
Ummi Mufar menjenguk Maria yg kini jauh lebih baik, Maria sangat senang dan menyambut Ummi Mufar. Maria juga meminta maaf karena sudah sangat merepotkan dan Ummi Mufar menanggapi nya dengan santai, meskipun tak ada hubungan apapun dengan Maria, namun ia sangat bersimpati dengan kondisi Maria, Ummi Mufar juga bangga karena Maria menolak Faraz dan ia memilih mandiri, memperlihatkan bahwa Maria memang wanita yg kuat.
Ummi Mufar mengobrol dengan Maria, membagikan pengalamanannya sejak muda hingga sekarang ia menjadi nenek. Setiap manusia akan selalu di uji, setiap manusia akan selalu menerima konsekuensi dari apa yg sudah ia lakukan. Tapi semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah.
"Jika salah, manusia harus di tegur. Jika berdosa maka harus di hukum, karena Allah ingin kota selalu meperbaiki diri. Dan Allah selalu memberikan kita kesempatan kedua" kata Ummi Mufar dan Maria teringat kembali dengan masa lalu nya.
Benar, ia salah dan berdosa, mungkin bayi itu ada sebagai teguran sekaligus hukuman, dan cara Maria meperbaiki nya adalah bertaubat, dan merawat bayi itu sebaik mungkin, agar kelak tak jadi seperti diri nya.
.
.
.
Amar membawa Maryam untuk berbelanja, karena ia akan mengadakan pesta ulang tahun perusahaan nya.
Amar membelikan sebuah gaun yg sangat indah untuk istri nya dan tentu juga untuk sang nenek yg memang sudah merubah penampilan nya dan selalu berhijab.
Amar juga mengundang seluruh keluarga mertua nya, namun Kakek nenek Maryam tak bisa datang karena kesibukan nya.
Setelan berbelanja, mereka kembali kerumah karena hari sudah malam.
"Kamu lelah?" tanya Amar sembari memijat pundak Maryam membuat Maryam tersenyum geli.
"Engga kok, tapi pasti kamu lelah kan? Udah kerja, masih pergi belanja" Maryam berbalik dan kini ia yg memijat pundak suami nya. Amar tersenyum, menarik tangan Maryam dan mengecup nya.
"Aku engga lelah, kamu tahu kenapa?" Maryam menggeleng meskipun ia tahu Amar tak melihat nya karena ia ada di belakang Amar "Setiap kali aku bersama mu, rasa sakit, kecewa, amarah dan juga lelah seolah lenyap, Sayang. Keberadaan mu selalu menenangkan ku" tutur Amar panjang lebar membuat Maryam mengulum senyum dan ia mengecup pipi Amar.
"Alhamdulillah jika aku bisa menjadi penenang bagi mu, itu yg Abi doakan saat aku di lahirkan. Kamu juga kebahagiaan terbesar yg aku punya, Sayang" Amar langsung berbalik dan menghadap Maryam. Ia membelai pipi istri nya itu dan mengecup kening nya.
"Sekarang kita harus mandi dan kemudian istirahat"
"Kamu mandi duluan aja"
"Kita mandi bareng..."
"Amar..."
"Ayolah, Sayang. Di pengajian minggu kemarin, Ustadz nya bilang Nabi pernah mandi bersama istri nya" Maryam langsung tertawa geli mendengar penuturan Amar "Kok malah ketawa, bukan nya mengikuti apa yg Nabi lakukan itu dapat pahala, itu contoh yg baik lho buat keharmonisan kita" Maryam masih tersenyum geli dan ia kemudian mengangguk. Sontak Amar tertawa girang dan langsung menarik Maryam ke kamar mandi.
__ADS_1
"Tapi hanya mandi ya!"
"Aku tahu, engga boleh melakukan itu di kamar mandi kan?" Amar mengangguk sambil mengulum senyum.
Sebelumnya, Amar pernah mengajak Maryam mandi bersama dan Amar malah mengajak Maryam melakukan sesuatu di kamar mandi.
Bagi Amar, bercinta dimana saja dan kapan saja itu tidak masalah, apa lagi jika itu bersama istri sendiri.
Namun Maryam segera menjelaskan, bahwa bercinta pun selain ada doa nya,ada adab nya juga. Supaya jika hasil bercinta mereka menjadi seorang Baby, maka baby mereka kelak menjadi anak yg sholeh sholehah.
