
Maria kembali membeli buku buku tentang islam. Kali ini, ia membeli kisah kisah para nabi. Dan satu buku tentang Rasul terakhir menjadi pilihan untuk ia baca. Akan lebih muda belajar dari sebuah kisah, namun jika tentang sebuah hukum agama, maka dia akan selalu bertanya pada Faraz. Dan setelah membaca buku, ia selalu menelepon Faraz dan kembali menanyakan perihal cerita yg ia baca, kemudian Faraz memberikan penjelasan panjang lebar namun sangat di mengerti oleh Maria. Dan saat ini, ia membaca kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW.
Maria sangat terkejut karena ternyata Nabi Muhammad yg di gambarkan sangat tampan, bijak, jujur. Menikah dengan seorang janda yg sudah punya anak dan dengan selisih usia 25 tahun.
"Engga mungkin..." pekik Maria tak percaya.
Ia yg rebahan di ranjang nya segera mengambil ponsel nya dan menghubungi Faraz.
"Assalamualaikum, Ustadz" sapa Maria setelah Faraz menjawab telepon nya. Dan terdengar suara tawa Faraz dari seberang telepon.
"Waalaikum salam, murid. Ada apa?" tanya Faraz.
"Hehe" Maria tertawa kecil karena akhir akhir ini ia dan Faraz memang seperti guru dan Murid "Ini, Pak. Aku baca cerita Nabi. Terus beneran ya Nabi itu menikahi wanita janda yg usia nya 15 tahun lebih tua dari nya?"
"Oh, Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah" Faraz menanggapi "Iya, bener. Kenapa?"
"Ya engga apa apa, Pak. Tapi kok bisa?"
Kemudian Faraz menceritakan tentang Nabi yg seorang saudagar yg cerdik, jujur, dan amanah, sehingga menarik perhatian seorang wanita kaya seperti Sayyidah Khadijah yg kemudian menjadi mitra bisnis nya. Karena melihat sifat sifat dan kemuliaan pada Muhammad saat itu, Khadijah pun mengutus sahabat nya yg juga kerabat Nabi untuk melamar Nabi. Dan Nabi Muhammad SAW menerima lamaran Khadijah saat itu. Faraz juga menceritakan kemualiaan sayyidah Khadijah dan betapa setia nya Sayyidah Khadijah menemani Nabi di awal awal islam muncul, dan memberi tahu Khadijah adalah salah satu dari 4 pemuka wanita ahli surga.
Dan mereka para pemuka wanita ahli surga yaitu Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid dan Asiyah.
"So sweet..." gumam Maria yg mendengar kisah romantis itu, dan terdengar Faraz yg tekekeh disana.
"Maria, sebenarnya saat ini aku sedang sarapan bersama keluarga ku"
Maria menepuk jidatnya sendiri, pagi pagi ia sudah menelepon boss nya hanya untuk mendengarkan cerita romantis itu.
"Eh iya, Pak. Maaf ya, ganggu" ucap Maria malu.
"Engga apa apa, oh ya, kalau kamu mau, kamu bisa ikut pengajian, biar nanti Maryam membantu mu. Jadi kamu semakin banyak belajar dan juga punya teman untuk sama sama belajar"
"Iya, Pak. Nanti aku telepon Maryam deh"
.
.
.
"Halalkan atau tinggalkan!" Faraz menoleh pada asal suara itu. Ah, adik iparnya muncul juga. Sama seperti Faraz, Amar hanya mengenakan kaos polos dan celana selutut, sangat santai.
"Apa nya?" tanya Faraz kemudian meneguk teh hangat di hadapan nya.
__ADS_1
"Maria" jawab Amar santai.
"Sok tahu" balas Faraz ketus.
"Ya sebagai adik ipar, aku hanya memperingatkan mu. Takut nya setan mengambil kesempatan dan menggoda kalian" goda Amar kemudian ia bergabung di meja makan.
Tak lama kemudian Maryam juga datang bergabung dengan keluarga nya.
"Ciee.. Yg pengantin baru, siang amat turun dari kamar" goda Firda yg membuat Maryam tertawa geli, Firda pasti sudah mikir yg macam macam. Padahal mereka tak melakukan apapun. Belum.
Faraz melirik Lengan Amar, dan sekarang Amar tak sungkan lagi jika ia harus memperlihatkan bekas sayatan di tangan nya. Dan melihat luka di tangan Amar, membuat Faraz teringat pada luka di pipi Dilara dan Faraz sangat yakin Amar yg melukai nya.
"Aku yakin kamu yg melukai Dilara"
PYAARRRR
"Maryam, ada apa, Sayang?" Amar langsung menghampiri Maryam yg baru saja memecahkan gelas, dan wajahnya langsung tampak pucat. Sontak hal itu menarik perhatian semua orang, Faraz pun segera menghampiri adiknya itu.
"Em enggak... Engga apa apa" ucap Maryam dengan pelan dan bahkan suara nya hampir tak terdengar. Maryam berjongkok dan hendak membersihkan pecahan gelas itu dengan tangan yg terlihat gemetar.
