Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 99


__ADS_3

Saat Faraz sedang sibuk melakukan pekerjaan nya, ponsel nya berdering, Faraz langsung menghentikan pekerjaan nya dan sangat berharap itu Afsana, karena Afsana tidak pernah menghubungi nya sejak ia kembali, membuat Faraz sangat khawatir dan juga sangat merindukan nya.


Benar saja, istri tercinta nya itu yg menelepon nya.


"Assalamualaikum, Kak" suara lembut istri nya itu membuat Faraz tersenyum lega.


"Waalaikum, Sayang. Gimana keadaan mu? Kakak kefikiran karena kamu engga menghubungi kakak sama sekali"


"Ana baik, maaf ya, disini Ana harus mengejar pelajaran yg ketinggalan"


"Engga apa apa, kaki mu gimana?"


"Sudah lebih baik, minggu depan mau check lagi. Sudah dapat surat izin, pengurus asrama yg akan nemenin ke Dokter"


"Alhamdulillah kalau gitu. Oh ya, besok kakak transfer uang nya ya, sudah waktu nya kan?"


"Engga usah, Abi udah transfer kemaren. Hehe"


"Kamu minta sama Abi Hubab?"


"Engga sama sekali, cuma katanya Abi pengen ngasih aja. Kakak engga marah kan?"


Faraz tertawa kecil mendengar pertanyaan Afsana itu, dia sama sekali tidak marah, hanya saja sekarang Afsana adalah istri nya dan semua kebutuhan Afsana termasuk biaya pendidikannya sudah menjadi kewajiban Faraz, Faraz sudah memberi tahu Afsana hal itu dan juga pada ayah mertua nya.


"Engga kok. Lagian uang Abi Hubab kalau bukan buat kamu ya buat siapa lagi" ujar Faraz sambil terkekeh dan terdengar suara Afsana yg juga tertawa disana.


"Oh ya, kakak sampai lupa mau ngasih tahu kamu, Dek. Maryam hamil"


"Oh ya? Beneran?"


"Iya, Alhamdulillah. Kami semua sudah mengadakan syukuran"


"Alhamdulillah, Ana ikut senang, Kak. Semoga Allah menjaga Marry dan janin nya"


"Aamiin... Kalau kamu?"


"Ana belum hamil, Kak. Ini aja lagi datang bulan"

__ADS_1


"Syukurlah" ucap Faraz tanpa sengaja.


"Loh, kok syukurlah? Kakak engga mau Ana hamil?" Faraz hanya bisa meringis mendengar pekikan Ana dari seberang telpon.


"Bukan begitu, Sayang. Tentu kakak mau banget kamu hamil, tapi masalahnya kamu kan lagi jauh dari kakak, kamu juga harus sekolah. Dan kakak liat, orang hamil itu harus di jaga dan banyak mau nya yg aneh aneh. Amar aja di buat repot sama Maryam"


Faraz berbicara panjang lebar dan berharap Afsana tidak tersinggung dengan ucapan nya. Tentu ia juga menginginkan seorang anak, tapi mengingat Afsana yg ada di pesantren dan sendirian, Faraz berharap tidak sekarang.


"Hmm iya sih, apa lagi pas hamil muda" terdengar suara istrinya itu yg sepertinya menggumam "Kak, waktu Ana sudah habis, kakak jaga diri ya, salam buat Marry"


"Iya, Sayang. Nanti kakak kasih tahu Maryam kamu juga jaga diri ya"


"Iya, Assalamualaikum, Kak Faraz"


"Waalaikum salam, Afsana. Ana haqqan uhibbuki ya Zawjati"


"I love you more, my husband" jawab Afsana sambil tertawa kecil, Faraz pun ikut tertawa. Dia mengungkapkan cinta dalam bahasa apa, Afsana menjawab nya dalam bahasa apa fikir nya.


"Ya udah, Ana tutup telpon nya"


"Iya, Sayang" jawab Faraz dan sambungan telpon pun terputus.


"Engga apa apa, aku maklum kok. Nama nya juga lagi telponan sama istri, bukan adik lagi" tutur Rian yg membuat Faraz hanya mengulum senyum samar. kemudian Rian duduk di kursi dan menyerahkan sebuah file pada Faraz.


"Kita punya proyek baru, karena proyek nya Amar sudah selesai"


"Nanti aku pelajari" ucap Faraz.


.


.


.


