Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 26


__ADS_3

Amar yg sudah kembali dari Amerika berniat mendatangi Maryam dan keluarga nya dengan berbagai oleh oleh yg ia bawa untuk Maryam dan yg lain nya.


Amar berkunjung saat jam makan malam, ia hanya mengenakan jeans hitam, kaos hitam yg di padukan dengan jaket hitam pula. Ah, dia terlihat seperti akan ke pemakaman bukannya mengunjungi calon mertua. Tapi memang seperti itulah Amar.


Ia suka berpenampilan dengan warna yg gelap, segelap jiwa nya.


Setelah menekan bel, lagi lagi yg membuka pintu adalah Afsana.


"Amar?" sapa Afsana sedikit terkejut dengan kedatangan Amar, sementara Amar hanya tersenyum samar"Silahkan masuk" ujar nya mempersilahkan Amar masuk. Amar membawa dua papar bag besar yg berisi beberapa oleh oleh.


"Ini..." Amar menyerahkan paper bag itu pada Afsana "Oleh oleh untuk kalian semua" jawab Amar.


"Terima kasih, tunggu sebentar biar aku panggil Aunty sama Uncle"


"Apa Maryam ada?" tanya Amar cepat. Afsana mengangguk sambil mengulum senyum samar kemudian ia bergagas ke kamar Asma dan Bilal.


Namun di tangga, ia berpapasan dengan Faraz yg hanya mengenakan celana selutut dan kaos oblong.


"Siapa yg datang, An?" tanya nya.


"Amar" jawab Afsana singkat.


"Mau ngapain dia?"


"Mau ketemu calon istri nya kali"


"Calon istri dari Hong Kong, wong belum di putuskan apa Abi sama Ummi nerima dia" Afsana mengehela nafas berat. Kakaknya sepupu nya itu terlihat sangat tidak menyukai Amar.


"Terserah Kakak, Ana mau panggil Aunty sama Uncle" ujar Afsana kemudian bergegas pergi.


Sementara Faraz turun dan menghampiri Amar di ruang tamu.


"Hai, Sarfaraz" sapa Amar yg tak di sambut hangat Faraz.


"Ada keperluan apa?" Faraz bertanya sembari mendaratkan bokong nya di sofa.


"Hanya berkunjung" jawab Amar dengan ekspresi datarnya.


"Apa kabar, Amar?" Amar mendongak dan terlihat Asma yg berjalan berdampingan dengan Bilal.


"Baik, Tante. Alhamdulillah. Tante sama Om apa kabar?" tanya Amar tersenyum canggung.


"Kami baik" jawab Bilal, kemudian Asma dan Bilal duduk di samping putra nya "Dan bagaiamana keadaan nenek mu?"


"Dia baik" Amar melirik ke arah tangga dan berharap Maryam muncul.


Meskipun ia dan Maryam tak pernah berinteraksi seperti sepasang kekasih, tapi entah kenapa Amar merasa merindukan nya. Selama di Amerika, ia dan Maryam hanya bertukar kabar lewat chat. Apa lagi tampak nya Maryam bukan hanya berusaha menjaga jarak secara fisik, tapi di chat pun ia tampak menjaga jarak, tak terlalu mengumbar kedekatan atau mengatakan hal hal manis seperti gadis muda pada Umum nya. Walaupun begitu, tetap saja Amar meraskan sesuatu yg sangat istimewa pada hubungan mereka yg sebenarnya belum jelas apa status nya.


"Maryam di kamar nya" ujar Bilal tiba tiba yg seolah tahu apa yg diinginkan Amar itu "Besok dia akan pergi kerumah nenek nya di desa bersama Afsana, jadi dia sedang berkemas"


"Oh ya? Kenapa?" tanya Amar.


"Sebentar lagi liburan Afsana selesai, jadi Afsana harus pulang dulu kerumah orang tua ibunya di desa sebelum kembali ke Lebanon"

__ADS_1


"Pak, makan malam sudah siap" Bi Mina memberi tahu Bilal.


"Panggilkan Ana sama Maryam ya, Bi" pinta Asma yg langsung di patuhi Bi Mina.


"Ayo, Amar. Kita makan dulu, kamu pasti belum makan kan?" tanya Asma dan Amar mengangguk.