Amar tersipu malu saat itu, namun ia berterima kasih atas ilmu yg sudah di berikan istri tercinta nya itu dan sejak saat itu, Amar meminta Maryam agar membawa nya ke pengajian dengan rutin setiap minggu, supaya Amar semakin banyak belajar ilmu agama. Amar juga tak menyangka, bahwa setiap hal yg di lakukan selalu ada aturan nya, dan itu terasa indah. Amar sangat bersyukur dengan adanya Maryam, karena Maryam telah melepaskan ia dari kehidupan jahiliyah nya dulu, dimana hanya ada kesenangan dan kepuasaan sesaat.
.
.
.
"Menikahi Afsana?" Asma berteriak tak percaya karena tiba tiba putra nya itu mengatakan ingin menikahi Afsana secepat nya, tak lagi ingin menunggu Afsana lulus.
"Tapi Ana kan masih sekolah, Faraz" tutur sang ayah.
"Faraz tahu, Ana masih akan sekolah kok. Cuma akad aja, nanti setelah Ana lulus, baru adakan resepsi" jawab Faraz setengah memohon.
"Ya engga sabar aja pengen halalin Ana, biar Faraz tenang, Ummi. Boleh ya?"
"Ya kalau Ummi sih terserah kalian, tapi kita harus bicara dulu sama Lita dan Hubab"
"Ya udah, ayo kita kesana sekarang" ajak Faraz dengan sangat antusias dan itu membuat ayahnya tertawa geli, sementara Afsana masih heran pada putra nya itu.
"Nanti aja lah, Faraz. Ini sudah malam" ucap ibunya.
"Baru jam 9"
"Besok saja" tegas ayahnya dan Faraz pun tak lagi membantah nya.
"Ya udah, Faraz naik dulu" seru nya.
Di bawah, Bilal masih tertawa kecil melihat tingkah Faraz namun beda hal nya dengan Asma yg tampak heran.
__ADS_1
"Mereka masih muda lho, kok malah engga sabaran gitu?"
"Sayang, Faraz 24 tahun, Ana 21 tahun, itu engga terlalu muda untuk menikah. Lagi pula bagus jika hubungan mereka segera di halalkan, apa lagi kita tahu sejak kecil sampai sekarang mereka sangat dekat, dan mereka sekarang sudah dewasa, jadi ya kalau hubungan mereka sudah halal, itu bisa membuatk kita semua tenang"
"Ya betul juga sih"
Kemudian Asma menunduk, mengingat kembali saat ia mengandung Faraz, melahirkan nya dan merawatnya hingga sekarang.
Waktu berjalan begitu cepat, putri nya sudah berumah tangga dan memiliki hidup nya sendiri, putrnya pun akan segera menyusul.
"Setelah Faraz menikah, kita akan tinggal sendirian" ucap Asma sedih. Mengingat Khadijah sudah memberikan rumah nya untuk Faraz dan Faraz akan tinggal disana bersama istri nya.
Bilal merengkuh pinggang istri nya dan mencium pipi nya.
"Jangan sedih, mereka hanya pindah rumah dan itu pun sangat dekat"
"Tapi rasanya baru kemarin aku merawat Faraz dan Maryam, sekarang mereka sudah punya kehidupan mereka sendiri"
"Itu memang tugas kita sebagai orang tua, Sayang. Sudah jangan sedih, kalau anak anak tahu kamu sedih, nanti mereka juga sedih"
Bujuk Bilal, Asma menyandarkan kepala nya di bahu Bilal yg selalu terasa nyaman.
Mungkin sekarang waktunya mereka menikmati masa tua mereka berdua, bersama sama. Dan Asma selalu berdoa, semoga ia dan Bilal selalu bersama dalam keadaan apapun, sampai kapan pun.
.
.
.
Afsana mendapatkan pesan dari Faraz, mengatakan Faraz sudah memberi tahu Abi dan Ummi nya tentang dia Faraz ingin segera menikahi Afsana.
Afsana cukup terkejut mendengar itu, karena ia fikir Faraz tak bersungguh sungguh saat itu, dan seperti nya Faraz memang tak sabar ingin memiliki Afsana namun Afsana juga senang, karena itu artinya Faraz memang sangat mencintai nya dan Afsana juga sangat mencintainya.
Afsana bersyukur atas cinta Faraz, walaupun ia hampir kehilangan Faraz, tapi kini ia justru memiliki Faraz.
Afsana sangat ikhlas ketika ia berniat melepaskan Faraz untuk Maria, karena Afsana yakin, menyelamatkan kehidupan Maria jauh lebih baik dari pada mempertahankan perasaan nya karena sejati nya perasan itu bisa berubah.
Dan ketika ia begitu ikhlas saat di uji cinta nya, maka Tuhan membalas nya dengan begitu indah, mengembalikan Faraz pada nya, dan justru Faraz ingin segera menikahi nya.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc..