
Sesampai nya dirumah, Amar bertengkar dengan nenek nya karena apa yg sudah di ungkit nenek nya itu didepan keluarga Maryam.
Sementara Granny Amy mengatakan ia memang harus jujur, karena cepat atau lambat, keluarga Maryam akan tahu kalau ibu Amar masih hidup. Dan mereka pasti akan mempertanyakan hal itu dan mungkin akan mengatakan bahwa Amar telah membohongi mereka. Granny Amy mengatakan sebaiknya ia tak merahasiakan apapun dari Maryam dan keluarga nya.
Namun Amar tetep tak setuju, bahkan Amar meninggalkan keluarga Maryam saat pembicaraan mereka belum selesai.
Karena segala hal tentang ibunya sungguh tak bisa Amar terima.
Sementara dirumah Maryam, Asma dan Bilal masih tak mengerti apa yg terjadi, semuanya terlihat sangat kacau, apa lagi Amar yg tiba tiba pergi tanpa sopan santun sedikitpun sementara mereka telah menyambut kedatangan Amar dengan baik.
"Faraz benar, Bi. Jangan anggap ini serius, dan Maryam engga boleh menemui nya lagi" seru Asma yg saat ini sudah berada di kamar nya bersama suami nya.
"Tapi kita engga boleh menghakimi orang begitu saja, Zahra"
"Kita sama sekali engga menghakimi pemuda itu, dia sendiri seperti orang yg tak beradab, tiba tiba datang tiba tiba pergi, hanya menbawa kekacauan" Asma berkata dengan kesal "Lagi pula, engga ada yg lebih buruk dari pada seorang anak yg menganggap ibunya sudah mati padahal masih hidup"
"Mungkin mereka punya masalah, Sayang" Bilal berusaha menanggapi dengan santai.
"Masalah apa yg sampai harus menganggap ibu yg sudah melahirkan nya mati? Apa dia tahu bagaiamana perjuangan seorang ibu demi anak anak nya" lanjut Asma yg tak habis fikir dengan Amar.
"Sudah, jangan terus memikirkan hal itu, sebaiknya sekarang kita istirahat"
Sementara di kamarnya, Maryam tak bisa tidur, sebenernya tadi dia dan Afsana menguping pembicaraan mereka di ruang tamu.
"Kejadian yg sangat tragis terjadi pada anak berusia 13 tahun, bisa kau bayangkan berada di posisi nya, Maryam? Awalnya semuanya baik baik saja, mereka keluarga yg sangat bahagia dan sempurna, namun pengkhiatan seorang ibu sungguh tak bisa di terima, apa lagi pengkhiatan itu sungguh menjijikan dan mengerikan, di tambah kematian Amora, dan juga kematian ayahnya yg memang di sebabkan oleh ibunya Amar dan itu semua terjadi di depan mata Amar, itu benar benar menghancurkan jiwa Amar, dan dia sangat membenci ibunya, bahkan selama 15 tahun ini, tak pernah sekalipun kami nengungkit apapun tentang ibunya. Dia tak punya siapapun sebagai tempat untuk bersandar, dia fikir dia harus kuat dan menahan semuanya sendiri, dan saat ia butuh pelampiasan, maka dia akan melukai dirinya sendiri"
Maryam pergi ke kamar mandi, ia mencipratkan air ke wajah nya, ia menatap pantulan dirinya di cermin dan mengingat kembali cerita Granny Amy.
Granny Amy telah memberi tahu Maryam masa lalu Amar saat pertama kali mereka bertemu di restaurant, itulah yg membuat Maryam mau menerima Amar, berteman dekat nya. Namun jika sampai sejauh ini, Maryam sama sekali tak menyangka.
Maryam sendiri bisa mengerti kenapa Amar sangat membenci sosok benci nya, tapi Maryam menyayangkan Amar yg meninggalkan kedua orang tuanya di tengah obrolan mereka yg masih sangat menggantung.
Maryam tak punya perasaan pada Amar selain rasa simpati. Namun dengan Amar yg memberanikan diri datang menemui orang tua nya, mengakui ke kurangan nya, itu sungguh menyentuh hati Maryam.
Dan sekarang, ia sangat meng khawatirkan Keadaan Amar. Bagaiamana jika dia frustasi dan kembali melukai dirinya sendiri?
Maryam segera kembali ke kamar nya, mengambil ponsel nya dan mengirim pesan pada Amar.
Me
"Apa kau baik baik saja?"
Maryam sudah mengirim pesan itu, ia tak sabar menunggu jawabannya, setelah beberapa menit tak kunjung ada balasan, Maryam hendak mengirimkan pesan lagi, namun ternyata pesan sebelum nya sudah di baca namun seperti nya dengan sengaja Amar tak membalas nya.
Maryam pun membiarkan nya saja dan ia segera naik ke atas ranjang nya.
"Semoga besok semua nya kembali normal"
Maryam pergi ke kampus seperti biasa, walaupun perasaan nya sungguh kacau apa lagi Amar yy belum juga membalas pesan nya. Maryam sendiri tak tahu kenapa ia begitu cemas.
Setelah turun dari mobil nya, Maryam segera bergegas ke kelas nya namun ia di kejutakn dengan beberapa orang yg mendatangi nya dan menanyakan perihal hubungan nya dengan Amar Degazi.
Maryam hanya bisa berusaha menghindar namun orang orang itu terus mengejarnya, hingga datang lah Maria yg segera menarik Maryam dan membawa nya ke toilet wanita.
"Astaghfirullah, apa mereka sudah gila" gumam Maryam kesal.
"Mereka bukan gila, tapi hubungan mu dan klien kakak mu itu adalah gosip hangat saat ini"
"Itu hanya kesalah fahaman" jawab Maryam seperti saran kakak nya.
"Media mana mau tahu apakah itu kesalah fahaman atau bukan, yg mereka inginkan sekarang adalah pernyataan dari mu" tutur Maria.
"Jadi sekarang apa yg harus aku lakukan?"
"Sebaiknya kamu pulang, karena selain wartawan, mahasiswa kampus juga sedang membicarakan mu"
"Hidup ku berubah jadi seperti selebriti sekarang" gumam Maryam pelan dengan wajah yg tampak murung membuat Maria tertawa.
"Sebenarnya kamu itu beruntung, owner Degazi Corp ingin menikahi mu, kenapa kamu malah tampak murung"
"Sudah ku bilang itu hanya salah faham, kalau gitu bantu aku keluar dari sini, aku mau pulang aja"
"Okey" jawab Maria "Kita lewat pintu belakang, apa sopir mu masih di depan?"
"Pasti sudah pulang, biasanya dia cuma nganter dan jemput"jawab Maria masih wajah murung nya.
"Ya udah, aku panggilkan taksi untuk mu" ujar Maria.
Setelah memanggil taksi, Maria pun segera mengantar Maryam keluar lewat pintu belakang.
__ADS_1
Namun belum sempat mencapai taksi nya, wartawan sudah menyadari keberadaan Maryam, Maria pun dengan cepat menarik Maryam lari dan mereka segera masuk taksi dan menyuruh sopir nya tancap gas.
"Haduh" seru Maryam sambil memegang dadanya yg deg deg an karena panik, bahkan nafas nya pun kini tersengal. Dan hal itu kembali membuat Maria tertawa.
"Ini pertama kalinya kamu menghadapi situasi yg genting ya?" tanya nya sambil masih cekikikan.
"Iya, sebelum nya hidup ku aman dan damai"
"Tapi kenapa bisa ada pemberitaan seperti itu? Emang kamu pacaran sama Amar?"
"Astaghfirullah, Maria. Engga lah, cerita nya singkat sih tapi kayaknya bakal jadi masalah yg panjang"
Maryam pun menceritakan bagaiman gosip itu bermula, dan Maryam juga mengatakan bahwa Amar adalah teman laki laki pertamanya, membuat Maria menyadari bahwa kakak dan adik nya sama, sama sama menjaga jarak dari orang yg katanya bukan muhrim.
Di sepanjang perjalanan pulang, tanpa sadar Maria dan Maryam bertukar cerita, seolah mereka teman lama dan keduanya pun tampak dekat. Maryam pun menyadari bahwa sebenarnya Maria pribadi yg menyenangkan, Maria juga bercerita pertemuan pertama nya dengan Faraz yg ternyata penyebab nya adalah Maryam tanpa Maryam sadari, membuat gadis yg memiliki nama sangat mirip itu tertawa.
