mengangguk saja mendengar ceramah panjang lebar Sarfaraz itu. Tapi kalau di fikir fikir memang benar sih, batin nya berseru.
"Maria, kenapa kamu engga memeluk islam saja" Faraz bahkan langsung menginjak rem tiba tiba mendengar penuturan datar Maryam itu. Padahal rencana Faraz adalah mengajarkan islam dulu pada Maria barulah ia akan mengajak nya memeluk islam. Tapi Maryam?
"Kenapa, Kak?" tanya Maryam dengan polosnya melihat Faraz tampak terkejut.
"Kenapa kamu bilang begitu sama Maria?" tanya Faraz bingung.
"Maryam hanya menawarkan, Kak"
"Tapi Maria belum tahu apa apa soal islam"
"Siapa bilang belum tahu, dia sudah tahu walaupun engga banyak, ya kan Maria?" tanya Maryam sementara Maria, entah kenapa ajakan Maryam seperti membuat nya merinding dan ia tak tahu harus menjawab apa.
"Tidak boleh memaksakan islam, Maryam" ucap Faraz sembari sembari kembali menjalankan mobil nya.
"Maryam engga maksa, islam itu harus di beri tahu dasar nya, tawarkan baru ajarkan. Kalau nunggu dia belajar dulu terus tiba tiba ajal datang, kita yg dosa lho"
Faraz merinding mendengar kata kata Maryam itu, tapi benar juga fikir nya. Kenapa dia tidak kefikiran ke sana?
"Memang apa dasar nya? Aku fikir semua agama sama saja" tanya Maria ragu ragu.
"Tentu tidak sama, kalau semua agama sama, lalu buat apa ada macam macam agama" jawab Faraz "Dan beda nya yg sangat mencolok adalah konsep ketuhanan, dimana dalam islam tuhan nya itu hanya satu yg tidak akan ada dua nya, tidak beranak dan tidak pula di peranakan dan juga dari segi ibadah, sholat contoh nya, dimana sholat adalah komonikasi langsung kepala Tuhan yg tidak akan ada di agama lain karena ada bacaan dan gerakan yg sangat special"
"Seperti Pak Faraz di masjid waktu itu?"
"Yupz, kenali siapa diri mu, Maria. Maka kamu akan mengenal siapa Tuhan mu" jawab Faraz dan ia menghentikan mobil nya karena tanpa terasa kini ia sudah sampai di depan rumah Maria.
"Terima kasih sudah mengantar, Pak Faraz, Maryam. Terima kasih banyak" ucap Maria kemudian turun dari mobil.
"Sama sama" jawab Maryam sambil tersenyum ramah dan ia melambaikan tangan pada Maria sebelum Maria masuk kedalam rumah nya.
Faraz pun segera menjalankan mobil nya lagi untuk pulang.
"Kak Faz suka ya sama Maria?" tanya Maryam penasaran.
"Anak kecil kenapa tanya tanya itu?" Faraz balik bertanya karena entah mengapa ia enggan mengakui perasan nya itu pada Maryam.
"Ya Maryam mau tau aja, soalnya Maryam mau nya kakak sama Ana aja" ujar Maryam yg membuat Faraz menghela nafas berat.
"Ana itu sudah kakak anggap adik sendiri" tegas nya yg membuat Maryam memberengut.
"Kalau Ana punya perasaan lebih dari saudara ke Kakak gimana? Soalnya Maryam bisa ngerasain Ana tuh suka sama Kakak"
"Jangan ngaco kamu" tegas Faraz yg membuat Maryam memberengut kesal "Lagian engga mungkin Afsana suka sama kakak nya sendiri, kita tumbuh bersama sejak kecil sebagai saudara"
"Kalau mungkin...."
"Engga mungkin" potong Faraz cepat tanpa memberi Maryam kesempatan berbicara.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1