
Ezra memberikan hasil lukisan nya yg membuat guru guru nya berdecak kagum.
Ezra melukis adik nya sendiri, Akshara. Ia melukis Akshara yg berdiri di tengah taman mengenakan gaun putih sangat cantik dengan bunga di tangan nya. Lukisan itu tiga dimensi sehingga terlihat begitu nyata.
Mata Akshara begitu cantik apa lagi ia tersenyum lebar namun sayang nya, matanya seperti kosong dan lurus ke depan.
"Ada yg kurang dalam lukisan mu, Ezra. Tatapan gadis ini kosong dan kurang hidup" tegur guru seni nya.
"Baiamana dengan taman, langit, gaun bunga dan senyum gadis ini, Bu?" tanya Ezra.
" Ya, smuanya indah, Ezra. Tapi seharusnya ini bisa sempurna maka kamu bisa saja menang" Ezra tersenyum sedih.
"Terima kasih, tapi memang lukisan nya seperti itu" ujar Ezra karena sang guru tak tahu bahwa Ezra melukis adik nya yg mengidap autis dan hal biasa orang autis itu pandangan nya seperti itu.
.
.
.
Ezra tapak sedih memandangi lukisan nya, padahal ia fikir akan memenangkan lomba ini tapi tak bisa hanya karena Ezra melukis adik nya dengan pandangan yg seolah kurang hidup.
Al pun ikut memperhatikan lukisan sepupu nya itu dan Ezra sudah menceritakan apa yg di katakan guru nya.
"Aku bingung, Al. Dari begitu banyak hal yg sempurna dan indah, tapi kenapa orang malah fokus pada satu kekurangan?" ucap Ezra sedih. Ia sedih bukan hanya karena tidak menang, tapi karena ia tahu, seperti itulah adik nya akan hidup. Tak peduli jika ia gadis yg cantik dan baik tapi orang akan tetap melihat dia sebagai gadis autis yg mengidap disleksia.
"Udahlah, engga usah fikirin itu. Lagian kan engga ada yg sempurna di dunia. Kita normal dan bisa baca tulis dengan lancar, tapi apa kita bisa mengingat sekuat ingatan Akshara? engga kan?" hibur Al.
"Iya, sih. Momy juga bilang kalau Akshara itu istimewa dan dia bisa sembuh" gumam Ezra.
Kedua nya pun melanjutkan aktifitas merek di sekolah.
Dan setelah pelajaran usai, mereka di jemput oleh ibu mereka. Kali ini hanya Afsana yg menjemput karena Maryam sedang ada praktek.
"Ummi, liat deh..."Ezra menunjukan hasil gambar nya pada Afsana.
Ya, Ezra dan adik adik nya memang memanggil Afsana Ummi dan memanggil Faraz Abi. Anak anak Afsana pun memanggil Amar dan Maryam Daddy dan Mommy.
" Masya Allah, indah nya. Akshara cantik ya, senyum nya manis" ujar Afsana dan seketika Ezra merasa bahagia karena Afsana fokus pada yg indah indah saja dan bukan pada kekurangan nya.
"Memang nya Ezra mau jadi pelukis?" tanya Afsana kemudian.
__ADS_1
"Engga, Ummi. Itu cuma hobi, nanti gede nya mau jadi..... Engga tahu. Hehe"
"Kalau Al mau jadi apa?" kini Afsana bertanya pada putra nya sendiri. Al tamp memikirkan sesuatu.
"Entahlah, nanti Al fikir fikir lagi" Jawab nya yg membuat Afsana tertawa.
Setelah mengantar Ezra kerumah nya, kini Afsana langsung pulang tanpa mampir karena ia ada jadwal di pesantren.
.
.
.
Di bandara, seorang gadis remaja dengan pakaian nya yg serba hitam serta lengkap dengan cadar nya sedang asyik mendengarkan sesuatu menggunakan earphone. Ia juga sedang memangku anak laki laki yg berusia 3 tahunan dan anak itu tampak tertidur pulas.
Dan samar samar terdengar emak emak yg berbisik membicarakan gadis remaja itu. Katanya, pakaian ny aja yg syar'i tapi masih mendengarkan musik.
Tanpa mereka ketahui, gadis itu mendengar nya namun ia tak peduli.
Kemudian gadis kecil berusia 9 tahun datang memanggil nya.
"Kak Khair... Ummi minta tisue" gadis bercadar itu pun langsung mengambil tisue dari tas nya dan memberikan pada anak perempuan tadi.
"Blum, Bi" jawab Khair pada Abi nya yg baru datang dari membeli air. Kemudian abi nya memberikan air itu pada Khair dan ia mengambil putraya yg masih asyik duduk di pangkuan Khair.
"Kasian Maheer, pasti capek dia" gumam Abi nya.
Setelah itu, Maria dan putri nya yg bernama Hafshah datang.
"Sudah?" tanya Nabil dan Maria mengangguk "Ya udah, ayo. Katanya Faraz sudah sampai" mereka pun mengambil barang barang mereka dan hendak pergi.
