Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 78


__ADS_3

Seiring berjalan nya waktu, tentu dengan dukungan dari Faraz dan keluarga nya, terutama Asma, membuat Maria menjadi lebih baik. Walaupun dia masih sering murung, melamun dan masih tampak depresi dengan keadaan nya. Apa lagi Maria yg heran, bagaiamana mungkin janinnya masih hidup setelah semua yg terjadi?


Namun Asma meyakinkan, apa yg terjadi tak bisa lagi di ubah, sekarang yg bisa di lakukan hanyalah memperbaiki segala nya.


Asma juga menegaskan pada Maria, jangan menutupi dosa dengan dosa, karena itu akan semakin menghancurkan hidup nya.


Maria hanya bisa menangis sesegukan mendengarkan nasehat Asma. Ia merasa apa yg di alami nya terlalu berat, seolah cobaan hidup nya tak pernah selesai. Bahkan kini ia juga kehilangan ayah nya, namun Asma mengatakan butuh api yg sangat panas untuk mendapatkan emas yg murni. Asma meyakinkan bahwa suatu hari nanti, Maria akan mendapatkan suatu hal yg besar asal ia sabar dan ikhlas.


"Menyesali kesalahan itu harus, itu terpuruk dalam sebuah penyesalan itu engga boleh, Maria. Setiap orang akan selalu punya kesempatan kedua"


"Tapi masa depan ku sudah hancur" lirih Maria, "Aku masih punya banyak mimpi dan harapan"


"Belum" jawab Asma sembari mengusap kepala Maria dengan sayang "Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki masa depan. Jangan khawatir, semuanya akan baik baik saja" tutur Asma sembari memeluk Maria.


Afsana dan Maryam juga datang menjenguk Maria. Afsana melemparkan senyum pada Maria, tapi Maria malah menangis.


"Bagaiamana keadaan mu, Maria?" tanya Afsana dan Maria hanya bisa melambaikan tangan nya pada Afsana, meminta Afsana mendekat dan ketika Afsana mendekat, tiba tiba ia langsung memeluk Afsana dengan erat dan menangis sejadi jadi nya.


Tentu membuat semua orang bingung. Apa lagi dengan Faraz yg juga baru tiba, dia juga bingung melihat Maria yg memeluk erat Afsana sembari menangis.


"Jangan lakukan itu, Afsana" lirih Maria yg membuat Afsana bingung.


"Apa?" tanya Afsana sembari mencoba melepaskan pelukan nya namun Maria tetap memeluk nya.


"Berapa kali kita bertemu?" tanya Maria masih di tengah isak tangis nya. Afsana mengerutkan kening nya mendengar pertanyaan Maria.


"Beberapa kali" jawab Afsana.


"Dan kamu mau melakukan pengorbanan besar untuk hidup ku sementara aku tak ingin hidup?"

__ADS_1


Afsana hanya bisa menganga mendengar pernyataan itu. Begitu juga yg lain, karena mereka tak ada yg membicarakan apapun pada Maria selain memotivasi nya untuk tetap hidup, menebus kesalahan nya.


"Apa maksud mu?" tanya Afsana dengan suara yg bergetar.


"Aku tahu, kalian ingin Faraz mengambil tanggung jawab terhadap hidup ku" ucap Maria dan itu membuat semuanya semakin kaget.


"Hira sudah menceritakan semua nya, kenapa kamu lakukan itu pada ku, Afsana?"


Afsana melirik Faraz dan berkata "Aku melihat kamu sangat membutuhkan nya, aku peduli, kamu sudah menemukan jati dirimu, aku cuma engga mau kamu menyerah dan...dan meninggal dengan cara seperti ini, masih ada kesempatan untuk kamu hidup"


"Apa segitu peduli nya kamu sama aku? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Bukankah kalian saling mencintai?"


"Perasaan bisa saja berubah, Maria. Dan kehidupan mu dan juga bayi mu itu jauh lebih penting"


"Tapi aku paling benci di kasihani"


Maria kembali menangis dan menggeleng "Terima kasih banyak, tapi jangan membuat ku malu, Afsana. Kalian sudah memberikan terlalu banyak untukku"


Afsana menghapus air mata Maria "Kami akan membantu mu, Maria. Jika kau tak ingin bayi ini dan tak mau menikah dengan Kak Faraz, tidak apa apa, aku...aku akan merawat bayi ini saat lahir nanti, jadi kamu masih bisa mengejar impian mu, menyelesaikan kuliah mu"


Maria semakin terisak, dia memang sangat tidak menginginkan bayi itu, dia membenci nya. Bayi itu adalah lambang kegelapan dari masa lalu nya, keberadaan bayi itu akan menghancurkan masa depan nya yg masih sangat panjang.


