Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 91


__ADS_3

Maria mendapatkan email dari seseorang yg tak ia kenal. Dan ketika ia baca isi email itu, betapa terkejut nya Maria karena email itu berisi pemberi tahun bahwa mereka tertarik dengan tulisan Maria dan siap membukukan nya menjadi sebuah novel. Mereka juga memberikan nomor kontak dan alamat perusahaan yg akan mencetak buku Maria.


"Tulisan apa?" gumam Maria dan ternyata sudah ada email yg terkirim kepada PT Gunawan Media.


"Anggi..." teriak Maria karena ia yakin itu ulah Anggi.


"Ada apa?" kata Anggi yg muncul dengan penampilan nya yg acak acakan.


"Kamu ngirim tulisan ku ke PT Gunawan Media?"


"Apa sudah ada balasan?" Anggi balas bertanya dengan mata yg berbinar, ia bahkan merebut laptop Maria dan memeriksa nya "Sudah ku duga, Papa pasti tertarik dengan cerita mu" ucap nya yg langsung membuat Maria mengerutkan kening nya.


"Papa? Maksud mu?" sadar sudah ke ceplosan, Anggi hanya cengar cengir kemudian mengembalikan laptop Maria.


Dan Anggi pun mengakui bahwa Hendra Gunawan selaku pemilik PT Gunawan Media adalah ayahnya. Saat Anggi membaca tulisan Maria yg sebenarnya hanyalah cerita hidup nya yg pahit, Anggi teringat pada dirinya sendiri.


Anggi bahkan meneteskan air mata, ia berfikir ternyata ada yg hidup nya jauh lebih buruk dari nya. Maria benar benar sendirian dan sudah menderita sejak kecil, sementara Anggi masih punya keluarga yg kaya dan bisa memenuhi apapun yg Anggi butuhkan, mendukung Anggi dan baru satu cobaan yg Anggi terima namun Anggi sudah langsung tumbang. Seandainya Anggi tak larut dalam kemarahan dua tahun yg lalu, mungkin ia bisa memperbaiki hidup nya meskipun ia sudah ternoda. Bukan malah melampiaskan nya pada pergaulan bebas yg justru semakin menenggelamkannya pada kegelapan.


Dan kisah hidup Maria membuat Anggi termotivasi bahwa semua orang bisa berubah, sementara pertolongan yg di berikan keluarga Faraz seperti dalam tulisan Maria membuktikan bahwa semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, bahkan Maria juga memberikan jalan kesempatan kedua pada Anggi.


Gelapnya masa lalu memang tidak bisa ubah, namun terkadang kegelapan di masa lalu bisa di jadikan cahaya di masa depan.


Kesalahan di masa lalu bisa di jadikan pelajaran di masa depan.


Dan karena itulah Anggi mengirimkan tulisan Maria pada papa nya, berharap kisah hidup mereka bisa menjadi motivasi bagi orang lain.


"Tapi itu sama saja membuka aib ku, Nggi. Menerbitkan cerita hidup ku, maka sama saja aku memberi tahu dunia betapa gelap nya hidup yg ku jalani"


"Itu kan dulu, Maria. Seperti kata mu, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Orang memang akan tahu gelap nya hidup mu, tapi orang juga akan tahu bahwa semua orang bisa berubah, bahwa semua orang bisa keluar dari hidup yg gelap dan menjalani kehidupan yg penuh cahaya. Seperti mu... "Anggi menatap Maria dengan begitu serius "Kamu membuat ku sadar betapa penting nya sebuah keluarga, kamu engga punya dan kamu mengiginkan nya. Sementara aku punya tapi aku mengabaikan nya. Dan kami membuat ku sadar, hidup memang ujian, dan kita di uji agar kita terbentuk menjadi pribadi yg lebih baik"


"Aku sudah punya keluarga sekarang, Nggi. Maryam dan keluarga nya sudah ku anggap keluarga ku, begitupun kamu" ucap Maria dan ia memeluk Anggi.


