
15 tahun yg lalu...
Saat itu usia Amar masih 13 tahun, Amar, ayahnya dan adik kecil Amora yg baru berusia 6 tahun, merencanakan sebuah kejutan pada mamanya di hari ulang tahun pernikahan kedua orang taunya.
"Mama, Amora malam ini nginap di rumah Granny, ya. Mama baik baik dirumah ya, besok kami pulang" gadis kecil berkata sambil menahan cekikikan nya yg merasa geli karena kakak dan ayah nya menyuruh nya berbohong untuk pertama kalinya.
"Oke, Sayang. Engga masalah. Amora jangan lupa makan malam ya, Nak. Terus harus gosok gigi sebelum tidur, engga boleh makan es krim terlalu banyak" tutur sang ibu dari seberang telpon.
"Iya, Amora sayang Mama"
"Mama juga sangat sayang sama Amora"
"Ya udah, besok Amora telpon lagi ya"
"Iya, Sayang. See you Baby girl"
Amora mematikan telpon nya dan ia terkiki lucu, membuat kakak dan ayahnya tertawa geli.
"Kak, kapan kejutan untuk mama?" tanya nya dengan suara khas anak anak nya.
"Nanti, jam setengah 12 kita pulang, tapi ingat ya? Engga boleh berisik, biar mama engga menyadari kesadatangan kita" seru kakak nya itu dan si kecil Amora langsung mengacungkan jempol nya sambil tersenyum lebar.
"Amar, kue nya belum datang?" tanya ayah nya yg bernama Atif Degazi.
"Sebentar lagi pasti datang, Pa" baru selesai Amar bicara, sudah terdengar bel dari luar.
Amora pun berlari keluar mendahului Amar membuat Amar tertawa dan mengejar nya.
Amora bernjinjit untuk membuka pintu dan benar saja, kue tart dengan topping cokelat yg sangat banyak sudah datang.
"Padahal ini kan anniversary Papa sama Mama. Kenapa pesan kue kesukaan Amora?" tanya ayah nya heran "Kayak Amora aja yg ulang tahun"
"Biar Amora senang, Pa. Ya kan Baby girl?" Amora mengangguk dengan cepat.
Amar segera mengambil kue tart itu dan membayar kurir nya.
.
.
.
Jam setengah 12 ketiga orang itu bergegas kerumah nya untuk memberikan kejutan pada wanita paling berharga dalam hidup mereka.
Mereka memasuki rumah seperti maling, mengendap ngendap dan berjalan dengan sangat perlahan agar tak menimbulkan suara.
Amora terus cekikikan membayangkan bagiamana reaksi mama nya mendapatkan kejutan di ulang tahun pernikahan nya.
"Mama pasti senang ya, Kak?"
"Sshtt!" Amar meletakan jari di telunjuknya memberikan isyarat pada Amora agar diam.
Rumah sangat sepi, lampu pun sudah di matikan. Tapi yg membuat Amar heran, dimana para pelayan mereka?
Karena biasanya pelayan nya tak tidur sebelum jam 12. Tapi Amar merasa tak ada tanda tanda ada orang di sana"
"Pa, kok rumah sepi banget" tanya Amar pada ayahnya dengan berbisik.
"Kan sudah malam"
"Tapi biasanya para pelayan..."
"Ssshhtt..." kali ini ayahnya yg menyuruh Amar diam karena mereka sudah sampai di depan kamar mama nya.
"Pa, di kunci" bisik Amar saat mencoba membuka pintu.
"Tenang, Papa bawa kunci cadangan nya"
Ayahnya pun berusaha membuka pintu dengan kunci yg ia bawa, dan berhasil.
"Papa, biar Amora yg pegang kue nya" pinta Amora yg langsung di kabulkan ayahnya.
Dengan aba aba dari ayah nya, mereka pun bersama sama membuka pintu, dan saat pintu terbuka mereka bersiap mengejutkan mama nya itu.
"HAPPY AN ...."
"AAAAAAH"
Amora berteriak histeris menjatuhkan kuenya hingga membuat kue nya hancur tak berbentuk dan bersamaan dengan itu Amar langsung menutup mata Amora dengan tangan nya.
Sementara ia sendiri dan juga ayahnya tak kalah terkejutnya hingga tak mampu bersuara. Darah kedua nya seolah membeku dengan nafas yg tercekat di tenggorokannya.
Amar berbalik badan, memeluk Amora dan menekan wajah Amora di perutnya agar tak melihat pemandangan menjijikan dan mengerikan di depan nya.
Ayahnya pun hanya bisa terdiam mematung, namun air mata meluncur bebas dari sudut mata pria paruh baya itu.
Bagaiamana tidak...
Istri yg juga ibu dari anak anak nya melakukan hal tak senonoh dengan pria asing.