"Bayi ini tidak akan mengaggu hidup mu nanti"


"Kenapa kamu mau melakukan itu, Afsana? Aku sendiri sangat membenci nya"


"Bayi itu engga salah, dan aku engga mau kamu bunuh diri lagi, itu dosa besar, Maria. Aku faham perasaan mu dan ketakutan mu, karena itulah aku, aku ingin Kak Faraz menjadi pendamping mu, karena kamu mencintainya kan?"


"Dan dia mencintai mu" Maria berkata sambil tersenyum masam "Aku sudah banyak berbuat dosa, jika aku mengambil nya dari mu, maka dosa ku juga makin besar. Aku juga engga ngerti, bahkan Tante Zahra masih peduli sama aku. Dan itu lebih dari cukup untukku, aku janji, aku engga akan bunuh diri lagi, dan akan mencoba menerima semua ini" Afsana langsung tersenyum senang mendengar penuturan Maria.

__ADS_1


"Kami akan membantu mu melewati semua ini" ucap Afsana kembali memeluk Maria.


Benar, Hira memang memberi tahu apa saja yg terjadi selama Maria koma, bahkan juga kematian Robert. Maria sangat terpukul, dan ia sendiri tak tahu kenapa dia masih hidup, Maria benar benar ingin mati tapi dia masih hidup.


Kemudian Hira juga memberi tahu, bahwa Faraz berniat menikahi Maria saat Maria sadar nanti, Faraz lakukan itu supaya Maria ada tempat untuk bersandar, tak merasa sendirian lagi dan yg pasti tidak akan bunuh diri lagi. Tapi tentu mereka akan meminta persetujuan dari Maria dulu, awalnya Maria tentu saja mau karena dia memang sangat mencintai Faraz, apa lagi keluarga Faraz yg selalu merawat nya dirumah sakit, membuat Maria merasa Faraz mungkin juga mencintainya dan keluarga nya menerima dia apa ada nya.


Tapi Hira justru mengatakan bahwa sebenarnya ada Afsana, calon istri Faraz. Tentu saja itu membuat Maria semakin depresi dan sedih. Seolah takdir benar benar mencincang nya dengan semua kesedihan yg harus dia tanggung.


Hira mengatakan semua itu pada Maria, karena dia mengenal Maria dengan sangat baik, Maria takkan pernah mau di kasihani, sejak kecil Maria selalu menghadapi semuanya sendirian dan sebagai sahabat, Hira mau sahabatnya mendapatkan kebahagiaan dan ia yakin Faraz dan keluarga nya pasti bisa membahagiakan nya. Tapi Hira tahu hati Faraz bukan untuk Maria.


Saat mendengar semua itu, Maria tak tahu harus bereaksi seperti apa, dia marah dan kesal karena ia harus di kasihani orang lain. Tapi kemudian ia teringat bagaimana Asma merawatnya, bagaimana Maryam menemani nya, dan bahkan Faraz membiayai semua pengobatan nya. Membuat Maria merasa malu karena sudah sangat merepotkan.


Dan belum lagi Afsana yg malah ingin melepaskan Faraz untuk diri nya.


Dari sini, Maria sadar dan merasakan sendiri bahwa Tuhan memang ada dan Tuhan memang penuh kasih.


Ketika ia berada di titik terendah hidup nya, ketika ia benar benar sendirian dan tak memiliki siapapun. Ternyata masih ada orang orang yg mau mengulurkan tangan pada nya, bahkan orang yg tak ada ikatan apapun dengan nya.


Masih ada orang yg menarik nya dari sebuah kegelapan bahkan mengorbankan perasaan nya sendiri demi sebuah kehidupan yg lebih baik untuk Maria.


Dulu Maria tak percaya ada nya Tuhan, dan ia selalu merasa sendirian dan tak merasakan kasih Nya.


Tapi ketika Maria mengakui keberadaan nya, Maria dapat meraskan kasih Nya, sekalipun pun ia terendam di lumpur dosa.


Dan benar kata Faraz, semua yg terjadi akan ada hikmah nya. Seandainya Afsana tak memberi tahu keadaan Maria pada keluarga nya, tentu Asma takkan tahu keadaan Maria dan takkan merawat Maria, dan tentu Maria akan selalu merasa sendirian. Tapi keberadaan mereka membuat Maria sadar, ia tak pernah sendirian, baik dulu, sekarang, maupun nanti. Seperti kata Faraz, mungkin dia tak percaya Tuhan karena derita yg dia alami, tapi Tuhan tahu Maria bisa melewati derita nya.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2