
Di sore hari nya, Faraz pulang kerumah nya bersama Amar. Dan saat melihat Maryam yg baru turun dari kamar nya, Faraz langsung merengkuh Maryam dalam pelukan nya dan mengecup ubun ubun nya. Membuat Maryam merasa heran dengan perilaku tiba tiba itu. Apa lagi Faraz terlihat khawatir.
"Gimana keadaan mu, Dek?" tanya Faraz sembari mengurai pelukan nya.
"Maryam baik, kenapa, Kak?" tanya Maryam. Karena baru tadi pagi mereka bertemu dan Faraz juga sudah menanyakan keadaan nya.
"Engga apa apa, bagaiamana kandungan mu?" Maryam tersenyum geli.
"Baik juga, Kak Faz kenapa sih?" tanya Maryam. Namun Faraz menggeleng sembari mengulum senyum tipis. Mendengar Amar mendorong nya hingga Maryam pendarahan membuat Faraz benar benar mengkhawatirkan adik tercinta nya itu.
"Tinggal di sini ya selama beberapa hari" pinta nya yg membuat Maryam semakin bingung saja.
"Maryam izin Amar dulu ya" jawab Maryam.
"Kakak udah bicara sama Amar, ya Kakak yakin kamu masih kangen dan pengen ngobrol sama Ana. Sekalian kamu bantuin dia memilih dekorasi, gaun, dan sebagai nya"
Maryam mengangguk saja, Faraz terlihat senang. Ia mengusap kepala adik nya itu kemudian ia bergegas naik ke kamar nya.
Sementara Maryam pergi ke ruang keluarga dan ia melihat Amar disana.
"Kak Faz minta aku nginep di sini" ucap Maryam sembari duduk di samping suaminya.
"Iya, kami...maksud ku, dia sudah bicara tadi" ujar Amar memaksakan bibir nya tersenyum.
"Sebenarnya aku senang, tapi kan kasian Granny sendirian dirumah"
"Kan ada aku" jawab nya sembari membelai lembut pipi Maryam yg semakin hari semakin gembul saja.
"Aku fikir kamu juga mau nginep di sini" ucap Maryam terdengar kecewa.
"Engga, sebenernya aku ada urusan yg penting, Sayang. Dan mungkin aku akan sangat sibuk, karena itulah kamu di sini aja sampai urusan ku selesai. Aku takut engga bisa ngurus kamu selama aku sibuk" Maryam merasa ada yg aneh dengan suaminya, lagi pula selama ini Amar memang tidak pernah tidak sibuk tapi mereka tetap bersama. Lalu kesibukan apa yg di miliki nya sekarang hingga harus menitipkan Maryam dirumah mertua nya, lagi pula kan ada Granny Amy disana. Maryam menggelengkan kepala mengusir semua pertanyaan itu. Karena ia sendiri bisa merasakan apa yg seperti tidak tenang akhir akhir ini dan mungkin ia butuh waktu sendiri.
"Ya udah kalau gitu, tapi nanti kamu kesini kan?" tanya Maryam manja. Amar langsung mengangguk dengan senyum lebar nya.
"Iya, pasti, Sayang. Aku juga engga tahan kalau engga ketemu kamu sehari aja" ujar nya dan langsung mengecup ujung hidung Maryam dengan gemas. Tak hanya itu, Amar malah juga mengecup sudut bibir Maryam membuat Maryam terkejut dan langsung mendorong Maryam, ia takut ada yg melihat dan benar saja...
"Ehem.. Ehem..." Maryam dan Amar langsung mendongak, Bilal berdiri tak jauh dari sana sambil bersandekap "Itu kamar kalian masih kosong kok, ruang keluarga itu untuk ngumpul bersama sama"
Asma yg baru saja keluar dari dapur sambil membawa segelas teh langsung tertawa mendengar ucapan suami nya itu.
"Bilang aja kalau iri" ucap nya, kemudian ia menyerahkan teh itu pada Bilal. Bilal mengambil nya dan mereka pun duduk di sofa.
"Bukan iri, Sayang. Tapi kan mereka harus liat tempat, engga Faraz, engga Amar, sama saja. Setidaknya nya jangan di depan mertua kan? Ya kan istri kalian kan jadi malu"
"Nasehat yg bijak, Bi. Karena Abi engga pernah seperti itu, ya?" tanya Asma namun dengan nada dan pandanan yg mengejek.
Bilal langsung terkekeh namun ia tak menanggapi nya.
.
__ADS_1
.
.
Faraz menjemput Nabil di bandara, sementara Shofia dan suaminya akan menyusul nanti.
Namun sebelum pulang, Nabil meminta Faraz mengantarkan nya kerumah Maria karena Nabil ingin melihat keadaan Maria, sekalian memberikan kurma yg ia bawa sebagai oleh oleh untuk Maria. Faraz pun melakukan apa yg saudara sepupu nya itu minta.
"Engga ikut masuk?" tanya Nabil dan Faraz menggeleng.
"Aku engga mau membuat Maria engga nyaman. Dia engga pernah menghubungi lagi sejak pulang dari rumah sakit dulu"
"Ya, aku mengerti"
Kemudian Nabil pun turun dari mobil.
Ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada jawaban. Ia kembali mengetuk nya dan kali ini Bi Siti yg membuka nya dan ia tampak panik.
"Ada apa, Bi?" tanya Nabil heran.