Dan saat Khair berdiri, tanpa sengaja ponsel yg ada di saku nya terjatuh yg membuat colokan ke earphone ny terlepas dan ternyata yg Khair dengarkan bukanlah musik melainkan murattal Qur'an. Emak Emak yg tadi masih disana pun tampak terkejut.
Khair memasukan ponsel dan earphone nya ke dalam ransel nya dan ia berkata pada Emak emak itu..
"Memang nya kenapa kalau orang berpakaian syar'i mendengarkan musik? Dan tolong jangan menghakimi atau membicarakaorang lain kalau tante engga tahu apa apa. Karena kalau org yg tante bicarakan itu kesal apa lagi sakit hati, tante sendiri lho yg dosa"
"Khair.." tegas Maria karena engga ada angin engga ada hujan anak nya malah bicara panjang lebar, fikir nya.
"Maaf, Ummi" lirih Khair kemudian "Maaf, tante. Aku engga maksud lancang, cuma apa salah nya saling mengingatkan"
__ADS_1
"Khair..." Maria kembali menegur nya namun Nabil malah membiarkan nya. Ia justru tersenyum seolah mendukung apa yg di lakukan anak nya.
Maria pun meminta maaf pada emak emak itu dan membawa anak anak nya pergi.
"Kamu kenapa bicara seperti itu pada orang yg lebih tua? Engga sopan, Khair. Kamu jadi terkesan menggurui nya" tegur Maria saat sudah jauh dari emak emak itu.
"Untuk menggurui itu engga perlu liat usia, Maria. Mungkin emak emak itu yg mulai. Memang nya kenapa kamu sampai bicara seperti itu sama mereka?" tanya Nabil.
"Mereka bilang pakaian nya aja yg syar'i tapi masih mendengarkan musik. Kan kessel, Bi. Pakaian syar'i ku yg di bawa bawa" ujar Khair.
"Ya udahlah, lupain aja. Tapi lain kali kalau memang ada yg menurut mu salah, engga apa apa di tegur aja" ujar Nabil sambil terkekeh. Membuat Maria geleng geleng kepala.
Maria ingin Khair menjadi anak yg kalem, lembut, anggun. Tapi entah kenapa anak nya itu malah menjadi anak yg berani bersuara tanpa memandang tempat dan status nya yg masih anak anak. Bagi Khair salah ya salah, dan kewajiban yg lain untuk memperbaiki yg salah sekalipun yg salah itu lebih tua dari nya. Dan tentu it didikan Nabil.
Di luar, Faraz dan kedua putri kembar nya sudah menunggu kedatangan mereka yg seharusnya datang beberapa jam lebih cepat dari ini. Namun karena pesawat nya delay membuat mereka terlambat dan mereka pun merasa kelelahan setelah menempuh perjalanan yg panjang dari Mekkah.
Ava dan Eva langsung memeluk Hafshah dan mereka tampak sangat bahagia karena akhirnya bertemu setelah sekian lama. Selama ini Nabil memang jarang pulang karena kesibukan nya yg sebagai seorang Dokter.
"Oh, sih pangeran kecil tidur" ujar Faraz sambil mencubit pipi gembul Maheer.
"Mungkin kelelahan" jawab Maria.
"Assalamualaikum, Om. Apa kabar?" sapa Khair dengan sopan.
"Waalaikum salam, Khair. Om baik, kamu?"
"Baik, Om. Bagaimana dengan Tante dan adik adik?"
"Mereka baik, mereka sudah menunggu mu"
Mereka pun masuk kedalam mobil setelah Nabil memasukan barang barang mereka ke bagazi.
Di dalam mobil, hanya terdengar suara Ava Eva dan Hafsah yg mengobrol panjang lebar ala anak anak. Bahkan yg lain harus mengalah dan diam atau mobil itu akan berubah menjadi ramai seperti pasar sedangkan Maheer masih tidur.
Sesekali Nabil mengobrol dengan Faraz dan menanyakan keadaan kakek nenek nya. Sedangkan Maria sibuk menimang Maheer di pangkuannya.
Dan Khair sibuk menikmati pemandangan di luar sana, Khair suka setiap kali pulang ke Indonesia karena itu adalah tanah kelahiran nya. Ia juga dekat dengan anak anak dari sepupu Abi nya. Seandainya bisa, Khair ingin tinggal bersama eyang nya di pesantren karena ia suka sekali di sana, tapi sayang nya Ummi dan Abi nya tidak memperbolehkan dia.
Dan Khair baru saja menyelesaikan tiga puluh jus hafalan Quran nya. Dia juga memiliki suara yg merdu dan pernah ikut lomba Tilawah mewakili sekolah nya di Mekkah di tingkat internasional dan ia berhasil menjadi juara 2. Dimana itu menjadi kebanggan yg tersendiri bagi Nabil terutama Maria.
Maria sangat bersyukur karena Khair mendapatkan apa yg memang ingin Maria berikan dan semua itu berkat Nabil yg bahkan mendatangkan guru khusus untuk Khair.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...