Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 137


__ADS_3

Khair dan kedua adiknya di sambut dengan riang gembira oleh sepupu sepupu nya yg sudah menunggu di kediaman Ummi Mufar.


Kediaman Ummi Mufar yg memang selalu ramai kini semakin ramai dengan ada nya anak anak itu. Bahkan Ummi Mufar mengatakan kini kediaman nya lebih ramai dari pada pasar dan lebih seru dari pada taman bermain.


Dan saat semuanya asyik mengobrol, bermain dan berebutan oleh oleh dari Om Nabil mereka, Khair melihat Aksahara yg hanya diam diri.


Khair menghampiri Aksahara dan menyapa nya. Seperti biasa Aksahara balas menyapa namun ia tak bisa menatap mata Khair.


"Apa kamu mau hadiah dari ku?" tanya Khair dan Aksahara menggeleng.


"Tapi aku ingin memberi mu hadiah" ucap Khair kemudian ia mengeluarkan ponsel dan earphone nya.


Khair memutar video saat ia ikut lomba dan berhasil pulang dengan membawa gelar juara 2. Khair memakaikan earphone pada Aksahara dan seketika Aksahara terlihat sangat serius mendengarkan rekaman dan melihat video itu baik baik.


Khair pun lebih memilih menemani Aksahara walaupun Aksahara diam saja.


"Suara mu bagus" seru Aksahara kemudian dan Khair merasa senang karena mendapatkan pujian dari Aksahara.


"Terimakasih, tapi aku hanya memperoleh juara 2"


"Itu masih bagus" ujar Aksahara.


Kemudian tiba saat nya sholat maghrib. Mereka pun berkumpul di musholla untuk sholat.


Dan setelah sholat dan dzikir, kini waktunya membaca Quran.


Dan mereka pun kembali ramai, ada yg masih belajar, ada yg sudah lancar tapi kurang fasih dan sebagainya.


.


.


.


Seluruh anak cucu Ummi Mufar berkumpul di kediaman Ummi Mufar, biasanya memang seperti ini setiap Nabil pulang karena terkadang Nabil engga pulang selama 2 atau tiga tahun.


Jadi mumpung semua nya pada ngumpul, ya puas puasin waktu bersama.


Setelah acara makan malam yg riuh karena anak anak itu, sekarang ruang tv pun pada riuh. Ada yg mau nonton ini ada yg mau nonton itu. Kecuali si pemalu syafiq yg sibuk dengan gadget nya dan Aksahara yg lagi lagi menyendiri.


Khair kembali mendatangi Aksahara dan menyapa nya.


"Terima kasih" ujar Aksahara dan ia mengembalikan ponsel serta earphone Khair.


"Itu untuk mu, kalau aku lagi menyendiri biasanya aku suka mendengarkan murattal Qur'an supaya hafalan ku engga hilang. Kamu juga bisa melakukan hal yg sama" Aksahara tersenyum tipis.


"Di ponsel ini juga ada aplikasi untuk belajar bahasa arab. Belajar tajwid dan yg lain nya" lanjut Khair.

__ADS_1


"Terimakasih, kamu baik" hanya itu jawaban Aksahara.


Setelah itu, Maryam datang untuk menjemput Aksahara karena Aksahara tak bisa tidur jika tak bisa bersama ibu nya.


"Mom, kakak Khair memberi ini" ujar Aksahara.


"Terimakasih banyak, Khair" ujar Maryam senang.


"Sama sama, Tante" jawab Khair.


Setelah Aksahara pergi, kini Khair yg menyendiri. Ia memperhatikan adik adik nya yg tampak nya sangat bahagia.


Dan seketika Khair merasa sedih, karena ia tahu siapa diri nya. Khair berbeda dari mereka. Khair tahu Nabil bukanlah ayahnya dan Khair tahu apa yg terjadi dengan ibunya.


Khair masih terlalu muda untuk menyadari semua itu, tapi itu terkuak tahun lalu saat Khair mengalami kecelakaan dan kekurangan darah. Seharusnya salah satu orang tua nya punya darah yg cocok, dan karena golongan darah Khair dan Maria berbeda, maka hanya Nabil harapan nya. Tapi pada kenyataannya baik Nabil mau pun keluarga Nabil tak ada hubungan darah dengan Khair.


Sehingga saat itu mereka harus mencari donor darah yg lain


Awalnya Khair tak tahu soal itu, namun ia tanpa sengaja menemukan laporan medis dirinya di ruang kerja Abi nya.


Khair merasa tak percaya saat itu, dia merasa sedih dan terpukul. Namun Maria berbicara dengan nya dari hati ke hati. Khair masih tak sepenuhnya memahami apa yg terjadi, namun setelah Maria berusaha dengan begitu baik, setidaknya Khair bisa menerima semua itu.