"Amar, bawa Amora pergi!" perintah ayahnya dan Amar pun segera menggendong Amora yg terdiam kaku, masih sangat shock dengan apa yg di lihat nya.
__ADS_1
Wanita itu menangis dan tampak sangat menyesali perbuatan nya.
"Mas aku..." ia berkata dengan suara gemetar
Namun suaminya hanya melemparkan tatapan kebencian, dan bahan menatap jijik istrinya kemudian pergi meninggalkan kamar terkutuk itu.
Tak peduli istrinya yg terus berteriak memohon maaf dan agar tak meninggalkannya.
Di mobil, Amar menepuk nepuk pipi Amora yg terdiam kaku dengan tatapan yg kosong.
"Baby girl. Kakak di sini, Sayang. Amora?" namun Amora tak merespon sedikitpun membuat Amar semakin khawatir.
"Papa..." teriak Amar melihat papanya yg sedang berjalan ke arahnya. Amar bisa melihat berapa hancur papanya saat ini, tatapan nya juga di penuhi Amar dan saat dekat, Amar bisa melihat mata ayahnya yg memerah "Papa, Amora engga merespon Amar sama sekali, lihat dia!" tutur Amar sambil menangisi kondisi adik nya dan terus menepuk pipi Amora yg sudah seperti mayat hidup.
"Ya Tuhan, putri ku..." ayahnya berkata dengan suara gemetar. Dengan cepat ia masuk mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi membawa kerumah sakit.
"Ada apa dengan Amora, Amar?" tanya ayahnya yg sudah sangat panik.
"Amar engga tahu, sejak tadi dia engga merespon panggilan ataupun sentuhan Amar, Amora seperti mati rasa, Pa"
.
.
.
"Dia sepertinya mengalami shock berat, dan itu langsung menyerang salah satu saraf otaknya maupun menimbulkan ketakutan di hatinya. Dia ketakutan, dan saking besarnya rasa takut itu membuat Amora bahkan tak bisa bereaksi. Terkejut dan takut yg menyerang nya secara bersamaan, itu yg membuat dia seperti mati rasa, seolah tak mendengar apapun atau merasakan apapun, itu adalah bentuk perlawanan dirinya dengan hal yg membuat nya takut"
Kedua pria itu menangis pendengaran penuturan Dokter. Gadis kecil mereka, yg sangat polos seperti malaikat, tak heran jika sangat terkejut dengan apa yg di lihat nya, bahkan Amar dan ayahnya pun juga masih tak percaya dengan apa yg telah mereka lihat.
Seorang ibu, yg seharusnya menjadi penenang bagi anak nya, justru malah menjadi penyakit yg menjijikan.
Seorang istri yg seharusnya menjaga kehormatannya, malah melakukan hal tak senonoh di rumah suami nya, di ranjang suami nya. Dan hal itu, di saksikan langsung oleh putra putri nya.
"Maafin Papa, Amar. Papa gagal menjadi suami dan ayah yg baik" ayahnya berkata dengan mata yg berkaca kaca. Ia memeluk putra nya yg juga menangis, sekarang hidup mereka sudah hancur. Sangat hancur.
.
.
.
Hari hari di lewati Amar dan ayahnya dengan air mata, menahan sakit hati dan kecewa, namun mereka berusaha tegar untuk gadis kecil mereka.
Atif membawa Amar dan Amora ke Pakistan, negara asal ayahnya. Atif membawa Amora untuk berlibur dengan harapan Amora bisa kembali seperti semula.
Apa lagi saat itu sedang musim dingin, biasanya Amora suka sekali main salju.
Perlahan, Amora mulai merespon saat kakak maupun ayahnya memanggil nya.
"Everything will be alright, Baby girl. I am here for you" ucap Amar sambil membelai rambut Amora dengan sayang, ia memeluk adik nya yg bergerak gelisah dalam tidurnya.
Amora tak tahu apa yg telah ia lihat, ia tak mengerti hal itu. Tapi itu seperti sebuah mimpi buruk yg terus menghantui hidup gadis kecil itu. Ia tak tahu apa yg sebenarnya di lakukan ibunya, yg Amora tahu, itu sangat menakutkan dan mengerikan.
Dan setelah itu, mereka tak pernah lagi bertemu dengan ibu nya.
Amar tahu, ibunya berkali kali mencoba menemui mereka, tapi ayahnya tak pernah mengizinkannya dan mengusirnya. Dan Amar mendukung keputusan ayahnya, ia sendiri tak sudi melihat wanita itu lagi.
"Kakak..." Amora memanggil kakaknya namun masih dengan mata yg tertutup.
"Ada apa, Baby girl?" tanya Amar lembut.
"Sebenarnya..." Amora membuka mata nya "Mama kenapa? Kenapa begitu? Siapa orang itu? Amora takut melihat mama dan orang itu..."
