
Dear Kak Faraz, kakak tercinta Ana. Yg paling tampan dan baik hati.
Kak, Ana tidak tahu apakah yg Ana lakukan ini benar atau tidak, tapi Ana rasa Ana harus melakukan nya supaya Ana tidak terus terusan memendam perasaan ini dan bertanya tanya apakah perasaan Ana terbalas atau tidak.
Di buku diary yg kakak belikan ini, Ana menuliskan perasaan yg Ana miliki untuk Kak Faraz, yg entah sejak kapan ada dalam hati Ana.
Ana mencintai Kakak, lebih dari hubungan saudara. Ana mencintai Kakak sebagai wanita yg mencintai pria.
Maaf jika Ana lancang, Ana hanya tidak bisa memendam perasaan ini terlalu lama.
Kak, jika Kak Faraz membalas perasaan Ana. Datanglah saat wisuda Ana nanti.
Tapi jika Kak Faraz tidak membalas perasaan Ana, tolong jangan datang tapi jemput Ana di bandara ya.
Dan kakak jangan khawatir, jika seandainya Kakak tidak memilik perasaan yg sama seperti Ana, itu tidak masalah. Kakak akan selalu jadi kakak tersayang Ana. Tidak akan ada yg berubah dalam hubungan kita, Ana janji.
Dan anggaplah perasaan Ana hanya angin yg berlalu.
Tetaplah perlakukan Ana seperti biasa, Kak.
Aku mencintai mu, Sarfaraz.
.
.
.
Afsana di antar di antar oleh kedua orang tuanya ke bandara, juga oleh Maryam dan Faraz.
Padahal, sudah berusaha membujuk Afsana agar mau di antar Amar, tapi gadis itu keras kepala karena memang ia tak ada hubungan apapun dengan Amar. Tentu ia sangat sungkan jika harus sampai merepotkan seperti itu.
"Jaga diri disana ya, jangan terlalu stress mikirin pelajaran mu, nikmati aja!" tegas Faraz sembari membenerkan jilbab Afsana yg sebenernya sudah rapi.
Terlihat jelas di matanya ia meng khawatirkan adik nya itu setiap kali ia harus kembali ke pesantren nya yg sangat jauh dari jangkauan nya.
"Iya, Kak" jawab Afsana dengan mata berkaca kaca karena akan kembali berpisah dengan orang orang tercinta nya.
"Jangan menangis, Sayang" ujar Faraz lembut sambil mengusap kepala Ana dengan penuh kasih sayang.
"Doain Ana ya, Kak" pinta Afsana sembari mengedipkan matanya berkali kali untuk mencegah air matanya keluar.
"Selalu, Kakak engga akan pernah lupa untuk doain kamu, Dek" jawab Sarfaraz. Afsana mengangguk kemudian memeluk Maryam.
"Marry, kalau kamu menikah tahun ini, seperti nya aku engga bisa hadir, karena tahun ini akan penuh dengan ujian"
"Aku engga tahu harus jawab apa, aku dan Amar hanya berusaha saling mengenal. Belum benar benar memutuskan akan menikah" jawab Maryam pelan.
__ADS_1
"Tapi kalian sangat cocok, aku yakin kalian akan jadi pasangan romantis"
"Dan bagaimana dengan mu?"
"Apa?" tanya Afsana. Maryam melirik kakak nya yg terlihat sekali berat melepaskan Ana setiap kali Afsana hendak ke pesantren nya yg jauh.
"Bukan apa apa" jawab Maryam yg berusaha menghargai Afsana yg tak ingin mengakui perasaan nya pada kakak nya.
"Abi, Ummi, doain Ana ya" Ana memeluk kedua orang tuanya itu dan seketika air mata nya mengalir.
"Sudah kakak bilang jangan menangis" ucap Faraz sembari menghapus air mata Afsana yg sudah melepaskan pelukannya dari orang tua nya.
Sebagai sepupu, tentu Faraz tau ia dan Afsana bukanlah muhrim, tapi Faraz sudah terbiasa dengan Afsana sejak kecil, sehingga ia tak ragu untuk bersentuhan seperti itu pada Afsana.
Bahkan ia baru berhenti memeluk Ana saat usia nya 15 tahun. Itu pun setelah berkali kali di ingatkan oleh ibunya bahwa sepupu juga bukan muhrim sehingga Sarfaraz tidak boleh memeluk Afsana meskipun mereka sudah seperti saudara. Apa lagi mereka sudah remaja.
"Kalau sudah sampai, langsung telepon kami ya, Nak" seru ayahnya.
"Iya, Bi" jawab Afsana "Ya udah, Ana harus masuk, udah waktu nya check in" seru Ana.
"Ya sayang, hati hati" ucap sang ibu kemudian menghujani wajah putri nya itu dengan ciuman.
Setelah itu, Afsana mulai berjalan masuk sambil terus menoleh ke belakang dan melambaikan tangan.
Semua terlihat sedih melepas kepergian Afsana.
Dia terlihat lemah seolah kehilangan sesuatu, dan itu terjadi setiap kali ia mengantarkan Afsana. Karena itulah Maryam selalu menggoda kakaknya bahwa kakaknya itu naksir Afsana, tapi Faraz selalu mengatakan setiap kakak akan sedih melepaskan kepergian adik nya apa lagi dengan jarak yg sangat jauh dan waktu yg sangat lama.
Setelah Afsana masuk dan tak terlihat lagi, Hubab segera mengajak istri nya pulang. Begitu juga dengan Faraz yg membawa pulang Maryam.
.
.
.
Di pesawat, Afsana yg duduk di dekat jendela menatap keluar dan melihat pemandangan yg sangat luas dan indah.
Ia telah mengutarakan isi hati nya pada Faraz, membuat jantung Afsana selalu berdebar debar setiap kali memikirkan apakah Faraz akan membalas perasaannya atau tidak. Dan ia baru akan tahu jawaban itu tahun depan.
Sebenarnya, Afsana ingin mengungkapkan perasaan nya itu secara langsung tapi ia tak berani, bagaimana jika Faraz menolak nya? Bagaiamana jika ia menangis didepan Faraz?
Jadi Afsana memutuskan untuk menulis saja perasaan nya di buku dairy yg Faraz belikan dulu untuk nya dan Maryam. Afsana meletakkan buku itu di kamar Faraz saat tadi ia mendatangi Bilal dan Asma untuk berpamitan.
"Ya Allah, hamba serahkan segala nya pada Mu. Jika dia memang jodohku, mudahkanlah jalan kami untuk bersatu. Tapi jika dia bukan jodoh hamba, maka ikhlas kan hati ini untuk melepasnya"
.
__ADS_1
.
.
Maria yg sedang belajar harus kembali merasa terganggu karena mendengar suara ayahnya di bawah yg seperti nya kembali mabuk.
Maria menggeram kesal, ingin rasanya dia membunuh ayahnya itu namun ia tetaplah seorang anak yg sebenarnya sangat sayang pada ayah nya.
Maria keluar dari kamar dan mendapati ayahnya yg sedang teler di sofa.
"Dad..." panggilnya pelan namun seperti nya ayahnya itu sudah tak sadarkan diri. Maria meringis melihat kondisi ayahnya, ia tak tahu sampai kapan ayah nya akan begitu.
Maria merasa capek dengan hidup nya, dia capek melakukan semua nya sendirian. Mengurus rumah besar itu sendirian, memasak, kuliah, bekerja, membuat Maria merasa benar benar tertekan. Sementara sang ayah, semakin merepotkan nya karena seeing mengambil uang Maria.
Maria kembali menangis dan ia segera kembali ke kamar nya, mengunci pintu dan melepaskan tangis nya. Air mata itu dan isakan tangis nya adalah lambang ke putus asaan Maria. Ia ingin mati saja, hidup ini terlalu sulit untuk nya.
Di tengah tangis nya, Maria di kejutkan dengan ponsel nya yg berdering. Maria mengambil ponsel nya yg ada di meja belajar nya.
Ia mengernyit melihat nama Pak Sarfaraz tertera di layar ponsel nya itu. Dengan cepat Maria menghapus air matanya, menormalkan suara dan perasaan nya.
"Halo..." sapa Maria namun sepertinya suara nya masih serak.
"Maria, ada apa? Kamu nangis?" terdengar suara Faraz yg tampak khawatir.
"Engga, Pak. Cuma flu aja, cuaca nya dingin" jawab Maria sembari meminum air berharap ia kembali tenang "Ada apa Pak Faraz menelepon jam segini?"
"Engga apa apa, cuma masih khawatir dengan mu"
Maria mengernyit, boss nya khawatir dengan nya? Ada apa gerangan? Kenapa boss nya itu sok dekat sekarang? Bukannya dulu bosd nya itu selalu menjaga jarak dengan nya? Dan bahkan beberapa hari terakhir Faraz sangat galak dan sering memarahi nya.
Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Maria dengan perubahan sikap boss nya itu.
"Maria..." terdengar suara tegas dari seberang telepon.
"Eh...iya, Pak" jawab Maria gelagapan.
"Engga apa apa, ya udah aku tutup dulu telepon nya. Besok kamu kerja kan? Jangan sampai telat ya"
Dan setelah mengucapkan kata kata itu, Sarfaraz langsung menutup telephone nya membuat Maria semakin bingung dengan boss nya.
Namun tak bisa ia pungkiri, ia senang dengan perhatian boss nya itu. Sejak awal Sarfaraz memang selalu baik pada nya, dan ia memang seperti malaikat yg selalu ada buat Maria.
Bahkan sekarang, setelah berbicara dengan Faraz, Maria merasa tenang.
"Perasaan apa ini?"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...