Sesampai nya dirumah, Maryam mengajak Maria masuk dan setelah menekan bel, Maryam sedikit terkejut karena ibunya yg membuka pintu.
"Assalamualaikum, Ummi" sapa Maryam dan mencium tangan ibunya, dan sekali Maria mengikuti apa yg Maryam lakukan bahkan ia mengucapkan salam. Membuat Asma merasa aneh pada gadis didepan nya ini.
"Waalaikum salam, Maryam. Kenapa kamu sudah pulang?"
"Di kampus ada wartawan, Ummi. Jadi Maryam kabur aja. Ummi sendiri kenapa engga ke restaurant"
"Di restaurant juga ada wartawan cariin kita" ujar ibunya itu tampak kesal "Males jadinya Ummi kesana"
Asma pun membawa masuk kedua gadis itu.
"Kayaknya engga semudah itu untuk menghindar seperti saran Kak Faz" ujar Maryam.
"Entahlah, Nak. Oh ya, kalau kamu engga ada kerjaan dirumah, kita ke pesantren aja ya, disana pasti banyak hal yg bisa kita lakukan"
"Apa aku boleh ikut?" tanya Maria membuat Asma dan Maryam saling pandang, namun kemudian keduanya tersenyum dan mengangguk.
"Tapi kalau kamu engga keberatan, sebaiknya pakek pakaian yg tertutup, soalnya engga sopan kalau masuk lingkungan pesantren dengan pakaian seperti itu" Maryam berkata ragu ragu, karena memang Maria hanya mengenakan jeans ketat, kaos dengan kerah V yg tentu memperlihatkan dada nya.
Dan sekali lagi Maria menyadari, bahwa bukan hanya karena Faraz seorang lelaki meminta Maria mengenakan pakaian tertutup, Maria berfikir mungkin itu memang aturan agamanya.
"Ya, kalau boleh pinjemin aku baju mu lagi" ucap Maria sambil tersenyum tipis.
Asma tampak senang melihat Maria, dan seperti nya yg di katakan Faraz memang benar, Maria tersesat dalam kegelapan karena memang tak ada yg menuntun nya.
Di pesantren, Maria yg sudah berpakaian seperti Maryam lengkap dengan hijab nya ternyata merasa nyaman, tidak panas seperti yg ia bayangkan, bahkan ia merasa seperti terlindungi karena seluruh tubuhnya tertutupi.
Disana Maria memperhatikan bangunan besar dengan ruang ruang yg terpisah, ada banyak gadis gadis muda muslimah yg ketika ia pandang ia merasa senang, gadis gadis itu tampak sangat manis dan cantik. Ia juga memperhatikan bagaimana murid dan guru nya berinteraksi, tampak sangat menyenangkan.
Maryam membawa Maria ke kediaman nenek nya dan memperkanalkan Maria.
"Cantik sekali" puji Ummi Mufar pada teman baru cucunya itu "Apa kamu kesini untuk membantu Maryam mengajar?" tanya Ummi Mufar yg masih tak tahu kalau Maria non muslim.
"Bukan, Nek" jawab Maryam cepat "Em sebenernya Maria ini non muslim"
"Oh ya?" Ummi Mufar bertanya tak percaya, apa lagi saat ia memandangi penampilan Maria yg sangat cantik dengan gamis syar'i nya "Tapi dia berpakaian syar'i"
"Itu pakaian Maryam, karena Maryam fikir di lingkungan pesantren harus berpakaian yg sopan"
"Ya sih, tapi kamu engga di paksa Maryam kan untuk berpakaian seperti ini?"
"Engga, kok. Tante"
"Kenapa panggil Tante? Panggil saja Nenek" Maria tersenyum senang dan tentu ia langsung mengangguk.
"Oh ya, aku mau ke temu Mbak Laila dulu, kamu tunggu in di sini ya sebentar" pinta Maryam dan pun hanya bisa mengangguk.
"Nenek juga harus pergi, jangan sungkan di sini, ya Nak" ujar Ummi Mufar dan kini Maria benar benar sendirian di ruang tamu itu.