"Fikirkan sekali lagi, Maria. Kalau kamu bisa menulis buku mu dan Papa menerbitkan nya, maka kamu engga perlu jual rumah dan pindah ke Amerika. Kamu punya pekerjaan di sini, dan kamu punya tujuan" rayu Anggi.


Tapi Maria masih tak bisa memutuskan. Ia menulis cerita hidup nya hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.


Namun Maria tak keberatan untuk memikirkan nya sekali lagi.


.

__ADS_1


.


.


Faraz masih dengan penampilan ala rumahan nya. Terlihat sekali ia tak berniat pergi bekerja hari ini.


"Engga kerja, Kak?" tanya Afsana yg saat ini duduk di pinggir kolam ikan bersama ibu mertua nya yg sedang menaburkan pakan ikan


"Engga" jawab Faraz kemudian ikut menaburkan pakan ikan.


"Kenapa? Kak Faraz sakit?"


"Bukan, Dek. Tapi minggu depan kan kamu udah kembali ke pesantren. Jadi kakak mau ngabisin waktu seminggu ini sama kamu"


Asma yg melihat putra nya sedang di mabuk cinta itu hanya bisa mengulum senyum, teringat kembali masa muda nya bersama sang suami. Dimana sebelum Bilal ke Singapore untuk pengobatan Khadijah, Bilal juga mengatakan hal yg sama.


"Kalau gitu, Ummi harus ke pesantren. Biar kalian bisa berduaan dirumah" ujar Asma menepuk pundak Afsana dengan pelan dan itu membuat Afsana tersipu malu sementara Faraz hanya tertawa kecil.


"Makasih pengertian nya, Ummi" ucap Faraz yg membuat Asma tertawa geli, karena dengan kata lain, Faraz menganggap ibu nya adalah pengganggu.


"Engga jadi deh, Ummi mau dirumah seharian, mau istirahat" ucap Asma lagi yg membuat ekspresi Faraz langsung datar "Kenapa?" tanya Asma yg melihat ekspresi putra nya berubah.


"Rumah ini kan luas, kalian bisa berduaan dimana aja. Bisa di kamar, bisa di ruang tengah, bisa di taman, bisa di kolam, ya kan?"


"Iya, Ummi" jawab Afsana dengan polos nya yg membuat Asma kembali tertawa geli begitu juga dengan Faraz. Melihat dirinya di tertawakan, Afsana hanya bisa menunduk malu.


"Jadi, kamu mau pacaran dimana, Sayang?" goda Faraz "Tapi jangan di ruang tengah, Nena bolak balik bersih bersih bersih. Jangan di taman, ini tempat pacaran Abi sama Ummi"


"Terus mau di kolam?" tanya Afsana sambil tertawa kecil.


"Jangan, nanti keseleo, jatuh ke kolam, makin parah kaki mu"


"Terus?"


"Di kamar" bisik Faraz di telinga Afsana.


"Engga deh, lebih asyik di taman. Biar romantis" seru Afsana kemudian menghirup udara "Udara nya juga segar"


Asma yg melihat putra dan menantu nya itu tampak bahagia, segera pergi dari sana karena tak ingin jadi pengganggu.

__ADS_1


Sebenarnya, hari ini Asma harus pergi ke penjara, menjenguk Rossa. Sebenernya itu permintaan Maryam, karena Maryam mengatakan ia tidak tega jika harus membiarkan ibu mertua nya sendirian lagi. Dan ibu mertua nya itu sangat membutuhkan dukungan saat ini.


Sementara Faraz dan Afsana sedang menikmati masa masa pacaran mereka sebelum harus menjalani hubungan jarak jauh. Dan ini akan sulit karena mereka tak selalu bisa berkomonikasi.


Satu satu nya yg bisa mereka lakukan adalah berkomonikasi lewat doa.