"Non Maria mau melahirkan, Den.... Oh Tuhan, syukurlah Den Nabil datang"
"Kenapa engga panggil ambulance atau taksi?" tanya Nabil yg ikut panik dan ia segera masuk.
"Sudah, tapi belum datang juga" jawab Bi Siti.
"Maria..." Nabil melihat Maria yg terbaring di sofa dan ia tampak sangat kesakitan. Maria sangat terkejut dengan kedatangan Nabil, pasal nya pria itu tak mengatakan dia akan datang hari ini. Namun belum hilang keterkejutan Maria, ia malah di kejutkan dengan Nabil yg langsung membopong tubuh Maria.
"Kerumah sakit" jawab Nabil sambil berjalan dengan cepat menuju mobil Faraz. Faraz yg melihat Nabil datang dengan membawa Maria pun sangat terkejut, dan ia langsung mengerti jika mungkin Maria mau melahirkan.
Faraz pun segera turun dari mobil nya, kemudian membukakan pintu belakang.
Bi Siti juga ikut dan ia yg duduk di belakang bersama Maria.
"Maria, tenang ya... Tarik nafas... Hembuskan. Begitu terus ya"
"Kita harus kerumah sakit mana?" tanya Faraz panik karena melihat Maria yg sudah lemas.
"Yg mana aja, yg paling dekat pokok nya"
.
.
.
Dokter segera membawa Maria ke ruang persalinan, sementara Faraz, Nabil dan Bi Siti menunggu dengan cemas.
Tak lama kemudian Hira datang dengan berlari, karena sebelumnya Bi Siti juga menelpon Hira saat taksi dan ambulance tak kunjung datang.
__ADS_1
"Bagaiamana keadaan nya?" tanya Hira dengan nafas yg tersengal.
"Masih di tangani Dokter" jawab Nabil.
Mereka semua menunggu dengan perasaan yg tak karuan, terutama Nabil. Ia terus menggumamkan doa supaya Maria dan bayi nya selamat.
Dan tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi yg membuat mereka bernafas lega. Dokter keluar dengan senyum yg merekah.
"Bagaiamana keadaan Maria dan bayi nya?" tanya Nabil dengan antusias.
"Alhamdulillah, persalinan nya lancar" jawab sang Dokter "Suster sedang membersihkan bayi nya, dan kami akan segera memindahkan pasien keruang rawat"
.
.
.
"Ya Allah, jadikanlah putri Maria ini orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam Islam dengan pertumbuhan yang baik.” Nabil memanjatkan doa setelah mengadzani nya bayi Maria yg berjenis kelamin perempuan itu.
Setelah Suster membersihkan bayi Maria, Nabil langsung meminta menggendong nya dan mengadzani nya. Tak lupa ia panjatkan doa tersebut, dan doa supaya ia menjadi anak sholehah.
Maria menangis haru melihat bayi nya yg kini tertidur pulas dalam gendongan Nabil. Seperti ini kah rasa nya menjadi seorang ibu?
Faraz dan Hira juga ada disana. Faraz mengusap ubun ubun bayi Maria itu.
"Semoga Allah menjadikan mu wanita yg sholehah, kekuatan bagi ibu mu, obat dari segala rasa sakit ibu mu dan penenang hati dan jiwa nya. Semoga Allah selalu melimpahkan Rahmat Nya untuk mu"
"Aamiin..." Maria mengaminkan doa dua pria sholeh itu. Ia berharap anaknya kelak mendapatkan kehidupan yg lebih baik dari nya, dan Maria berjanji akan merawat nya sebaik mungkin.
Nabil menyerahkan bayi itu pada Maria, dan Maria langsung mengecup kening putri nya itu. Tak terasa air mata nya jatuh dan membasahi kening putri kecil nya yg seperti peri itu. Sang bayi pun menggeliat namun tetal terlelap.
"Maria, kamu sudah siapkan nama untuk nya?" tanya Nabil dan Maria menggeleng. Ia sering memikirkan nama untuk anak nya nanti entah itu perempuan atau laki laki. Tapi Maria merasa ia tak menemukan namun yg cocok dan ia sukai.
"Bagaiamana dengan nama Nabila Khairunnisa?"
"Nabila?" tanya Maria. Karena ia merasa nama itu mirip Nabil. Sementara Faraz sudah bisa menebak modus saudara nya itu.
"Iya, Nabil atau Nabila arti nya cerdas, Khairunnisa arti nya Sebaik baik wanita. Jadi, semoga bayi ini..." Nabil mengusap kepala bayi nya Maria itu "Menjadi orang yg cerdas, dan menjadi wanita yg sangat baik"
"Khair" ucap Maryam "Nama panggilan nya Khair. Bukan Nabila" ujar Maria yg membuat Nabil sedikit kecewa karena jujur saja ia ingin memiliki ikatan dengan putri Maria itu dan kemudian mengikat ibu nya, namun seperti nya Maria masih tak menginginkan Nabil saat ini. Namun Nabil juga senang karena Maria menerima nama usulan nya.
"Kamu harus selalu mengedapankan kebaikan di atas segala nya, Nak. Banyak orang yg cerdas otak nya tapi engga baik hati nya. Semoga Allah memberi mu kecerdasan dan kebaikan, menjernihkan akal dan hati mu dan selalu menjalani hidup dengan percaya pada cinta Nya"
"Aamiin" Hira, Faraz dan Nabil mengaminkan doa Maria itu bersamaan.
"Semoga Allah mengabulkan doa yg tulus"
▫️▫️▫️
__ADS_1
Tbc...