Sementara itu, Maryam sedang menyiapkan baju Amar, karena katanya Amar ada kunjungan bisnis ke luar kota selama tiga hari. Walaupun bukan pertama kali nya Maryam di tinggal pergi, namun ini pertama kalinya Maryam merasa tak suka jika Amar pergi meninggalkan nya. Dulu Amar selalu mengajak Maryam ikut, tapi Maryam menolak karena ia masih kuliah dan juga ingin menemani nenek nya. Karena itulah Amar tak pernah lagi mengajak Maryam ikut, nama Amar selalu mengatakan jika Maryam ingin ikut, tinggal bilang saja pada Amar.


"Hey, kenapa?" tanya Amar yg melihat Maryam seperti sangat kesal. Amar baru saja keluar dari kamar mandi dan ia hanya mengenakan handuk yg menutupi setengah tubuhnya.

__ADS_1


"Ketemu perempuan disana?" tanya Maryam tiba tiba yg membuat Amar langsung tercengang namun kemudian tertawa. Ini pertama kalinya Maryam menanyakan hal seperti itu.


"Hem sebenernya iya, ada perempuan nya juga" jawab Amar dengan suara lirih. Dan tiba tiba saja mata Maryam langsung berkaca kaca, hidung nya sudah kembang kempis. Amar yg melihat itu bukan nya khawatir tapi malah tertawa kecil.


"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Amar menggoda.


"Engga" tegas Maryam namun matanya memberi tahu yg sebalik nya.


"Terus? Takut aku selingkuh?"


"Engga" jawab Maryam lagi dengan ketus. Lagi lagi Amar hanya tertawa.


Mungkin, setiap istri akan khawatir jika suami nya pergi jauh untuk bisnis, dan Amar mengerti itu, mereka takut suaminya selingkuh dan itu bukan hal tabu lagi di lingkungan Amar, rekan kerja Amar pun banyak yg selingkuh, terkadang pergi berlibur dengan selingkuhan dan ia jadikan alasan perjalanan bisnis.


Namun tidak dengan Amar, ia sendiri merasa tak suka ketika memiliki perjalanan bisnis yg jauh karena ia tak mau jauh jauh dari istri nya, ia ingin membawa Maryam tapi Maryam menolak. Dan soal selingkuh, Amar bahkan benci kata itu apa lagi melakukan nya. Ia juga tak mungkin berselingkuh dari Maryam yg sudah sangat percaya pada nya dan menerima Amar dengan segala kekurangan nya.


"Ikut ya, sekalian jalan jalan" bujuk Amar sembari memeluk Maryam dari belakang, ia mengaitkan dagunya di pundak Maryam dan mencium pipi istri nya yg semakin hari semakin berisi. Nafsu makan Maryam pun meningkat walaupun terkadang ia masih sering mual dan masih pilih pilih makanan.


"Tapi kasian Granny sendirian"


"Dari dulu dia memang sendirian, kami sering bepergian, bahkan kadang Granny pergi ke pakistan selama berbulan bulan, dan aku yg di tinggal sendirian, cuma sejak ada kamu kami engga pernah sendirian sekalipun salah satu dari kami harus pergi"


Maryam tampak memikirkan tawaran Amar itu, namun kemudian ia mengangguk. Dari pada ia dirumah dan berfikir yg macam macam tentang Amar, padahal ia yakin Amar tidak akan mengkhianatinya. Tapi seperti nya, kehamilan nya ini membuat nya menjadi wanita yg sangat sensitif. Amar sangat senang karena Maryam mau ikut. Ia langsung mengucapkan terima kasih dan mengecup pipi Maryam berkali kali, membuat Maryam terkikik.


"Mulai sekarang kamu ikut ya kalau aku ada perjalanan bisnis, jujur aku juga engga suka pergi dan ninggalin kamu, ya? Kita bisa jalan jalan, kamu juga bisa belajar berbisnis dan membantu aku mengurus perusahaan. Gimana?"


"Iya" jawab Maryam dengan senyum lebar nya.


"Ya udah, kamu mandi, sebentar lagi kita harus pergi"


"Sebelum kita pergi, apa boleh kita mampir dulu kerumah Abi, aku pengen kasih tahu kalau ke Abi sama Ummi kalau aku ikut kamu, biar mereka engga khawatir aja"


"Boleh, Sayang" jawab Amar. Maryam pun mengecup pipi Amar sebagai ucapan terima kasih karena Amar selalu menuruti kemauannya, setelah itu ia segera pergi ke kamar mandi.


Amar sendiri hanya bisa tersenyum samar, Maryam sangat beruntung karena memiliki kedua orang tua yg sangat peduli, dan Amar bersyukur karena kedua orang tua Maryam juga peduli padanya seperti pada putra mereka sendiri. Amar mendapatkan kasih Sayang seorang ayah dan ibu yg selama ini tak pernah Amar dapatkan. Maryam membuat hidup nya sempurna.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2