Dan lagi pula, keluarga Abi nya tak pernah memperlakukan Khair berbeda dengan kedua adik nya maupun sepupu sepupu nya.


"Melamun aja...." seru Arkan yg menghampiri Khair.


"Senang akhir nya bisa pulang ke sini"


"Aku engga menang, juara 2"


"Tetap saja menang, dari pada engga sama sekali" Khair hanya terkekeh mendengar jawaban Arkan.


"Aku mau menemui Ummi dulu" seru Khair kemudian dan Arkan mempersilahkan.


Kemudian Khair pergi menemui Ummi nya di kamar. Terlihat Ummi nya yg baru saja menidurkan Maheer.


"Ada apa? Engga main sama adik adik mu?" tanya Maria.


"Engga, Ummi" jawab Khair sambil berjalan masuk "Ummi, besok kita kerumah ayah kandung Khair ya, Ummi udah janji"


Maria terdiam seketika, ia belum siap mempertemukan mereka, Maria masih takut mereka menginginkan Khair tapi Khair terus mendesak nya supaya Maria mempertemukan Khair dengan keluarga ayahnya. Mau tak mau Maria pun mengiyakan nya.


.


.


.

__ADS_1


Keesokan harinya, Maria dan Nabil membawa Khair ke rumah orang tua Alex.


"Maria..." sapa Sinta yg seperti nya masih ingat jelas dengan Maria. Sintia melirik gadis bercadar yg berdiri di belakang Maria.


"Kami... Aku..." Maria masih merasa gugup berhadapan dengan mereka. Ia melirik Nabil.


"Sebenarnya ada yg ingin kami bicarakan" ucap Nabil "Jika boleh kami masuk?"


Walaupun tampak enggan, Sintia mempersilahkan mereka masuk.


Mereka di persilahkan duduk dan kemudian datang suami Sintia.


"Setelah bertahan tahun menghilang, ada apa kamu kesini?" tanya Sintia ketus. Karena dulu ia sudah sangat berambisi mengambil Khair tapi ia malah mendengar Maria menikah dan pergi ke luar negeri.


"Karena putri ku ingin tahu keluarga ayahnya" lirih Maria yg membuat Sintia dan Sony melotot terkejut.


"Khair? Dimana dia?" tanya Sintia antusias. Maria melirik Khair, dan perlahan Khair melepaskan cadar nya.


"Saya Khair..." ucap gadis itu dan seketika Sintia dan Soni terperangah. Mereka terdiam beberapa saat dan memperhatikan bayi yg dulu kini berubah menjadi remaja yg sangat cantik.


Khair pun hanya diam karena kakek nenek nya itu diam saja. Khair bahkan merasa gugup karena ia fikir kakek nenek nya tak menyukai kedatangan nya.


Dan fikiran itu musnah saat Sintia langsung memeluk Khair dan mencium wajah nya berkali kali.


"Khair, kamu sudah besar" lirih Sintia.


"Dulu kamu masih bayi, segini" sambung Soni yg juga tampak nya terharu.


"Cucu kandung ku" ucap Sintia menangkup pipi Khair dan sekali lagi mencium pipi nya.


Maria yg melihat itu tidak merasa senang, karena ia takut mereka mengambil Khair. Maria bahkan tak bisa menyembunyikan ketakutan nya dan Nabil yg menyadari itu hanya bisa menggenggam tangan Maria.


"Kamu mau tinggal sama nenek disini, Sayang? Sama kakek juga? Mau ya? Jangan tinggalkan kami lagi" pinta Sintia yg membuat Maria semakin ketakutan.


"Khair senang bertemu kakek sama nenek, tapi Khair masih sekolah di Mekkah" jawab Khair menolak secara halus "Tapi Khair masih akan berkomonikasi dengan kalian" lanjut nya dan Maria seketika bernafas lega.


"Tapi kamu kan bisa sekolah di sini juga, ada banyak sekolah internasional di sini. Kamu tinggal pilih mau masuk ke sekolah yg mana" bujuk Soni.


"Khair tahu, Kek. Tapi..." Khair melihat ibunya yg tampak tegang "Sekarang Khair masih kecil, masih harus tinggal bersama ibu kandung Khair" jawab Khair dengan cerdas nya.


Sintia dan Soni tampak sangat kecewa mendengar hal itu. Namun Khair segera menghibur nya.


"Khair masih cucu kalian cuma engga tinggal bersama aja" ucapnya dan tentu Sintia dan Soni tak bisa memaksa.


"Tapi selama kamu di Indonesia, kamu tinggal di sini ya, Sayang" bujuk Sintia yg tampak nya Khair menginginkan hal yg sama. Namun sebelum menjawab, Khair melirik ayah dan Ibu nya. Maria hanya diam dan terlihat bingung, tapi Nabil mengangguk, memberi izin.


Khair pun mengangguk yg membuat kakek nenek nya senang.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2