
Layaknya Sarfaraz dan Maria yg dekat sebagai bos dan asisten, Amar dan Maryam pun juga semakin hari semakin dekat sebagai teman.
Amar selalu punya seribu alasan untuk bisa bertemu dengan Maryam membuat Maryam perlahan benar benar bisa menerima Amar sebagai teman nya.
Sementara Amar tentu sangat bahagia dengan hal itu, sejak kedekatannya dengan Maryam, ia merasa ada sesuatu yg indah dalam hidup nya.
"Aku menyesal tidak datang ke restaurant mu sejak dulu" ungkap Amar sembari memasukan sesuap makanan ke dalam mulutnya.
"Itu pasti karena seorang Amar Degazi hanya akan makan di restaurant mewah" Amar tertawa mendengar penuturan Maryam.
"Engga juga, tapi menu di sini enak"
"Itu resep nenek ku. Restaurant ini seperti sebuah penyatuan, aku yg punya ide untuk membangun sebuah resto, Kak Faz yg mendesain dan membangun nya dari nol, Abi yg modalin, nenek yg kasih resep, tapi restaurant ini malah atas nama Ummi" Maryam berkata sambil tertawa, karena memang benar ibunya cuma kebagian enak enak nya aja.
"Kamu sering membicarakan ibumu, apa kau sangat mencintainya?"
"Itu pertanyaan terkonyol di dunia, semua anak pasti mencintainya ibunya, Amar" tutur Maryam sembari melirik Amar sekilas "Tapi seperti nya tidak dengan mu"
Maryam tak buta, setiap kali ia membicarakan ibunya, reaksi Amar seolah tak menyukai hal itu. Membuat Maryam bertanya tanya apakah Amar membenci ibunya?
"Kenapa semua anak harus mencintai ibunya?" Maryam mengulum senyum mendengar pertanyaan Amar yg sekali lagi sangat konyol.
"Karena ibu yg menjaga kita sejak kita masih dalam rahimnya, dia yg membantu pertumbuhan kita dari di lahirkan, hingga menjadi seperti sekarang. Karena itulah, setiap ibu adalah malaikat bagi anak anak nya" dan sekali lagi, Maryam bisa menangkap arti tatapan Amar yg benar benar tidak seyuju dengan ucapan nya.
"Lalu bagaiamana dengan ibu yg melukai anak anaknya sendiri? Apakah dia masih harus di anggap sebagai malaikat?"
"Tentu, dia masih lah malaikat tapi dia juga manusia, Amar. Dan manusia bisa saja berbuat kesalahan"
Amar terdiam, biasa nya ia selalu menghindari topik sensitif seperti ini dari siapapun. Tapi dengan Maryam, entah mengapa ia seperti sungai yg mengalir mengikuti arus.
"Apa luka luka itu juga berhubungan dengan ibu mu?" lanjut Maryam sembari melirik lengan Amar.
"Aku kehilangan adikku 15 tahun yg lalu, kemudian sehari setelahnya aku kehilangan papa"
"Dan mama mu?"
"Aku sudah kehilangan dia jauh sebelumnya" jawab Amar dengan hati yg tertekan, sakit dan perih. Seolah luka lama nya terbuka kembali.
.
.
.
Seperti remaja yg kasmaran, senyum selalu tersungging di bibir Amar, bahkan matanya pun seolah memancarkan cahaya setelah di selimuti kabut kegelapan sebelum nya.
“Makan malam nya enak, terima kasih Granny, kau memang yg terbaik” nenek nya tak senang mendengar pujian itu, ia khawatir dan bertanya tanya apa yg salah dengan cucu nya akhir akhir ini. Dan selama ini, Amar tak pernah sekalipun memuji nenek nya itu dalam hal apapun.
“Itu bukan masakan Granny, tapi masakan pelayan” jawab nenek nya sambil memicingkan matanya, menatap curiga pada cucu nya itu.
Amar meneguk air dari gelas nya dan berkata
“Ya, masakan pelayan ini enak juga”
“Setiap hari memang dia yg masak, baru sadar kamu?” tanya nenek nya.
Bukannya menjawab, Amar malah mendaratkan satu kecupan gemas di pipi keriput nenek nya.
“Selamat malam, Granny” ucapnya sebelum ia meninggalkan meja makan dan kembali ke kamarnya.
Bersamaan dengan itu, tiba tiba Bobby datang seolah ia memang menunggu Amar pergi.
“Granny, ada yg saya ingin bicarakan dengan dengan mu” bisik Bobby sambil melirik ke arah tangga, takut takut Tuan mudanya itu datang.
“Soal Amar?” Bobby segera mengangguk, kemudian Granny Amy pun segera menyelesaikan makan malam nya dan mengajak Bobby untuk bicara di kamar nya.
__ADS_1
.
.
.
“Bodoh sekali, kenapa engga kasih tahu dari dulu sih?” seru Granny seolah kesal namun matanya terlihat bahagia, saat ini ia sedang melihat foto foto kebersamaan Maryam dan Amar yg sengaja di ambil diam diam oleh Bobby untuk di tunjukan pada Granny Amy.
“Maaf, Granny. Saya engga punya kesempatan. Tapi jangan sampai tuan Amar tahu ya kalau saya nunjukin foto foto itu”
“Tenang saja, ini rahasia kita. Dia benar benar cantik, pantas saja Amar terpikat dengannya”
“Selain cantik, dia juga berasal dari keluarga yg sangat baik dan terhormat”
“Pasangan yg sempurna untuk cucuku, dia akan menjadi menantu dari keluarga Degazi, dia dan Amar akan mewarisi semua kekayaan keluarga Degazi, baik yg di Indonesia ataupun yg di Pakistan”
.
.
.
Setelah pulang dari kantornya, Maria pergi ke sebuah club bersama teman teman nya guna melepaskan rasa letihnya dan menghibur diri disana.
Ia lelah dengan pekerjaan dan kuliah nya, dan merasa begitu depresi dengan kelakuan ayahnya. Bahkan hari ini, ia mendapatkan satu pukulan lagi karena ayahnya mabuk dan tak bisa mengontrol diri.
Tak hanya minum alkohol, ia juga menari di lantai dansa, mini dress tanpa lengan dan panjang nya yg hanya menutupi setengah pahanya membuat ia menjadi sorotan pria pria pemuja nafsu disana.
“Hey, Baby…” sapa seorang pria kemudian memeluk nya dari belakangnya.
“Hey, Alex. Aku sudah merasa lelah. Aku akan pulang” ucap Maria sembari melepaskan tangan Alex yg melingkar di pinggang nya.
“Come on, Baby. Ini masih jam 10. Masih terlalu sore untuk pulang”
“Besok aku ada kuliah pagi, Lex”
“Engga usah, aku udah panggil taksi dari tadi” Maria mengambil tas nya, meneguk sisa minuman yg hanya sisa beberapa tetes di gelasnya kemudian ia pamit pergi.
“Take care, Baby” ucap Alex sembari mendekat hendak mencium Maria namun Maria segera menghindar.
“Thanks” ucap nya kemudian ia bergegas keluar dari tempat bising itu yg sebenarnya sangat tidak cocok untuk melepaskan letih dan mencari ketenangan.
Di tengah perjalanan, taksi yg ia tumpangi tiba tiba berhenti, membuat Maria mendesah kesal padahal ia ingin cepat sampai ke rumahnya dan merebahkan tubuhnya di kasur yg empuk.
“Ada apa, Pak” tanya Maria karena sang sopir lama sekali memeriksa nya.
“Ban nya bocor, coba keluar dulu, Mbak” teriak sang sopir, tanpa fikir panjang pun Maria segera keluar namun tiba tiba sebuah tangan membekap mulutnya, membuat Maria melotot terkejut dan berusaha memberontak.
Seorang pria mengambil tas nya dan memeriksa isi nya.
“Sial, boke dia. Cuma ada dua ratus ribu” seru pria itu.
“Ambil saja jam jam tangan nya, kayak nya mahal tuh” seru pria yg membekap mulut nya.
Sedangkan Maria yg berusaha memberontak tak ada gunanya karena kini sang sopir taksi malah mengunci tangan Maria di punggungnya membuat Maria tak bisa bergerak.
Maria merasa sangat takut, masih dengan mulut yg di bekap ia melirik ke kanan kiri, tempat itu benar benar sepi, membuat rasa takut Maria semakin menggebu. Dan ia juga tak ingin kehilangan jam tangan itu karena itu jam tangan milik ibu nya.
“Boss, bohai amat nih cewek. Sayang kalau di anggurin” ucap salah satu pria itu yg seketika membuat rasa takut Maria semakin menjadi. Dan ia sangat tidak menyangka ternyata sopir taksi itu adalah boss nya. Maria hanya bisa menangis saat pria itu mulai menyentuh lengan nya yg terbuka, ia mencoba memberontak namun malah mendapati tamparan keras di pipi nya.
“Tolong emphh“ teriak Maria namun seketika ia kembali di bekap.
“Diem dong, Neng. Kita kan cuma mau senang senang” Maria merasa jijik dan bahkan ia ingin muntah mendengar kata kata bajingan itu.
“Boleh lah cicipi dikit, kamu juga engga punya barang berharga yg bisa kita nikmati selain tubuh mu ini”
__ADS_1
“Wih, boss. Udah engga tahan” sambil menangis, Maria memikirkan cara bagaiamana ia bisa lolos dari tiga bajingan itu.
Berteriak tak bisa, melawan dengan tangan pun tak bisa, akhirnya Maria menendang perut orang yg membekap nya membuat orang itu seketika melepaskan tangan nya. Kemudian ia juga menendang selengkangan si sopir yg sejak tadi mememagang tangan nya dan mereka pun melepaskan Maria sambil meringis kesakitan, Maria mengambil kesempatan itu untuk lari, namun ketiga pria itu mengejarnya.
Maria terus berlari sekuat tenaga dan tiba tiba sebuah mobil datang hampir menabrak Maria yg sudah hampir kehabisan tenaga. Namun untunglah orang itu segera membanting setir sehingga kedua nya selamat.
“Sarfaraz…“ gumam Maria lemah sebelum akhirnya ia ambruk.
Faraz sendiri segera keluar dari mobil dan menghampiri Maria yg sudah terkulai tak berdaya.
“Ya Allah, Maria! Maria, ada apa dengan mu?” Faraz merengkuh tubuh Maria kemudian ia menepuk nepuk pipi Maria untuk menyadarkan gadis itu, namun Maria terlihat sangat lemah dan berantakan. Bahkan sudut bibirnya terlihat memar dan sedikit mengeluarkan darah, membuat Faraz takut dan khawatir dengan kondisi Maria.
Hingga Faraz mendengar suara langkah yg cepat menuju ke arahnya, ia menoleh dan mendapati tiga pria yg seketika langsung menghentikan langkah nya saat Faraz menatap mereka.
“Hey, siapa kalian?” teriak Faraz dan ketiga pria itu langsung berbalik dan berlari, Faraz sempat melihat salah satu dari mereka memegang tas Maria membuat Faraz langsung mengerti apa yg tengah terjadi.
Faraz segera membobong tubuh Maria masuk ke dalam mobil nya, ia mengambil sorban nya yg ada di kursi belakang dan menutupi seluruh tubuh Maria yg terbuka.
Setelah nya, ia segera membawa Maria kerumah sakit sambil terus berdoa semoga asisten nya itu baik baik saja.
.
.
.
Maria mengerjapkan matanya berkali kali guna menyesuaikan dengan cahaya di ruangan itu.
Ia memegang kepalanya yg terasa berdentum seperti di pukul sesuatu yg keras. Setelah ia berhasil membuka mata, Maria menyadari ia ada dirumah sakit. Saat berusaha duduk, Maria mengernyit karena ia memakai sebuah jas yg menutupi seluruh tubuh bagian atas nya dan ada sebuah kain yg melilit di pinggang nya sehingga menutupi bagian bawah tubuhnya hingga ke tumit.
"Kau sudah bangun, Nona?" ucap seorang suster yg baru saja memasuki ruangan nya.
"Kenapa aku di sini?" gumam Maria dan berusaha mengingat apa yg terjadi sebelum ia pingsan. "Sial" gumamnya saat ia berhasil mengingat semua nya. Sekarang ia tahu kenapa tubuhnya di bungkus atas bawah begitu, itu pasti ulah Faraz, fikir nya.
Baru saja ia memikirkan bos nya itu, dan dia sudah langsung muncul di hadapannya.
"Bagaiamana keadaan mu?" tanya Faraz sambil berjalan masuk.
"Merasa lebih baik, terima kasih sudah membantu ku, Pak" ucap nya tulus.
"Kamu di rampok, kan? Aku sudah melapor polisi. Dan mereka butuh keterangan dari mu jika kau siap"
Maria tiba tiba terdiam, matanya mulai berkaca kaca dan ia tampak masih trauma. Jika di rampok saja mungkin Maria tak akan trauma, tapi ia hampir di lecehkan.
"Maria..." Panggil Faraz lirih karena menyadari raut wajah Maria yg tampak masih trauma "Engga apa apa kalau kamu engga siap, mereka engga akan maksa kok. Aku akan mengantar mu pulang"
"Sebenarnya, Pak... Aku... Aku"
"Ada apa?" tanya Faraz dan segera duduk di kursi yg ada di samping bangsal Maria.
"M... Mereka bukan hanya merampok. Tapi...tapi mereka hampir melecehkan..." Maria tak bisa melanjutkan kata katanya, suara nya tercekat di tenggorokannya dan air mata pun tak bisa lagi ia bendung.
Dan seandainya Maria tak menunduk, ia akan melihat ekspresi Faraz yg sangat mengerikan mendengar penuturan Maria, ia menggeram marah, matanya pun menyiratkan seolah ia terluka dan ia mengepalkan tangan nya kuat kuat.
"Kamu masih ingat wajah mereka?" tanya Sarfaraz dengan suara bertanya. Maria hanya bisa mengangguk pelan.
Faraz meminta kertas dan pensil pada suster yg masih ada di sana "Ceritakan ciri ciri mereka!" perintahnya.
"Kenapa?" tanya Maria dengan suara serak karena ia akhirnya menangis.
"Akan ku buat mereka membayar semua nya" jawab Faraz tegas "Sekarang katakan pada ku seperti apa wajah mereka" Maria pun mengangguk dan mulai mengingat kembali wajah tiga bajingan itu.
Yg pertama kali ia ceritakan adalah si sopir karena ia yg paling di ingat oleh Maria. Sementara Faraz mulai membuat sketsa wajah bajingan bajingan itu dan bersiap untuk memasukan mereka ke dalam penjara dengan tuduhan penipuan, perampokan dan pelecehan.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...