
Waktu berjalan sangat cepat, semua di lewati penuh suka cita. Dengan perjuangan, doa dan harapan akan akhir yg selalu indah.
Kini kehamilan Afsana sudah memasuki usia 9 bulan, perut nya yg besar membuat Afsana terkadang kesulitan dalam beraktifitas dan ia merasa cepat lelah. Namun orang orang terkasih nya selalu ada untuk nya. Terutama sang suami yg selalu siap siaga menjaga istri nya yg akan melahirkan anak pertama mereka yg belum mereka ketahui jenis kelamin nya.
Sementara Ezra kini sudah bisa berjalan dan acara ulang tahun pertama nya di adakan dengan sangat meriah dengan di hadiri keluarga besar Maryam dan juga Amar mengundang keluarga ibu nya karena bagaimanapun juga Ezra adalah bagian dari mereka. Hal itu membuat keluarga Rossa sangat terharu dan mereka menyambut hangat hal itu. Kini tak ada lagi jarak antara Amar, keluarga ibu nya dan juga keluarga Maryam. Hidup Amar terasa begitu indah dan sempurna sekarang.
Walaupun terkadang ia masih menyesali keterlambatan nya dalam memaafkan sang ibu. Seandainya lebih cepat ia memaafkan pasti lebih cepat juga ia dapatkan kesempurnaan ini namun apapun itu sekarang ia hanya bisa mensyukuri semua nya.
Hotel Amar pun sudah di buka dan ia jadikan itu sebagai hadiah untuk Maryam saat ulang tahun putra pertama mereka.
.
.
.
Saat Faraz bersiap memulai meeting dengan klien nya, ia mendapatkan telpon dari ibu nya dan mengatakan Afsana ada di rumah sakit. Sontak Faraz langsung membatalkan meeting nya dan ia bergegas ke rumah sakit dengan perasaan yg bercampur aduk.
Dirumah sakit, Faraz menemani Afsana yg terlihat sangat lemah, Dokter memeriksa nya namun sayang Dokter mengatakan akan sulit bagi Afsana jika melahirkan normal karena bayi nya yg berada dalam posisi miring.
Mendengar itu Afsana langsung menangis dan ia sangat takut.
"Ssshhtt, Sayang. Engga apa apa, jangan takut" Faraz mencium kening Afsana lembut, kemudian ia menggenggam tangan istri nya dan mengecup nya berkali kali.
"Ana takut, Kak" lirih Afsana. Lita juga memenangkan putri nya.
"Jangan takut, Nak. Insya Allah semua nya baik baik saja" Lita mengelus kepala Afsana. "Kamu harus berani, demi anak mu"
Hubab pun juga menyemangati putrinya dan memberi nya nasehat serta dorongan.
"Doain kami..." pinta Afsana pada kedua orang tuanya.
"Pasti, Sayang " jawab Hubab kemudian mengecup pucuk kepala Afsana.
Operasi sudah siap di lakukan, Afsana masih takut namun ia tetap berusaha tenang. Hati nya juga tak henti henti nya berdoa untuk keselamatan bayi yg akan di lahirkan nya.
Afsana berharap kelak anak nya menjadi anak yg membanggakan karena ternyata begitu sulit untuk melahirkan seorang anak.
.
.
.
__ADS_1
Faraz begitu ketakutan namun ia tak pernah berhenti berdoa. Sang ibu mencoba menenangkan Faraz dan meyakinkan bahwa Afsana dan calon anak mereka akan baik baik saja. Bilal pun terus menguatkan putra nya dan memberi nya semangat. Lita dan Hubab juga begitu khawatir dengan anak nya yg saat ini ada di ruang operasi.
Mereka semua berdoa tanpa henti. Dan setelah satu jam lebih menunggu, akhir seorang Dokter keluar dari ruang operasi dan memberi kabar baik. Operasi berjalan lancar, Afsana dan dan putra nya selamat.
"Putra?" tanya Faraz penuh haru.
"Iya, Pak. Selamat ya, putra bapak sangat sehat dan tampan" ujar Dokter itu menyalami Faraz dan Faraz langsung menyambut nya dengan senang hati. Ia begitu terharu sampai tanpa sadar ia meneteskan air mata.
Mertua dan kedua orang tuanya pun sangat bahagia dan mereka saling berpelukan, saling mengucapkan selamat dan tak lupa mengucapkan rasa syukur nya.
Afsana sudah di pindahkan ke ruang rawat namun ia masih belum sadarkan diri.
Sementara suster sudah membersihkan putra Faraz dan memberikan nya pada ayahnya.
Saat bayi mungil itu ada dalam gendongan Faraz, Faraz langsung menangis haru dan ia mengecup kening bayi nya yg seperti boneka tampan.
Faraz mengadzani putra nya dan mengucapkan beberapa doa untuk putra nya. Begitu juga dengan mertua dan kedua orang tuanya.
"Semoga kamu menjadi anak yang sholeh, Nak" ucap Faraz dan sekali lagi mencium putra nya.
"Abi, Ummi, Faraz punya putra..." lirih Faraz dengan mata berkaca kaca. Ia seolah memamerkan anak nya pada kedua orangtua nya dan mertua nya.
"Iya, Sayang. Selamat ya, Nak. Allah menyempurnakan pernikahan kalian dengan berkah ini, semoga Allah selalu memberikan berkah Nya yg tak terbatas" tutur Asma yg juga terharu.
.
.
.
Maryam dan Amar segera kerumah sakit setelah mendengar kabar Afsana yg melahirkan. Ummi Mufar dan yg lain nya juga datang.
Mereka membanjiri Afsana dan Faraz dengan ucapan selamat dan juga doa doa terbaik untuk putra pertama mereka.
Afsana yg kini sudah sadar pun langsung meminta Faraz untuk memberikan bayi nya pada nya. Afsana menangis haru, tak menyangka ia mendapatkan anugerah mungil ini yg begitu indah.
"Masya Allah, Nak... Kamu seperti bercahaya" ucap Afsana sambil masih menangis terharu.
"Dia sangat tampan kan, Sayang? Kayak aku" ucap Faraz dan Afsana mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, kita di karunia pangeran pangeran yg sangat tampan..." ujar Ummi Mufar yg saat ini sedang menggendong Ezra.
"Ezra, dan sepupu nya... Mau kalian kasih nama siapa jagoan Eyang yg satu ini?" tanya Ummi Mufar.
__ADS_1
"Muhammad Alfatih" ujar Faraz.
"Hem, biar ingat kalau itu made in Turkey" sambung Amar yg membuat semua orang tertawa geli.
"Kita panggil dia Al"ucap Afsana.
Sementara Ezra kini berusaha turun dari gendongan eyang nya dan ia tampak penasaran dengan bayi yg ada gendongan Afsana.
Ezra menangis sambil menunjuk Baby Al.
"Kenapa, Sayang? Mau gendong dedek Al?" tanya Maryam dan Ezra hanya terus merengek sambil menunjukan Baby Al.
Maryam pun kembali menggendong Ezra dan ia mendekatkan Ezra ke Baby Al yg masih tidur.
"Mau cium?" tanya Maryam karena Ezra seperti ingin menyentuh Baby Al, dan saat di dekatkan ke Al, Ezra malah langsung mencubit pipi Baby Al membuat Baby Al langsung menangis kencang. Dan karena kaget dengan Baby Al yg menangis, Ezra malah menangis lebih kencang sehingga ruang rawat Afsana di penuhi tangisan Ezra dan Al.
"Cup cup cup, Sayang... Jangan nangis ya, kakak Ezra engga sengaja" ucap Afsana mencoba menenangkan anak nya.
Sementara itu Maryam segera membawa keluar Ezra untuk menenangkan nya.
"Kayaknya sengaja deh" gumam Faraz yg membuat semua orang kembali tertawa.
"Nama nya juga anak anak, Kak. Mana ngerti" ujar Afsana.
"Kamu dulu gitu juga sama Maryam. Malah waktu itu kamu sudah 4 tahun" sambung Asma sambil tersenyum geli.
"Mungkin balasan nya itu" sambung Amar sambil terkekeh.
Setelah Ezra tak lagi menangis, Maryam membawa Ezra kembali masuk dan terlihat Baby Al yg juga sudah tak menangis lagi. Saat Maryam membawa Ezra mendekati Afsana, Ezra malah seperti takut dan ia kembali menangis dengan nyaring dan seperti nya itu mengagetkan Baby Al. Baby Al pun kembali menangis dan kali ini lebih kencang.
"Ya Allah, masih bayi udah kayak Tom and Jerry. Semoga gede nya akur aja" gumam Asma yg membuat Bilal terkekeh.
"Aamiin, insya Allah, Sayang. Semoga mereka menjadi saudara yg saling mencintai dan menjaga"
"Sayang, sebaiknya bawa Ezra pulang. Kasian Baby Al" ujar Amar yg langsung di setuju Maryam karena sepertinya keberadaan Ezra akan mengganggu Afsana dan Maryam.
"Kami pulang dulu, An..." ucap Maryam kemudian ia masih sempat mengusap kepala Baby Al yg tangis nya sudah mulai mereda.
"Maafin kakak Ezra ya, Sayang" ucap Maryam. Afsana hanya tertawa kecil.
"Semoga aja gede nya anak anak kita seperti kita, jadi sahabat" tutur Afsana yg langsung di amiinkan Maryam.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...