"Agh" ringis nya saat di rasa pecahan kaca itu menusuk jari nya dan seketika mengeluarkan darah. Amar langsung menarik tangan Maryam, memasukan jari nya yg beradah ke dalam mulut nya.
"Neng Maryam..." seru Bi Mina kaget yg melihat Nona muda nya itu memecahkan gelas dan jarinya terluka "Biar Nena yg beresin" lanjut nya.
"Maaf ya, Nena" ucap Maryam.
"Kenapa, Dek?" tanya Faraz kemudian karena ia melihat Maryam yg tampak pucat. Namun Maryam memaksakan bibir nya tersenyum dan menggeleng, memberi tahu ia tak apa apa.
"Ada apa?" tanya Asma yg baru saja datang ke meja makan bersama Bilal.
"Engga apa apa, Ummi. Cuma engga sengaja mecahin gelas" jawab Maryam dengan suara sedikit bergetar.
"Kamu pucat, Nak. Kamu sakit?" tanya ayahnya namun Maryam menggeleng dan meyakinkan semuanya bahwa dia baik baik saja.
Mereka pun melanjutkan sarapan nya sebelum akhir nya kembali ke tugas masing masing untuk mengurus resepsi Maryam besok malam nya.
Setelah sarapan, Maryam segera kembali ke kamar nya. Ia bergegas ke kamar mandi, mencipratkan air ke wajah nya.
Dilara
Nama wanita itu membuat Maryam teringat kembali pada apa yg menimpa nya. Dan entah kenapa, Maryam merasakan masih ada getaran rasa takut di hati nya.
Dia di perlakukan sangat buruk waktu itu, dan bahkan pakaian nya telah...
__ADS_1
"Sayang..."
Suara suami nya itu berhasil membuyarkan lamunan Maryam.
Amar menyusul Maryam ke kamar mandi, dengan sangat susah payah Maryam menyunggingkan senyum yg sangat samar. Tak ingin Amar tahu keadaan nya.
"Ada apa?" tanya Amar lembut, membelai pipi Maryam yg basah. Maryam hanya bisa menggeleng dan hendak keluar dari kamar mandi, namun Amar malah mencekal pergelangan tangan nya, menarik Maryam dan menyudutkannya ke pintu yg sudah ia tutup.
"Aku tahu" bisik Amar kemudian membuat Maryam mengernyit bingung. Memang dia tahu apa?
Amar menggenggam tangan Maryam, memberikan kecupan kecupan kecil yg sekali lagi membuat perasaan Maryam menghangat.
"Aku memang bukan Psikolog. Tapi aku mengerti mental seseorang yg trauma" lanjut nya yg seketika membuat tubuh Maryam menegang.
"Sedikit saja kita melihat atau mendengar hal yg berhubungan dengan tragedi itu, itu pasti akan membangkitkan kembali ingatan kita, rasa sakit kita dan ketakutan kita akan tragedi itu" tutur Amar, dan Maryam bisa melihat luka di mata Amar yg mungkin juga mengenang masa lalu nya, dan memang benar apa yg di katakan Amar, mental Maryam tak baik.
"Tapi aku ingin kamu tahu, aku, Abi, Faraz, dan kami semua akan melindungi mu, Sayang. Aku engga akan pernah membiarkan siapapun menyakiti mu" lanjut nya dengan suara lirih.
"Dan maaf saat itu aku terlambat, seandainya aku bisa...."
Ucapan Amar terhenti saat Maryam meletakkan jari nya di bibir Amar, Maryam menatap Amar lekat lekat.
"Kita mungkin engga bisa melupakan apa yg sudah terjadi, tapi kita pasti bisa menjalani hidup yg lebih baik dan move on" tutur Maryam. Dan walaupun sedikit gugup, tapi Maryam memberanikan diri memeluk suami nya itu "Kita akan selalu bersama, saling menjaga dan menguatkan. Inysa Allah"
Amar membalas pelukan istri nya, mencium pucuk kepala nya.
"Inysa Allah"
.
.
.
"Apa kau yakin? Apa kau sudah gila?" pekik Hira tak percaya dengan curhatan sahabat nya itu. Maria mengangguk yakin.
"Gila kau ya, dulu aja benci gara gara di tolak salaman, sekarang malah jatuh cinta"
"Ya dia itu lelaki impian banget, Ra. Dan wanita seperti ku, sangat membutuhkan lelaki seperti Faraz untuk menjadi imam dalam hidup ku"
Hira bisa maklum jika Maria mengatakan mencintai Faraz, karena selama ini Faraz memang seperti malaikat bagi Maria. Tapi Hira tak mengerti dengan rencana Maria yg akan mengatakan perasaan nya pada Faraz lebih dulu karena terinspirai dari kisah Sayyidah Khadijah. Maria mengatakan ia tak mau kehilangan Faraz, dan Maria yakin saat ini Faraz tidak sedang ada dalam hubungan dengan siapapun.
Walaupun Maria sama sekali tidak bisa menebak jawaban Faraz nanti nya, tapi setidaknya Maria berusaha dulu.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc....