
Faraz dan Maryam menjemput Maria kerumah sakit karena Dokter mengatakan Maria sudah boleh pulang. Tadi nya Faraz mau membawa Maria ke pesantren agar tinggal bersama nenek nya, tapi Maria menolak dan mengatakan ia akan tinggal dirumah nya sendiri, Maria juga meyakinkan bahwa ia bisa menjaga diri. Walaupun awalnya Faraz dan Maryam sangat khawatir, namun Maria bersikukuh bahwa ia akan baik baik saja.
Maria masih tak mengatakan apapun pada mereka, bahwa Maria yg sedang mencari pembeli untuk rumah nya dan ia akan segera pergi ke Amerika lagi. Maria tak ingin merepotkan mereka lagi dan lagi.
Sesampainya dirumah nya, Maryam membawa Maria masuk.
"Kak, Maryam nemenin Maria dulu ya disini, kakak pulang aja. Nanti biar Rika jemput Maryam"
"Iya, mau kakak belikan makanan?" tanya Faraz.
"Engga usah, biar Rika aja nanti"
Faraz mengangguk dan kemudian ia pergi, sementara Maryam mengantarkan Maria ke kamarnya.
"Makasih banyak udah bantuin aku, Maryam" ucap Maria saat Maryam membantu nya membaringkan ia di ranjang nya.
"Maria, jujur saja aku khawatir kamu sendirian disini"
"Aku bisa jaga diri kok"
"Aku tahu, tapi masalah nya kamu lagi sakit. Maria, aku bisa membantu mu, dan ku mohon jangan menolakku"
"Engga Maryam, sudah banyak kalian membantu ku"
"Ini demi kebaikan mu, ku mohon, ya?"
"Memanynya apa?"
"Aku bisa meminta salah satu pelayan rumah ku supaya menjaga mu disini"
"Tapi Maryam..."
"Hanya sampai kamu sembuh, kami benar benar meng khawatirkan mu"
Maria menggeleng karena ia benar benar sudah banyak di bantu, namun Maryam terus memaksa nya hingga Maria menyerah dan mengangguk setuju.
Maryam sangat senang, ia segera keluar dari kamar Maryam dan menghubungi Granny Amy, sebelum nya ia sudah meminta izin pada Granny Amy dan Amar supaya salah satu pelayan mereka bisa membantu Maria. Dan syukurlah mereka tak keberatan sama sekali.
Maryam juga meminta Rika menjemput nya sekalian membawa Siti, wanita paruh baya yg akan merawat Maria, biasa nya Siti memasak bersama Nur di rumah nya, Siti serba bisa, karena itulah Maryam memilihnya untuk membantu Maria.
"Maaf dan terima kasih, Maryam. Aku engga tahu apa yg harus ku lakukan untuk membalas kebaikan kalian semua" ucap Maria.
"Jangan fikirkan itu, Maria. Kami semua peduli, dan sudah kewajiban kita saling membantu"
Maria tanpa sengaja menangis, Oh Tuhan, kenapa baru kali ini ia bertemu orang orang seperti Maryam dan keluarga nya. Yg telah membuka mata hati nya akan kebenaran Tuhan, yg telah mengajarkan nya arti hidup.
"Sudah, jangan menangis" Maryam menghapus air mata Maryam dan terdengar suara mobil di luar "Itu pasti Rika, aku turun dulu" tutur nya.
Kemudian Maryam turun dan membukakan pintu, benar saja, Rika Gina dan juga Siti sudah datang.
"Tunggu sebentar ya, Rika, Gina. Aku anterin Bi Siti masuk dulu"
__ADS_1
"Iya, Non. Engga apa apa" jawab Rika.
Maryam pun membawa Siti masuk untuk menemui Maria di kamar nya.
"Assalamualaikum, Non" ucap Bi Siti.
"Waalaikum salam" jawab Maria menyunggingkan senyum lemah nya.
"Maria, ini Bi Siti, dia serba bisa kok" tutur Maryam.
"Aku Maria, Bi. Makasih ya sudah mau membantu" ucap Maria.
"Sama sama, Non. Jadi kita cuma tinggal tinggal berdua nih?"
"Iya" jawab Maria.
Kemudian mereka mengobrol sebentar, sebelum akhirnya Maryam pamit pulang.
"Nanti kalau ada apa apa, langsung telpon Maryam ya, Bi" pinta Maryam saat Bi Siti mengantar nya ke depan.
"Iya, Non Maryam jangan khawatir" ucap Bi Siti meyakinkan.
"Ya udah, Maryam pulang dulu" pamit nya.
.
.
.
Afsana juga sudah memberi tahu kedua orang tuanya bahwa Faraz ingin menikahi Afsana sebelum Afsana kembali ke pesantren nya. Dan mereka sangat terkejut karena awal nya Faraz sendiri yg ingin menikahi Afsana setelah lulus, tapi mereka juga senang, benar kata Bilal, jika hubungan mereka di halalkan, maka itu lebih baik, mereka juga bisa tenang, selain itu Faraz juga bisa leluasa menjaga Afsana.
Dari pembicaraan mereka, mereka memutuskan untuk melakukan akad nya minggu depan saja, karena minggu ini Abi Khalil dan Ummi Mufar sedang berada di mekkah mengunjungi Shofia, minggu depan mereka baru akan pulang.
Afsana sendiri sangat tak menyangka, kini ia benar benar akan menjadi istri Kak Faraz nya. Ia hanya berharap bahwa ia dan Faraz ber jodoh, berharap cinta mereka adalah cinta sejati dan takkan ada yg bisa memisahkan mereka.
.
.
.
Sementara itu, Faraz dan Rian bertemu dengan Amar, tentu bukan sebagai saudara ipar, tapi sebagai rekan bisnis. Hotel Amar mulai di bangun, dan Faraz kembali menjelaskan bangunan seperti apa yg dia inginkan.
Setelah urusan mereka selesai, mereka mengunjungi sebuah restaurant karena ketiga nya yg merasa lapar.
Disanake, kembali seorang wanita menyapa Amar dan mereka tampak sudah saling mengenal.
Saat wanita itu menyapa Amar, Faraz langsung menatap tajam Amar bahkan seolah akan membunuh nya. Amar langsung tertawa geli.
"Kenapa kamu jadi seperti istri yg di bakar cemburu begitu, Kakak ipar?" goda nya.
__ADS_1
"Kalau sampai adikku menangis, kau habis di tangan ku" geram Faraz.
"Maksud nya?" tanya wanita itu heran.
"Bukan apa apa" jawab Amar santai yg membuat Faraz semakin marah.
"Jangan bermain di belakang adikku, Amar"tegas nya dan Amar masih enggan menanggapi.
Tak lama setelah itu, seorang pria datang dan langsung merangkul wanita itu.
"Amar, kebetulan kita bertemu disini" ucap pria itu.
"Ya, suatu kebetulan sekali. Ngomong ngomong, kenalin, ini kakak ipar ku" Amar memperkenalkan Faraz dan pria itu tertawa sambil mengulurkan tangan nya dan Faraz pun menyambut nya.
"Aku tahu, Sarfaraz Yusuf. Kami sangat terkejut mendengar berita kamu menikahi adik arsitek mu"
"Dan dia Rian, rekan bisnis Faraz" ucap Amar kemudian.
"Dan kakak ipar, ini rekan bisnis ku, dan mereka ini suami istri" seru Amar pada Faraz dengan menekan kata suami istri.
Amar sendiri masih kesal pada Faraz yg masih tak percaya ia telah berubah, namun Amar mengerti, seandainya ia ada di posisi Faraz, dia pasti akan memiliki pemikiran yg sama karena ia sangat mencintai adik perempuan nya. Dan terkadang, Amar juga merasa lucu karena Faraz benar benar berlebihan menaruh kecurigaan nya pada Amar.
"Kenapa kamu memanggil nya Kakak ipar? Kamu jauh lebih tua dari pada Faraz" seru teman nya itu.
"Mungkin Amar ingin merasa muda" jawab Faraz yg membuat mereka tertawa.
"Aku hanya bersikap sopan, meskipun Faraz lebih muda, tapi dia kakak dari istri ku" balas Amar.
"Benar juga, ngomong ngomong, dimana istri mu? Maaf kami engga bisa datang di pernikahan mu, saat itu kami sangat sibuk, waktu pesta ulang tahun perusahaan mu pun kamu juga masih sangat sibuk, kami baru saja pulang dari Jepang"
"Engga apa apa, lain kali kita bisa makan bersama, aku akan mengajak istri ku" seru Ama "Apa kalian mau makan siang bersama kami?" lanjut nya.
"Kami baru selesai, kami duluan" tutur mereka dan Amar mengangguk.
"Faraz, kenapa kamu sensi banget sih sama Amar?" tanya Rian setelah teman Amar pergi.
"Entahlah, Rian. Maryam aja engga kayak gitu" sambung Amar.
"Ya karena Maryam itu masih polos. Aku cuma mau jagain dia"
"Oh God, Faraz. Aku tuh mencintai istri ku, jadi aku engga mungkin nyakiti dia apa lagi bermain di belakang dia. Okey?"
Amar menjawab dan berusaha meyakinkan Faraz.
"Ya aku takut aja, perempuan itu sangat sensitif, Amar. Melihat pria nya dekat wanita lain itu sudah membuat mereka cemburu"
"Aku tahu, jangan khawatir. Aku akan menjaga diri ku untuk Maryam"
Faraz mengulum senyum samar mendengar jawaban Amar yg terdengar sangat tulus. Ia hanya terlalu meng khawatir kan adik nya.
Namun jauh dalam hati nya, sebenarnya ia percaya pada Amar. Amar sudah membuktikan itu berkali kali.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...