Sementara Faraz melirik tak suka pada Amar, walaupun sejak kecil ia di ajarkan untuk memuliakan tamu, tapi untuk tamu yg satu ini, rasanya dia enggan, bukan karena apa, tapi karena ia terlalu mencintai adiknya, dan takut pria yg sedang bertamu kerumah nya itu menyakiti adik tercinta nya dengan banyaknya wanita yg berkeliaran di sekitar Amar dan siap melemparkan diri mereka dengan suka rela.


Di meja makan, Amar duduk bersebelahan dengan Faraz yg duduk di sisi kiri Abi nya, sedangkan ibundanya duduk di sisi kanan ayahnya. Kemudian Afsana dan Maryam datang bergabung, dan mereka duduk di sisi Ummi Zahra.


Amar menatap terang terangan pada Maryam sedangkan Maryam berusaha menghindari tatapan Amar yg seolah menusuk tulang nya.


Mau bagaimana lagi, Amar sangat merindukan wajah Maryam yg menenangkan bak rembulan itu.


"Ehem ehem" Afsana berdeham menyadari tatapan Amar dan langsung membuat Amar mengalihkan tatapan nya. Faraz yg menyadari hal itu pun segera bersuara.


"Maryam itu masih belum muhrim mu, kamu engga boleh memandang dia seperti itu, tundukan pandangan mu pada wanita yg bukan muhrim mu" ujar Faraz secara gamblang membuat Amar malu dan salah tingkah. Bilal dan Asma pun hanya bisa membuka mulut tanpa tahu harus merespon apa, sementara Afsana malah mengulum senyum geli dan Maryam pun tampak tersipu.


"Kalau begitu, izin kan aku menghalalkan Maryam dan menjadikan nya istri ku"


Uhuk Uhuk Uhuk...


Asma yg baru saja meneguk air harus tersedak mendengar kata kata Amar itu.


"Sayang, kamu engga apa?" tanya Bilal mesra sambil menepuk pelan punggung Asma. Sementara Faraz, Afsana dan Maryam hanya bisa tediam dengan mulut terbuka dan memandang Amar tak percaya.


"Maaf jika ini mengejutkan" ujar Amar yg melihat semua orang menatap bingung pada nya "Aku rasa, baik Maryam ataupun Om dan Tante sudah mengenal ku, bahkan sampai pada hal yg selama ini aku sembunyikan bahkan pada diri ku sendiri, dan aku juga sudah mengenal Maryam. Jadi aku sangat yakin dengan keputusan ku"


"Masalah nya, kami yg belum yakin, Tuan Degazi" jawab Faraz.


"Aku tahu, aku belum membuktikan bahwa aku pantas untuk Maryam. Tapi aku janji, aku akan memantaskan diri untuk nya" Amar berkata yakin sambil melirik Maryam.


"Baiklah, kami memberi mu kesempatan untuk membuktikan itu, terutama pada Maryam. Karena dia yg akan menjalani kehidupan itu nanti nya, kalian boleh menjalani taaruf untuk saling mengenal satu sama lain" jelas Bilal panjang lebar.


"Dan taaruf bukan berarti berkencan, Amar" sambung Faraz yg sekali lagi mendapatkan teguran dari ibunya.


"Kalian boleh menghabiskan waktu bersama, dan itu pun engga boleh terlalu sering dan juga harus ada yg mendampingi kalian, supaya kalian engga berduaan aja" sambung Asma yg langsung di setujui Amar


"Dan bagaiamana dengan mu, Dek?" tanya Faraz pada Maryam. Maryam mendongak menatap Amar dengan ekspresi yg tak bisa Amar artikan. Karena biasanya ekspresi Maryam selalu lembut dan menenangkan.


"Aku punya satu syarat" ujar Maryam tegas.


"Apapun itu" jawab Amar cepat.


"Aku engga mau ada wanita lain dalam hidup mu dalam alasan apapun"


"Aku janji kamu akan jadi satu satu nya dalam hidup ku" Amar menjawab dengan pasti.


Namun jawaban itu tidak cukup menenangkan kedua orang tua Maryam terutama kakak nya. Namun mereka mencoba memberi kesempatan pada Amar.


Apa lagi Asma, sebagai ibu dia ingin pendamping yg baik untuk putri nya, yg bisa menjaga dan melindungi nya. Sementara Amar, pria itu memang terlihat kuat tapi ia juga sangat lemah, dia seperti seekor burung yg kehilangan kedua sayapnya, dia bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri lalu bagaimana dia bisa menjadi pelindung bagi Maryam?


