Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 77


__ADS_3

Asma yg penasaran dengan kondisi Maria, mengajak suami nya untuk menjenguk Maria. Bilal pun mengikuti saja mau istri nya itu.


Disana, mereka bertemu Hira. Hira yg tak mengenal Asma dan Bilal pun tampak bingung.


Namun Asma segera memperkenalkan diri, dan seketika Hira langsung menyambut ramah.


"Kamu teman nya Maria?" tanya Asma dan Hira mengangguk, kemudian mempersilahkan Asma dan Bilal menjenguk Maria. Sementara Hira menunggu di luar.


Di dalam, Asma memperhatikan Maria baik baik, hatinya terenyuh melihat kondisi Maria, dia juga kasihan dan prihatin dengan Maria yg tak punya siapa siapa.


Kemudian seorang Dokter datang untuk memeriksa keadaan Maria dan Dokter juga bertanya siapa mereka.


"Kami orang tua, Faraz. Pria yg mengurus Maria" tutur Bilal


"Oh begitu. Berkat Pak Faraz, pasien masih bisa bertahan sampai sekarang"


"Aku dengar dia koma dan ada memar di otak nya"


"Benar, Pak. Kami harus segera melakukan operasi"


"Jika dia koma, apa dia bisa mendengar?" tanya Asma.


"Bisa, karena itulah saya sudah mengatakan pada Pak Faraz dan Hira bahwa Maria harus selalu di berikan motivasi supaya segera sadar"


"Aku pernah mengalami hal yg sama" lirih Bilal.


"Ya, ayahnya sudah datang waktu itu, tapi sayang, dia terkena serangan jantung dan meninggal, sehingga sekarang kita hanya bisa berharap dia mau bertahan"


.


.


.


Setelah melihat kondisi Maria, Asma menemui Ummi Mufar dan juga Lita di kediaman Ummi Mufar.


Mereka membicarakan mungkin apa yg di katakan Afsana benar, mungkin Tuhan memang menitipkan Maria pada mereka karena Maria benar benar tak punya siapa siapa lagi dan saat ini ia berada di titik terendah hidup nya.


Dan soal kehamilan nya, mereka akan fikirkan itu nanti.


Akhir nya, mereka memutuskan untuk selalu bersama Maria, merawat nya dan memotivasi dirinya.


Faraz iya iya saja dengan keputusan keluarga nya itu, begitu juga dengan Afsana.


.

__ADS_1


.


.


Kesokan hari nya, Faraz membawa Asma dan Maryam menjenguk Maria, apa lagi Maria akan di operasi.


Sebelum operasi, Asma berbicara dengan Maria yg masih belum sadar, ia mengatakan bahwa Maria harus bertahan dan harus segera sadar, Asma juga mengatakan dia akan merawat Maria dan bayi nya. Asma mengatakan masih banyak orang yg menyayangi Maria dan akan selalu ada untuk Maria.


Dan Faraz pun menyemangati Maria untuk bertahan, Faraz juga mengatakan akan selalu menjaga Maria dan Maria tidak akan sendirian lagi.


Dokter dan suster datang untuk membawa Maria ke ruang operasi.


"Ummi, aku harus kembali ke kantor" ucap Faraz. Dan Asma mengangguk.


Tinggallah Asma berdua bersama Maryam.


Mereka menunggu jalan nya operasi, dan berdoa agar operasinya berjalan lancar.


"Apa Kak Faz benar benar akan menikahi Maria, Ummi?" tanya Maryam sambil bersender di pundak ibu nya.


"Ummi engga tahu, Nak. Itu kita lihat nanti setelah Maria sadar, yg perlu kita lakukan saat ini adalah merawat Maria bersama sama, dan memperhatikannya, agar ia bisa merasakan bahwa dia masih pantas hidup"


Hira datang dengan tergesa gesa dan ia langsung menghampiri Asma dan Maryam.


"Apa operasi nya sudah di mulai?" tanya Hira dengan nafas yg memburu.


Kemudian ketiga nya menunggu dengan perasaan cemas.


Operasi berjalan sekitar empat sampai lima jam.


Saat Dokter keluar, Asma segera menanyakan bagaiamana operasi nya, Dokter mengatakan operasi nya lancar saja. Tapi kondisi Maria masih tak stabil, mereka hanya bisa berharap, semoga Maria segera menunjukan sebuah kemajuan.


Di tengah perbincangan itu, Amar datang untuk menjemput istrinya.


"Kita pulang?" tanya Amar sembari mengecup pelipis Maria.


"Pulang saja, Maryam. Biar Ummi sama Hira yg di sini"


"Tapi Ummi juga harus pulang dan berisitirahat" seru Maryam sambil memeluk ibunya.


"Nanti malam Ummi akan pulang, biar Faraz yg jemput" ibunya meyakinkan.


Maryam pun mau pulang bersama suaminya.


Di mobil, Amar tiba tiba merengkuh Maryam dan memijiat dahi Maryam yg berkerut.

__ADS_1


"Jangan terlalu banayk berfikir, Sayang. Nanti kamu sakit" ucap Amar lembut sambil masih memijat kening nya dengan pelan.


"Entahlah, kami di hadapkan pada sesuatu yg berat. Di satu sisi, kemanusiaan kami di uji dengan sangat berat"


"Kenapa kalian harus bertanggung jawab pada Maria? Lagi pula, dia bukan siapa siapa kalian"


"Aku juga engga ngerti, Maria seolah menjadi tanggung jawab kami, tak hanya sampai di situ, bahkan perasaan Afsana dan Kak Faz juga hampir saja di korbankan"


"Jadi Faraz tak akan menikahi Maria?"


"Entahlah, lagi pula Maria masih belum sadar, yg kami lakukan saat ini hanya merawat Maria seperti keluarga sendiri, ya kata Ummi, biar Maria bisa merasakan bahwa ada orang orang yg masih menyayangi dia apapun keadaan nya"


"Aku mengerti dengan apa yg di maksud kan Afsana" ucap Amar semakin mengeratkan pelukan nya "Cinta bisa memberikan kekuatan pada seorang, seperti cinta ku pada mu yg memberiku kekuatan untuk merubah hidup ku menjadi lebih baik, itulah yg sebenarnya Afsana maksudkan"


"Tapi Afsana juga mencintai Kak Faz"


"Tapi Maria jauh lebih membutuhkan nya"


.


.


.


Sehari setelah operasi Maria, Maria tak kunjung sadarkan diri. Faraz menjaga nya, bergantian dengan yg lain nya. Mereka juga selalu berdoa disana untuk kesembuhan Maria, mereka juga sering berbicara pada Maria. Memberikan Maria motivasi untuk hidup dan mengucapkan kata kata yg bisa menghibur Maria.


Dokter mengatakan ada kemajuan dengan kondisi Maria, tubuhnya merespon dengan obat obatan yg di berikan, detak jantung nya pun mulai stabil.


Hira yg melihat itu menjadi begitu terharu, dia merasa Maria sangat beruntung, mungkin Maria memang sebatang kara, tapi ternyata ada banyak sekali yg peduli pada nya.


Faraz juga senang dengan hal itu dan ia memberi tahu Afsana, kalau Maria semakin membaik. Afsana mengucapkan rasa syukur nya dan juga tampak senang.


Hingga Maria kembali mendapatkan kesadarannya, mereka semua sangat bersyukur.


"Akhirnya, Maria. Kamu sadar juga" Hira yg menyambutnya, dan disana Maria melihat adanya Asma dan juga Maryam.


"Alhamdulillah, Maria. Akhirnya kamu sadar" ucap Maryam.


"Biar aku pangggilkan Dokter ya" seru Asma.


Maria tampak tak percaya Asma bisa ada disana, dan ia masih merasa sangat lemah.


Dokter dan suster datang, meminta mereka keluar supaya Dokter bisa menangani Maria.


Setelah di tangani, Dokter mengatakan itu kemajuan yg baik. Namun Maria masih harus selalu di awasi, karena ia masih sangat lemah dan sebaiknya tak di beri tahu tentang kematian ayah nya, agar itu tak mengguncang jiwa nya.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2