"Sshssttt..." Amar segera mendekap tubuh kecil Amora dengan erat "Itu cuma mimpi Amora, dan mimpi itu adalah mimpi buruk, jadi Amora harus melupakannya ya" Amar berkata dengan lirih. Ia sendiri tak bisa melupakannya, apa lagi Amora. Ia sendiri takut melihat hal itu, apa lagi Amora. Dan sekali lagi Amar tak bisa membendung air matanya.
Wanita yg selama ini mereka puja, mereka hormati dan mereka cintai, tapi ternyata tak lebih dari seorang pelacur.
Amora terus membelai rambut Amora, hingga terdengar dengkuran halus adik nya. Saat ia hendak menutup mata, tiba tiba Amar mendengar suara keributan di bawah.
Dengan pelan, Amar beranjak dari ranjang dan segera melihat apa yg terjadi.
Di bawah sana, ia melihat ibunya yg sedang berdebat dengan ayahnya. Dan kemarahan Amar memuncak saat ia mendengar ibunya mengatakan bahwa ia selingkuh karena ayahnya yg tak pernah ada untuk dirinya dan hanya sibuk dengan bisnis nya.
Dengan amarah yg meluap, Amar segera turun.
"Tutup mulutmu, pelacur!" desisnya dan berusaha menahan diri agar tak berteriak.
Sementara sang ibu, seketika menangis mendengar putra tercinta nya memanggil nya dengan begitu hina.
"Amar, kembali ke kamar mu, Nak" pinta ayahnya namun Amar tak menghiraukannya.
"Amar, Sayang. Dengerin dulu penjelasan Mama..."
"Jangan berani menyebut namaku atau adik ku dengan mulut kotor mu itu" ia menggeram marah dan membuat hati sang ibu semakin hancur "Kamu menyalahkan Papa yg sibuk bekerja dan tak ada waktu? Memang nya siapa yg menikmati hasil kerjaan Papa kalau bukan kamu? Huh? Papa bekerja untuk kita" Amar berteriak di depan wajah ibunya itu.
"Sayang, bukan seperti itu..."
"Keluar...!" perintah Amar mengusir ibunya. Namun ibunya hanya bisa menggeleng, ia bahkan jatuh bersimpuh di depan putra nya yg masih remaja itu.
"Mama mohon, maafin Mama, Sayang" ibunya memohon dengan berurai air mata, namun kebencian sudah memenuhi hati Amar sehingga tak ada lagi belas kasih pada wanita yg telah melahirkannya.
__ADS_1
"Keluar atau harus aku seret keluar" teriaknya yg sudah lepas kendali.
Dan hal itu, membuat Amora terbangun. Gadis kecil itu mengucek matanya, melompat turun dari ranjang dan segera keluar kamar nya untuk mencari asal suara yg mengganggu tidur nya itu.
"Kakak..." panggilnya dengan wajah yg kembali terlihat panik saat melihat ibunya, bayangan kejadian mengerikan itu kembali terlintas dalam benak nya.
Amar segera berlari menghampiri adik nya dan membawa nya kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Mama di sini?" tanya Amora pelan.
"Dimana ada mama? Amora salah lihat"
"Tapi tidak di bawah..."
"Engga ada siapa siapa di bawah. Cuma Kakak dan papa yg mengobrol"
"Apa Amora mimpi buruk lagi?" tanya Amora dengan polos nya. Amar mengangguk dengan mata yg berkaca kaca. Ia terpaksa membohongi Amora bahwa apa yg di lihat nya malam itu hanyalah mimpi, semua itu ia lakukan untuk membuat Amora bisa melupakan kejadian itu dan sedikit demi sedikit menghilangkan rasa takut dan trauma nya "Kenapa mama engga ikut liburan ke sini?"
"Dia lagi ngurus Granny yg lagi sakit" sekali lagi Amar terpaksa berbohong. Dia bahkan tak sudi lagi menyebut wanita itu 'mama'.
.
.
.
Setelah melihat kondisi Amora yg semakin membaik, Atif memutuskan akan segera pulang ke Indonesia. Walaupun Amar sempat menolak, ia ingin tinggal di Pakistan saja bersama Amora. Jauh dari kenangan buruk yg ada di Indonesia. Atif pun sebenarnya tak masalah dengan itu, tapi ternyata Amora malah ingin pulang dan rindu dengan Granny nya.
Amar mengalah demi adik tercinta nya, namun ia takut bagaiamana jika ibunya terus berusaha mendatangi mereka lagi?
"Papa akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan hak asuh penuh untuk kalian berdua. Dan Papa engga akan biarin wanita itu mendekati kalian."
"Terima kasih, Pa. Kami berdua sangat membencinya"
.
.
.
Akhirnya, Atif pun membawa putra putri nya kembali ke Indonesia. Mereka tinggal bersama Granny Amy, walaupun Amora belum sembuh sepenuh nya dari trauma nya tapi ia jauh lebih baik dari pada sebelum nya.
Hari pun mereka berusaha lewati seperti biasa, Atif yg harus mengurus perusahaan nya dan Amar pun kembali ke sekolah.
Dan saat kedua nya pergi. Ibu mereka diam diam menemui Amora yg sedang bermain di halaman rumahnya.
Amora sedikit terkejut dengan kedatangan mama nya, dan Amora kembali teringat pada mimpi buruk nya, ya kata Amar itu mimpi buruk nya.
Amora sedikit takut melihat ibunya namun mengingat itu hanya mimpi seperti kata kakaknya, Amora pun berusaha mengendalikan perasaan nya.
"Amora apa kabar, Sayang?" tanya mama nya dengan begitu lembut dan berbisik, takut takut ada yg mendengar dan dia pasti akan segera di usir.
"Amora baik, mama dari mana saja?" tanya nya.
"Mama ada pekerjaan di luar kota, maaf ya baru bisa menemui Amora" tutur mamanya sambil menangis. Sekarang ia baru menyesali semua nya, menyesali ke sesatan nya, ke bodohannya dan kejahatan nya pada keluarga nya hanya demi kepuasan sesaat "Amora mau ikut mama jalan jalan sebentar?" Amora menatap mamanya dan tampak berfikir, entah kenapa ia merasa tak nyaman dekat dengan mama nya, padahal sebelum nya ia selalu bergelanyut manja pada mama nya, namun karena tak tega melihat tatapan mama nya yg penuh harap, Amora pun mengangguk.
Ibunya itu membawa masuk Amora ke dalam mobil nya, dan bersamaan dengan itu ternyata Amar sudah pulang dan melihat ibunya yg membawa Amora.
Amar segera menyuruh sopir nya untuk mengikuti mobil ibunya dan ia pun segera menghubungi ayahnya.
Di dalam mobil bersama ibunya, Amora terus bergerak gelisah.
"Mama, Amora mau pulang" pinta nya dengan suara bergetar.
"Iya, Sayang. Ini kita di jalan pulang kok" jawab nya.
"Amora mau pulang kerumah Granny. Amora mau kakak" rengek nya dan seketika ia menangis.
"Amora, jangan nangis ya. Nanti kakak nyusul kita. Sekarang kan kakak lagi sekolah" bujuk ibunya namun Amora malah semakin jadi nangis nya dan terus mengatakan ingin kerumah nenek nya. Membuat fokus ibunya yg sedang nenyetir terganggu.
Supaya cepat sampai tujuan, ibu nya pun mempercepat laju mobil nya yg tentu membuat Amora semakin menangis dan merasa ia di paksa, padahal sebelum nya tak pernah ada yg memaksa nya.
Ibunya menyetir seperti orang gila, hingga tanpa sadar ia malah kehilangan kendali pada mobil nya dan melawati jalurnya, dan saat hendak menghindari sebuah bus yg melaju ke arahnya, ia membanting setir namun naas malah sebuah truk besar menghantam mobil nya hingga mobil nya terpental.
Amar yg terus melihat mobil ibunya kecelakaan pun begitu histeris karena ada Amora di sana.
Orang orang pun mulai mengerumuni mobil itu dan membantu Amora dan ibunya yg masih sadar keluar dari mobil.
"Sayang... Amora" panggil ibu nya panik karena orang orang tak bisa mengeluarkan Amora yg terjebak di dalam.
Amar pun segera melompat dari mobil nya dan segera berlari menghampiri adik nya.
"Bensin nya bocor" seru salah satu orang itu yg membuat ibunya Amora panik karena putri nya masih terjebak di dalam.
Di antara kerumunan orang, Amora masih setengah tersadar dan ia melihat kakaknya yg berlari ke arahnya, Amora memanggilnya walau hanya dengan gerakan bibir saja.
Namun tiba tiba mobil itu meledak dan terbakar membuat langkah Amar terhenti seketika dan kemudian ia beteriak histeris, bahkan orang orang yg berusaha membantu Amora pun terkena ledakan mobil itu dan membuat mereka menderita luka parah tak terkecuali ibunya.
"AMORA..."Amar berteriak histeris dan berlari ke arah mobil itu, dan saat hampir mencapai nya, tiba tiba papanya datang dan segera menarik Amar menjauh, Amar terus memberontak dan meminta di lepaskan.
"Lepasin, Pa. Amar harus nolongin Amora. Papa, Lepasin!" Amar terus berteriak histeris dan terus menerus mengatakan ia harus menolong Amora, dan ayahnya pun hanya bisa menangis dan mendekap putra nya itu dengan erat.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...