
Maryam dan Amar pergi ke sebuah panti jompo, dimana itu sebelum nya tak pernah Amar lakukan, Amar memang sering menyumbangkan uang ke pantiasuhan, panto jompo dan sebagai nya. Namun Amar tak pernah mendatangi tempat seperti itu secara langsung. Dan ketika Maryam membawa nya, memperkenalkan Amar pada dunia yg tak pernah Amar sadari sebelum nya, membuat Amar menyadari bahwa terkadang uang saja tidak cukup untuk mereka, karena yg paling mereka butuhkan adalah dukungan dan kasih sayang dari orang lain.
Di pantiasuhan, dimana anak anak menginginkan asuhan dan kasih sayang orang tua, dan di panti jompo, dimana para orang tua merindukan bersama anak anak nya. Dan sekali lagi, itu sebenernya mengingatkan Amar pada ibunya.
Memang benar, ibu nya tak selalu ada untuk Amar karena sibuk dengan teman teman sosialita nya. Tapi ketika Amar dan Amora sakit, ibunya lah yg merawatnya. Tapi sekali lagi, kebencian Amar masih menguasai hati nya. Dan ia tak mau memikirkan wanita itu lagi.
"Neng Maryam..." seorang wanita lansia yg sudah tak mampu lagi melihat berjalan sembari meraba raba seolah mencari asal suara yg tak asing bagi nya.
"Kok nenek tahu ini Maryam?" tanya Maryam menyambut tangan nenek itu. Tadi Maryam sedang berbincang dengan pengurus panti jompo dan nenek itu mendengar suara Maryam.
"Suara mu masih nenek ingat dengan jelas" ucap Nenek itu yg sebenernya masih sehat, namun ia hanya tak bisa lagu melihat. Maryam membawa nenek itu duduk dan menanyakan kabar nya. Tak hanya nenek itu, seluruh penghuni panti jumpo sudah sangat mengenal Amar dan Maryam, bukan hanya karena mereka menyumbangkan uang yg tak sedikit, tapi karena mereka sering datang dan sangat ramah pada semua penghuni panti jompo. Sehingga yg tak bisa melihat pun bisa mengenali Maryam. Bahkan pernah ada yg berkata, sentuhan Maryam saat membantu mereka berjalan atau sekedar memeluk juga berbeda, terasa lembut dan menenangkan.
Amar sangat bahagia melihat pemandangan di depan nya, istri nya benar benar seperti bidadari. Dulu, hanya uang Amar yg keluar pada mereka, tapi semenjak ada Maryam, Amar kini bisa merasakan dan bersimpati secara langsung pada mereka dan juga mensyukuri hidup Amar yg jauh lebih sempurna dari mereka.
Setelah mengobrol dan memberikan sumbangan seperti biasa, Amar mengajak Maryam pulang. Karena salah satu kolega nya sekaligus teman kuliah Amar yg bernama Aditya mengundang Amar dan Maryam untuk makan malam.
Akhir akhir ini, Amar mulai membawa Maryam masuk pada bisnis nya dan memperkenalkan Maryam pada setiap kolega nya. Sering menghadiri pesta atau pun makan malam, walaupun sebenarnya Maryam tak suka. Apa lagi ketika istri istri billionaires itu berkumpul dan membicarakan berapa karat berlian yg mereka pakai, atau ke negara mana saja mereka bulan lalu, atau berapa harga outfit mereka. Maryam hanya menanggapi nya sesekali, bukan nya Maryam iri, dia punya banyak perhiasan yg sering Amar belikan untuk nya, apa lagi sejak hamil dan mulai ikut dalam bisnis nya. Bisa di bilang setiap bulan Amar membelikan nya barang barang mahal dan branded. Namun Maryam merasa tak perlu memakainya kecuali di butuhkan seperti ke acara formal dengan para rekan kerja suaminya dan itu pun untuk menghargai Amar dan menjaga image Amar. Namun Maryam tak pernah ikut membicarakan harga nya, ketika ada yg bertanya, Maryam hanya akan menjawab itu hadiah dari suami nya dan ia tak tahu harga nya.
.
.
.
Setelah acara makan malam selesai, seperti biasa mereka akan membicarakan bisnis dan bisnis. Dan mereka menanyakan hotel Amar yg tak lama lagi akan selesai pembangunan nya, nambah lagi mesin uang Amar, kata mereka.
__ADS_1
"Itu akan di kelola istri ku" ucap Amar yg sontak membuat Maryam terkejut karena sebelumnya Amar tak pernah membicarakan hal itu.
"Apa istri mu bisa berbisnis?" tanya Aditya.
"Bisa" jawab Amar meyakinkan.
"Tapi hotel itu harus di pegang yg sudah berpengalaman, kan?"
"Aku akan membantu nya, Granny juga akan membantu nya. Sebenarnya aku mau Hotel itu di kelola istri ku, karena aku ingin sebagian pemasukan dari hotel itu di sumbangkan pada yg membutuhkan, rumah sakit, pantiasuhan, atau yg lain nya. Jika mungkin istri mu ingin bergabung?"
"Aku tertarik, itu semacam amal atau penggalangan dana?" istri Aditya itu menimpali.
"Betul" jawab Amar.
Setelah mengobrol beberapa hal, Amar berpamitan ingin pulang, karena ia tak mau Maryam kelelahan dan kurang istarahat. Dan mereka pun memutuskan pulang juga.
"Ada apa?" tanya Amar pada Aditya.
"Amar, aku rasa kamu jangan memberi akses penuh pada istri mu dalam bisnis mu. Apa lagi dia baru mengandung, belum melahirkan ahli waris mu. Maksud ku, setidaknya kamu sedikit hati hati. Istri itu kita kasih credit card aja tapi bukan saham"
Amar yg mengerti kemana arah pembicaraan Aditya tertawa kecil.
"Istri ku engga mikirin harta, yg dia fikirkan cuma dua hal, jadi ibu dan istri, dan jadi seorang psikolog"
"Iya sekarang, nanti? Banyak lho istri pengusaha yg bercerai dan menuntut bahkan mengambil alih harta suaminya"
__ADS_1
"Maryam ku bukan wanita seperti itu" ucap Amar meyakinkan "Aku pergi dulu, kasian Maryam. Dia pasti lelah" lanjut nya kemudian ia pergi.
"Apa yg kalian bicarakan?" tanya Maryam saat Amar sudah masuk kedalam mobil. Kemudian Bobby pun melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
"Bukan apa apa, Sayang" jawab Amar kemudian membuat Maryam bersandar ke bahu nya.
"Aku fikir kalian membicarakan ku, dia sering melirik ku"
"Lupakan itu, dia hanya bertanya karena kamu masih kuliah, bagaiamana bisa mengurus bisnis"
"Hemm" Maryam menggumam sambil mengangguk "Tapi kenapa kamu engga bilang ke aku kalau kamu mau nyerahin hotel ke aku?" tanya Maryam dan ia mendongak, menatap suaminya yg semakin hari makin tampan itu.
"Apa kamu marah?" tanya Amar membalas tatapan Maryam.
"Engga, cuma aku takut engga bisa"
"Kami akan membantu mu, sebenarnya itu permintaan Granny. Selama ini Granny yg membantu ku, tapi sekarang dia sudah lanjut usia, Sayang. Dia bilang dia ingin menikmati masa tua nya dan berhenti mengurus bisnis" tutur Amar panjang lebar.
Maryam yg mendengar itu malah menjadi sedih. Merasa kasihan dengan Granny Amy.
"Iya, aku akan berusaha sebaik mungkin supaya engga mengecewakan kamu dan Granny"
"Terima kasih, Sayang" ucap Amar.
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...