Bilal yg melihat ekspresi istri nya sudah menebak apa yg ada dalam benak istri tercinta nya, ia mengenggam tangan Asma membuat Asma sedikit tersentak karena sejak tadi ia melamun. Asma menatap Bilal dan tatapan itu tampak khawatir, Bilal mengerti istri nya khawatir dengan masa putri nya jika harus berdampingan dengan Amar. Tapi Bilal memberi isyarat agar Asma tenang. Bilal menyunggingkan senyum samar dan mengeratkan genggaman tangan nya.

__ADS_1


"Sebaiknya sekarang kita makan"


.


.


.


Maria kembali membaca sebuah buku di perpustakaan di kampusnya. Kali ini ia tertarik dengan kisah wanita yg bernama Rabiah Al Adawiyah karena waktu itu di kediaman Ummi Mufar ia hanya membaca sebagian dan itu membuat nya penasaran.


Rabiah Al Adawiyah, wanita yg sangat mencintai Tuhannya, dan cinta nya itu hanyalah cinta, tanpa alasan sedikitpun. Bukan karena takut akan sesuatu atau karena mengharapkan sesuatu. Cinta yg begitu murni, suci, berasal dari hati dan tak bisa di cerna dengan logika.


Rabiah Al Adawiyah juga sebatang kara, dan seorang budak, tapi jiwanya begitu bebas dan indah.


Kisah hidup nya sangat isnpiratif, dia kuat, tabah, luar biasa dan dia punya cinta yg sangat suci pada Tuhanya.


Maria berfikir, setelah semua yg dialami Rabiah Al Adawiyah, bagaimana bisa ia masih menjadi wanita yg luar biasa mencintai Tuhan yg telah membuat ia menjadi sebatang kara.


Kenapa ia tak menyalahkan Tuhan seperti dirinya?


"Serius amat baca nya" Maria sedikit tersentak mendengar suara Hira yg tiba tiba itu.


"Aku penasaran banget sama kisah wanita ini" Maria menunjukan sampul buku itu pada Hira.


"Rabiah Al Adawiyah, dia salah satu ulama sufi yg sangat terkenal bahkan sampai sekarang" tutur Hira dan duduk di depan Maria.


"Kamu non muslim, bagaiamana kamu tahu tentang kisah orang islam?" Maria bertanya serius.


"Karena aku juga punya teman orang islam, di lingkungan kita juga banyak orang islam, jadi sangat mudah untuk mengetahui kisah kisah orang islam"


Maria hanya ber oh ria dan kembali membaca buku nya. Maria yg sangat menyuaki sastra dan mengambil jurusan sastra, sangat mencintai membaca. Dia bisa membaca banyak buku dalam sehari, namun sejak bekerja ia menjadi sangat sibuk dan tak ada waktu.


Dan kisah Muhammad putra Abdullah telah berhasil menarik perhatian nya, dan sekarang kisah Rabiah Al Adawiyah juga menarik perhatian nya dengan begitu kuat.


"Kalau aku liat, akhir akhir ini kamu kayak lebih dekat pada agama boss mu itu" ujar Hira.


"Maksud mu?"


"Kamu selalu tertarik dengan segala hal tentang islam"


"Apa menurut mu itu salah?" Maria bertanya ragu ragu, ia memang menyadari ia tertarik dengan agama Faraz sejak Faraz membawa Maria kerumah nya saat Maria mabuk, dan terutama saat Maria bertemu dengan keluarga besar Faraz dan berinteraksi dengan mereka.


Sifat mereka, karakter mereka dan prinsip mereka yg menurut Maria berlebihan tapi selalu ada alasan masuk akal dan sederhana dalam prinsip itu. Dan itu membuat Maria penasaran dengan agama mereka dimana setiap pribadi memiliki banyak sekali aturan terutama untuk wanita.


"Ya engga lah, Maria. Justru itu bagus" jawab Hira "Tapi kalau kamu memang mau mempelajari agama mereka, jangan belajar sendiri, sebaiknya minta ajarin sama Sarfaraz"


"Malu, Ra" jawab Maria yg membuat Hira langsung mengetuk kepala nya.


"Malu bertanya sesat di jalan lho, kalau kamu belajar sendiri nanti kamu salah. Kan bahaya, Maria"


Maria memikirkan kata kata Hira sejenak. Ia memang sangat penasaran dengan agama Sarfaraz, tapi bagaiamana cara nya ia bertanya pada Sarfaraz?


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2