Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 14


__ADS_3

Amar mendatangi restaurant Maryam, karena sudah dua hari ia tak bertemu dengan gadis itu, bahkan pesan nya pun tak di balas, dan jujur saja, Amar tak berani menelepon nya.


Sesampainya di restaurant, Amar segera menanyakan keberadaan Maryam pada Nia dan Nia mengatakan Maryam sibuk bersama saudari sepupunya yg baru datang dari pesantren.


"Jika dia datang, bisa beritahu dia aku mencari nya?" tanya Amar yg di jawab anggukan oleh Nia.


Entah kenapa Amar merasa tidak tenang karena Maryam tidak membalas pesannya, entah kenapa dia merasa takut jika gadis itu menjauhi nya.


Amar pun segera keluar dari restaurant itu, dan tanpa ia sadari bahwa seorang paparazzi mengikuti nya, apa lagi yg hampir setiap hari Amar mendatangi Zahra Resto.


Amar segera bergegas ke kantornya, dan disana sudah ada Dilara yg menunggu.


"Amar, dari mana saja kamu? Dari tadi aku tungguin" gerutu Dilara sambil mengikuti langkah lebar Amar menuju ruangan nya.


"Memang nya kamu pelayan ku yg harus selalu nungguin aku?" tanya Amar sarkastik, namun bukannya tersungging, Dilara malah dengan tak tahu malu nya bergelanyut di lengan Amar.


"Malam ini aku ngadain pesta ulang tahun, datang ya" pinta nya dengan nada menggoda. Namun seolah merasa jijik, Amar segera menghempaskan tangan Dilara dari lengan nya.


"Engga, aku sibuk" tolak nya tegas.


"Pesta nya jam 9. Masak kamu sibuk sih" gerutu Dilara yg merajuk.


"Dengar, Dilara! Kita engga ada hubungan apapun, jadi tolong menjauh dari ku!" Dilara tampak sangat sedih dengan sikap tak acuh Amar, karena wanita itu sungguh menyukai Amar.


"Kamu jahat banget sih, setelah apa yg terjadi di antara kita, sekarang kamu mencampakan aku begitu saja" teriak Dilara kesal.


"Memang apa yg terjadi di antara kita, huh? Bagi ku engga pernah terjadi apapun"


"Apa maksud mu? Apa menghabiskan malam dengan ku itu bukan 'apa apa'?"


"Tentu saja bukan, ada banyak puluhan wanita di luar sana seperti mu, melemparkan tubuh dengan suka rela, kemudian berlagak seolah ada yg istimewa"


"Amar..." Teriak Dilara dengan amarah yg meluap namun Amar segera menatap nya tajam.


"Keluar!" perintah Amar yg kini sudah berada di ruangan nya.


"Engga" jawab Dilara kekeh dan ia malah dengan santai nya duduk di sebuah sofa disana.


"Keluar Dilara atau aku panggil security" desis Amar tajam namun Dilara tak bergeming.


Dengan amarah yg memuncak, Amar pun menarik paksa Dilara dan melempar nya keluar dengan kasar. Namun seseorang menangkap Dilara hingga wanita itu tak terjatuh memalukan.

__ADS_1


"Kau?" pekik Dilara melihat siapa yg menolong nya.


Bahkan Amar pun sangat terkejut melihat nya.


"Maryam?" bisik Amar tak percaya. Maryam membantu Dilara berdiri hingga bisa menyeimbangkan tubuhnya. Maryam datang bersama Granny dan juga Afsana. Namun bukan nya berterima kasih malah dengan sombong nya Dilara berkata


"You're just a maid, how dare you touch me" Amar menggeram marah dengan apa yg di ucapkan Dilara, bahkan juga Granny Amy tampak marah, Amar sudah membuka mulut hendak mencaci maki Dilara namun Maryam mendahului nya.


"I just helped you, Miss. At least say thank you" ucap Maryam dengan berani dan membalas tatapan Dilara yg seolah merendahkan Maryam. Amar dan Granny tersenyum dengan tindakan Maryam.


"Oke, thank you, maid" balas Dilara yg masih ingin merendahkan Maryam.


"She's not a maid" sambung Afsana yg tak terima sepupunya di panggil pelayan. Apa lagi, beberapa karyawan malah memperhatikan mereka "She is Sarfaraz Yusuf's sister" lanjut Afsana dengan bangga.


"Ana, sudahlah. Kita jadi tontonan" bisik Maryam.


Dan Dilara tampak terkejut, yg ia tahu Sarfaraz adalah arsitek muda yg cukup di kenal, bahkan Amar pun menggunakan jasanya saat ini. Bahkan beberapa karyawan juga memandangi Maryam.


"Lalu? Dia hanya adik seorang arsitek, memang apa yg dia lakukan di kantor Amar Degazi?" tanya Dilara yg seolah sangat tidak menyukai Maryam.


"Dia datang ke kantor calon suami nya, apa salah nya dengan hal itu?" tegas Amar tiba tiba yang langsung membuat semua orang melotot sempurna dengan mulut terbuka lebar, tak terkecuali Maryam dan Afsana, terutama Dilara. Namun Granny Amy malah tersenyum lebar.


Maryam menatap tak percaya pada Amar.


"Benar sekali" sambung Granny Amy dan ia merangkul Maryam yg masih sangat terkejut "Untuk kalian semua di sini, perkenalkan!" Granny berkata dengan suara tinggi, kini semua karyawan benar benar sudah mengerumuni mereke "Dia Maryam, calon menantu ku dan calon istri Amar, yg artinya dia juga akan jadi Bos besar di Degazi corporation"


Afsana hanya bisa menganga sambil memandangi Maryam yg kini tampak lemas mendengar apa yg sudah dikatakan nenek dan cucu itu, sementara Dilara tampak begitu marah namun tentu ia tak bisa apa apa.


"Granny, bawa calon istri ku masuk ke ruangan ku" ucap Amar dengan entengnya yg membuat Maryam semakin hilang akal.


Granny Amy pun membawa Maryam yg masih ke bingungan dan Afsana yg masih tercengang masuk ke ruangan Amar.


Disana, Afsana terkejut dengan mewah dan besarnya ruangan Amar, dengan dinding jendela yg membuat ia bisa melihat seluruh kota dari sana. Sementara Granny Amy kembali keluar entah untuk apa.


"Ya Allah, Marry. Kenapa kamu engga bilang kalau sudah punya calon suami, millionaire lagi calon suami mu" bisik Afsana yg langsung dapat pukulan di pundak nya oleh Maryam.


"Gigi mu itu calon suami, aku juga bingung apa maksud mereka" sanggah Maryam "Aku bahkan merasa akan pingsan. Baru dua hari yg lalu Kak Faz nyuruh aku jauhi Amar, dan sekarang..." Maryam benar benar tampak tak mengerti. Apa lagi Amar dan nenek nya itu mengatakan nya di depan banyak orang.


"Besok pasti berita ini akan menyebar, bahkan tadi aku melihat ada yg merekam" ujar Afsana yg membuat Maryam semakin kebingungan, takut, dan khawatir. Jika berita itu menyebar, bagaiamana ia harus menghadapi keluarga besar nya?


Amar dan Granny Amy masuk.

__ADS_1


"Amar, bagaiamana bisa kamu mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang?" tanya Maryam yg tampak menahan amarahnya.


"Aku... Aku..." Amar bergerak gelisah dan tak tahu harus menjawab apa, kata kata itu meluncur begitu saja tanpa bisa ia hentikan. Dan tadi ia dan neneknya membicarakan hal itu di luar, dan neneknya malah mendukung Amar dan bahkan meminta Amar mendatangi keluarga Maryam "Apa dia saudari sepupu mu itu?" tanya Amar sambil menatap Afsana. Tentu membuat Maryam makin kesal karena Amar malah mengalihkan pembicaraan.


"Ini bukan waktunya kenalan, Amar. Aku serius, bagaimana kalau berita itu menyebar?" desis Maryam.


"Itu bagus dong" sambung Granny Amy dengan santai nya "Biar semua orang tahu, bahwa Amar sudah memiliki calon istri"


"Granny..." Maryam berusaha berkata dengan lembut meskipun emosinya benar benar sudah di ubun ubun nya "Ini bukan hal kecil, aku sama Amar cuma teman, engga lebih" ucap Maryam berusaha membuat nenek Amar itu mengerti "Dan jika sampai berita ini menyebar, bagaimana aku harus menghadapi Ummi, Abi, kakek, nenek dan semua keluarga besar ku?" Maryam berkata frustasi.


"Maryam, dengarkan dulu penjelasan ku. Aku serius, aku...aku ingin menikahi mu"


"Astaghfirullah..." gumam Maryam sembari memijat kepalanya yg terasa pening "Dengar, Amar! Menikahi seseorang engga semudah itu, kita baru kenal, baru dekat dan bagaimana bisa kau ingin menikahi ku?"


"Aku juga engga tahu" jawab Amar jujur dan itu membuat Afsana dan Maryam melotot dan menatap bingung padanya "Tapi hati ku menginginkan itu"


"Ya Allah..." gumam Maryam yg semakin tak mengerti Amar "Kamu itu sudah baligh, sudah dewasa, bagaiamana bisa kamu asal berbicara, Amar"


Setelah mengucapkan hal itu, Maryam segera menarik Afsana keluar tapi di cegah Granny Amy.


"Nak, cucuku sangat serius dengan ucapannya, dia memang menyukai mu sejak dulu"


"Granny, Maaf" Maryam berusaha tetap sopan pada wanita yg jauh lebih tua dari nya itu "Tapi itu engga mungkin, kita baru saja kenal. Mungkin Amar hanya bingung, itu saja. Sekali lagi maaf, aku permisi"


.


.


.


Maria membaca kelanjutan cerita anak kecil itu, dan setelah banyak membaca ia baru menyadari bahwa itu adalah kisah dari seorang Nabi dalam agama islam. Namun yg sudah terlanjur terserap dalam fikiran Maria adalah kisah seorang pria yg penuh perjuangan, ia yatim, hidup sederhana tapi Tuhan nya menjaga dan merawatnya. Tuhan memang tidak turun langsung untuk menjaga nya, namun ia kirimkan seorang paman yg luar biasa dan penuh kasih, dan istri yg hebat, setia dan penuh cinta.


Faraz sengaja tak memberi tahu Maria siapa seseorang dalam buku itu, karena Maria tak percaya pada agama mana pun, maka akak lebih mudah sebagai seorang manusia belajar dari kisah manusia lain nya.


Seandainya Faraz memberi tahu bahwa itu adalah kisah Nabi, maka tentu semua kisah Nabi memiliki kisah yg luar biasa, dan mungkin Maria akan berkata 'namanya juga Nabi'.


Faraz berusaha mengenalkan jati diri Maria sebagai seorang manusia dengan belajar dari kisah manusia lain nya, dan Faraz tahu, setiap orang yg mengenal jati dirinya pasti ingin mengenal siapa Tuhannya.


Dan jika itu memang tujuan Faraz, maka tujuan itu sudah dekat.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2