Karena merasa bosan, ia pun mengambil sebuah buku yg ada di meja, buku itu berjudul Rabiah Al Adawiyah.
Maria membaca dengan sangat fokus bahkan ia sampai menunduk. Ia sangat terkesan dengan kisah wanita itu, dan di tengah fokus nya, ia terkejut karena tiba tiba seseorang mendaratkan tubuh nya di samping nya kemudian ia seseorang itu menyandarkan punggung nya di punggung Maria.
"Aduh, Nyil. Kakak capek banget"
Maria segera menoleh saat mendengar suara yg sudah ia hafal itu.
"Pak Faraz?" ia memanggil nya pelan bahkan setengah berbisik.
Sementara Faraz, ia langsung bangkit dan matanya melotot lebar melihat siapa yg ada di hadapannya.
"Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah" gumam Faraz sambil memegang dadanya. Antara percaya dan tidak melihat sosok Maria dan balutan busana Syar'i.
__ADS_1
"Kamu...?" Faraz memperhatikan Maria dari atas sampai bawah. Cantik sekali, batinnya berseru.
"Hehe, iya, Pak. Minjem baju Maryam, soalnya kata Maryam kalau kesini harus pakai baju kayak gini"
Faraz masih berusaha menghilangkan keterkejutannya karena ia fikir Maria adalah Maryam, karena itulah ia bersandar padanya, dan setelah sadar dia adalah Maria, harus Faraz akui, Maria tampak sangat cantik dalam balutan busana muslimah itu.
"Seandainya dia muslim, Masya Allah..." batin Faraz berkata mengagumi kecantikan Maria.
"Kakak?" Faraz langsung menoleh pada suara adiknya "Kakak engga kerja?" tanya Maryam sembari berjalan mendekati mereka.
"Tadi kakak masih ada urusan sama Kak Rayhan" jawab Faraz berusaha menstabilkan detak jantungnya "Kenapa Maria bisa ada di sini?" tanya nya, Maryam pun menjelaskan bagaimana Maria bisa ikut dengan nya, Maryam juga mengatakan ia harus bolos sekolah karena takut bertemu wartawan, ibu nya pun tak bisa pergi ke restaurant karena wartawan juga mencari nya.
"Sementara penyebab masalah ini hilang entah kemana" batin Maryam berkata karena Amar masih menghilang, Amar bahkan tidak meminta maaf atas tindakan tidak sopannya yg pulang begitu saja, membuat Maryam antara kesal dan khawatir.
Sementara itu, Amar masih berada di kamarnya, menegak alkohol untuk menghilangkan frustasi nya, neneknya kembali mengingat kan Amar pada wanita yg menjadi penyebab kematian adik dan ayah nya.
Dan hal itu, membuat jiwa rapuh Amar kembali di kuasai amarah dan kebencian.
Flashback
Setelah kematian Amora, Atif dan Amar sama sama merasa kehilangan hidup nya. Apa lagi kematian Amora kecil begitu tragis dan di saksikan langsung oleh Amar dan ayahnya. Tubuh Amora yg terbakar, tapi Amar dan ayahnya merasa jiwa mereka ikut terbakar hangus.
Begitu juga dengan Rossa, ibunya Amar. Wanita itu juga sangat terpukul dan tak percaya putri semata wayangnya telah tiada dan itu karena nya.
Rossa keluar dari rumah sakit untuk mendatangi suami dan putra nya, karena hanya mereka yg saat ini ia milik.
Rossa mendatangi Atif yg berada di rumah Granny Amy, ia mencari Atif dan menemukam Atif di kamar tempat anak anak nya menginap disana.
"Mas..." Rossa berjalan tertatih karena ia juga terluka parah, Atif yg melihat kedatangan Rossa tampak sangat marah, yg semula ia duduk di tengah ranjang sambil memeluk boneka putri nya, ia langsung berdiri, melangkah lebar menghampiri Rossa yg ada di ambang pintu dan tanpa basa basi
PLAAKK....
Satu tamparan mendarat di pipi Rossa yg masih lebam akibat kecelakaan yg ia alami.
"Pembunuh" desis ayah Amar itu "Pelacur, pembunuh, enyah dari hadapan ku" desis nya tajam dan Rossa langsung jatuh dikaki nya, menangis dan memohon ampun.