Afsana menyandarkan kepala nya di bahu Faraz, dan Faraz melingkarkan tangan nya di pundak Afsana, mengelusnya dengan lembut, menyalurkan kelembutan perasaan yg Faraz miliki.


"Kakak harus jaga diri ya" lirih Afsana dan Faraz mengangguk.


"Kamu juga, Sayang. Jangan dekat dekat jendela lagi" Afsana tersenyum samar dan kini ia melingkarkan tangan kecil nya di pinggang Faraz. Ia juga semakin mendesakan tubuhnya ke tubuh Faraz yg hangat, kehangatan yg akan ia rindukan nanti. Afsana juga menghirup aroma Faraz yg pasti akan membuat ia merindukan aroma yg selalu ia hirup ini.


"Jaga diri maksud Ana itu, jaga diri dari perempuan lain. Ingat, Kak Faraz itu sudah jadi milik Ana seorang" tegas Afsana yg langsung membuat Faraz terkekeh apa lagi ketika Faraz merasakan tangan Afsana yg semakin erat melingkar di pinggang nya.


"Iya, Sayang. Kakak dan semua yg ada pada diri kakak, cuma milik Ana seorang" ucap Faraz meyakinkan dan itu membuat Afsana tersenyum senang "Oh ya, Sayang. Mulai sekarang panggil kakak 'Mas' aja, ya" pinta Faraz yg langsung membuat Afsana terdiam, kemudian ia tampak memikirkan hal itu dan tiba tiba ia tertawa geli.


"Mas Faraz? Gitu?" tanya Afsana sambil mendongak dan menatap Faraz, Faraz mengangguk dan Afsana malah cekikan "Engga deh, lebih mesra Kak Faraz" bisik Afsana malu malu.


"Lebih mesra 'Mas', Ana" bujuk Faraz "Biar kita engga di kira saudara juga" lanjut nya, karena seperti di pesta Amar waktu itu, terkadang orang mengira Afsana dan Faraz kakak adik. Bukan hanya karena Afsana yg memanggil Faraz 'Kakak' tapi Faraz yg juga memanggil Afsana 'Dek'.


Afsana kemudian melirik ke atas, seolah memikirkan hal itu dengan begitu serius, bahkan ia mengetukan jari nya di dagu. Pemandangan itu tampak sangat menggemaskan di mata Faraz, membuat Faraz tak bisa menahan diri untuk tak mengecup bibir istri nya yg merona itu. Membuat sang istri terkesiap dan melotot terkejut.


Kecupan itu hanya sepersekian detik, dan sudah sering terjadi, namun jantung Afsana masih selalu berdebar kencang dan ia merasa panas dingin saat Faraz menyentuh nya dengan begitu mesra seperti itu. Pipi nya pun terasa panas dan sekarang sudah pasti semerah kepiting rebus.


Melihat istri nya yg tersipu malu, Faraz kembali merasa gemas dan ia kembali mengecup dan bahkan mencium bibir Afsana. Afsana menerima ciuman itu dengan senang hati.


"Jadi apa keputusan mu, Dek?" tanya Faraz tepat di depan bibir Afsana setelah melepaskan ciuman nya.


"Kak Faraz sendiri engga bisa berhenti memanggil Ana 'Dek'?" ucap Afsana dengan suara rendah. Wajah nya yg masih begitu dekat dengan wajah suaminya membuat Afsana harus menahan nafas dan detak jantung nya berdebar, Afsana bahkan berfikir mungkin Faraz bisa mendengar detak jantung nya.


Sementara Faraz hanya tertawa geli dengan perlawanan istri nya itu.


"Baiklah, terserah kamu mau manggil kakak apa, Sayang. Kakak suka apapun tentang kamu, Afsana" ucap nya dengan begitu serius membuat Afsana kembali tersenyum senang.


Kemudian keduanya menikmati ke bersamaan mereka, layaknya sepasang kekasih yg di mabuk asmara. Faraz bahkan selalu nempel dengan Afsana seperti magnet saja.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2