Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum

Sequel My Ustadz My Husband - Calon Makmum
Part 47


__ADS_3

"Sayang, ini Ummi, Nak..." Asma membelai kepala Maryam yg menggunakan hijab kecil. Maryam yg sudah sadar kembali hanya bisa menatap ibu nya dengan beruarai air mata tanpa bisa bersuara.


"Semuanya akan baik baik saja, Ummi sama Abi di sini, Sayang" sang ibu kembali berkata dengan sangat lembut. Dan Maryam hanya menanggapi nya dengan isakan yg tak bisa ia tahan.


Dan pada akhirnya, tangis nya pun pecah dan ia memeluk ibunya dengan sangat erat. Kedua wanita itu tak bisa lagi lagi berkata kata dan hanya bisa menangis.


Dan Bilal segera merengkuh keduanya kedalam pelukannya, ia hanya bisa memeluk dan mencium putri nya, berharap itu bisa menenangkan putri nya.


Maria tak kuasa membendung air mata nya melihat pemandangan di depan nya.


"Ya Allah, kuatkan kami" gumam sang ayah dan semakin mengeratkan pelukannya.


Maria segera berbalik dan hendak keluar dari ruangan Maryam. Di depan kamar Maryam, Faraz hanya bisa menyenderkan punggung nya di daun pintu dan ia juga menangis.


"Sesungguhnya kami milik Mu, kami hamba Mu, maka kasihanilah kami, Ya Rabb..." Faraz berdoa di sela tangisan nya dan Maria mendengar itu.


"Ini pasti akan segera berakhir, Pak" seru Maria memberikan sedikit kekuatan pada Faraz.


.


.


.


Jam menunjukan pukul 12 malam, Erick yg bekerja di sebuah bar baru saja pulang dengan mengendarai motor nya.


Namun di perjalanan, ada empat buah mobil yg mengikutinya. Kemudian dua mobil itu menghalangi jalan Erick dan dua lainnya berada di belakang Erick, mengepung Erick.


Erick tetap berada di motornya dan menunggu mereka keluar.


Benar saja, Amar Degazi keluar dari mobil di depan nya dan itu sudah Erick duga. Namun orang dari tiga mobil lain nya tetap tak bergeming. Erick tak menununjukan rasa takut atau terkejut nya. Ia segera turun dari motor nya dan berjalan menghampiri Amar yg juga berjalan dengan gagah menghampiri nya.


"Ada apa, Degazi? Kamu mengepung ku? Mau main keroyokan seperti pengecut?" ejek nya. Namun hal itu tak membuat Amar tersinggung dan ia malah berseringai dan tanpa aba aba...


BUUGGGHH.


"Agh..." Erick mengerang kesakitan mendapatkan pukulan sangat keras di rahang nya. Bahkan satu pukulan Amar membuat mulut nya berdarah.


"Kamu menyerang seorang mahasiswa di tengah malam, sungguh tindakan pengecut" ujar Erick kemudian meludah.

__ADS_1


"Lebih pengecut mana dengan menjebak gadis lugu demi membalaskan dendam pada ku, eh?" desis Amar dan ia kembalikan hendak meninju Erick namun Erick menangkisnya, tak kehabisan akal Amar menendang perut Erick dengan lututnya membuat Erick tersungkur dan menahan erangan kesakitan nya.


Erick yg masih terjatuh membuat Amar tak menyia nyiakan kesempatan untuk menginjak tangan Erick dengan sepatu mahal nya. Tangan Erick yg memang terluka membuat Erick mengerang kesakitan.


"Tangin ini yg telah menyentuh gadis ku yg selama ini selalu menjaga diri" Erick mengerang apa lagi Amar menginjaknya dengan sangat keras. Amar menarik kerah baju Erick hingga membuat Erick bangkit dan Amar kembali melayangkan tinju nya.


Erick menggeram marah dan ia mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk beradu pukulan dengan Amar. Perkelahian pun tak bisa di elakkan. Ternyata Erick cukup kuat ia bahkan berhasil membuat wajah Amar lebam dan sudut bibirnya berdarah. Namun bukan Amar Degazi jika ia tak bisa membalasnya berkali kali lipat dan bahkan membuat Erick kewalahan.


Hingga satu pukulan terakhir di ulu hati Erick membuat Erick tersungkur dan hampir tak berdaya lagi.


Amar berhenti memukul, ia duduk di atas motor Erick dengan santai dan memberi isyarat orang orang yg ada dalam ketiga mobil itu untuk keluar.


Dan betapa terkejut nya Erick, melihat ayah, ibu dan adiknya keluar dari masing masing mobil dengan pria yg bertubuh besar. Erick menggeram marah dan hendak menyerang Amar namun dengan mudah Amar melumpuhkan nya.


"Lepaskan mereka. Sialan kau, Degazi!" teriak nya marah.


"Kenapa? Kau bilang tidak akan terjadi apa apa pada mereka karena kau akan menjaga nya?" tanya Amar santai dan itu membuat Erick melotot heran, karena ia hanya mengatakan itu pada Maryam. Apakah Maryam yg memberi tahu Amar?


"Mereka tidak ada hubungan nya dengan kita, jangan jadi pengecut dengan menyandra orang tua ku dan adik ku, sialan" geram nya penuh amarah.


"Aku tidak menyandra mereka, mereka ikut aku dengan suka rela. Memang nya kamu, menjebak calon istri ku, menyuntikan obat terlarang, mengurung nya dan menyiksa nya seperti seorang psikopat. Maryam juga tidak ada hubungan nya dengan kita, dia tidak tahu apapun. Tapi dengan begitu bejat nya kamu menyiksa nya"


Erick tak bisa lagi menjawab, ia hanya bisa menggeram marah. Ia tahu, seharusnya tak sulit bagi Amar untuk mengetahui semua informasi itu. Tapi kenapa sedetail itu dia tahu semua nya?


"Tidak, jangan adik ku, ku mohon..." pinta Erick sangat memohon tapi Amar tak memeperdulikannya.


Dengan kasar pria itu mendorong Lily yg tampak ketakutan hingga membuat Lily terlempar di dekat Amar.


Amar menjambak rambut Lily hingga membuat Lily berdiri dan Lily mengerang kesakitan bahkan ia menangis.


"Jangan menyentuh nya, Amar. Ku mohon... Lepaskan adikku. Ku mohon"


"Maryam juga memohon agar kamu melepaskan nya, tapi apa kamu melepaskan nya, huh? Kamu malah menampar nya, dasar bajingan" teriak Amar sangat marah.


"Tanyakan pada mereka..." Amar menunjuk kedua orang tua Erick yg hanya diam dan menangis "Bagaiamana perasan mereka jika putri nya di perlakukan seperti ini..."


"Ahh..." Lily terjatuh setelah Amar menampar nya dan itu membuat Erick sangat marah, ia sudah hendak membalas Amar tapi dua pria bertubuh besar itu menahan Erick.


"Dan bagaiamana perasaan mu jika adik mu di perlakukan dengan begitu hina?" desis Amar kemudian mencengkram pundak Lily dan menarik Lily berdiri kemdian Amar merobek piyama Lily, memebuat Lily histeris dan ketakutan.

__ADS_1


"Hentikan Amar, ku mohon...." Erick berlutut di depan Amar dan ia pun tak bisa membendung air mata nya. Erick menatap penuh penyesalan pada kedua orang tua nya yg hanya diam dan menangis.


Amar seolah tuli, ia hendak menarik lepas piyama Lily namun Erick segera memegang kaki Amar dan memohon...


"Demi Tuhan, aku tidak memperkosa Maryam. Ku mohon lepaskan adikku" lirihnya.


Amar terdiam sesaat, namun kemdian ia malah menunjukan senyum miring nya.


"Aku juga tidak memperkosa adik mu" ucap Amar "Aku hanya ingin tahu perasaan mu dan perasaan kedua orang tua mu jika anak gadis mereka di perlakukan dengan begitu hina" Amar mendorong Lily menjauh. Kemudian ia mencengkram kerah baju Erick dan sekali lagi memukul wajah Erick yg sudah tak berbentuk, masih ingin melampiaskan kemarahannya. Dan kali ini, Erick pasrah dan tak melawan.


"Maryam adalah gadis yg selalu menjaga diri, dia bahkan tidak mau bersalaman dengan ku sampai detik ini meskipun aku calon suami nya, dan kamu... Kamu menghinakan nya, kamu mengotori nya, bajingan" teriak Amar hendak melayangkan pukulan lagi namun ia tahan melihat kondisi Erick yg sudah tak berdaya.


"Maafkan aku, demi Tuhan aku tidak menodai nya" lirih Erick.


"Tapi kamu telah menghancurkannya ke percayaan dirinya, kamu menghancurkan mentalnya, dan bahkan mencoreng nama keluarga besar nya. Bersihkan nama Maryam dan keluarga nya Erick, atau kamu akan menerima yg jauh lebih buruk dari ini" Amar berkata tajam. Kemudian ia melepaskan jas nya dan menutupi tubuh Lily. Merangkul Lily dan membawa nya kembali ke mobil.


Membuat Erick bingung, bahkan kedua orang tuanya pun hendak masuk ke dalam mobil dengan suka rela.


Erick segera berlari dan mencegahnya, ia takut Amar melampiaskan kemarahannya pada mereka.


"Ma, Pa, jangan ikut mereka. Mereka bisa menyakiti kalian" ujar Erick hendak meraih tangan ibunya namun ibunya menepis tangan Erick.


"Kami justru takut pada mu, Erick" lirih sang ibu dengan beruarai mata, bahkan tatapan ibunya membuat hati Erick begitu perih "Aku engga nyangka, aku bisa melahirkan seorang monster seperti mu"


Erick menatap kedua orang tua nya dan adik nya bergantian, Lily menatap penuh kebencian pada Erick.


"Kakak jahat" desis Lily "Lily itu perempuan, Kak. Mama juga perempuan, bagaimana bisa Kakak melekukan hal serendah itu pada Kak Angel? Apa salah nya Kak Angel? Bahkan sekarang semua orang menyeret nama kakek nya dan pesantren nya. Kakak lebih jahat dari monster tau engga, semua orang berfikir buruk tentang Kak Angel gara gara kakak"


"Papa kecewa sama kamu, Rick. Papa yg gagal jaga perusahaan tapi kamu malah menyalahkan orang lain, papa malu punya anak seperti mu" tutur sang ayah penuh kecewa.


Erick hanya bisa diam mematung dan ia menerima semua tuduhan itu. Ia menyesal telah melakukan hal itu pada Maryam.


"Allah akan menghukum mu lebih berat dari ini"


Kata kata Maryam seperti sebuah kutukan yg menjadi kenyataan. Hukuman apa lagi yg lebih berat di bandingkan di benci oleh keluarga nya sendiri. Bahkan adik kecil nya seolah menatap jijik pada Erick, ibunya menatap penuh luka, dan ayahnya terlihat sangat kecewa.


"Allah akan menghukum mu lebih berat dari ini"


Kata kata itu terus terngiang bahkan sampai ke empat mobil itu berlalu dan meninggalkan Erick sendirian di tengah gelap nya malam dengan penyesalan yg teramat dalam.

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2