"Maafin aku, Mas. Ku mohon..." namun Atif langsung menendang Rossa hingga ia terjungkal.
"Pengkhianatan mu mungkin bisa ku maaf kan, tapi kematian putri ku..."
Atif berbalik badan dan ia mengambil kembali boneka Amora, ia memeluk nya, sambil menangis ia berjalan mendekati jendela. Menatap keluar sana dan beruarai air mata.
"Pergi dari sini sebelum Amar melihat mu!" tegas nya "Karena dia benar benar memusuhi mu"
Namun bukan nya pergi, Rossa malah kembali mendekati suaminya.
"Mas, ku mohon. Berikan satu kesempatan lagi untuk ku, aku janji akan jadi istri dan ibu yg baik" Atif enggan menanggapi nya, yg bisa ia lakukan hanya menangisi kematian putri nya, masih terbayang jelas dalam benaknya bagaimana tubuh mungil putrinya yg terbakar hangus, membuat seluruh tubuh nya gematar dan darahnya seolah membeku.
Sementara Rossa tak henti benti nya memohon pengampunam suami nya itu, dan bukan nya luluh, suaminya malah tambah murka.
Sekali lagi Atif menampir Rossa dengan kuat hingga membuat wanita itu terjatuh.
"Kamu mau kesempatan, huh? Pergi lah ke neraka! Minta kesempatan pada iblis disana" desis nya dan kini ia mencengkram pudak Rossa dengan kuat dan membuat nya berdiri, dan tanpa ragu sedikitpun, Atif langsung mencekik Rossa sekuat tenaga, membuat Rossa tak bisa bernafas, matanya pun sudah memerah dan menetesakan air mata.
Rossa mencoba melawan namun apalah daya, tubuhnya memang lemah akibat kecelakaan itu, di tambah ia hanyalah seorang wanita yg tentu saja kekuatan fisiknya tak ada apa apa nya di banding pria.
Namun dengan sisa kekuatan yg ada, Rossa berusaha melepaskan diri dengan menendang perut Atif dengan lututnya, membuat Atif mengerang kesakitan dan mundur, namun naas ia saat mundur ia terpeleset dan akhir terjatuh dari jendela
"Mas Atif..." teriak Rossa yg melihat suaminya sudah terbang bebas dari lantai dua.
Dan bersamaan dengan itu, Amar dan Granny Amy yg baru datang dari makam Amora melihat bagaimana Atif jatuh dengan kepala mendarat sempurna di tanah dan sudah di pastikan lehernya patah, dan ia juga melihat ibunya ada di atas sana.
"PAPA...." Teriak Amar langsung berlari menghampiri papanya yg tergeletak tak berdaya dengan kepala yg bocor dan terus mengalirkan darah tanpa henti. Sambil menangis sesegukan, Amar segera memegang kepala ayahnya dan meletakkan kepala ayahnya yg sudah di penuh darah itu di pangkuan nya. Begitu juga dengan Granny Amy, putra satu satu nya...
"Atif, apa yg terjadi, Nak" Granny menangis dan ia segera menelepon Ambulance "Bertahanlah, Nak. Kau akan baik baik saja" ucapnya dengan suara yg sudah bergetar.
Namun Atif sudah terlihat tak berdaya dan ia sudah tampak akan segera kehilangan kesadarannya.
"Mas Atif..." teriak Rossa yg kini sudah turun dan berlari menghampiri suaminya itu. Namun Granny Amy mencegahnya dan mendorong nya menjauh.
"Kamu membunuh cucu ku, dan sekarang kamu membunuh putra ku" teriak Granny Amy pada menantu nya itu "Pergi dari sini!" tegas nya.
Rossa menggeleng sambil menangis.
"Mama, aku engga sengaja, Ma. Aku mohon dengarkan dulu.... Amar, Sayang. Percaya sama Mama"
Rossa berusaha mendekati Amar namun tanpa menatap ibunya itu Amar berkata dengan nada penuh kebencian.
"Kamu pembunuh, pelacur. Kamu pantas mati, lebih baik tidak punya ibu dari punya ibu iblis seperti mu"
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...